首頁 / Pendekar / Bangkitnya Pendekar Terbuang / Bab 97. Siapa Penghianat Sebenarnya

分享

Bab 97. Siapa Penghianat Sebenarnya

作者: RKamila
last update publish date: 2026-09-23 16:44:20

Jaya mulai menyadarinya. "Kamu pernah mempelajari ilmu pedang keluargaku?”

Sosok itu tersenyum. "Bukan mempelajari,”

Ia menangkis. "Aku pernah melihat ayahmu menggunakannya,”

Jaya membeku. "Ardhan?"

"Ya,” ucap sosok itu lalu pedang mereka beradu lagi. "Aku berada di sana pada malam ayahmu mati,”

Mata Jaya langsung berubah. "K– kkamu yang membunuhnya?"

"Tidak!” sahut sosok itu.

"Kalau bukan kamu, siapa lagi?" tanya Jaya.

Lelaki itu mundur. "Kamu belum siap mendengar jawabannya,”

Jaya menyerang
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 121. Senyum Di Balik Penghianatan

    "Gerbangnya sudah memilih sendiri,” lanjut Ki Jagat. Kabut hitam mulai bergerak menuju Jaya, Ratri langsung berdiri di depannya.Namun Jaya segera menariknya untuk ke samping. "Jangan!”"Aku tidak akan membiarkanmu sendirian!” tegas Ratri. "Ratri…?" panggil Jaya. "Aku sudah memilihmu!” jawab Ratri. Tatapan mereka bertemu dan di tengah kekacauan itu, suara Ratri terdengar sangat lembut. "Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun membuat pilihan itu menjadi alasan untuk memisahkan kita!” lanjut Ratri. Jaya menggenggam tangannya."Kalau begitu…," Ia mengangkat pedangnya."...kita hadapi ini bersama!”Tiba-tiba terdengar suara dari dalam gerbang, bukan suara Naga Langit dan bukan pula suara manusia.Melainkan suara perempuan tua yang sangat dikenalnya. "Jaya…,"Ratna membeku. "It– iitu…?"Sekar Wening muncul di ambang gerbang dengan wajahnya yang pucat, tatapannya langsung tertuju kepada Ardhan. "Jangan katakan kepadanya!”Ardhan langsung menunduk dan Sekar berjalan perlahan mendekat.

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 120. Gerbang yang Dibuka Oleh Ayah

    Angin di depan gerbang kuno itu tiba-tiba berhenti, tidak ada lagi suara pertempuran dan tidak ada derap kaki.Bahkan daun-daun yang beterbangan seolah menggantung di udara, menunggu jawaban dari sebuah dosa yang telah dikubur selama puluhan tahun.Jaya menatap ayahnya, Ardhan Wulung berdiri beberapa langkah di hadapannya. Tubuh lelaki itu dipenuhi oleh bekas luka lama.Wajahnya jauh lebih tua daripada yang Jaya bayangkan dalam ingatan masa kecilnya, tapi mata itu masih lah mata yang sama.Mata yang dahulu menatapnya ketika ia masih kecil, mata yang pernah mengusap kepalanya sebelum pergi dan tidak pernah kembali. Kini mata itu dipenuhi oleh kesedihan."Benarkah itu?" suara Jaya bergetar. "Ayah yang membuka gerbang ini?"Ardhan tidak menjawab dan keheningan itu, justru terasa lebih menyakitkan daripada sebuah pengakuan.Ratri berdiri di samping Jaya, jemarinya perlahan menggenggam tangan lelaki itu."Jaya…,”Jaya tidak menolehsama sekali. "Aku ingin mendengarnya langsung dari Ayah!”A

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 119. Sebuah Penyesalan Di Mata Ayahnya

    "Jangan salahkan dirimu,” Ardhan menghela napas yang berat. "Yang menghancurkan kami bukan lah kekuatan dari Naga Langit,”Ia menatap semua orang yang ada di sana satu persatu. "Melainkan manusia yang menginginkan kekuatan itu,”Jaya langsung teringat pada lelaki bermata satu. "Dia?"Ardhan mengangguk. "Dia bukan kepala yang tertinggi,”Jaya terdiam sesaat. "Kalau begitu siapa?"Ardhan memejamkan mata."Orang yang berada di balik semua ini…,” ia membuka mata. "...belum pernah kalian lihat,”Lelaki bermata satu yang tadi terpental tiba-tiba tertawa dari kejauhan. "Masih saja kamu keras kepala, Ardhan?’Ardhan menoleh. "Kamu belum mati?"Lelaki itu bangkit perlahan dan darah mengalir dari dadanya. "Aku tidak boleh mati sebelum melihat Jaya membuka pintunya,”Jaya menatapnya tajam. "Kamu tidak akan bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan!”"Benarkah?” ia tersenyum. "Kalau begitu tanyakan kepada Ratri!’Ratri terkejut. "Apa?"Lelaki itu menunjuk tangan Ratri dan luka di telapak tangannya

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 118. Ayah yang Kembali Membawa Luka

    Pedang mereka beradu dan benturan pertama mengguncang reruntuhan, benturan keduanya membuat tanah retak dan benturan ketiga membuat keduanya terpental.Lelaki itu menyerang kembali dengan sangat cepat, jauh lebih cepat daripada sebelumnya.Jaya menangkis, satu tebasan menggores bahunya dan darah mengalir.Ratri berteriak.."Jaya!"Namun Jaya sama sekali tidak mundur, ia justru maju. Pedang ayahnya bergerak mengikuti aliran yang pernah diajarkan Ardhan.Satu putaran, satu tusukan dan satu tebasan.Lelaki bermata satu mulai terdesak."Apa…?” Ia menahan serangan. "...teknik ini?"Jaya menggertakkan gigi. "Teknik ayahku!”Lelaki itu mundur. "Mustahil!”"Dia mengajariku sebelum kamu mengambilnya dariku!” ucap Jaya langsung menyerang.SRAAAK!Ujung pedangnya menggores dada lelaki itu dan jubah hitamnya robek, cincin bermata satu yang sebelumnya sudah retak kini jatuh ke tanah.Begitu cincin itu menyentuh bumi, seluruh prajurit yang berada di bawah kendalinya mendadak jatuh.Mahesa Kala yang

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 117. Pedang Ayah Di Tangan Musuh

    Terdengar suara Ratna dari belakang. "Jaya! Arya!"Keduanya langsung menoleh, Ratna berdiri di depan gerbang dengan wajahnya yang pucat. Tangannya menunjuk ke dalam kegelapan dengan gemetar. "Ada seseorang yang berada di sana…," suaranya bergetar. "Dan dia membawa pedang milik ayah kalian!"Jaya membeku, karena dari balik gerbang itu perlahan muncul ujung pedang tua yang pernah menjadi milik Ardhan Wulung.Ujung pedang tua itu perlahan muncul dari balik gerbang, Jaya tidak bergerak dan napasnya tertahan.Bahkan suara pertempuran di belakangnya terasa menjauh, pedang itu… Jaya sangat mengenalnya.Sarungnya hitam dengan guratan sederhana di bagian pangkal, gagangnya dibalut kulit tua yang mulai mengelupas. Pada pangkal bilahnya terdapat goresan kecil berbentuk setengah bulan.Goresan yang dibuatnya sendiri ketika masih kecil dan saat itu, ia pernah diam-diam mengambil pedang ayahnya dan menjatuhkannya ke batu.Ardhan hanya tertawa. "Pedang bisa diasah kembali, Jaya, tapi hati yang keh

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 116. Semakin Rumit

    Jaya terdiam, karena kalimat itu sama seperti pesan terakhir Ardhan kepadanya untuk jangan menjadi senjata.Namun ada sesuatu yang lebih besar di balik semuanya.Jaya mendekati Arya. "Kalau begitu siapa yang membunuh Ayah?"Arya mengangkat wajah. "Aku tidak tahu,”Sekar tiba-tiba berkata. "Dia tahu!”Semua orang kembali menoleh padanya. Sekar menunjuk Arya. "Dia tahu siapa yang datang malam itu,”Arya membeku. "Nenek…?”"Kamu melihatnya,” kata Sekar. "Aku masih kecil,” jawab Arya. "Tapi kamu mengingatnya,” imbuh Sekar. Arya menutup matanya dan napasnya mulai berat, potongan kenangan lama seolah dipaksa keluar dari tempat terdalam dalam pikirannya.Malam, api, suara pedang. Ardhan yang berdiri di depan sebuah pintu, Ratna menangis dan seorang lelaki berdiri di belakangnya.Arya memegang kepalanya. "Jangan…?"Jaya memegang bahunya. "Arya,”"Aku tidak mau mengingatnya,” kata Arya. "Kalau itu kebenaran tentang Ayah…," Jaya menatapnya. "...kita harus menghadapinya,"Arya membuka matan

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status