Share

Bab 5

Author: Imgnmln
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-07 22:50:36

Ruangan itu tenggelam dalam sunyi.

Hanya dengung halus proyektor hologram yang masih terdengar, memantulkan cahaya kebiruan ke seluruh ruang.

Di udara, satu nama tetap menyala.

Tatapan Raka terpaku pada tulisan itu. Dadanya naik turun perlahan, namun matanya tak berkedip sedikit pun.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun ia hidup dengan satu keyakinan mutlak—kedua orang tuanya telah mati… atau dibungkam untuk selamanya.

Kini, satu kata sederhana meruntuhkan seluruh keyakinan yang ia pegang selama ini.

Hilang.

“Duduk.”

Suara Darmawan kembali terdengar rendah dan penuh tekanan. Membawa tekanan alami dari seseorang yang terlalu lama terbiasa memerintah.

Raka mengalihkan pandangan dari layar, lalu menatap pria tua itu tanpa banyak ekspresi. “Aku lebih suka berdiri.”

Sudut bibir Darmawan bergerak tipis. “Keras kepala, sama seperti ayahmu.”

Raka tetap tak bergeming. Ia kemudian berkata dengan tenang, tetapi tajam. “Aku tidak datang ke sini untuk mendengar cerita lama. Aku ingin jawaban.”

Beberapa detik berlalu.

Darmawan berjalan memutari meja, lalu berdiri di dekat jendela raksasa yang menghadap seluruh kompleks akademi. Lampu-lampu kota berkilau di kejauhan seperti lautan api kecil.

“Jawaban?” Darmawan mendengus tipis. “Di dunia ini, itu barang paling mahal.”

Ia menoleh setengah badan. “Dan orang sepertimu datang menuntutnya pada malam pertama masuk akademi.”

Raka tak terpancing sedikit pun. “Kalau Anda memanggilku hanya untuk bermain kata, saya bisa pergi.”

Tekanan di ruangan berubah, udara seakan menjadi lebih berat.

Darmawan menatapnya cukup lama sebelum tertawa kecil. “Bagus.”

Ia kembali ke meja dan menekan beberapa panel.

WUUUNG.

Layar utama berganti sebuah foto lama muncul di udara. Keluarga berempat, seorang pria gagah berseragam militer, wanita cantik bermata amber dan seorang anak laki-laki sekitar sebelas tahun.

Dan… seorang gadis kecil yang memeluk lengannya.

Tubuh Raka menegang, ia mengenali foto itu dalam sekejap. Diambil sebelum semuanya runtuh.

“Kau menyimpan ini...” ucap Raka pelan.

“Aku menyimpan banyak hal,” jawab Darmawan. “Termasuk hal-hal yang seharusnya sudah dimusnahkan.”

Layar bergeser lagi, foto berikutnya muncul. Rumah keluarga Mahendra terbakar hebat, mobil lapis baja hancur di halaman, tubuh-tubuh bergelimpangan di sekitar pagar.

Pupil mata Raka mengecil.

Malam itu.

Malam yang terus menghantuinya dalam mimpi.

Bau asap.

Jeritan.

Api.

“Apa maksud Anda?”

“Maksudku sederhana,” kata Darmawan datar. “Keluargamu tidak dihancurkan oleh kebetulan.”

Ia menatap lurus ke arah Raka. “Mahendra dijatuhkan melalui operasi terencana.”

Raka hanya bisa diam, namun jari tangannya perlahan mengepal. “Siapa yang melakukan itu?”

“Jika aku tahu seluruh jawabannya, orang-orang itu sudah lama mati,” jawab Darmawan dengan tenang.

Dan justru karena itulah terdengar mengerikan.

Raka menarik napas panjang, menahan gejolak di dada. “Kenapa keluargaku?”

Darmawan tak langsung menjawab, ia mengganti layar sekali lagi.

Kini muncul diagram tubuh manusia dengan jalur energi berwarna merah. Di bagian dada, satu titik cahaya berkedip pelan seperti jantung kedua.

“Karena ibumu.”

Mata Raka menyipit.

“Kirana Dewanti bukan wanita biasa. Dan juga pembawa garis darah langka yang dicari banyak pihak.”

Mendengar pernyataan itu, suara Raka terdengar goyah. “Siapa ibuku sebenarnya?”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Raka teringat liontin tua, mata amber ibunya, dan banyak hal aneh yang dulu tak pernah ia pahami.

“Apa garis darah itu?”

Darmawan meliriknya beberapa saat. “Belum saatnya.”

Raka melangkah satu langkah maju. “Aku tidak suka jawaban setengah-setengah.”

BANG!

Udara di ruangan seakan runtuh.

Tekanan tak terlihat menghantam bahu Raka seperti gedung yang dijatuhkan dari langit. Lututnya bergetar, lantai retak di bawah telapak kaki. Tubuhnya menegang, napasnya tertahan, namun ia tidak berlutut.

Darmawan masih berdiri di tempat semula. Hanya auranya yang menekan ruangan. “Dan aku tidak suka nada ancaman,” katanya datar.

Keringat dingin mulai muncul di pelipis Raka. Namun matanya tetap menatap balik tanpa mundur sejengkal pun. Dua sosok itu saling menahan dalam diam.

Beberapa detik terasa seperti menit.

Darmawan mengangguk pelan. “Kau jauh lebih kuat daripada isi laporanmu.”

Raka Mahendra menarik napas dalam. Tekanan tadi masih menyisakan nyeri samar di bahu dan tulang belakang, tapi wajahnya tetap datar. “Aku masih menunggu jawaban keluargaku.”

“Hahaha!” Darmawan akhirnya tertawa lebih lantang. “Benar-benar anak Mahesa.”

Ia kembali ke kursinya, lalu duduk perlahan seperti seseorang yang baru menemukan hiburan langka. “Kudengar Bloodline Signature-mu aktif malam ini.”

“Entahlah,” jawab Raka singkat.

“Jangan bohong di depanku,” nada Darmawan turun satu tingkat. Tak keras, tapi cukup untuk membuat udara di ruangan ikut menegang.

Raka tak menjawab.

Tok. Tok. Tok.

Darmawan mengetukkan jemarinya di atas meja. “Kau punya dua pilihan mulai malam ini.”

Ia menekan panel di sisi meja.

WUUUNG.

Layar hologram berubah. Logo Akademi Tempur Garuda muncul besar di udara, berputar perlahan dalam cahaya biru.

“Pilihan pertama,” Darmawan mengangkat satu jari, suaranya kembali formal. “Kau kembali ke Kelas Nol.”

Layar menampilkan asrama kumuh.

“Kau akan dipukuli senior, diperas instruktur, lalu dibunuh orang yang memburu darahmu.”

Ia menatap Raka. “Lalu mati tanpa sempat mengetahui kebenaran.”

Tatapan Raka tetap datar. “Pilihan kedua?” tanyanya singkat.

Sudut bibir Darmawan terangkat tipis. “Kau berada dalam pengawasanku.”

Data baru muncul, menampilkan ruang latihan privat, akses gudang Etherion dan jadwal tempur elit.

“Latihan khusus, akses sumber daya, dan perlindungan terbatas.” Darmawan mencondongkan tubuh sedikit ke depan. ”Sebagai gantinya, kau mengikuti semua perintahku selama berada di akademi.”

Raka langsung menjawab. “Tidak.”

Darmawan mengangkat alis. “Kau menolak terlalu cepat.”

“Masih banyak hal yang harus kulakukan.”

Ruangan kembali hening.

Lalu Darmawan berkata pelan, “Kalau begitu ada pilihan ketiga.”

BRAK! BRAK! BRAK!

Seluruh jendela raksasa tiba-tiba tertutup lapisan baja otomatis.

Pintu utama terkunci.

Lampu ruangan meredup, menyisakan cahaya garis tipis di sudut langit-langit.

Raka langsung bergeser setengah langkah dan memasang kuda-kuda. Bahunya rileks, lutut sedikit turun, tatapannya berubah tajam..

Darmawan menatap lurus padanya. “Mulai malam ini, banyak orang akan tahu kau masih hidup.”

Nada suaranya rendah. “Dan beberapa dari mereka akan datang membunuhmu.”

Raka mengerutkan kening. “Apa hubungannya dengan pilihan ketiga?”

Darmawan menyandarkan tubuh ke kursi.

“Pilihan ketiga…” Ia mengangkat tangan, menunjuk pintu keluar yang kini tertutup rapat dengan tatapan tajam. “Kau keluar dari ruangan ini sendirian, lalu… kita lihat apakah kau masih hidup saat matahari terbit.”

Mata Raka menyipit, bibirnya perlahan membentuk garis tipis. “Menarik…”

“Jadi ini tes?”

“Tidak.” Jawaban Darmawan singkat. “Itu kenyataan.”

Ia menekan panel sekali lagi. Monitor di dinding menyala serempak, menampilkan kamera lorong luar.

Tiga sosok bertopeng hitam sedang bergerak cepat menuju lantai atas. Langkah mereka ringan, terlatih, mematikan. Masing-masing membawa senjata Ether pendek yang berkilat redup.

Sorot mata Raka jatuh pada tiga sosok itu.

Darmawan menatap layar, lalu menatap Raka. “Dalam satu menit mereka akan sampai di pintu,” tatapannya tak berubah. “Sekarang pilih.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 175

    Tatapan itu membuat tengkuk Kevin meremang, tetapi harga dirinya memaksanya tetap bertahan. "Apa yang kau lihat? Kuberitahu ya, ayahku—"Dug!Kalimatnya belum selesai, namun tendangan Raka menghantam lututnya dengan akurat."Aaarrrgh!" Kevin menjerit sebelum kedua lututnya menghantam tanah.Dengan wajah memerah karena marah, ia mengayunkan tinju secara membabi buta untuk membalas. Sayangnya, serangan-serangan itu terlihat kekanak-kanakan di mata Raka.Raka bahkan tidak perlu menghindar. Ia langsung menangkap pergelangan tangan Kevin, lalu memutarnya ke arah berlawanan.Kraaak—!"AAAAAH!" Jeritan melengking kembali menggema di depan gerbang.Plak! Plak! Plak! Plak!Belum sempat Kevin bernapas lega, tamparan bertubi-tubi mendarat tanpa jeda.Kevin hanya mampu meringkuk di tanah sambil menjerit kesakitan karena sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melawan. Setiap pukulan Raka dikendalikan dengan sangat presisi. Semuanya diarahkan ke titik yang mampu menghasilkan rasa sakit luar bi

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 174

    Kevin segera menoleh ke arah Celine sambil mengangkat suaranya. "Celine, jangan takut!" Ia menunjuk Raka dengan wajah penuh keyakinan. "Laki-laki mana yang tidak menghabiskan uang demi perempuan yang disukainya?"Kevin mendengus sinis, tatapannya semakin tajam. "Dia cuma kesal karena gagal mendapatkanmu. Sekarang dia sengaja mempermalukanmu sebagai pelampiasan.""Orang seperti itu bahkan tidak pantas disebut laki-laki."Ucapan Kevin kembali membangkitkan keberanian Celine yang tadi sempat runtuh. ‘Benar, kenapa aku harus takut? Raka hanyalah orang yang dulu selalu mengejarku.’Sedikit demi sedikit, kesombongan kembali memenuhi wajahnya. Ia mengangkat tangan lalu menunjuk lurus ke arah Raka. Nada suaranya kembali keras. "Benar! Aku memang tidak akan mengembalikan uangmu! Memangnya kamu bisa berbuat apa?"Celine tertawa mengejek, tatapannya dipenuhi rasa meremehkan. "Dengar baik-baik, Raka Mahendra. Uang itu tidak akan pernah aku kembalikan."Senyumnya melebar, ia bahkan semakin berani

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 173

    Sementara itu, tubuh Celine limbung hingga hampir kehilangan keseimbangan.Melapor ke polisi?Penipuan?Kalau kasus itu benar-benar diproses, bukan hanya reputasinya yang hancur. Statusnya sebagai mahasiswi juga bisa berada dalam bahaya. Ketakutan yang sesungguhnya akhirnya muncul. Jangankan mengembalikan uang tiga ratus juta. Mengumpulkan sepuluh juta saja sekarang terasa mustahil baginya.Orang-orang yang dulu mengaku rela menanggung semua kebutuhannya sudah lama pergi satu per satu setelah kehilangan minat. Kini ia benar-benar tidak memiliki siapa pun untuk diandalkan.Dengan wajah penuh kepanikan, Celine tanpa sadar menoleh ke arah Kevin. Tatapan memohon itu membuat Kevin ikut membeku.Keluarganya memang berkecukupan, tetapi seluruh pengeluarannya diawasi dengan ketat. Uang saku bulanannya hanya puluhan juta, sehingga mustahil baginya menyediakan tiga ratus juta dalam waktu singkat.Menyadari ancaman maupun alasan sudah tidak lagi berguna, Celine segera memutar otak. Sesaat kemudi

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 172

    Raka memahami bahwa menghadapi orang seperti Celine tidak cukup hanya dengan mengucapkan selamat tinggal. Satu-satunya cara untuk memutus semua keterikatan adalah membuat perempuan itu mengembalikan seluruh keuntungan yang selama ini diperolehnya.Raka tersenyum tipis, tetapi sorot matanya sama sekali tidak mengandung kehangatan. "Apa kau tidak punya uang untuk mengembalikannya?"Ia melirik layar ponselnya sendiri. "Semua bukti transaksi ada di sini. Kalau masalah ini sampai dibawa ke jalur hukum, hasilnya tetap tidak akan berubah."Tatapannya kembali mengunci Celine. "Jadi, kembalikan semua uangku."Wajah Celine memucat, tubuhnya bergetar karena campuran marah, malu, dan panik. Di dalam benaknya, Raka yang sekarang benar-benar berbeda dari pria yang selama ini selalu menuruti setiap keinginannya. Orang yang dulu tidak pernah keberatan menghabiskan uang demi dirinya, kini justru datang untuk menagih semuanya."Raka Mahendra!" Celine berteriak dengan wajah memerah. "Dasar bajingan!" Ia

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 171

    "Jangan-jangan dia benar-benar balik lagi?""Serius? Setelah semua yang dia katakan tadi?""Sayang sekali, kukira Raka sudah benar-benar berubah.""Hebat di medan latihan, tapi ternyata tetap tidak bisa lepas dari perempuan."Bisik-bisik itu menyebar semakin luas hingga hampir semua orang mulai percaya bahwa Raka akhirnya menyerah.Rio berkedip beberapa kali. Ia masih ingin membela Raka, tetapi kata-kata yang sudah berada di ujung lidahnya mendadak tertahan. Tatapannya tanpa sengaja beralih ke Tiara.Ekspresi gadis itu berubah jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Aura yang terpancar darinya membuat Rio spontan menelan ludah dan mengurungkan niat untuk berbicara.Bara pun ikut menggaruk kepala. Ia sama sekali tidak memahami apa yang sedang dilakukan Raka. "Kenapa Raka malah melakukan itu?" gumamnya pelan.Di tengah kebingungan semua orang, Tiara tiba-tiba melangkah keluar dari kerumunan dengan tenang. Ia berjalan menuju gerbang."Eh?" Rio baru menyadari beberapa detik kemudian. "Tia

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 170

    Di balik pagar, puluhan mahasiswa baru menahan napas sambil mengikuti setiap detik yang terjadi di depan gerbang.Sudut bibir Reyhan kembali terangkat. "Lihat." Ia menyenggol lengan Damar dengan wajah penuh kemenangan. "Aku sudah bilang, kan? Dia tetap tidak bisa benar-benar melepaskannya."Ucapan itu membuat Celine kembali mendapatkan secercah harapan. Ia yakin Raka masih peduli, pemuda itu pasti akan berbalik.Dan tepat ketika semua orang mengira Raka akan terus berjalan, langkahnya benar-benar terhenti. Sosok itu berdiri membelakangi mereka tanpa bergerak sedikit pun.Keheningan langsung menyelimuti area gerbang.Hembusan angin seolah ikut melemah, sementara suara serangga yang sejak tadi memenuhi suasana juga terasa menghilang. Seluruh perhatian tertuju kepada punggung Raka, menunggu apa yang akan dilakukan selanjutnya.Kenapa dia berhenti?Apa dia akhirnya berubah pikiran?Apa semua ini hanya sandiwara sebelum kembali meminta maaf?Berbagai dugaan bermunculan di benak para penont

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 28

    Beberapa menit kemudian, seluruh anggota Tim Tujuh akhirnya berkumpul kembali. Namun suasana mereka sudah berbeda total dibanding sebelumnya.Tatapan Bara kini penuh tekanan dan hormat tersembunyi. Rio terlihat tidak lagi berani banyak bicara. Jefri bahkan memandang Raka seperti sedang melihat mons

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 27

    Beberapa instruktur bahkan tanpa sadar membelalakkan mata. Arman sendiri sampai tidak sadar cangkir tehnya miring dan menumpahkan cairan panas ke tangannya. Tatapannya terus terpaku ke layar.Di sana, Raka terlihat tenang memberi perintah kepada seluruh anggota tim sambil mengendalikan situasi yang

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 26

    “Teriak sesukamu,” jawab Raka tenang. “Maki-maki juga boleh, buat mereka berpikir pusat pergerakan tim kita ada di sana.”Rio membuka mulut seperti ingin membantah lagi. Namun begitu melihat tatapan dingin Raka, seluruh kata-kata itu langsung tertahan di tenggorokannya.“Oke!” Ia akhirnya bergerak

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 25

    Tim Tujuh langsung jatuh ke dalam situasi kacau total.“Astaga! Jangan tembak lagi!” Jefri meringkuk di balik pohon sambil menutup kepala seperti anak kecil ketakutan. “Aku menyerah! Aku menyerah!”“Ini semua gara-gara kau, Rio!” Bara meraung marah dari balik batu perlindungan. “Mulutmu terlalu ban

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status