مشاركة

Bab 134

مؤلف: _PenaKaisar
last update تاريخ النشر: 2026-07-16 09:45:00

"Jangan terbiasa"

Lei mendengus, tapi ekornya masih bergoyang-goyang puas. "Aku tidak akan terbiasa. Aku hanya... menghargai momen ini. Sebagai makhluk surgawi yang sering disalahpahami sebagai kucing, aku jarang mendapatkan belaian yang tulus."

‎"Itu karena kau biasanya menyebalkan," kata Xuan'er datar. Rona merah di pipinya sudah mulai memudar, digantikan oleh ekspresi geli.

‎"Aku tidak menyebalkan! Aku hanya... ekspresif! Itu sangat berbeda!"

‎"Ekspresif dan menyebalkan adalah dua hal
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 168

    Feng Bao menatap pusaran Yin-Yang yang berputar di tangan Xiao Fan ketika matanya melebar tak percaya. Seorang bocah yang baru saja mencapai Nascent Soul, yang seharusnya masih canggung mengendalikan kekuatannya, kini berdiri di hadapannya dengan dua api primordial dan teknik yang tidak bisa ia pahami.‎‎"Ini belum berakhir, bocah!" teriaknya, suaranya masih menggelegar meskipun ada getaran yang tidak bisa ia sembunyikan. "Aku adalah Jenderal Feng Bao! Aku sudah membunuh puluhan kultivator sepertimu! Kau pikir serangan kecil seperti ini bisa menghentikanku?!"‎‎Ia mengangkat Tombak Anginnya tinggi-tinggi. Angin di sekelilingnya seketika berputar sangat kencang ketika seluruh tubuhnya bersinar dengan aura merah darah yang membara. Dan dari bilah tombaknya, satu tornado raksasa mulai terbentuk yang jauh lebih besar, tinggi, dan mengerikan. Tornado itu membentang dari tanah hingga langit, menyedot segala sesuatu yang ada di dekatnya, menciptakan badai yang membuat seluruh medan perang

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 167

    ‎"Aku sudah bilang. Level bukanlah segalanya."‎‎Feng Bao menatap Xiao Fan dengan mata terbelalak selama beberapa detik. Lalu ia tertawa keras, penuh ejekan, dan sama sekali tidak lucu. "Kau pikir menghancurkan tiga tornadoku sudah cukup untuk membuatku takut, bocah? Itu baru pemanasan! Aku belum serius sama sekali!"‎‎Ia menghilang dari tempatnya berdiri.‎‎Xiao Fan hanya sempat melihat bayangan merah bergerak cepat di udara sebelum tusukan tombak datang dari arah yang tidak ia duga. Ia memiringkan tubuhnya, tapi Tombak Angin itu tetap mengenai bahunya. Sebelum ia bisa membalas, Feng Bao sudah berada di tempat lain, gerakannya begitu cepat dan anggun hingga sulit diikuti oleh mata.‎‎"KAU TERLALU LAMBAT, BOCAH!" Feng Bao muncul di belakang Xiao Fan, tombaknya menusuk lagi. Kali ini ke paha kiri. ‎‎Tusukan demi tusukan datang. Xiao Fan mencoba menghindar, tapi Feng Bao selalu satu langkah lebih cepat. Bahunya, pahanya, lengannya semuanya kini berlumuran darah. Jubah peraknya rob

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 166

    ‎Xiao Fan melayang naik dari perkemahan Tianyu. Tubuhnya yang kini bisa berjalan di udara bergerak dengan anggun meskipun ia masih sedikit kaku, karena ini adalah pertama kalinya ia terbang dalam pertarungan sesungguhnya. Di belakangnya, Wei Zheng, Wei Lian, Mo Cheng, Xuan'er, dan Lei menatapnya dengan campuran kecemasan dan harapan.‎‎"Percayakan pada Tuan," kata Lei, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Dia sudah melewati banyak hal yang lebih gila dari ini."‎‎Di seberang lembah, Feng Bao melayang naik dengan aura yang jauh lebih kuat. Jubah merah darahnya berkibar-kibar. Tombak Angin di tangannya berputar-putar dengan energi yang siap dilepaskan.‎‎"AKHIRNYA KAU DATANG JUGA, BOCAH!" teriaknya. "AKU PIKIR KAU AKAN KABUR DI TENGAH MALAM!"‎‎"Aku tidak akan kabur." Xiao Fan menghentikan langkahnya di udara sekitar dua puluh meter dari Feng Bao. "Aku sudah berjanji. Dan aku selalu menepati janjiku."‎‎"BAGUS! KALAU BEGITU, KITA MULAI SAJA!"‎‎Feng Bao tidak menunggu. Ia mengayun

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 165

    ‎"Hari ini akan menjadi berbeda."‎‎Xiao Fan masih berdiri di depan tendanya ketika suara gemuruh terdengar dari arah perkemahan Xiyuan. Gemuruh itu berasal dari suara seseorang yang sengaja diperkuat dengan Qi agar terdengar hingga ke seluruh lembah.‎‎"XIAO FAN!"‎‎Tanah di bawahnya bergetar. Angin di sekitarnya berputar kencang. Para prajurit Tianyu yang sedang bersiap untuk pertempuran hari mendongak, wajah mereka pucat. Bahkan Wei Zheng menyipitkan matanya dengan ekspresi waspada.‎‎Dari atas perkemahan Xiyuan, sesosok pria melayang naik ke udara. Tubuhnya seperti raksasa setidaknya dua kepala lebih tinggi dari Wei Zheng, orang itu mengenakan jubah merah darah yang berkibar meskipun tidak ada angin. Di wajahnya, sebuah bekas luka panjang membentang dari dahi hingga dagu, melewati mata kirinya yang kini buta dan berwarna putih susu. Di tangannya, sebilah tombak raksasa berkilau dengan energi angin, itu adalah senjata pusaka yang konon bisa menciptakan tornado hanya dengan satu

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 164

    Xiao Fan menatap ketiga batu roh surgawi yang melayang di hadapannya. Cahaya keemasannya begitu murni dan kuat. Ia mengulurkan tangannya dan menggenggam dua batu itu, sementara yang ketiga ia kembalikan pada Lei.‎‎"Simpan untuk jaga-jaga," katanya.‎‎Lei mengangguk dan memasukkan batu itu kembali ke dimensi penyimpanannya. "Tuan, kau yakin ingin melakukannya malam ini? Tubuhmu sudah lelah. Lukamu belum sembuh sepenuhnya. Menerobos dalam kondisi seperti ini..."‎‎"Aku tahu resikonya." Xiao Fan menatap batu-batu di tangannya. "Tapi aku tidak punya pilihan. Perang ini tidak bisa berlangsung lebih lama lagi. Setiap hari kita bertahan, lebih banyak nyawa melayang. Kalau aku bisa menerobos ke Nascent Soul, setidaknya, aku bisa memberi kita keunggulan yang cukup untuk memaksa Xiyuan mundur."‎‎"Kalau begitu, biarkan aku berjaga di luar. Tidak ada yang boleh mengganggu Tuan malam ini, baik itu kawan maupun lawan. Aku akan pastikan itu."‎‎Xiao Fan menatap Qilin kecil itu. "Terima kasih,

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 163

    CLANG!‎‎Pedang Xiao Fan beradu dengan tombak seorang kultivator Xiyuan. Percikan energi menyebar ke segala arah, membuat tanah di bawah mereka retak. Hujan deras mengguyur seluruh lembah dan kabut yang selama dua hari menjadi senjata utama Xiyuan akhirnya luruh disapu air.‎‎"Kalian tidak akan bisa melewati garis ini, Jenderal Muda!" teriak Prajurit Xiyuan itu ketika mendorong tombaknya lebih keras. "Mundur, atau aku akan memastikan mayatmu ikut bergabung dengan ribuan mayat di bawah sana!"‎‎Xiao Fan tidak menjawabnya dan lengan Qilin-nya bersinar emas, lalu dengan satu dorongan kuat, ia mematahkan tombak itu menjadi dua. Sebelum lawannya bisa bereaksi, Api Kegelapan Nether sudah melahap pertahanannya, dan satu pukulan ke dada membuatnya terpental ke belakang, jatuh di antara tumpukan mayat yang memenuhi dasar lembah.‎‎"Tuan! Di sebelah kiri!" teriak Lei dari atas. Qilin itu terbang dengan sayap petirnya sembari menyambar siapa pun yang mencoba mendekat.‎‎Xiao Fan menoleh dan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 7: Panggung Keemasan

    Alun-Alun Tianyu hari itu adalah pemandangan yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang menyaksikannya. Lima bendera raksasa berkibar di tiang-tiang setinggi dua puluh meter—naga perak yang melambangkan Klan Xiao di tengah, dikelilingi oleh harimau hitam Klan Mo, burung merah Klan Lin,

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 6: Pagi Yang Menentukan

    Beberapa jam sebelumnya. Di dalam kamarnya, Xiao Fan berdiri di depan cermin perunggu, menatap bayangannya sendiri. Jubah perak warisan leluhur Klan Xiao telah ia kenakan—kain sutra berusia ratusan tahun yang hanya dikeluarkan untuk upacara-upacara terpenting. Sulaman benang emas berbentuk naga d

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 5: Senyuman yang Tak Pernah Terucap

    Latihan itu berlangsung hingga bulan bergeser ke barat. Xiao Fan akhirnya menyarungkan pedangnya, napasnya terengah-engah tapi matanya bersinar puas."Cukup," katanya pada diri sendiri. "Ini sudah cukup."Ia berjalan kembali ke anak tangga tempat Xuan'er duduk. Gadis itu telah tertidur, kepalanya b

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 4: Tarian Pedang di Bawah Bulan

    Malam telah larut ketika Xiao Fan akhirnya meninggalkan aula utama. Saat itu ia baru saja menghadiri pertemuan dengan para tetua untuk membahas demonstrasi esok hari—semua orang ingin memberi wejangan terakhir, semua orang ingin mengingatkannya tentang betapa pentingnya demonstrasi besok. "Kau pa

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status