ログインWIUUU~ WIUUU~
Sirene darurat meraung panjang, menggema ke seluruh area belakang Akademi Tempur Garuda. Lampu merah berkedip cepat di sepanjang lorong, mewarnai dinding kusam Asrama Kelas Nol dengan nuansa bahaya yang mencekam.
Koridor itu hancur berantakan.
Retakan menjalar di tembok, beberapa pintu kamar copot dari engsel dan tergeletak miring. Darah tercecer di lantai, sementara debu tipis masih melayang di udara.
Brama, senior plontos yang tadi paling garang, kini tertanam setengah badan di dinding. Wajahnya remuk, mulutnya penuh darah, tubuhnya tak bergerak sedikit pun.
Dua senior lain bernasib tak jauh berbeda. Satu orang memegangi lengan yang patah sambil merintih pelan, sedangkan yang lain merangkak mundur dengan tatapan penuh teror, napasnya kacau.
Pintu-pintu kamar terbuka satu per satu.
Para penghuni Kelas Nol keluar dengan wajah tegang. Ada yang tak percaya, ada yang ketakutan, ada pula yang hanya membisu.
Di tengah lorong berdiri seorang pemuda dengan napas tenang.
Raka Mahendra, darah mengering di sudut bibirnya, seragamnya robek di beberapa bagian. Namun tubuhnya tegak lurus. Sepasang mata amber miliknya menyisakan pijar merah samar, yang membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama.
Baru beberapa jam lalu, ia datang sebagai bahan tertawaan.
Sekarang, seluruh lorong menatapnya seperti bencana yang baru terbangun.
“Dia... benar-benar Grade E?”
“Mustahil.”
“Senior Brama kalah...?”
Bisik-bisik gugup terdengar dari berbagai sisi.
Raka mengabaikan semuanya, sorot matanya jatuh pada telapak tangannya sendiri sesaat. Panas itu masih berputar di dalam tubuhnya. Energi kasar dan liar mengalir melalui jalur nadi yang sebelumnya terasa mati. Setiap detak jantungnya membawa ledakan tenaga baru.
Apa sebenarnya ini?
Tok. Tok. Tok.
Suara langkah berat mendadak menggema dari ujung lorong.
Semua kepala menoleh serempak.
Belasan orang berseragam hitam memasuki koridor dalam formasi rapi. Armor mereka berlapis baja ringan, helm menutupi wajah, sementara tongkat Ether di tangan kanan masing-masing memancarkan cahaya biru redup.
Pasukan Disiplin Akademi.
Unit yang bahkan senior tahun akhir pun enggan berurusan dengan mereka.
Barisan itu berhenti serempak.
Seorang pria tinggi bertubuh kokoh maju satu langkah dari tengah formasi. Mata kirinya dihiasi bekas luka panjang, tatapannya keras seperti baja tua yang ditempa ribuan kali.
Kapten Vargos, ia menyapu kerusakan lorong hanya dengan satu tatapan singkat.
“Raka Mahendra.” Vargos berhenti tepat di depan pemuda itu. “Kau membuat keributan di hari pertama? Hebat.” Tatapannya dingin. “Sekarang ikut kami.”
Lorong mendadak makin sunyi.
Raka menatap pria itu tanpa emosi. “Ikut…?” Suaranya rendah, lebih terdengar seperti memastikan daripada membantah.
Alis Vargos bergerak tipis. “Berlutut dan menyerahlah.”
Beberapa siswa langsung menahan napas. Tak seorang pun di Kelas Nol pernah cukup gila untuk menolak perintah itu.
Raka terdiam.
Kata-kata itu terdengar jelas, tapi pikirannya justru terpecah.
Berlutut?
Kenapa?
Dadanya kembali berdenyut.
DUG!
Sekilas bayangan tadi terlintas—tubuh yang bergerak sendiri, kekuatan yang tak ia kenali, dan para senior yang tumbang tanpa bisa melawan.
Jari-jarinya mengencang tanpa sadar.
Ia mengangkat kepala perlahan.
“Aku…” kalimat itu terhenti.
Ia sendiri belum yakin apa yang ingin ia katakan.
Vargos menatap lurus. “Menurutlah, kau akan tahu kenapa semua orang diam saat kami datang.”
Seketika tongkat Ether para petugas terangkat.
ZZZT!
Arus listrik biru menjalar di ujung senjata, tekanan aura memenuhi lorong.
Seorang siswa di barisan belakang langsung mundur ketakutan.
“Dia gila...”
“Berani melawan Pasukan Disiplin?”
Vargos mengangkat satu tangan.
Pasukannya bersiap menyerbu.
“Ini peringatan terakhir,” katanya dingin. “Ikutlah dengan kami.”
Udara menegang.
BEEP!
Tiba-tiba, suara notifikasi tajam terdengar dari earpiece Vargos.
Ia menyentuh sisi helmnya. “Kapten Vargos menerima.”
Tak ada suara lain yang terdengar. Namun perubahan di wajahnya cukup jelas.
Mata tajamnya sedikit menyipit. “...Dipahami.”
Ia menurunkan tangannya.
Tongkat Ether para petugas ikut turun bersamaan.
Kerumunan langsung gaduh.
“Hah?”
“Apa yang terjadi?”
“Kenapa dihentikan?”
Vargos menatap Raka lebih lama dari sebelumnya, nada suaranya tetap datar. “Perintah baru, tahan dia hidup-hidup.”
Jeda singkat.
“Tanpa luka tambahan.”
Lorong seketika meledak oleh bisik terkejut.
“Tanpa luka?”
“Sejak kapan Pasukan Disiplin sebaik itu?”
“Siapa sebenarnya dia?”
Raka sendiri menyipitkan mata.
Jadi ada seseorang di atas sana yang memperhatikannya.
Vargos memberi isyarat.
Dua anggota pasukan maju, tetapi tidak menyentuh tubuh Raka.
“Jalan.”
Raka melirik mereka sebentar, lalu melangkah. Bukan karena tunduk, ia hanya ingin tahu siapa orang yang memanggilnya.
Di balkon lantai dua gedung seberang, seorang pemuda berdiri sendirian dengan kedua tangan di saku.
Reyhan Aditya, tatapannya tertuju pada iring-iringan pasukan yang membawa Raka keluar dari asrama. Rahangnya mengeras, ia mengingat bagaimana tangannya ditepis di plaza, lalu bagaimana dalam satu malam seorang Grade E membuat sirene akademi meraung.
Sorot matanya berubah dingin. “Menarik…” senyum tipis muncul di bibirnya. “Jadi begini wajahmu saat berhenti pura-pura lemah.”
“Tapi bagus. Dengan begitu, saat aku menjatuhkanmu nanti... semua orang akan melihatnya.”
***
Gedung Pusat Akademi Tempur Garuda menjulang di tengah kompleks utama seperti benteng perang yang dibangun untuk menghadapi akhir zaman. Dinding logam hitam memantulkan cahaya malam dengan kilap dingin, kaca gelap menutupi tiap sisi, sementara menara sensor berdiri di setiap sudut.
Raka dibawa melewati gerbang keamanan berlapis. Pintu otomatis terbuka satu demi satu dengan suara mekanis berat.
KRRRK...
Lorong bagian dalam gedung jauh berbeda dari Asrama Kelas Nol. Setiap lapis pengaman yang terbuka terasa seperti memasuki wilayah yang tak seharusnya dijangkau siswa biasa.
Di sisi dinding, layar digital raksasa menampilkan statistik pertempuran, peta zona Retakan Langit, laporan korban mingguan, hingga data Etherion nasional yang terus bergerak real-time.
Akademi ini bukan sekadar sekolah. Ini markas militer yang menyamar sebagai lembaga pendidikan.
Pandangan Raka berhenti pada layar ditigal raksasa itu, menyimpan semuanya dalam kepala, seakan memeriksa setiap detail tanpa banyak bicara. Jalur keluar, kamera, titik buta, dan pola penjagaan. Semua masuk ke memorinya secara alami.
Barisan berhenti di depan lift khusus berlapis baja.
Kapten Vargos menempelkan kartu akses ke panel.
TING.
Pintu lift terbuka perlahan.
Tak seorang pun bicara selama perjalanan naik. Hanya suara mesin halus dan angka digital yang terus bertambah.
5… 12… 21… 37…
Saat pintu kembali terbuka di lantai tertinggi, suasananya berubah lebih sunyi lagi.
Karpet hitam tebal membentang di sepanjang koridor, meredam seluruh langkah kaki. Lampu kuning redup menyorot dinding kayu gelap yang memberi kesan elegan, tapi menekan.
Di ujung lorong berdiri sebuah pintu baja besar dengan lambang Garuda emas terukir di tengahnya.
Di bawahnya tertulis—RUANG GARUDA.
[AKSES TERBATAS]
Vargos menoleh. “Masuk, jangan buat aku mengulang.”
Raka menatap tulisan itu sesaat.
“Cepat,” nada Vargos tak berubah sedikit pun.
Raka mendecak pelan, lalu mendorong pintu itu dengan satu tangan.
KREEEK...
Ruangan luas terbentang di baliknya. Jendela raksasa memperlihatkan seluruh kompleks akademi dari ketinggian. Lampu kota berkilau jauh di kejauhan.
Di tengah ruangan berdiri meja panjang dari kayu hitam. Di balik meja itu duduk seorang pria tua berbahu lebar dengan seragam komandan penuh medali. Rambutnya memutih rapi, tatapannya tajam seperti bilah pedang yang tak pernah tumpul meski termakan usia.
Direktur Darmawan Putra.
Pintu di belakang Raka tertutup otomatis.
BRAK.
Kini hanya mereka berdua.
Darmawan berdiri perlahan dari kursinya. Gerakannya tenang, tapi setiap langkah membawa tekanan tak kasatmata yang membuat udara ruangan terasa lebih berat.
Ia berhenti dua meter di depan Raka, mata tuanya menatap wajah pemuda itu lama sekali, suaranya rendah dan berat.
“Dua puluh tahun…” Pria tua itu menatapnya lama. “Akhirnya ada satu Mahendra yang berdiri di depanku lagi.”
Raka tak bergeming. Bahunya tetap rileks, wajahnya tak menunjukkan apa pun. Namun instingnya siaga penuh.
Darmawan menatap mata amber itu lebih dalam. “Wajahmu mirip ayahmu.”
Jantung Raka berdetak keras, namun wajahnya tetap tenang.
Pria tua itu melanjutkan. “Dan matamu... milik ibumu.”
Tangan Raka mengepal, otot rahangnya menegang tipis. “Anda mengenal orang tuaku?”
Darmawan tak langsung menjawab. Ia berbalik menuju meja, lalu menekan tombol di permukaannya.
WUUUNG.
Layar hologram menyala.
Satu nama muncul besar di udara.
[MAHESA MAHENDRA]
Di bawahnya tertulis—STATUS: HILANG.
Tubuh Raka menegang, napasnya tertahan, tatapannya terpaku pada nama itu.
Darmawan menoleh setengah badan. “Duduk, Raka Mahendra.”
Nada suaranya kini berubah dingin. “Karena mulai malam ini, hidupmu tidak akan pernah sama lagi.”
“Semua bersiap!”Suara berat itu kembali menggema melalui pengeras suara, menghantam seluruh area hingga telinga para siswa berdengung.“Lari lintas medan bersenjata sejauh lima kilometer… Mulai sekarang!”Begitu perintah dijatuhkan, para instruktur di barisan depan langsung bergerak tanpa memberi waktu sedikit pun untuk bersiap. Langkah mereka cepat dan stabil, memimpin jalur lari seperti kawanan predator.Para siswa sempat terpaku sepersekian detik sebelum akhirnya ikut berlari dalam kekacauan.“Cepat bergerak! Kalian belum makan, hah?!”“Sepuluh persen terakhir langsung tereliminasi! Tidak ada makan malam untuk sampah yang tertinggal!”Teriakan para instruktur terus mengguncang lapangan, membuat para siswa yang baru memasuki Akademi Tempur Garuda itu akhirnya memahami seperti apa kerasnya kehidupan militer di Republik Nusantara Raya. Lari baru dimulai beberapa menit, tetapi penderitaan sudah terasa jelas.Ransel berat di punggung mereka terus menghantam tubuh setiap kali langkah di
“SEMUA DIAM!”Tiba-tiba, suara menggelegar meledak di tengah arena, langsung menarik perhatian seluruh siswa baru.Seorang pria bertubuh tegap berdiri di depan barisan. Kulitnya gelap, rahangnya keras, dan sorot matanya tajam seperti bilah pisau yang menyapu kerumunan tanpa jeda. Namanya Arman Halim, instruktur kepala kamp pelatihan siswa baru Akademi Tempur Garuda.Refleks Raka memalingkan wajahnya ke arah suara itu. Kapten Vargos yang berdiri di sampingnya hanya menatap dengan datar. Seolah suara teriakan itu sudah biasa ia dengar setiap saat.“Aku tahu banyak dari kalian tidak puas,” suaranya berat dan dingin, menekan suasana dalam sekejap. “Kalian merasa diperlakukan tidak adil. Merasa aturan akademi terlalu berlebihan. Bahkan ada yang ingin mengumpat sejak tadi.”Tatapannya bergerak perlahan menelusuri wajah-wajah muda di hadapannya. “Tapi buang semua emosi tidak berguna itu!”Ia melangkah maju satu langkah, lalu menghentakkan sepatu botnya ke lantai logam. “Sejak kalian masuk ke
Di depan pintu Ruang Garuda, tubuh assassin terakhir tergeletak tak bergerak. Tapi pemancar merah di tangannya masih berkedip.Raka menatap benda itu dengan napas berat. Panas asing di dalam tubuhnya belum benar-benar mereda sejak pertarungan tadi.Darmawan berjalan mendekat, lalu menendang pemancar itu menjauh.BRAK!Lampu merahnya akhirnya mati. Namun raut wajah pria tua itu justru semakin dingin. “Itu bukan alat komunikasi biasa,” ucapnya rendah.Raka mengangkat pandangan. “Lalu?”“Sinyal pelacak resonansi darah,” Darmawan menoleh ke arah lorong yang gelap di luar sana. Sorot matanya tajam seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya. “Begitu alat itu aktif, semua pihak yang memburu garis darah Mahendra akan tahu lokasimu.”Hening.Raka menatap tubuh assassin yang terkapar beberapa detik, lalu kembali melihat tangannya sendiri yang sedikit gemetar. Barusan ia hampir mati, dan sekarang ada lebih banyak orang yang akan datang memburunya.Panas di dadanya kembali berdenyut pelan. Ra
Pilihan Ketiga.TING!Jam digital di dinding tiba-tiba berubah angka.00:59Ruangan Garuda tenggelam dalam cahaya redup. Pintu baja utama tetap terkunci rapat, sementara monitor di dinding menampilkan tiga sosok bertopeng yang bergerak cepat di koridor luar.Langkah mereka tenang, bahkan terlalu tenang untuk orang yang datang membunuh.Raka berdiri beberapa meter dari meja Darmawan. Bahunya rileks, lutut sedikit menekuk, napasnya teratur. Namun sorot matanya tak lepas dari layar. “Siapa mereka?” tanyanya singkat.Darmawan menyandarkan punggung ke kursi. “Orang-orang yang lebih cepat mencium darah daripada anjing perang.”Tatapan Raka tak berubah. “Aku menanyakan nama.”“Kalau mereka berhasil membunuhmu, nama tak penting.”TING!00:42Suara logam bergesek terdengar dari luar.KRRRK~Salah satu assassin sedang memotong panel kunci pintu dengan pisau Ether. Percikan biru memancar di layar monitor.Raka melirik Darmawan. “Anda bisa menghentikan ini.”“Aku juga bisa memberimu kursi dan teh
Ruangan itu tenggelam dalam sunyi.Hanya dengung halus proyektor hologram yang masih terdengar, memantulkan cahaya kebiruan ke seluruh ruang.Di udara, satu nama tetap menyala.Tatapan Raka terpaku pada tulisan itu. Dadanya naik turun perlahan, namun matanya tak berkedip sedikit pun.Sepuluh tahun.Sepuluh tahun ia hidup dengan satu keyakinan mutlak—kedua orang tuanya telah mati… atau dibungkam untuk selamanya.Kini, satu kata sederhana meruntuhkan seluruh keyakinan yang ia pegang selama ini.Hilang.“Duduk.”Suara Darmawan kembali terdengar rendah dan penuh tekanan. Membawa tekanan alami dari seseorang yang terlalu lama terbiasa memerintah.Raka mengalihkan pandangan dari layar, lalu menatap pria tua itu tanpa banyak ekspresi. “Aku lebih suka berdiri.”Sudut bibir Darmawan bergerak tipis. “Keras kepala, sama seperti ayahmu.”Raka tetap tak bergeming. Ia kemudian berkata dengan tenang, tetapi tajam. “Aku tidak datang ke sini untuk mendengar cerita lama. Aku ingin jawaban.”Beberapa de
WIUUU~ WIUUU~Sirene darurat meraung panjang, menggema ke seluruh area belakang Akademi Tempur Garuda. Lampu merah berkedip cepat di sepanjang lorong, mewarnai dinding kusam Asrama Kelas Nol dengan nuansa bahaya yang mencekam.Koridor itu hancur berantakan.Retakan menjalar di tembok, beberapa pintu kamar copot dari engsel dan tergeletak miring. Darah tercecer di lantai, sementara debu tipis masih melayang di udara.Brama, senior plontos yang tadi paling garang, kini tertanam setengah badan di dinding. Wajahnya remuk, mulutnya penuh darah, tubuhnya tak bergerak sedikit pun.Dua senior lain bernasib tak jauh berbeda. Satu orang memegangi lengan yang patah sambil merintih pelan, sedangkan yang lain merangkak mundur dengan tatapan penuh teror, napasnya kacau.Pintu-pintu kamar terbuka satu per satu.Para penghuni Kelas Nol keluar dengan wajah tegang. Ada yang tak percaya, ada yang ketakutan, ada pula yang hanya membisu.Di tengah lorong berdiri seorang pemuda dengan napas tenang.Raka Ma







