Home / Pendekar / Bangkitnya Pendekar Terbuang / Bab 155. Anak yang Terbelah

Share

Bab 155. Anak yang Terbelah

Author: RKamila
last update publish date: 2026-10-24 06:42:48

Ia melangkah mendekati Ardhan. “Aku tidak akan membiarkan satu orang lagi terluka hanya karena kalian menganggap aku belum siap.”

Ardhan menatap anaknya, ada kasih sayang yang begitu dalam di matanya hingga Jaya justru semakin terluka.

“Dua puluh tujuh tahun lalu,” Ardhan berkata perlahan, “gerbang hampir terbuka.”

Semua orang langsung diam.

“Untuk menutupnya, seseorang harus memberikan bagian dari kehendaknya.” kata Ardhan.

Jaya menelan ludah. “S
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 157. Pedang yang Menolak

    Jaya menunduk dan rantai hitam melilit kakinya, ua mencoba menariknya. Tidak bergerak, ia mengangkat Pedang Hening. Retakannya semakin lebar.“Jangan.” suara Ardhan terdengar dari belakang.Jaya menoleh.Ayahnya berdiri dengan tubuh penuh luka, tetapi kali ini tidak membawa senjata. “Pedang itu sedang menolakmu.”Jaya mengerutkan kening. “Pedang ini tidak pernah menolakku.”“Karena selama ini kamu tidak pernah memintanya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendaknya.” Ardhan menatap bilah yang retak. “Pedang Hening diciptakan untuk memutus ikatan. Bukan untuk memaksa seseorang tetap bersamamu.”Jaya terdiam.Ratri menatapnya. “Jaya...”Sang Asal menarik tubuh Ratri lebih dekat ke kegelapan.“Pilih.” suara itu menjadi lebih jelas. “Gunakan pedangmu. Hancurkan gerbang. Selamatkan perempuan itu.”Bayangan di sekitar Ratri mulai membesar. “Atau turunkan pedangmu dan biarkan aku mengambil k

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 156. Pedang yang retak

    “Bagus.” suara itu menjadi suara anak kecil yang pernah ia dengar. “Kamu mulai belajar membedakan kenyataan!”Jaya mengangkat Pedang Hening. “Di mana Ratri?”“Di tempat yang sama denganmu.” kata sosok itu. “Bawa dia kepadaku.” gertak Jaya. “Tidak bisa.” jawab sosok itu. “Kenapa?” tanya Jaya. “Karena dia sedang melihat kebenaran.” jelas sosok itu. Bayangan itu menghilang, di hadapan Jaya muncul sebuah pemandangan. Seorang perempuan muda berdiri di depan bayi yang baru lahir.Yaitu Kirana, di sampingnya berdiri Ardhan dan di tangan Kirana terdapat sebuah pisau putih.Jaya membeku. “Tidak...”Pemandangan itu terus bergerak, bayi kecil itu menangis. Lalu Ardhan menggendongnya, Kirana menangis sambil memegang tanda putih yang perlahan muncul di dada bayi.Lalu cahaya keluar dari tubuh bayi tersebut, separuh cahaya masuk ke dalam gerbang. Separuh lainnya tetap berada di tubuh bayi.

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 155. Anak yang Terbelah

    Ia melangkah mendekati Ardhan. “Aku tidak akan membiarkan satu orang lagi terluka hanya karena kalian menganggap aku belum siap.”Ardhan menatap anaknya, ada kasih sayang yang begitu dalam di matanya hingga Jaya justru semakin terluka.“Dua puluh tujuh tahun lalu,” Ardhan berkata perlahan, “gerbang hampir terbuka.”Semua orang langsung diam.“Untuk menutupnya, seseorang harus memberikan bagian dari kehendaknya.” kata Ardhan. Jaya menelan ludah. “Siapa?”Ardhan menatap Kirana.Kirana menangis tanpa suara. “Aku,” katanya.Jaya membeku.“Kirana yang memberikan bagian kehendaknya,” lanjut Ardhan. “Tetapi gerbang tidak menerima satu kehendak manusia.”Ia menatap Jaya. “Gerbang membutuhkan kehendak yang belum dibentuk.”Jaya perlahan memahami. “Anak?”Ardhan mengangguk. “Seorang anak yang belum menentukan siapa dirinya.”Ratri menggenggam tangan Jaya semakin kuat. “Tidak...”

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 154. Anak yang Sedang Menunggu

    Sekar berusaha untuk duduk. “Dia sedang menjalankan tugas.”Jaya membeku. “Tugas?”Sekar menatap Ki Jagat dengan mata berkaca-kaca. “Jagat bukan pengkhianat.”Ki Jagat terdiam.Sekar melanjutkan dengan suara bergetar. “Dia hanya penjaga terakhir.”Jaya menggenggam pedangnya semakin kuat.“Penjaga apa?”Sekar menatap gerbang. “Penjaga agar kebenaran tentang dirimu tidak pernah keluar.”Hening! Bahkan angin seolah berhenti.Ratri memandang Jaya. Ada ketakutan di matanya, tetapi tangannya tetap menggenggam tangan Jaya.Jaya tidak menarik diri. “Aku tidak peduli siapa aku.” ia menatap gerbang dengan mata tajam.“Aku hanya ingin tahu kenapa semua orang rela mati demi menyembunyikannya.”Ki Jagat menurunkan pedangnya. “Karena ketika kamu mengetahuinya, Jaya... kamu akan mulai memahami mengapa ayahmu rela dikurung selama puluhan tahun.”Jaya menatap Ardhan.Lelaki itu menutup

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 152. Ayah yang Pulang Membawa Kegelapan

    “Ayah…?” panggil Jaya. Ardhan tidak menjawab.Ia mengangkat pedangnya perlahan.Cahaya bening yang dahulu menjadi tanda kehendak bebas kini berubah kelam, berdenyut mengikuti sesuatu yang hidup di balik gerbang.Ratri berdiri semakin dekat dengan Jaya, sementara Arya mengangkat pedangnya untuk berjaga-jaga. Tidak seorang pun berani mengambil langkah lebih dahulu.“Ayah, dengarkan aku,” ujar Jaya. “Aku tahu kamu masih di sana.”Bibir Ardhan bergerak dan untuk sesaat, wajahnya tampak bergetar.“Jaya…” suara itu benar-benar suara ayahnya.Jaya hampir melangkah maju, tetapi Wiraga segera mengangkat tangan. “Jangan!”Mata Ardhan kembali memutih.“Pergilah,” katanya lirih. “Sebelum aku tidak bisa menghentikan tanganku sendiri.”Jaya menggigit bibir. “Aku tidak akan meninggalkanmu.”“Ini bukan waktunya menjadi anak yang keras kepala.” kata Ardhan. “Dan ini bukan waktunya menjad

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 153. Rahasia yang dibunuh

    Cahaya bening mulai memenuhi bilahnya. “Dan aku tidak peduli berapa ribu tahun kalian merencanakan semua ini.”Jaya melangkah maju. “Aku memilih menjadi Jaya Wiratama.”Makhluk putih itu untuk pertama kalinya kehilangan senyumnya. “Pilihanmu tidak mengubah darahmu.”“Tidak.” Jaya tersenyum tipis. “Tapi darahku juga tidak berhak menentukan pilihanku.”Cahaya Pedang Hening meledak.Ratri ikut mengangkat tangannya, mengalirkan cahaya bunga dari tanda di tubuhnya dan Arya berdiri di sisi Jaya. Surya Raksa menyiapkan pedangnya.Jatmika berubah kembali menjadi Naga Langit, tetapi kali ini tidak untuk menghancurkan mereka. Ia membentangkan sayapnya di atas seluruh kelompok.Untuk pertama kalinya, mereka berdiri sebagai satu barisan. Makhluk putih itu mengangkat tangan dan langit seakan pecah, ribuan rantai jatuh dari awan menuju mereka.“Kalau begitu,” katanya dingin, “aku akan menghancurkan semua orang yang membu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status