LOGINIa mencoba bangkit, tetapi luka di dadanya kembali menyala, memaksanya bertumpu pada pedang hitam yang masih digenggamnya. Ratri segera memeluk pinggangnya dari samping, menahan tubuh pendekar itu agar tidak roboh, meski air matanya sendiri telah jatuh membasahi pipi.“Jaya, jangan memaksakan diri! Lukamu belum tertutup!” desak Ratri. “Aku tidak bisa membiarkan Ayah mati di depan mataku lagi, Ratri!” jawab Jaya dengan tegas. “Kalau begitu, jangan pergi untuk mati bersamanya! Pergilah untuk membawanya pulang!” sentak Ratri. Kata-kata Ratri langsung menembus kabut keputusasaan yang menyelimuti pikiran Jaya. Jaya menatap perempuan itu, melihat darah yang mengering di bahunya dan ketakutan yang berusaha disembunyikan di balik tatapan penuh cinta. Selama ini, Ratri selalu menjadi orang yang menguatkannya ketika dunia merenggut segala sesuatu.Tetapi kini Jaya mulai memahami bahwa perempuan itu pun, sedang berjuang menahan ketakutannya sendiri.Di balik gerbang, Kala menempelkan ujung
Selama puluhan tahun ia menjaga penjara itu bersama Ardhan, meyakini bahwa pengorbanan adalah satu-satunya cara untuk mencegah kehancuran. Kini, di hadapan anaknya sendiri, ia mulai melihat betapa kejamnya warisan yang telah mereka berikan.Jaya tidak mengetahui semua itu, ia hanya merasakan genggaman Arya semakin lemah dan tangan Ratri mulai gemetar. Ia mengerahkan sisa kekuatannya untuk menarik mereka menjauh dari retakan, tetapi sosok hitam di hadapannya kembali mengangkat pedang.Kali ini, sasaran tebasannya bukan Jaya melainkan Ratri. Jaya melepaskan pedangnya dan menerjang tanpa berpikir panjang. Ia berhasil mendorong Ratri ke samping, tetapi ujung bilah hitam itu menggores dadanya tepat pada tanda penjaga yang terbelah. Darah menyembur membasahi pakaiannya, dan cahaya dari kedua sisi tanda itu meledak menjadi serpihan yang beterbangan di udara.Jaya jatuh berlutut, Ratri segera menangkap tubuhnya sebelum wajahnya menghantam tanah. Tangannya menekan luka di dada Jaya, tetap
Jaya justru menggenggam tangan Arya semakin erat, ia telah terlalu sering mendengar bahwa seseorang harus dilepaskan agar yang lain dapat hidup. Ia menolak menerima hukum kejam itu sebagai satu-satunya jalan, sekalipun seluruh dunia persilatan memaksanya berlutut di hadapan takdir.Lalu, dari balik bayangan Naga Langit, muncul lah sosok Ardhan. Ayahnya berdiri dengan tubuh dirantai, tetapi matanya masih menyimpan cahaya yang sama seperti saat terakhir mereka berpisah. Ia mengangkat kepala, memandang Jaya dengan kesedihan yang begitu dalam hingga putranya nyaris kehilangan tenaga.Di belakang Ardhan, ada sesuatu yang sedang bergerak. Bukan rantai dan bukan pula bayangan.Melainkan sosok lain yang wajahnya serupa dengan Jaya, hanya saja matanya merah menyala dan senyum di bibirnya tampak seperti luka yang tak pernah sembuh.Sosok itu mengangkat pedang hitam, lalu menunjuk tepat ke arah Jaya. “Kalau kamu ingin membawa mereka pulang,” bisiknya, “kamu harus lebih dulu membunuh dirimu sen
Namun, Ratri bukan perempuan yang akan menunggu nasib yang ditentukan oleh pedang orang lain.Ketika Wira mulai kehilangan kendali atas genggamannya sendiri, dengan cepat Ratri memiringkan tubuh dengan gerakan kecil. Ujung pedang itu menggores bahunya, merobek kain dan mengalirkan darah hangat. Ia menahan rasa sakit, lalu menghentakkan tumit ke tanah untuk mengganggu keseimbangan Wira. Gerakan itu hanya memberinya ruang sesaat, tetapi cukup untuk membuat Jaya bergerak.Bilah Jaya melesat tanpa suara bukan menuju tubuh Wira, melainkan menghantam sisi pedangnya dengan sudut yang tepat. Denting keras mengguncang halaman, membuat senjata Wira terlempar ke samping. Ratri segera merunduk dan menjauh, sementara Jaya menangkap lengan sahabatnya sebelum pemuda itu jatuh berlutut di tanah.Namun, sentuhan itu justru membuat tanda di dada Jaya menyala liar. Cahaya hitam merambat dari tangan Wira menuju pergelangan Jaya, menyusup ke bawah kulit seperti akar yang mencari tanah. Seketika, pandan
"Pedang yang menusuk ayahmu bukanlah pedang yang membunuhnya,” suara Kirana semakin lirih. "Aku memindahkan kesadarannya ke dalam segel agar Naga Langit tidak menguasai tubuhnya sepenuhnya,"Jaya teringat sosok Ardhan yang baru saja ia peluk, ayahnya hidup dan ayahnya kembali.Lalu ayahnya masuk ke dalam gerbang untuk menggantikan Kirana."Jadi… Ayah masih bisa diselamatkan?" tanya Jaya. Tidak ada jawaban segera, lalu Kirana berbisik. "Bisa,"Jaya menoleh kepada Ratri, harapan yang hampir padam kembali menyala di matanya.Namun Kirana melanjutkan. "Tetapi jika kamu membuka gerbang untuk membawanya pulang, maka harus ada seseorang yang menggantikannya sebagai penjara Naga Langit!”Jaya terdiam.Ratri langsung menggenggam tangannya. "Jangan!”Jaya menatap gerbang. "Siapa yang harus menggantikan Ayah?"Suara Kirana terdengar semakin dekat. "Orang yang membawa darah penjaga paling murni,”Jaya menatap lambang yang ada di dadanya, lalu kepada Arya, kemudian kepada Ratri.Kirana akhirnya m
Air mata mengalir di pipinya. "Aku hanya ingin memiliki keluarga!”Ratri meremas jemarinya.Jaya menatap gerbang sekali lagi.."Aku hanya ingin Ayah dan Ibu berada di rumah ketika aku pulang,”Dari balik gerbang terdengar tangisan yang semakin jelas dan untuk pertama kalinya, Jaya membayangkan seorang perempuan yang mungkin pernah menimangnya, mencium keningnya, lalu terpaksa melepaskan anaknya demi menyelamatkan dunia.Bayangan itu menyakitkan, tapi ia belum bisa untuk mempercayainya. Mungkin juga belum."Jangan dengarkan dia!" suara Kala memecah keheningan.Lelaki itu berdiri di dekat reruntuhan, dengan liontin keemasan masih berada di tangannya."Ibumu pandai membuat dirinya terlihat sebagai korban,”Jaya menoleh tajam. "Jelaskan maksudmu!”Kala tersenyum miring. "Dua puluh tujuh tahun yang lalu, Kirana mengetahui bahwa Ardhan berencana mengunci Naga Langit untuk selamanya! Namun ada satu masalah,”"Apa?" tanya Jaya. "Untuk menyegel makhluk itu, seluruh ikatan darah penjaga harus d







