Se connecterWei Lian berdiri di ruang sebelah. Ia sedang menyiapkan perbekalan. Tali-tali kulit. Kantong-kantong air. Roti kering. Obat-obatan. Tangannya sibuk. Namun telinganya mendengar. Dinding balai itu tipis. Suara Xiao Fan dan Lei menembusnya. Ia tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Tentang Samudra Timur. Tentang Naga Laut. Tentang Api Samudra.Wei Lian berhenti menyiapkan perbekalan. Ia meletakkan kantong air di atas meja. Ia menatap dinding. Matanya kosong. Ia menarik napas panjang. Ia melangkah keluar dari ruangan itu. Ia menuju ruang alkimia Xiao Fan. Ia mengetuk pintu."Masuk," kata Xiao Fan.Wei Lian membuka pintu. Ia melangkah masuk. Lei masih duduk di sudut ruangan. Matanya masih merah. Namun ia sudah tidak menangis. Xiao Fan berdiri di dekat meja. Ia menatap Wei Lian."Ada apa, Wei Lian?" tanya Xiao Fan.Wei Lian menutup pintu di belakangnya. Ia berdiri tegak. Wajahnya dingin seperti biasanya. Namun ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang...
Xiao Fan duduk di ruang alkimianya. Kitab "Risalah Api Surgawi" terbuka di depannya. Halaman-halaman kitab itu sudah usang. Tintanya sudah memudar. Namun tulisannya masih bisa dibaca. Ia membaca ulang halaman-halaman tentang Api Samudra. Halaman yang selama ini ia lewati. Halaman yang selama ini tidak ia mengerti.Ia membaca setiap kata. Perlahan. Saksama. Dan ia menemukan sesuatu yang membuat darahnya berdesir. Api Samudra bukan sekadar api primordial biasa. Api itu diciptakan dari air mata Dewi Laut. Air mata yang jatuh ke dasar samudra terdalam. Setelah ia menyaksikan kehancuran alamnya sendiri. Api itu memiliki sifat Menghancurkan. Begitu dahsyat. Hingga bahkan para dewa zaman dahulu takut untuk mendekatinya.Xiao Fan menegakkan punggungnya. Ia menatap kitab itu. Matanya membelalak. "Api Samudra..."Ia membaca baris berikutnya. Api ini adalah yang paling berbahaya dari keempatnya. Bukan karena ia jahat. Melainkan karena ia tidak bisa dikendalikan dengan cara yang sama sep
Xuan'er menatap Xiao Fan yang berjuang di cengkeraman Bai Yu. Wajah Xiao Fan memerah karena kekurangan udara. Tangannya mencoba melepaskan cengkeraman Bai Yu. Matanya menatap Xuan'er dengan campuran kemarahan dan ketidakberdayaan."Jangan..." desis Xiao Fan. Suaranya nyaris tak terdengar. "Xuan'er... jangan ikuti dia..."Xuan'er menggelengkan kepalanya. Air mata mulai mengalir di pipinya. Namun air mata itu bukan air mata gadis yang cengeng. Melainkan air mata seorang putri yang telah memutuskan untuk mengorbankan kebebasannya demi orang yang ia cintai."Aku ikut denganmu," kata Xuan'er. Suaranya tenang. Namun penuh tekad. "Tapi lepaskan dia. Sekarang."Bai Yu menatapnya dengan curiga. Matanya menyipit. Ia mengamati wajah Xuan'er. Ia mencari tipuan. Ia mencari jebakan. Namun ia tidak menemukan apa pun. Hanya tekad. Hanya ketulusan. Akhirnya ia melepaskan cengkeramannya pada Xiao Fan.Xiao Fan langsung jatuh berlutut. Tangannya memegangi lehernya yang merah. Ia batuk-bat
Xuan'er mendengar ucapan Bai Yu. Tubuhnya menegang. Ia melangkah maju. Ia berdiri di samping Xiao Fan. Mahkota bulannya bersinar terang. Cahaya perak memancar dari tubuhnya. Ia menatap Bai Yu dengan mata safir yang tenang. Namun di balik ketenangan itu, ada wibawa yang tidak bisa dibantah."Kalau begitu," kata Xuan'er. Suaranya tenang. Namun penuh wibawa. "Mengapa kau tidak melakukannya sekarang?"Bai Yu menatapnya. Matanya menyipit. "Apa maksudmu?""Oh, benar." Xuan'er tersenyum tipis. "Karena kau tidak bisa. Karena hukum langit itu juga mengikatmu. Dan di ranah yang sama... kau bukanlah tandinganku."Bai Yu menegang. Wajahnya berubah. Namun sebelum ia bisa menjawab, Xuan'er sudah melesat maju. Kecepatannya belum pernah ditunjukkan sebelumnya. Cahaya perak menyelimuti seluruh tubuhnya. Mahkota bulannya memancarkan aura yang membuat udara di sekitarnya bergetar. Debu-debu di tanah terangkat. Kaca-kaca yang pecah bergetar.Xuan'er melepaskan serangan pertamanya. Gelomban
Tiga hari kemudian, langit di atas Kota Tianyu tiba-tiba terbelah. Sebuah celah spasial raksasa terbuka di angkasa. Celah itu memanjang dari ufuk timur hingga ufuk barat. Dari dalamnya, cahaya keemasan menyilaukan memancar ke seluruh penjuru kota. Cahaya itu begitu terang hingga penduduk Kota Tianyu harus menutup mata mereka dengan tangan. Beberapa dari mereka berhenti beraktivitas. Beberapa lainnya menatap ke atas dengan campuran kagum dan ketakutan. Seorang pedagang tua menjatuhkan dagangannya. Seorang anak kecil berlari ke pelukan ibunya. Seorang prajurit penjaga tembok kota berlutut tanpa sadar.Dari celah itu, Bai Yu melangkah keluar. Jubah putihnya berkilau terkena cahaya keemasan. Di belakangnya, puluhan prajurit surgawi berjubah putih mengikuti. Senjata mereka bercahaya. Mereka turun perlahan seperti dewa-dewa yang menghukum dunia fana. Langit di sekitar mereka bergetar setiap kali mereka melangkah. Udara terasa berat. Tekanan Qi yang luar biasa menyelimuti seluruh kota.Di da
Jauh di Alam Surgawi, di dalam Istana Langit yang megah, Kaisar Surgawi sedang duduk dalam meditasi. Ruangan itu sunyi. Cahaya keemasan memancar dari dinding-dinding kristal. Pilar-pilar tinggi menjulang ke langit-langit yang dipenuhi ukiran naga. Napasnya teratur. Tubuhnya tidak bergerak. Matanya tertutup rapat. Tiba-tiba, tubuhnya menegang. Matanya terbuka. Ia merasakan getaran yang sangat kuat dari dunia fana. Getaran itu menjalar ke seluruh Istana Langit. Getaran itu hanya bisa berasal dari satu sumber. Energi bulan murni dari Klan Bulan Abadi. "Energi itu..." Kaisar Surgawi bergumam pelan. "Tidak salah lagi. Gadis Bulan Suci telah membebaskan segelnya." Belum sempat ia berdiri, langit di atas Istana Langit berubah. Awan keemasan berputar seperti pusaran raksasa. Pusaran itu berputar semakin cepat. Semakin besar. Warnanya berubah dari keemasan menjadi putih menyilaukan. Dari dalamnya, sebuah gema suara turun. Suara yang agung. Angkuh. Penuh wibawa. Suara itu m
Malam telah larut ketika Xiao Fan akhirnya meninggalkan aula utama. Saat itu ia baru saja menghadiri pertemuan dengan para tetua untuk membahas demonstrasi esok hari—semua orang ingin memberi wejangan terakhir, semua orang ingin mengingatkannya tentang betapa pentingnya demonstrasi besok. "Kau pa
Ruangan kerja Elder Pertama—Xiao Ba—terletak di sayap timur kompleks Klan Xiao, jauh dari bangunan utama tempat para tetua biasanya berkumpul. Ini adalah pilihan yang disengaja; semakin sedikit orang yang tahu tentang urusannya, maka semakin baik. Sore itu, Xiao Ren masuk ke ruangan ayahnya dengan
Keesokan paginya.Di taman belakang, jauh dari hiruk-pikuk persiapan, Lin Yue duduk di bangku batu di bawah pohon plum yang mulai berbunga. Kelopak-kelopak putihnya berguguran tertiup angin pagi, menciptakan pemandangan seperti salju di musim semi. Di tangannya, sebuah teko porselen putih mengepulk
Angin senja berembus pelan di puncak Menara Naga, menerbangkan rambut hitam legam Xiao Fan yang tidak diikat. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak di tepi balkon tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada pagar batu giok yang sudah berusia ratusan tahun. Di punggungnya, tersarung Pedang







