Share

Bab 200

Penulis: _PenaKaisar
last update Tanggal publikasi: 2026-10-01 10:10:15

‎Mereka menyewa sebuah perahu. Perahu itu terbuat dari kayu jati. Layarnya putih. Tali-temalinya kuat. Pemilik perahu itu seorang nelayan tua yang tidak banyak bicara. Mereka berlayar dari dermaga Kota Pelabuhan Terakhir. Angin laut mendorong perahu itu ke timur. Ombak-ombak menghantam lambungnya.

‎

‎Tiga hari mereka berlayar. Matahari terbit dan tenggelam. Bintang-bintang muncul dan menghilang. Wei Lian duduk di buritan. Ia menajamkan pedangnya dengan batu asah. Mo Cheng berdiri di haluan. Ia
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 200

    ‎Mereka menyewa sebuah perahu. Perahu itu terbuat dari kayu jati. Layarnya putih. Tali-temalinya kuat. Pemilik perahu itu seorang nelayan tua yang tidak banyak bicara. Mereka berlayar dari dermaga Kota Pelabuhan Terakhir. Angin laut mendorong perahu itu ke timur. Ombak-ombak menghantam lambungnya.‎‎Tiga hari mereka berlayar. Matahari terbit dan tenggelam. Bintang-bintang muncul dan menghilang. Wei Lian duduk di buritan. Ia menajamkan pedangnya dengan batu asah. Mo Cheng berdiri di haluan. Ia mengawasi cakrawala. Lei duduk di dek. Ia menatap air. Ia tidak berkata banyak sejak mereka berlayar. Xiao Fan berdiri di kemudi. Ia menatap kompas di tangannya. Ia menatap langit. Ia menatap laut.‎‎Hari ketiga, air laut berubah. Warnanya berubah dari biru tua menjadi biru muda. Semakin ke timur, semakin jernih. Akhirnya, air itu begitu jernih hingga mereka bisa melihat dasar samudra. Dasar itu sangat dalam. Sangat gelap. Namun mereka bisa melihatnya. Pasir putih. Batu-batu karang. Reruntuhan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 199

    ‎Mereka tiba di Kota Pelabuhan Terakhir setelah tiga hari perjalanan. Kota itu berdiri di tepi daratan. Di depannya terbentang Samudra Timur yang luas. Ombak-ombaknya menghantam dermaga. Angin laut bertiup kencang. Bau garam memenuhi udara. Suasana kota itu berbeda dari kota-kota lain. Penduduknya pendiam. Rumah-rumah mereka dibangun menghadap ke laut. Jendela-jendela mereka selalu tertutup. Di dinding-dinding kota terdapat ukiran-ukiran kuno. Ukiran itu menggambarkan makhluk-makhluk laut raksasa. Ada yang berbentuk ular. Ada yang berbentuk kura-kura. Ada yang berbentuk ikan bertanduk.‎‎Xiao Fan menyewa kamar di penginapan pelabuhan. Penginapan itu sederhana. Lantainya kayu. Dindingnya batu. Ia meletakkan tasnya di atas ranjang. Ia menatap keluar jendela. Samudra Timur terlihat di kejauhan. Gelap. Dalam. Misterius.‎‎"Aku akan mencari informasi," kata Xiao Fan kepada yang lain. "Kalian istirahat dulu."‎‎Ia melangkah keluar dari penginapan. Ia menuju pelabuhan. Di sana, para pelau

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 198

    Di tengah perjalanan, mereka melewati sebuah desa kecil di tepi sungai. Desa itu sunyi. Tidak ada anak-anak bermain di jalan. Tidak ada pedagang menjajakan barang. Tidak ada orang tua duduk di teras rumah. Hanya ada beberapa sosok yang berjalan pelan di jalan tanah. Mereka berjalan seperti orang yang kehilangan jiwa. Mata mereka kosong. Tatapan mereka hampa. Mereka tidak menyapa. Mereka tidak menoleh. Mereka hanya berjalan tanpa tujuan.‎‎Xiao Fan menarik tali kuda. Kereta itu berhenti. Ia melompat turun. Lei, Wei Lian, dan Mo Cheng mengikutinya. Mereka menatap desa itu dengan wajah tegang.‎‎"Apa yang terjadi di sini?" tanya Mo Cheng. Ia mengerutkan dahinya. "Kenapa mereka seperti itu?"‎‎Xiao Fan tidak menjawab. Ia mengaktifkan Mata Yin-Yang. Matanya berubah. Satu mata berwarna emas. Satu mata berwarna ungu. Ia menatap desa itu. Ia menatap penduduknya. Ia menatap sungai di dekat sana. Dan ia melihat sesuatu. Energi gelap. Energi itu merembes dari sungai. Energi itu menyelimuti de

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 197

    ‎Wei Lian berdiri di ruang sebelah. Ia sedang menyiapkan perbekalan. Tali-tali kulit. Kantong-kantong air. Roti kering. Obat-obatan. Tangannya sibuk. Namun telinganya mendengar. Dinding balai itu tipis. Suara Xiao Fan dan Lei menembusnya. Ia tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Tentang Samudra Timur. Tentang Naga Laut. Tentang Api Samudra.‎‎Wei Lian berhenti menyiapkan perbekalan. Ia meletakkan kantong air di atas meja. Ia menatap dinding. Matanya kosong. Ia menarik napas panjang. Ia melangkah keluar dari ruangan itu. Ia menuju ruang alkimia Xiao Fan. Ia mengetuk pintu.‎‎"Masuk," kata Xiao Fan.‎‎Wei Lian membuka pintu. Ia melangkah masuk. Lei masih duduk di sudut ruangan. Matanya masih merah. Namun ia sudah tidak menangis. Xiao Fan berdiri di dekat meja. Ia menatap Wei Lian.‎‎"Ada apa, Wei Lian?" tanya Xiao Fan.‎‎Wei Lian menutup pintu di belakangnya. Ia berdiri tegak. Wajahnya dingin seperti biasanya. Namun ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang...

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 196

    Xiao Fan duduk di ruang alkimianya. Kitab "Risalah Api Surgawi" terbuka di depannya. Halaman-halaman kitab itu sudah usang. Tintanya sudah memudar. Namun tulisannya masih bisa dibaca. Ia membaca ulang halaman-halaman tentang Api Samudra. Halaman yang selama ini ia lewati. Halaman yang selama ini tidak ia mengerti.‎‎Ia membaca setiap kata. Perlahan. Saksama. Dan ia menemukan sesuatu yang membuat darahnya berdesir. Api Samudra bukan sekadar api primordial biasa. Api itu diciptakan dari air mata Dewi Laut. Air mata yang jatuh ke dasar samudra terdalam. Setelah ia menyaksikan kehancuran alamnya sendiri. Api itu memiliki sifat Menghancurkan. Begitu dahsyat. Hingga bahkan para dewa zaman dahulu takut untuk mendekatinya.‎‎Xiao Fan menegakkan punggungnya. Ia menatap kitab itu. Matanya membelalak. "Api Samudra..."‎‎Ia membaca baris berikutnya. Api ini adalah yang paling berbahaya dari keempatnya. Bukan karena ia jahat. Melainkan karena ia tidak bisa dikendalikan dengan cara yang sama sep

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 195

    Xuan'er menatap Xiao Fan yang berjuang di cengkeraman Bai Yu. Wajah Xiao Fan memerah karena kekurangan udara. Tangannya mencoba melepaskan cengkeraman Bai Yu. Matanya menatap Xuan'er dengan campuran kemarahan dan ketidakberdayaan.‎‎"Jangan..." desis Xiao Fan. Suaranya nyaris tak terdengar. "Xuan'er... jangan ikuti dia..."‎‎Xuan'er menggelengkan kepalanya. Air mata mulai mengalir di pipinya. Namun air mata itu bukan air mata gadis yang cengeng. Melainkan air mata seorang putri yang telah memutuskan untuk mengorbankan kebebasannya demi orang yang ia cintai.‎‎"Aku ikut denganmu," kata Xuan'er. Suaranya tenang. Namun penuh tekad. "Tapi lepaskan dia. Sekarang."‎‎Bai Yu menatapnya dengan curiga. Matanya menyipit. Ia mengamati wajah Xuan'er. Ia mencari tipuan. Ia mencari jebakan. Namun ia tidak menemukan apa pun. Hanya tekad. Hanya ketulusan. Akhirnya ia melepaskan cengkeramannya pada Xiao Fan.‎‎Xiao Fan langsung jatuh berlutut. Tangannya memegangi lehernya yang merah. Ia batuk-bat

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 4: Tarian Pedang di Bawah Bulan

    Malam telah larut ketika Xiao Fan akhirnya meninggalkan aula utama. Saat itu ia baru saja menghadiri pertemuan dengan para tetua untuk membahas demonstrasi esok hari—semua orang ingin memberi wejangan terakhir, semua orang ingin mengingatkannya tentang betapa pentingnya demonstrasi besok. "Kau pa

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 3: Secangkir Teh Beracun

    Ruangan kerja Elder Pertama—Xiao Ba—terletak di sayap timur kompleks Klan Xiao, jauh dari bangunan utama tempat para tetua biasanya berkumpul. Ini adalah pilihan yang disengaja; semakin sedikit orang yang tahu tentang urusannya, maka semakin baik. Sore itu, Xiao Ren masuk ke ruangan ayahnya dengan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 2: Bunga Es di Taman Plum

    Keesokan paginya.Di taman belakang, jauh dari hiruk-pikuk persiapan, Lin Yue duduk di bangku batu di bawah pohon plum yang mulai berbunga. Kelopak-kelopak putihnya berguguran tertiup angin pagi, menciptakan pemandangan seperti salju di musim semi. Di tangannya, sebuah teko porselen putih mengepulk

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 1 Jenius Seribu Tahun

    Angin senja berembus pelan di puncak Menara Naga, menerbangkan rambut hitam legam Xiao Fan yang tidak diikat. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak di tepi balkon tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada pagar batu giok yang sudah berusia ratusan tahun. Di punggungnya, tersarung Pedang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status