MasukXiao Fan menatap ketiga batu roh surgawi yang melayang di hadapannya. Cahaya keemasannya begitu murni dan kuat. Ia mengulurkan tangannya dan menggenggam dua batu itu, sementara yang ketiga ia kembalikan pada Lei."Simpan untuk jaga-jaga," katanya.Lei mengangguk dan memasukkan batu itu kembali ke dimensi penyimpanannya. "Tuan, kau yakin ingin melakukannya malam ini? Tubuhmu sudah lelah. Lukamu belum sembuh sepenuhnya. Menerobos dalam kondisi seperti ini...""Aku tahu resikonya." Xiao Fan menatap batu-batu di tangannya. "Tapi aku tidak punya pilihan. Perang ini tidak bisa berlangsung lebih lama lagi. Setiap hari kita bertahan, lebih banyak nyawa melayang. Kalau aku bisa menerobos ke Nascent Soul, setidaknya, aku bisa memberi kita keunggulan yang cukup untuk memaksa Xiyuan mundur.""Kalau begitu, biarkan aku berjaga di luar. Tidak ada yang boleh mengganggu Tuan malam ini, baik itu kawan maupun lawan. Aku akan pastikan itu."Xiao Fan menatap Qilin kecil itu. "Terima kasih,
CLANG!Pedang Xiao Fan beradu dengan tombak seorang kultivator Xiyuan. Percikan energi menyebar ke segala arah, membuat tanah di bawah mereka retak. Hujan deras mengguyur seluruh lembah dan kabut yang selama dua hari menjadi senjata utama Xiyuan akhirnya luruh disapu air."Kalian tidak akan bisa melewati garis ini, Jenderal Muda!" teriak Prajurit Xiyuan itu ketika mendorong tombaknya lebih keras. "Mundur, atau aku akan memastikan mayatmu ikut bergabung dengan ribuan mayat di bawah sana!"Xiao Fan tidak menjawabnya dan lengan Qilin-nya bersinar emas, lalu dengan satu dorongan kuat, ia mematahkan tombak itu menjadi dua. Sebelum lawannya bisa bereaksi, Api Kegelapan Nether sudah melahap pertahanannya, dan satu pukulan ke dada membuatnya terpental ke belakang, jatuh di antara tumpukan mayat yang memenuhi dasar lembah."Tuan! Di sebelah kiri!" teriak Lei dari atas. Qilin itu terbang dengan sayap petirnya sembari menyambar siapa pun yang mencoba mendekat.Xiao Fan menoleh dan
Di bawah, Mo Cheng berdiri di atas tebing yang baru saja direbutnya. Napasnya memburu ketika darah musuh yang ada di pedangnya mengalir membasahi tanah."KOMANDAN! KITA BERHASIL!" teriak salah satu prajuritnya."Belum." Balas Mo Cheng saat menatap ke arah kabut yang masih menyelimuti lembah itu. "Ini baru awal pertempuran, masih banyak musuh yang ada di depan sana.""Kami siap mengikuti Komandan! Ke mana pun Komandan pergi!"Mo Cheng menoleh lalu menatap para prajuritnya. Wajah-wajah yang tadinya ketakutan kini dipenuhi oleh kepercayaan. Mereka tidak lagi melihatnya sebagai cucu pengkhianat melainkan sebagai pemimpin yang layak diikuti."Aku tidak akan mengecewakan kalian, Aku bersumpah" kata Mo Cheng pelan.Pertempuran di Lembah Kabut berlangsung selama berjam-jam. Tapi berkat strategi Mo Cheng, pasukan Tianyu berhasil mematahkan penyergapan Xiyuan dan memukul mundur mereka ke sisi barat lembah. Ketika matahari mulai terbenam, bendera Tianyu sudah berkibar di atas
Pertempuran pertama akhirnya pecah di Lembah Kabut. Jarak pandang di area itu hampir tidak ada sama sekali. Pepohonan mati berdiri seperti kerangka di antara batu-batu tajam. Tanahnya licin penuh lumut dan lumpur. Ini adalah medan yang sempurna untuk penyergapan. Dan pasukan Xiyuan, yang lebih mengenal medan ini, tahu betul bagaimana memanfaatkannya.Pasukan infanteri Tianyu yang dipimpin oleh Mo Cheng bergerak maju dalam formasi yang rapat. Lima ribu prajurit itu adalah barisan pertama yang memasuki area itu dengan pedang dan perisai yang siap untuk bertarung. Tapi kabut itu terlalu tebal. Mereka tidak bisa melihat apa pun di depan mereka. Mereka hanya bisa mendengar suara langkah kaki mereka sendiri yang bergema di antara dinding-dinding lembah.Dan kemudian panah pertama melesat dari kegelapan.FIUUT!Seorang prajurit Tianyu jatuh dengan panah menancap di bahunya. Sebelum yang lain bisa bereaksi, lebih banyak panah datang dari berbagai sisi. Pasukan Xiyuan sebenarnya te
Setelah perjalanan panjang selama berhari-hari, pasukan akhirnya tiba di perbatasan barat. Padang rumput kering yang membentang sejauh mata memandang kini berubah menjadi lautan tenda putih. Kemah besar didirikan dengan cepat dan teratur ketika seratus ribu prajurit Tianyu menempati posisi mereka masing-masing, membentuk formasi pertahanan yang rapi di sisi timur padang. Di kejauhan, di sisi barat, pasukan Xiyuan sudah menunggu.Xiao Fan berdiri di atas sebuah bukit kecil yang menghadap langsung ke arah musuh. Di sampingnya, Wei Zheng berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, matanya menyipit ketika menatap lautan bendera merah yang berkibar di kejauhan. Wei Lian berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Mo Cheng juga berdiri di sisi lain dengan tangan mengepal di samping tubuhnya."Seratus dua puluh ribu," kata Wei Zheng dengan suara berat. "Mereka membawa dua puluh ribu lebih banyak dari kita."Xiao Fan mengaktifkan Mata Yin-Yang-nya. Pandangannya menembus jarak dan
Fajar menyingsing di ufuk ketika di gerbang utama Kota Tianyu, seratus ribu pasukan berbaris rapi dalam formasi yang membentang sejauh mata memandang. Bendera-bendera naga kekaisaran berkibar di atas mereka, dan genderang perang ditabuh dengan irama yang menggetarkan dada. Suaranya bergema ke seluruh penjuru kota dan menjadi panggilan pada setiap warga untuk bangkit dan menyaksikan sejarah yang sedang ditulis.Penduduk Kota Tianyu memadati pinggir jalan. Mereka berdiri berdesakan, beberapa di antaranya naik ke atap-atap rumah untuk mendapatkan pemandangan yang lebih baik. Anak-anak melambai-lambaikan tangan mereka. Para ibu menangis, ia tahu bahwa di antara prajurit yang berbaris itu ada putra-putra mereka yang mungkin tidak akan pernah kembali lagi."LIHAT! ITU JENDERAL MUDA XIAO FAN!""Dia yang memimpin divisi depan!""Katakan pada suamiku di medan perang nanti! Katakan aku mencintainya!""Kembalilah dengan selamat! KALIAN SEMUA HARUS KEMBALI DENGAN SELAMAT!"Xiao
Malam telah larut ketika Xiao Fan akhirnya meninggalkan aula utama. Saat itu ia baru saja menghadiri pertemuan dengan para tetua untuk membahas demonstrasi esok hari—semua orang ingin memberi wejangan terakhir, semua orang ingin mengingatkannya tentang betapa pentingnya demonstrasi besok. "Kau pa
Ruangan kerja Elder Pertama—Xiao Ba—terletak di sayap timur kompleks Klan Xiao, jauh dari bangunan utama tempat para tetua biasanya berkumpul. Ini adalah pilihan yang disengaja; semakin sedikit orang yang tahu tentang urusannya, maka semakin baik. Sore itu, Xiao Ren masuk ke ruangan ayahnya dengan
Keesokan paginya.Di taman belakang, jauh dari hiruk-pikuk persiapan, Lin Yue duduk di bangku batu di bawah pohon plum yang mulai berbunga. Kelopak-kelopak putihnya berguguran tertiup angin pagi, menciptakan pemandangan seperti salju di musim semi. Di tangannya, sebuah teko porselen putih mengepulk
Angin senja berembus pelan di puncak Menara Naga, menerbangkan rambut hitam legam Xiao Fan yang tidak diikat. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak di tepi balkon tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada pagar batu giok yang sudah berusia ratusan tahun. Di punggungnya, tersarung Pedang







