LOGINPilihan Ketiga.
TING!
Jam digital di dinding tiba-tiba berubah angka.
00:59
Ruangan Garuda tenggelam dalam cahaya redup. Pintu baja utama tetap terkunci rapat, sementara monitor di dinding menampilkan tiga sosok bertopeng yang bergerak cepat di koridor luar.
Langkah mereka tenang, bahkan terlalu tenang untuk orang yang datang membunuh.
Raka berdiri beberapa meter dari meja Darmawan. Bahunya rileks, lutut sedikit menekuk, napasnya teratur. Namun sorot matanya tak lepas dari layar. “Siapa mereka?” tanyanya singkat.
Darmawan menyandarkan punggung ke kursi. “Orang-orang yang lebih cepat mencium darah daripada anjing perang.”
Tatapan Raka tak berubah. “Aku menanyakan nama.”
“Kalau mereka berhasil membunuhmu, nama tak penting.”
TING!
00:42
Suara logam bergesek terdengar dari luar.
KRRRK~
Salah satu assassin sedang memotong panel kunci pintu dengan pisau Ether. Percikan biru memancar di layar monitor.
Raka melirik Darmawan. “Anda bisa menghentikan ini.”
“Aku juga bisa memberimu kursi dan teh hangat.” Nada pria tua itu datar. “Tapi malam ini, aku sedang ingin melihat sesuatu.”
“Melihat aku mati?” sorot mata Raka menajam.
“Melihat apakah kau pantas hidup,” nada suara Darmawan berubah dingin.
Raka menarik napas perlahan. Panas liar di dadanya mulai bergerak lagi. Sejak Bloodline itu bangkit, setiap ancaman terasa seperti bahan bakar.
TING!
00:21
BRAK!
Pintu baja bergetar keras.
Retakan tipis muncul di bagian tengah.
BRAK—!
Benturan kedua lebih keras dari sebelumnya.
Darmawan bahkan tak menoleh. “Nasihat terakhir,” katanya santai. “Jangan percaya gerakan pertama.”
Raka menatap pintu. “Apa—?!”
BRAAAK!
Pintu baja jebol ke dalam.
Asap dan serpihan logam beterbangan.
[INSTING TEMPUR AKTIF]
Tulisan merah itu muncul kembali di hadapannya.
Raka menegang. “Apa lagi ini…?”
Belum sempat ia memahami semuanya, sosok bertopeng itu sudah di depannya. Belati Ether di tangan kanannya memancarkan cahaya biru tajam.
Namun tepat saat bilah itu hampir menyentuh tenggorokan—
DUG!
Panas di dada Raka meledak, dunia di hadapannya mendadak melambat.
Debu yang beterbangan tampak menggantung di udara. Percikan logam jatuh seperti hujan lambat. Gerakan assassin itu masih cepat, tapi sekarang… bisa dibaca.
Mata Raka menyipit. Lintasan belati, tumpuan kaki kiri dan bahu kanan turun sepersekian detik sebelum tusukan.
“...”
Raka hanya bisa terdiam melihat semua itu.
Tiba-tiba tubuhnya sudah bergerak lebih dulu.
SWOOSH!
Raka memiringkan kepala. Belati pertama meleset tipis di samping lehernya. Detik berikutnya, lutut assassin menghantam udara kosong.
Raka sudah berada di sisi lawan.
“Apa—”
BUKK! KRAKK!
Siku Raka menghantam rusuk pria itu. Bunyi patahan terdengar jelas.
Tubuh assassin terpental menabrak dinding. Namun dua bayangan lain sudah masuk. Yang satu melempar tiga pisau pendek dan yang lain menyapu rendah ke kaki.
“Cih!” Tubuh Raka bergerak lebih dulu sebelum pikirannya menyusul.
Ia melompat mundur, memutar tubuh di udara, dua pisau lewat di bawah ketiaknya, satu lagi menggores lengan.
Brak!
Kakinya mendarat keras di lantai. Sesaat kemudian, rasa perih menyambar dari lengannya.
Raka menoleh cepat. Goresan tipis memanjang di kulitnya, darah mulai merembes keluar.
Ia mengernyit, sedikit kaget. “Masih kena...?”
Darmawan menuang teh tanpa tergesa, seolah tak sedang menyaksikan pembunuhan. “Kalau kau pikir baru bangun semalam lalu langsung tak terkalahkan, berarti kau terlalu percaya diri.”
Sorot matanya menajam. “Sekarang bertahan hidup dulu.”
Dua assassin tersisa saling berpandangan.
“Laporan salah, bocah ini lebih kuat.”
“Habisi sekarang!”
Mereka bergerak bersamaan.
Satu dari kiri, satu dari kanan.
Pisau berkilat tajam, diikuti langkah kaki cepat yang senyap. Aura mematikan menguar dari tubuh kedua assassin itu.
Raka mengepalkan tangan. Panas dalam tubuhnya berputar makin liar.
DUG!
Sekali lagi dunia melambat.
Ia melihat celah, yang kiri sedikit lebih cepat dan yang kanan menunggu kesempatan. Kalau menghindar satu, yang lain akan menikam punggung.
Maka Raka maju.
SHOOSH!
Ia menerobos ke tengah serangan.
Sreeek—
Pisau kiri menggores pundaknya dan pisau kanan menyayat pinggangnya.
Namun tinju Raka lebih dulu sampai.
BUGH! KREEEK—!
Terdengar suara retakan yang nyaring, wajah assassin sebelah kiri terpelintir ke kanan.
Sebelum tubuh itu jatuh, Raka meraih pergelangan tangan assassin sebelah kanan.
KREKK!
Terdengar retakan tulang yang patah.
“AARGGHH—!”
Jeritan pecah.
Raka memutar tubuh dan melempar pria itu ke meja panjang.
BRAKK!
Darmawan menatap meja yang hancur, lalu pecahan cangkir di lantai. “Sial…!”
“Kau menghancurkan gelas tehku! Itu cangkir favoritku.”
Raka terengah, darah menetes dari dua luka sayatan. “Maaf.”
“Bohong, kau bahkan tidak menyesalinya!” raung Darmawan.
“Benar.”
Mendengar jawaban singkat pemuda di hadapannya, sudut bibir Darmawan naik tipis.
Assassin pertama yang rusuknya patah memaksa bangkit, napasnya berat. Ia mencabut jarum hitam dari sabuk dan menusukkannya ke leher sendiri.
Urat-urat di wajahnya langsung menonjol.
Aura pria itu melonjak gila.
“Serum paksa...” gumam Darmawan.
Assassin itu meraung lalu menerjang seperti binatang. Lantai retak di tiap langkah kakinya.
Raka mengangkat tangan bertahan—
DUAAGH! BRAKK!
Tubuhnya terpukul dan terlempar menabrak pilar. Darah menyembur dari mulutnya, nyeri menjalar ke seluruh badan.
Assassin itu tak memberi jeda. Ia melompat tinggi, belati mengarah ke kepala Raka. “MATILAH!”
Raka mengangkat wajah perlahan, panas di dadanya berdenyut brutal.
Suara berat bergema di benaknya.
[INSTING TEMPUR: SINKRONISASI 32%]
Mata amber Raka berpendar merah samar. Saat assassin itu menerjang turun dari atas, tubuhnya hanya bergeser setengah langkah ke kiri. Belati lawan menghantam lantai dan menancap keras.
Sebelum pria itu sempat menyadari serangannya gagal, telapak tangan Raka sudah lebih dulu menempel di dadanya. Tatapannya dingin, nyaris tanpa emosi. “Jangan menghalangiku.”
BAAAANG!
Gelombang aura liar meledak. Tubuh assassin terpental menembus pintu baja yang sudah rusak dan menghantam koridor luar.
Sunyi.
Dua assassin lain tak bergerak lagi.
WIUUU~ WIUUU~
Alarm gedung meraung keras.
Raka berdiri limbung, napasnya berat. Darah mengalir dari sudut bibir.
Darmawan bangkit perlahan dari kursinya, tatapannya kini seakan menilai. “Menarik...” gumamnya.
Raka menyeka darah di bibir. “Jadi?”
“Jadi apa?” Darmawan sedikit menarik alisnya.
“Aku lulus tes?”
Darmawan berjalan mendekat, lalu berhenti satu meter di depannya. “Bocah.” Ia menatap mata Raka lurus-lurus. “Tes yang sebenarnya baru dimulai.”
Di koridor luar, salah satu assassin yang sekarat tertawa serak.
“Haha... terlambat...”
Raka dan Darmawan menoleh bersamaan.
Pria bertopeng itu mengangkat sesuatu kecil di tangannya. Sebuah pemancar merah, lampunya berkedip cepat.
Darmawan berteriak. “Menjauh dari pintu!”
Raka menyipit. “Itu apa?”
Darmawan menatap pintu yang hancur. “Dia baru saja memberitahu seluruh pemburu bahwa kau ada di sini.”
Sorot matanya berubah tajam. “Dan mereka sudah bergerak.”
Raka segera menoleh dan mendapati Arman telah berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Wajah komandan unit itu tampak jauh lebih serius daripada biasanya."Rio, Bara. Kembali ke barisan.""Siap!"Keduanya spontan memberi hormat sebelum berlari meninggalkan lokasi tanpa berani bertanya lebih jauh.Kini hanya Raka dan Arman yang masih berdiri di depan gerbang kamp."Komandan Unit." Raka merapatkan tubuh lalu memberi hormat dengan sikap sempurna.Arman tidak langsung berbicara. Tatapannya menyapu Raka dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang memastikan sesuatu. Di balik sorot matanya tersimpan rasa bangga, harapan, dan sedikit kepuasan yang nyaris tak terlihat.Beberapa saat kemudian, ia mengeluarkan sebuah map cokelat dari tas dokumennya lalu menyerahkannya kepada Raka.Pada bagian depan map itu tercetak huruf merah menyala—RAHASIA.Tatapan Raka langsung berubah serius. Ia membuka map tersebut dan menemukan sebuah dokumen dengan judul besar yang membuat detak jantungnya melonjak
Hari perpisahan tiba jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan semua orang.Tiga hari setelah pengumuman mobilisasi nasional, gelombang pertama daftar mutasi personel resmi diumumkan.Di dalam daftar itu, nama Tiara Adinata tercantum dengan jelas. Mahasiswi tahun kedua Universitas Garuda Nusantara.[Lokasi penugasan : Komando Garuda Selatan, Grup Angkatan Darat Pertama, Kamp Pelatihan Militer Mahasiswa.]Di depan gerbang kamp, sebuah kendaraan off-road militer dengan pelat Komando Garuda Selatan telah menunggu dalam keadaan mesin mati.Tiara sudah mengenakan seragam latihan baru. Rambut panjang yang dahulu menjuntai hingga pinggang kini dipangkas menjadi model pendek yang rapi. Kesan lembut yang biasanya melekat padanya memang berkurang, tetapi sebagai gantinya muncul aura tegas yang membuatnya terlihat semakin gagah dan percaya diri.Barang bawaannya pun sangat sederhana. Ia hanya memanggul sebuah ransel sebelum berdiri tenang di samping kendaraan.Raka, Bara, dan Rio datang untuk m
Universitas tak lagi menjadi tempat mengejar gelar atau membangun karier biasa. Mulai hari ini, kampus akan menjadi tempat mencetak calon-calon perwira dan personel tempur masa depan."Aku tidak bisa menerima ini!" Seorang mahasiswa baru kehilangan kendali hingga berteriak lantang. "Aku mati-matian belajar supaya bisa masuk universitas, bukan untuk dijadikan tentara!"Suara itu menjadi pemicu.Emosi yang sejak tadi dipendam langsung meledak dari berbagai penjuru lapangan."Benar! Kami adalah generasi penerus bangsa! Kenapa justru kami yang didorong ke garis depan?""Aku mau pulang! Aku tidak mau mati!""Ini tidak masuk akal!"Gelombang protes terus membesar.Para instruktur berusaha menenangkan keadaan sambil mengatur kembali barisan, tetapi kepanikan sudah terlanjur menyebar dan sulit dikendalikan.Saat suasana hampir berubah menjadi kacau, sorot mata Jenderal Guntur di layar mendadak mengeras. "Saya memahami bahwa sebagian dari kalian akan merasa takut. Sebagian lagi mungkin tidak s
Lapangan utama telah dipenuhi lautan manusia.Seluruh mahasiswa baru, para instruktur, hingga personel pendukung berdiri rapi di posisi masing-masing. Tidak ada satu pun yang berani berbicara karena suasana terasa begitu menyesakkan, hanya deru napas berat dan suara sirene darurat yang masih menggema dari kejauhan. Semua orang merasakan firasat yang sama, sesuatu yang besar akan segera terjadi.Di bagian depan lapangan, layar elektronik raksasa yang biasanya digunakan untuk menayangkan video motivasi tiba-tiba menyala.Lambang komando militer tertinggi Republik Nusantara Raya muncul memenuhi layar dengan kesan megah sekaligus penuh wibawa.Raka berdiri tegak di dalam barisan sambil mengernyitkan dahi.Di sampingnya, Bara dan Rio sama-sama terlihat tegang."Raka..." Rio merendahkan suaranya hingga nyaris tak terdengar. "Jangan-jangan... benar-benar mau pecah perang?""Diam." Instruktur yang berjaga di sisi barisan langsung menegurnya dengan suara dingin.Rio spontan menutup mulut dan k
Sejak kejadian di depan gerbang itu, Celine dan Kevin benar-benar menghilang tanpa jejak. Keduanya tak pernah lagi muncul di sekitar perkemahan, membuat kehidupan Raka kembali berjalan tenang. Meski begitu, ketenangan tersebut menghadirkan kebiasaan baru yang perlahan menjadi rutinitas.Karena adanya perubahan jadwal pelatihan militer, Tiara tidak lagi ditempatkan di kamp mahasiswa baru. Akademi menugaskannya ke pusat riset medis yang berada di belakang Komando Garuda Selatan untuk membantu sebuah proyek penelitian yang harus segera diselesaikan.Walau kesibukan mereka berbeda, tanpa pernah membuat janji secara langsung, keduanya seolah memiliki kesepahaman yang sulit dijelaskan.Setiap siang, Tiara selalu datang ke kantin mahasiswa baru pada waktu yang hampir sama. Ia akan mengambil dua porsi makanan, lalu duduk di dekat jendela sambil membuka buku dan menunggu seseorang datang.Begitu latihan selesai, Raka hampir selalu langsung menuju kantin. Tanpa perlu saling menyapa lebih dulu,
Begitu Raka melangkah masuk ke area perkemahan, Bara dan Rio langsung menyambarnya dari dua sisi."Raka! Mulai hari ini, Bang benar-benar saudara kandungku!" Rio nyaris melompat kegirangan. Wajahnya memerah karena terlalu bersemangat saat mengingat kejadian di depan gerbang."Acungan jari tengah tadi benar-benar karya seni! Puas banget lihat ekspresi dua bajingan itu! Mukanya sampai seperti habis menelan lumpur!" Bara ikut tertawa terbahak-bahak. Telapak tangannya yang besar terus menepuk bahu Raka hingga tubuh pemuda itu bergoyang."Kerja bagus! Perempuan seperti itu memang pantas ditinggalkan sejak lama. Sama sekali tidak layak dipertahankan."Raka hanya bisa tersenyum masam sambil berusaha melepaskan diri dari kepungan mereka. "Sudah, sudah... turunkan dulu. Kalian bereaksi berlebihan. Bukankah ini cuma urusan kecil?""Mana mungkin kecil?" Rio langsung memasang wajah serius. "Ini soal harga diri! Tapi satu hal yang paling penting, jangan lupa tagih kembali uangmu sampai lunas!"Rak
Beberapa instruktur bahkan tanpa sadar membelalakkan mata. Arman sendiri sampai tidak sadar cangkir tehnya miring dan menumpahkan cairan panas ke tangannya. Tatapannya terus terpaku ke layar.Di sana, Raka terlihat tenang memberi perintah kepada seluruh anggota tim sambil mengendalikan situasi yang
Tim Tujuh langsung jatuh ke dalam situasi kacau total.“Astaga! Jangan tembak lagi!” Jefri meringkuk di balik pohon sambil menutup kepala seperti anak kecil ketakutan. “Aku menyerah! Aku menyerah!”“Ini semua gara-gara kau, Rio!” Bara meraung marah dari balik batu perlindungan. “Mulutmu terlalu ban
Sementara itu, Adrian masih sibuk memasang rompi sensor dengan panik sampai tali pengikatnya justru terlilit menjadi simpul. Tangannya mulai gemetar karena gugup.Raka menghela napas tipis sebelum berjalan mendekat. Tanpa banyak bicara, ia langsung membuka ikatan kusut tersebut lalu memasangnya kem
Wajah Arman akhirnya benar-benar menggelap. “Reyhan!” Bentakannya mengguncang seluruh ruang pemeriksaan seperti petir yang meledak di atas kepala semua orang. “Sudah cukup membuat keributan!”Tubuh Reyhan langsung menegang.Arman melangkah maju dengan tatapan dingin yang membuat suasana ruangan sem







