MasukUltimatum dari Kaisar Xiyuan tiba di Kota Tianyu tiga hari kemudian. Ketika seorang utusan pria tinggi berjubah merah dengan wajah arogan dan langkah yang dibuat-buat angkuh memasuki ruang singgasana dengan iringan dua belas pengawal pribadi. Ia berjalan melewati para pejabat yang berdiri di kedua sisi, dagunya terangkat tinggi seolah-olah ia bukan sedang berada di istana kekaisaran lain, melainkan di rumahnya sendiri."Yang Mulia Kaisar Tianyu," Pria itu memulai dengan suara lantang tanpa sedikit pun kerendahan hati. "Aku datang membawa pesan dari Kaisar Xiyuan, Penguasa Agung Kekaisaran Xiyuan yang Jaya."Kaisar Tianyu duduk di singgasananya ketika ekspresinya tenang dan sulit dibaca. "Bacakan." Katanya dengan dingin dan juga penuh tekanan.Utusan itu membuka gulungan merah di tangannya dan mulai membaca."Atas nama Kaisar Xiyuan, Penguasa Agung Kekaisaran Xiyuan, kepada Kaisar Tianyu." Suaranya menggema di seluruh ruang singgasana, didengar oleh puluhan pejabat, jender
Berita tentang Mo Qian dan penangkapan Menteri Han menyebar keseluruh penjuru negri. Dan dalam waktu tiga hari saja, berita itu telah menyeberangi perbatasan barat dan sampai ke telinga Kaisar Xiyuan.Di sebuah aula raksasa dengan pilar-pilar emas dan dinding-dinding yang dihiasi ukiran naga, Kaisar Xiyuan duduk di singgasananya. Ia mengenakan Jubah merah tua ga g berkibar-kibar meskipun tidak ada angin. Di tangannya, ia menggenggam sebuah laporan dari mata-mata mereka yang masih tersisa di Kota Tianyu. Dan semakin lama ia membaca laporan otu, semakin merah pula wajahnya."Mo Qian dieksekusi di depan umum.""Menteri Han ditangkap dan dieksekusi.""Semua bukti pengkhianatan termasuk surat-surat dari Kaisar Xiyuan sendiri telah diserahkan kepada Kaisar Tianyu.""Rencana untuk melemahkan Tianyu dari dalam telah gagal total."Kaisar Xiyuan meremas laporan itu dengan tangannya. Wajahnya merah padam. "Mo Qian... Dasar ular tua bodoh! Aku sudah memberinya semua yang ia butu
Keesokan paginya, Xiao Fan dibangunkan oleh suara ketukan keras di pintu kamarnya. Begitu ia membuka pintu, terlihatlah seorang pengawal istana yang berdiri dengan napas tersengal-sengal."Jenderal Muda Xiao Fan! Perintah langsung dari Yang Mulia Kaisar! Anda diminta hadir di istana segera!"Xiao Fan tidak perlu bertanya untuk apa ia dipanggil , karena ia sudah tahu bahwa hari ini adalah giliran Menteri Han.---Ketika Xiao Fan tiba di kediaman Menteri Han yang merupakan rumah mewah dengan taman luas dan pagar batu berukir dengan puluhan pengawal istana yang sudah mengepung seluruh area. Mereka bergerak cepat dan senyap ketika memblokir semua pintu keluar dan memastikan tidak ada yang bisa melarikan diri.Di dalam, Menteri Han sedang sarapan. Pria berusia lima puluhan dengan janggut tipis dan mata yang selalu tampak licik itu duduk di meja makannya yang panjang, ia mengarahkan sendok sup ke mulutnya ketika pintu depan rumahnya didobrak. Pengawal istana menerobos masuk d
Algojo melangkah maju. Pria itu sudah menunggu di samping panggung sejak pengadilan dimulai. Pedang eksekusi raksasa dengan bilah yang berkilau diterpa sinar matahari miliknya terhunus di tangannya.Mo Qian didorong ke altar eksekusi. Ia berjalan dengan langkah gontai dengan kepala tertunduk dan tatapan mata kosong.Di antara kerumunan yang menyaksikan, Mo Cheng berdiri. Tangannya terkepal erat di samping tubuhnya ketika air matanya mengalir di pipinya yang kaku. Ia bukan menangis karena ia membela kakeknya. Kakeknya telah mengkhianati kekaisaran dan telah menghancurkan kehormatan keluarga mereka.Air mata Mo Cheng itu adalah ungkapan rasa marah pada kakeknya sendiri. Kakek yang seharusnya menjadi panutannya dan yang seharusnya melindungi kehormatan Klan Mo, alih-alih menghancurkannya.'Kenapa, Kakek? Apa yang mendorongmu melakukan ini? Menghancurkan segala warisan leluhur yang dibangun selama bergenerasi—hanya demi kuasa dan harta? Apakah semua itu sebanding dengan kehorm
Mo Qian ditangkap malam itu juga. Tangannya dibelenggu dengan rantai khusus penekan kultivasi yang terbuat dari logam hitam langka yang bisa menekan Qi seorang kultivator hingga ke level paling dasar. Mo Qian kini tak lagi bisa menggunakan kekuatannya dan hanya bisa menundukkan kepalanya saat para prajurit Wei Zheng menyeretnya keluar dari markas yang hancur.Keesokan harinya, ia diarak ke ibukota dengan kereta tahanan yang dikawal ketat oleh pasukan Wei Zheng. Sepanjang perjalanan, penduduk kota yang mendengar tentang pengkhianatannya keluar dari rumah-rumah mereka. Mereka berdiri di pinggir jalan, menatap kereta tahanan itu lewat. Beberapa dari mereka meludah, adajuga yang meneriakkan kata-kata umpatan-umpatan dan di antaranya ada juga melemparkan batu."TUA BANGKA PENGKHIANAT!""KAU MENJUAL NEGARA INI PADA XlYUAN!""KAU PANTAS MATI!"Mo Qian tidak menjawab. Ia hanya duduk di dalam kereta dengan tatapan kosong. Pria yang dulu begitu berkuasa dengan gelarPatriark Klan
Mo Qian berdiri di tengah kepungan Jenderal Wei Zheng, Xiao Fan dan Lei."Mo Qian." Suara Wei Zheng menggema di seluruh halaman. "Permainanmu sudah berakhir."Mo Qian menggertakkan giginya. "Kau pikir kau sudah menang, Wei Zheng?! Aku masih punya—"Tapi Wei Zheng tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Ia melepaskan aura penuhnya. Dan apa yang terjadi selanjutnya membuat semua orang di halaman itu bahkan Xiao Fan pun terpaku.Tekanan Qi yang keluar dari tubuh Wei Zheng bukanlah tekanan kultivator Nascent Soul Puncak seperti milik Mo Qian. Ini adalah sesuatu yang lebih tinggi. Tekanan ini adalah sesuatu yang berada di ambang batas antara Nascent Soul dan Spirit Severing. Tanah di bawahnya retak dalam radius puluhan meter. Bangunan-bangunan di sekitarnya bergetar. Para prajurit Klan Mo yang masih berdiri langsung jatuh berlutut, mereka tidak mampu menahan tekanan yang luar biasa dahsyat itu.Mo Qian membelalakkan matanya. "Ti-tidak mungkin! Kau... ka
Malam itu, pasar malam Kota Tianyu dipenuhi oleh para pedagang yang menjajakan dagangan mereka di bawah cahaya lentera kertas. Aroma daging panggang, uap dari kuali sup, dan teriakan para penjual berbaur menjadi satu simfoni khas yang hanya bisa ditemukan di tempat seperti ini.Tapi Xiao Ren tid
Xiao Ren duduk di kursi kehormatannya—kursi yang seharusnya di duduki oleh Xiao Fan. Tangannya memegang secangkir teh yang sudah mendingin, tapi ia tidak meminumnya. Matanya menatap keluar jendela, ke arah halaman belakang kompleks Klan Xiao."Keponakan, Xiao Ren," suara Xiao Heng memecah keheni
Ia melepaskan kakinya dari tangan Mo Chen. Pemuda itu langsung menarik tangannya ke dada, meringkuk seperti anak kecil yang dimarahi. Darah terus mengalir dari bibirnya, juga dari hidung Jiang Li yang masih tergeletak di sampingnya, dan buku-buku jari Xuan'er yang terluka.Lalu Xuan'er berbalik dan
Xiao Fan membungkuk perlahan. Tangannya yang gemetar meraih Pedang Bintang Jatuh dari lantai."Ayo," bisiknya pada pedang itu. "Bangkit. Ini belum selesai."Ia memaksakan diri berdiri. Otot-otot dan Sendi-sendinya berderak. Setiap tarikan napas seperti menghirup pecahan kaca."Aku akan menyelesaika







