Share

Bab 61 Turnamen Dimulai

Penulis: _PenaKaisar
last update Tanggal publikasi: 2026-06-13 17:27:53

‎BADUM! BADUM! BADUM! BADUM!

Suara genderang bergema di seluruh Arena Naga Emas. Bunyinya yang berat dan dalam menggetarkan dada setiap orang yang hadir, dan itu menandakan bahwa turnamen yang ditunggu-tunggu akhirnya akan segera dimulai. Puluhan ribu pasang mata tertuju pada balkon kehormatan, tempat Kaisar Tianyu bangkit dari singgasananya.

‎

‎Kaisar melangkah maju ke tepi balkon. Jubah emasnya berkibar diterpa angin pagi, dan mahkota naga di kepalanya berkilau diterpa sinar matahari. Ia meng
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
sangat seru
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 205

    Naga Laut menoleh pada Wei Lian. Matanya yang seperti dua bulan kecil itu menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada semacam penghormatan di sana. Ada juga semacam kesedihan.‎‎"Ujian ketiga bukan untuk Xiao Fan," kata Naga Laut. "Ujian ini untuk keturunan leluhur yang gagal."‎‎Wei Lian menegakkan punggungnya. Tubuhnya masih gemetar. Namun matanya tajam. "Aku siap."‎‎"Kau harus mengorbankan sesuatu yang sangat berharga," kata Naga Laut. "Untuk memutus kutukan keluargamu."‎‎"Ambil darahku," kata Wei Lian. Ia mengulurkan tangannya. "Darahku adalah darah leluhurku."‎‎Naga Laut menggeleng. "Darah tidak cukup."‎‎"Aku akan menyerahkan kekuatanku," kata Wei Lian. Suaranya tegas. "Kultivasiku. Ranahku. Semuanya."‎‎Naga Laut kembali menggeleng. "Kekuatan bisa dipulihkan. Waktu bisa mengembalikannya. Itu bukan pengorbanan."‎‎Wei Lian menurunkan tangannya. Wajahnya pucat. "Lalu apa yang harus kukorbankan?"‎‎Naga Laut menatapnya lama. Matanya dalam. Matanya tua. M

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 204

    Saat Xiao Fan menyentuh mutiara itu, dunia di sekelilingnya berubah. Ia bukan lagi di dasar palung. Ia berada di sebuah tempat yang gelap. Di depannya, sebuah penglihatan muncul. Xuan'er. Gadis itu duduk di dalam sel batu. Rambut peraknya kusut. Matanya safir itu merah. Ia menangis. Ia memanggil nama Xiao Fan.‎‎"Kak Fan..." Suara Xuan'er bergetar. "Kak Fan, tolong... aku takut..."‎‎Di samping Xuan'er, Bai Yu berdiri. Jubah putihnya berkilau. Wajahnya dingin. Senyumnya tipis. Ia menatap Xuan'er dengan tatapan mengejek. "Kau masih memanggil namanya?" kata Bai Yu. "Dia tidak akan datang. Dia terlalu lemah. Dia bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri."‎‎Xuan'er menundukkan kepalanya. Air mata mengalir di pipinya. "Kau bohong..."‎‎"Aku tidak berbohong," kata Bai Yu. "Aku melihatnya di dunia fana. Dia bahkan tidak bisa mengalahkanku. Bagaimana dia bisa datang ke sini? Bagaimana dia bisa menyelamatkanmu?"‎‎Xiao Fan merasakan kemarahan yang membara. Darahnya mendidih. Tangan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 203

    Naga Laut muncul dari dasar samudra. Tubuhnya panjang. Mencapai seratus meter. Sisiknya biru keperakan. Matanya seperti dua bulan kecil yang menyala. Di sekujur tubuhnya mengalir api biru. Api itu tidak membakar air. Api itu menari di atasnya seperti hantu.‎‎Makhluk itu menatap Xiao Fan dan kelompoknya. Matanya tidak menunjukkan kebencian. Matanya menunjukkan penilaian. Suaranya terdengar seperti gemuruh ombak yang menghantam tebing.‎‎"Kalian datang untuk Api Samudra," kata Naga Laut. "Seperti yang lain. Tapi kalian berbeda. Kalian tidak agresif. Dan kalian membawa keturunan dari orang yang pernah mencoba mengambilnya. Aku bisa merasakan darahnya."‎‎Wei Lian melangkah maju. Tubuhnya gemetar. Namun tekadnya kuat. Ia berdiri di haluan perahu. Ia menatap Naga Laut. "Aku datang bukan untuk mengambil."‎‎Naga Laut menoleh. Matanya menatap Wei Lian. "Lalu kenapa kau datang?"‎‎"Aku datang untuk memutus kutukan," kata Wei Lian. Suaranya tegas. "Kutukan yang kau berikan pada leluhurku

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 202

    Keesokan harinya, mereka bersiap untuk penyelaman kedua. Xiao Fan memeriksa tali. Wei Lian menajamkan pedangnya. Mo Cheng menyiapkan obat-obatan. Lei duduk di dek. Tubuhnya sudah pulih. Namun ia masih tidak suka air. Ia menatap laut dengan wajah masam.‎‎"Matahari belum terlalu tinggi," kata Xiao Fan. "Kita berangkat sekarang."‎‎Namun sebelum mereka sempat bergerak, langit di atas mereka berubah. Beberapa perahu muncul dari arah barat. Perahu-perahu itu besar. Layar-layarnya hitam. Di atasnya berdiri puluhan orang. Pakaian mereka compang-camping. Wajah mereka keras. Mata mereka serakah.‎‎Di perahu paling depan, berdiri seorang pria berjubah merah. Tubuhnya tinggi. Wajahnya tajam. Auranya kuat. Spirit Severing Awal. Ia menatap Xiao Fan dengan senyum tipis.‎‎"Jadi kalian yang menemukan Api Samudra?" kata pria itu. Suaranya lantang. "Aku sudah mendengar tentang api itu. Aku sudah mencarinya selama bertahun-tahun. Dan sekarang... kalian akan memberikannya padaku."‎‎Xiao Fan melan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 201

    ‎Malam itu, mereka berkumpul di dek perahu. Ombak-ombak menghantam lambung. Angin laut bertiup pelan. Bintang-bintang memenuhi langit. Wei Lian duduk di tengah. Wajahnya pucat. Tangannya menggenggam lututnya sendiri. Ia menarik napas panjang.‎‎"Ada sesuatu yang harus kuberitahu kalian semua," kata Wei Lian. Suaranya pelan.‎‎Xiao Fan duduk di seberangnya. Lei berbaring di samping Xiao Fan. Tubuhnya masih lemah setelah kejadian di dasar samudra. Namun ia tetap terjaga. Mo Cheng duduk di dekat kemudi. Ia menatap Wei Lian dengan mata penasaran.‎‎"Aku sudah memberitahu Xiao Fan," kata Wei Lian. "Tapi kalian berdua belum tahu. Klan Wei... adalah keturunan dari seorang kultivator yang pernah mencoba mengambil Api Samudra."‎‎Mo Cheng menegang. Matanya terbelalak. "Apa?"‎‎"Ratusan tahun lalu," kata Wei Lian. "Leluhur kami. Ia gagal. Ia tidak mati. Namun ia tidak berhasil. Dan kegagalan itu menjadi kutukan."‎‎"Kutukan apa?" tanya Mo Cheng.‎‎"Klan Wei tidak pernah bisa memiliki ket

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 200

    ‎Mereka menyewa sebuah perahu. Perahu itu terbuat dari kayu jati. Layarnya putih. Tali-temalinya kuat. Pemilik perahu itu seorang nelayan tua yang tidak banyak bicara. Mereka berlayar dari dermaga Kota Pelabuhan Terakhir. Angin laut mendorong perahu itu ke timur. Ombak-ombak menghantam lambungnya.‎‎Tiga hari mereka berlayar. Matahari terbit dan tenggelam. Bintang-bintang muncul dan menghilang. Wei Lian duduk di buritan. Ia menajamkan pedangnya dengan batu asah. Mo Cheng berdiri di haluan. Ia mengawasi cakrawala. Lei duduk di dek. Ia menatap air. Ia tidak berkata banyak sejak mereka berlayar. Xiao Fan berdiri di kemudi. Ia menatap kompas di tangannya. Ia menatap langit. Ia menatap laut.‎‎Hari ketiga, air laut berubah. Warnanya berubah dari biru tua menjadi biru muda. Semakin ke timur, semakin jernih. Akhirnya, air itu begitu jernih hingga mereka bisa melihat dasar samudra. Dasar itu sangat dalam. Sangat gelap. Namun mereka bisa melihatnya. Pasir putih. Batu-batu karang. Reruntuhan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 4: Tarian Pedang di Bawah Bulan

    Malam telah larut ketika Xiao Fan akhirnya meninggalkan aula utama. Saat itu ia baru saja menghadiri pertemuan dengan para tetua untuk membahas demonstrasi esok hari—semua orang ingin memberi wejangan terakhir, semua orang ingin mengingatkannya tentang betapa pentingnya demonstrasi besok. "Kau pa

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 3: Secangkir Teh Beracun

    Ruangan kerja Elder Pertama—Xiao Ba—terletak di sayap timur kompleks Klan Xiao, jauh dari bangunan utama tempat para tetua biasanya berkumpul. Ini adalah pilihan yang disengaja; semakin sedikit orang yang tahu tentang urusannya, maka semakin baik. Sore itu, Xiao Ren masuk ke ruangan ayahnya dengan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 2: Bunga Es di Taman Plum

    Keesokan paginya.Di taman belakang, jauh dari hiruk-pikuk persiapan, Lin Yue duduk di bangku batu di bawah pohon plum yang mulai berbunga. Kelopak-kelopak putihnya berguguran tertiup angin pagi, menciptakan pemandangan seperti salju di musim semi. Di tangannya, sebuah teko porselen putih mengepulk

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 1 Jenius Seribu Tahun

    Angin senja berembus pelan di puncak Menara Naga, menerbangkan rambut hitam legam Xiao Fan yang tidak diikat. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak di tepi balkon tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada pagar batu giok yang sudah berusia ratusan tahun. Di punggungnya, tersarung Pedang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status