Home / Pendekar / Bangkitnya Pendekar Terbuang / Bab 85. Api Dibalik Reruntuhan

Share

Bab 85. Api Dibalik Reruntuhan

Author: RKamila
last update publish date: 2026-09-17 15:17:27

Malam belum sepenuhnya pergi ketika Jaya dan rombongannya meninggalkan rumah persembunyian.

Langit masih berwarna kelabu. Kabut tipis menggantung rendah di antara pepohonan, seakan alam pun enggan membuka mata untuk menyaksikan apa yang akan mereka hadapi.

Jaya berjalan paling depan, di pinggangnya tergantung pedang. Di tangannya masih tergenggam kain tua yang mereka temukan di malam sebelumnya.

Ratri berjalan di sampingnya, tidak banyak yang mereka katakan. Namun setiap kali tangan mereka bers
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 85. Api Dibalik Reruntuhan

    Malam belum sepenuhnya pergi ketika Jaya dan rombongannya meninggalkan rumah persembunyian.Langit masih berwarna kelabu. Kabut tipis menggantung rendah di antara pepohonan, seakan alam pun enggan membuka mata untuk menyaksikan apa yang akan mereka hadapi.Jaya berjalan paling depan, di pinggangnya tergantung pedang. Di tangannya masih tergenggam kain tua yang mereka temukan di malam sebelumnya.Ratri berjalan di sampingnya, tidak banyak yang mereka katakan. Namun setiap kali tangan mereka bersentuhan, ada sesuatu yang terasa menguatkan.Di belakang mereka, Bima, Raka, Arya, Laras, Ratna, dan Ki Jagat mengikuti dalam diam. Mereka menuju satu tempat yang seharusnya tidak pernah mereka datangi lagi.Yaitu Padepokan Tirta Kencana, tempat yang dahulu menjadi rumah dan tempat yang sekarang hanya menyisakan abu.Ketika mereka sampai di bukit tempat padepokan berdiri, Jaya berhenti. Dadanya seakan diremas.Di hadapan mereka tidak ada lagi bangunan yang dahulu ia kenal, bahkan tiang-tiang kay

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 84. Perjalanan Membuka Teka-teki Baru

    Ki Jagat mengambil salah satunya dan sorot matanya langsung berubah dengan serius.“In– iini…?”“Apa, Ki?” tanya Jaya. “Ini surat dari beberapa perguruan!” ucap Ki Jagat. Jaya langsung ikut membacanya, rupanya isinya adalah laporan tentang pergerakan dari Persekutuan Persilatan.Namun ternyata ada sesuatu yang lebih mengejutkan lagi, yaitu beberapa surat itu berasal sebelum pembunuhan guru besar terjadi.Jaya lalu menatap Ki Jagat. “Berarti... rencana ini sudah dibuat jauh sebelumnya?”Ki Jagat langsung mengangguk. “Sepertinya jauh sebelum kamu dituduh!”Jaya langsung menggenggam surat itu dengan marah dan seketika dadanya terasa sesak, karena selama ini ia mengira semua kehancuran hidupnya bermula dari pembunuhan seorang guru besar.Ternyata pembunuhan itu hanya salah satu bagian dari rencana yang jauh lebih panjang lagi. Ratri membaca surat berikutnya dan matanya langsung membelalak. “Jaya…,”“Apa?” tanya Jaya. “Dengarkan ini!” Ratri mulai membaca tulisan di bagian bawah. “Pasti

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 83. Jejak yang Tertinggal

    Arya memilih berada di samping Ki Jagat dan Ratri menggenggam tangan Jaya. Namun sebelum Jaya masuk, ia menoleh kepada Surya. “Surya!”Surya berhenti.Jaya menatapnya. “Suatu hari nanti kamu akan menjawab semua pertanyaanku!”Surya tersenyum samar. “Mungkin,”“Dan ketika hari itu tiba…,” Jaya mengangkat pedangnya. “…aku akan datang!”Surya menatapnya dalam-dalam. “Aku akan menunggumu,”Jaya akhirnya masuk ke lorong dan Ratri juga menyusul, tepat sebelum celah batu kembali tertutup, Jaya melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti sesaat.Surya Raksa tidak mengejar, ia justru berdiri membelakangi para pendekarnya. Tatapannya tertuju kepada Mahesa Kala.Keduanya saling menatap, tidak ada kata-kata.Tetapi dari cara mereka memandang satu sama lain, Jaya merasa ada sesuatu yang belum ia pahami.Sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar sebuah perebutan kekuasaan.____Lorong itu sempit dan gelap, mereka berjalan dalam diam.Hingga akhirnya Ratna berkata, “Jaya,”“Ya, Ibu?” jawa

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 82. Teka-teki Baru

    Bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengepung mereka dan tatapan keduanya saling bertemu.Dahulu, Surya adalah seseorang yang pernah Jaya panggil sahabat. Seseorang yang pernah duduk bersamanya di bawah pohon tua setelah latihan.Seseorang yang pernah juga mengatakan bahwa mereka tetap menjaga persaudaraan di antara para pendekar, lebih berharga dari pada sebuah kedudukan.Namun sekarang lelaki yang sama berdiri di hadapannya, dengan pasukan yang ada di belakangnya. Seolah semua kenangan itu tidak pernah ada.“Kenapa?” tanya Jaya akhirnya.Suara itu lirih bukan kemarahan yang terdengar di dalamnya, melainkan sebuah luka.Surya Raksa menatapnya. “Kenapa apa?”“Kenapa kamu melakukan semua ini?” tanya Jaya. Surya tidak langsung menjawab. “Karena dunia persilatan membutuhkan seseorang yang mampu untuk mengendalikannya!”Jaya tersenyum pahit. “Dengan memfitnahku?”“Dengan menjadikanmu musuh bersama!” ucap Surya Raksa. “Dengan membunuh orang-orang yang tidak bersalah?” ta

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 81. Jalan Keluar

    Bukankah akan lebih mudah baginya untuk membiarkan mereka tidak mengetahui apa-apa?Jaya menarik napas. “Kamu berbohong!”Senyum Mahesa Kala perlahan menghilang. “Apa?”“Kamu ingin aku percaya bahwa hanya ada satu jalan?” ucap Jaya lalu mengangkat pedangnya. “Padahal kamu sendiri takut jika kami menemukan jalan lainnya!”Ki Jagat yang sejak tadi mengamati tulisan tua di dinding langsung menoleh. “Jaya…,”“Ada yang salah dengan semua ini, Ki!” lalu Jaya menunjuk tulisan yang ada di dinding. “Kalimat itu mengatakan bahwa gerbang tidak ditutup dengan darah,”Mahesa Kala mendengus. “Tulisan kuno tidak bisa dipercaya!”“Kalau begitu kenapa kamu begitu takut jika kami membacanya?” tanya Jaya. Mahesa Kala terdiam.Bima tersenyum tipis. “Ketahuan kan?”Raka yang berdiri di sampingnya langsung ikut menimbrung. “Sepertinya untuk pertama kalinya orang tua itu sudah kehilangan kata-kata,”Mahesa Kala melirik keduanya. “Kalian terlalu banyak bicara!”Tongkat Mahesa Kala langsung bergerak. Wusss!

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 80. Semakin Rumit

    Jaya menggenggam pedangnya dan Ratri berdiri di sisinya, Arya berada sedikit di belakang.Kemudian pintu itu pecah dan debu memenuhi ruangan. Dari balik kepulan debu, beberapa pendekar Gagak Hitam masuk.Di tengah mereka tengah berdiri Wira. Namun wajahnya tidak lagi seperti yang mereka kenal, tidak ada senyum, tidak ada tatapan yang bersahabat. Hanya ketenangan yang dingin.Jaya menatapnya lama. “S– ssejak kapan?”Wira menatap balik. “Sejak sebelum kamu mengenalku!”Kalimat itu terasa seperti pedang yang menembus dada.Raka mengangkat pedangnya. “Wira, jangan bercanda!”“Aku tidak bercanda,” jawab Wira. Bima melangkah maju. “K– kkenapa?”Wira terdiam kemudian ia menatap Jaya.“Karena sejak awal, aku diperintahkan untuk mengawasi pewaris Ardhan!”Jaya mengerutkan keningnya. “Siapa yang memerintahkanmu?”Wira tidak menjawab.Surya langsung berkata. “Mahesa Kala?”Wira tersenyum tipis. “Bukan!”Surya menegang. “Kalau begitu…?”Wira mengangkat wajahnya. “Orang yang lebih tinggi lagi,”J

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status