เข้าสู่ระบบDetik berlalu, Yue Xindy menarik napas dalam-dalam, hendak menjauh, tetapi, tapi Pria itu bergerak duluan, perlahan dan sangat hati-hati, menggeser gelas agar tidak jatuh. jari-jemari menyentuh pergelangan tangan wanita tersebut, ringan bahkan nyaris sopan.
“Maaf,” hanya satu kata yang keluar, dia harus segera melepaskan. Namun, sentuhan bertahan beberapa detik lebih lama, membuat jantung Yue Xindy berdegup dengan cepat. Ketika tersadar, ia bergegas menarik tangan yang berada dibawah telapak tangan adik ipar, lalu mundur setengah langkah, raut wajah terlihat memanas seperti udang rebus, pikiran langsung kacau. “Aku sangat lelah,” berusaha mencari alasan untuk pergi. Gu Qiang mengangguk, seolah tak terjadi apa-apa. Namun, tatapan mata berubah lebih dalam, jauh lebih tenang. “Beristirahatlah,” ucapan tersebut sangat lembut. “Aku akan mematikan lampu.” Wanita itu berjalan pergi tanpa menoleh. Tetapi langkah kaki sedikit gontai, bukan seperti yang diinginkan. Gu Qiang berdiri sendiri di dapur, lalu mengepalkan tangan perlahan, menahan sesuatu yang tidak boleh terburu-buru, dia tahu batas baru saja dilanggar. Bukan oleh tubuh, melainkan oleh hati. Dan di kamar lantai atas, wanita itu menutup pintu, bersandar di sana cukup lama, pikiran masih mengingat sentuhan ringan tadi, dan masih terjebak pada tatapan yang terlalu memahami. Dia tahu ini salah. Namun, ini pertama kali setelah sekian lama, ia merasa sendiri dalam kesunyian. Sementara di didalam kamar, Zhuo bersembunyi dibalik selimut, karena tahu semua kejadian tersebut, ingin segera memberitahu sang Ayah, tapi takut akan membuat si ayah marah. *** Suatu sore, Zhang Zhuo pulang lebih awal dari les kerajinan pahat. Ia masuk ke rumah tanpa suara,dari tangga tanpa sengaja melihat sesuatu yang membuat langkah kaki terhenti. Ibu berdiri di ruang tamu dengan wajah pucat. Di hadapan Gu Qiang berdiri terlalu dekat, jarak yang tidak pantas. “Apa yang Paman lakukan?” tanya Zhang Zhuo spontan membuat pria itu menoleh. Senyuman muncul seketika, seolah telah dilatih. “Oh, Zhuo,” kata Gu Qiang ramah. “Paman hanya berbincang dengan ibumu.” Yue Xindy menoleh, jelas terkejut. “Zhuo, kenapa sudah pulang?” “Les selesai lebih cepat.”Zhang Zhuo melangkah mendekat berdiri di sisi ibu, tangan mungil itu menggenggam ujung gaun sang ibu dengan erat. Gu Qiang menegakkan tubuh lalu mundur satu langkah. “Aku pamit dulu.” kemudian pergi dengan tenang seolah tidak pernah terjadi apapun, yang ada hanya meninggalkan udara berat. Wanita itu menutup mata sejenak, menarik napas panjang. Tangan terlihat bergetar saat mengusap kepala sang putra. “Zhuo,” panggil Yue Xindy pelan. “Kalau suatu hari… Mama salah, kau harus kuat.” Anak itu mengernyit. “Salah apa, Ma?” si Ibu tersenyum tipis nyaris runtuh. “Tidak apa-apa. Lupakan.” tetapi Zhang Zhuo tidak melupakan begitu saja. Beberapa hari kejadian tak terduga, hujan turun deras di Jiangchen. Petir menyambar menerangi langit sesaat. Dalam kediaman keluarga Zhang, perubahan mulai terasa. Telepon sang Ayah tak berhenti berdering. Surat-surat datang bertumpuk. Yue Xindy semakin dekat dan mungkin nyaman bersama dengan Gu Qiang. Wajah Zhang Guang semakin pucat dari hari ke hari. Ia sering lembur di ruang kerja hingga larut malam, ditemani lampu meja dan tumpukan dokumen. Suatu malam Zhang Zhuo mengintip dari balik pintu. “Apa yang terjadi, Papa?” “Papa sangat sibuk, Sayang.” jawaban tersebut seperti pisau tajam menusuk hati. Si bocah tetap berada di sana sambil menutup telinga, karena takut akan suara petir. Zhang Guang tak tega melihat sang putra seperti kesepian. Ia pun mengakhiri pekerjaan dengan niatan menemani Zhuo tidur. “Mama mu gimana sih, sudah tahu kamu takut petir, kok nggak di temenin.” Ia pun menggendong si anak keluar menuju kamar, tetapi, langkah kaki terhenti oleh suara menjijikan dari atas. Sungguh mengejutkan ketika tatapan mata menangkap kedua insan bukan pasangan suami istri, sedang bermain gila balkon dalam. Zhang Guang bergegas naik, dengan terus menstabilkan langkah kaki, lalu berteriak. “Apa yang kalian lakukan?!” Yue Xindy bergegas membenarkan pakaian menutup tubuh, sedangkan Gu Qiang sangat santai seolah dialah pasangan sah dari wanita tersebut. “Kalian! Kalian binatang!” Zhang Guang sudah geram hingga membutakan mata, hati dan pikiran. tanpa berpikir panjang langsung menghantam wajah si adik hingga Gu Qiang jatuh di lantai. Kemudian menghantam keras dengan membabi buta, “Aku kurang baik apa?! Dari jalanan ku bawa pulang, kau malah menikam dari belakang,” dia terus memberikan tonjokan keras hingga si adik babak belur, tak perduli jika ada anak kecil melihat dari atas tangga sambil menutup telinga di dalam kamar, tubuh gemetar karena ketakutan. “Guang apa yang kau lakukan?!” teriak Yue Xindy, dalam keadaan panik dia mengambil vas bunga kemudian di hantamkan pada kepala suami. Vas itu hancur berkeping-keping, bersamaan dengan teriakan Zhuo “Papa!” terkejut tetapi hanya bisa diam di tempat, Guang meraba bekas hantaman lalu mengalihkan pandangan pada istri dengan tatapan kekecewaan. “Kau membela bajingan ini?” “Guang, aku tidak bermaksud Untuk …” tutur Yue Xindy tergagap berkecamuk dalam perasaan bersalah. “Kau! Kau! Membelanya?!” Zhuo bergegas menghampiri sang Ayah, “Papa, kepalamu berdarah!” “Aku kira kebaikanku akan mendapatkan balasan baik, ternyata …, semoga kalian bahagia.” ucap Zhang Guang kemudian menggendong Zhuo pergi dari meninggalkan rumah itu. “Guang jangan pergi, aku minta maaf Guang, tolong jangan tinggalkan aku” ucap Yue Xindy memcoba menahan kepergian suami dan anak. Namun, tiba-tiba suara benturan terdengar oleh semua orang, Zhang Guang menoleh ke belakang, tubuh istri sudah tergeletak di lantai berlumuran darah. “Mama!” teriak Zhuo melihat mata si ibu terpejam dan darah mengalir di pelipis tak berhenti. Zhang Guang berlari mendekat kemudian berlutut di samping istri perasaan hancur saat itu. *Zhang Central Hospital - Jiangchen* Aroma memenuhi lorong rumah sakit. Cahaya lampu putih menggantung dingin di langit-langit, memantul di lantai mengilap seperti permukaan es. Zhang Zhuo duduk di bangku panjang dengan kaki menggantung, telapak tangan terasa basah oleh keringat dingin, dan dia belum berhenti gemetar. Di balik pintu ruang gawat darurat, sang ibu terbaring tak sadarkan diri. Tubuh wanita yang selalu tersenyum lembut itu kini terpisah dari dunia oleh selembar pintu kaca buram. Setiap detik terasa panjang, menekan dada anak sepuluh tahun itu hingga sulit bernapas. Zhang Guang berdiri lalu berjalan mondar-mandir, bingung, cemas khawatir semua bertumpu menjadi satu. Pria itu tampak seperti bayangan dari dia yang dulu, jas kusut, rambut acak-acakan, wajahn pucat pasi. Kedua tangan mengepal erat, seolah sedang menahan sesuatu yang hendak runtuh. “Papa,” panggil Zhang Zhuo lirih. Zhang Guang menoleh. Tatapan mata kosong seperti orang kehilangan arah. dia melangkah mendekat, berlutut di depan si putra. “Zhuo, Papa minta maaf.” Anak itu menatap wajah ayah dengan tatapan keingin tahuan. “Mama kenapa?” Zhang Guang membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar, lalu memeluk Zhuo erat-erat. Pelukan itu tidak hangat, tapi, terasa putus asa. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dari ruang gawat darurat dengan raut wajah serius. “Kami sudah berusaha …, ” Kata-kata itu seperti pisau yang menghantam udara. “Namun, pasien mengalami cedera kepala serius. Pendarahan internal tidak bisa dihentikan.” Zhang Zhuo tidak mengerti arti kalimat itu, tetapi dia tahu satu hal dari ayah terhuyung dan jatuh berlutut seolah mengatakan jika sang Ibu tidak akan bangun lagi. Tangisan pecah di lorong rumah sakit. Zhang Zhuo memeluk tubuh ayah, menangis tanpa suara dunia benar-benar tidak adil karena runtuh dalam satu malam. Pemakaman Yue Xindy berlangsung sederhana, namun dipenuhi pelayat. Media lokal datang. Keluarga Zhang adalah keluarga besar; kematian Nonya Zhang menjadi bahan perbincangan hangat. Zhang Zhuo berdiri memeluk bingkai foto si ibu, mengenakan setelan hitam kebesaran. Wajah pucat, mata sembab. Ia menatap foto ibu berwarna hitam putih, senyum lembut yang tak akan pernah ia lihat lagi. Di antara para pelayat, dari jauh Gu Qiang berdiri menatap pemakaman yang membosankan tersebut. “Kakakku tersayang, nikmati saja,” dia melepaskan kaca mata hitam, “Satu langkah lagi, Semua akan menjadi milikku.” Zhang Zhuo menoleh ke samping, diantara pohon cemara dia melihat Gu Qiang sedang berdiri di sana. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu, meskipun dari jarak cukup jauh terlihat jelas, sang paman bukan bersedih, melainkan tersenyum puas. Beberapa hari setelah pemakaman, perubahan mulai terasa. Hari demi hari, Zhang Zhuo melihat sang ayah semakin terjerat. Dokumen ditandatangani tanpa dibaca. Keputusan diambil tanpa berpikir panjang. Dan setiap kali Zhang Zhuo mencoba mendekat, Gu Qiang selalu muncul menghadang. “Kau orang jahat! kau pembunuh ibuku! Aku akan menghabisimu!” “Guang sendiri yang membawaku, bukan aku yang datang,” jawab Qiang lalu mendorong tubuh anak kecil itu. Tiba-tiba Zhang Guang lompat dari lantai dua tepat di hadapan Zhuo “Papa!” si bocah lantas berlari mendekat kemudian berlutut di samping tubuh sang Ayah. “Maaf,” satu kata keluar di detik-detik terakhir, kemudian mata terpejam darah terus mengalir dari kepala. Zhang Guang dinyatakan meninggal karena bunuh diri. Melompat dari lantai dua. Terlilit hutang. Depresi. Tidak sanggup menghadapi kenyataan. *** Malam setelah kematian Ayahanda, Zhang Zhuo duduk di lantai kamar, memeluk lutut, pandangan mata kosong menatap lurus ke dinding tanpa benar-benar melihat apa pun, seragam sekolah masih melekat di tubuh kecil itu, belum sempat diganti sejak sore. Peti abu jenazah sang ayah masih terbayang jelas di ingatan. ‘Papa tidak sempat berpamitan. Bahkan belum menjelaskan apa pun.’ Pintu kamar terbuka perlahan.Gu Qiang melangkah masuk tanpa mengetuk. Pria itu mengenakan pakaian hitam sederhana, wajah itu tampak lelah atau paling tidak begitulah yang dia ingin perlihatkan. “Kasihan sekali,” ucapan tersebut sangat datar “Sekarang, kau sendirian.” Anak itu tidak menjawab. Gu Qiang pun melangkah mendekat kemudian berjongkok. Ia mencoba menyentuh bahu Zhang Zhuo, tetapi tangan mungil itu refleks menepis. Pria itu tidak marah, justru menghela napas panjang seolah sangat sabar. “Kau!” potong Zhang Zhuo dengan nada bergetar. “Yang menyuruh Papa tanda tangan kertas-kertas itu.” Suasana di antara mereka menegang. “Kau masih anak-anak, tidak mengerti urusan orang dewasa.” ucap Gu Qiang setelah berdiri perlahan. “Aku mengerti satu hal!” seru Zhang Zhuo setelah berdiri tegak, kalimat tersebut membuat senyuman tipis terukir di bibir sang paman kemudian menatap dengan penasaran. “Kau pembunuh papa dan mamaku!” Ekspresi Gu Qiang seketika berubah, bukan marah, melainkan geli. “Hati-hati dengan ucapanmu,” kemudian menegaskan dengan kata-kata dingin. “Mulai sekarang, aku yang akan mengurusmu.” Kalimat itu bukan tawaran, melainkan pernyataan. Tepat setelah kepergian Gu Qiang, Zhuo berdiri karena mendengar suara orang asing, lalu membuka pintu kamar perlahan untuk mengintip ke lorong. Dan benar saja, beberapa pria asing berdiri di ruang tamu. Berbicara dengan suara rendah, tetapi cukup jelas untuk ditangkap telinga anak yang ketakutan. “Bocah itu harus ditemukan.” “Harga kepala pewaris Zhang cukup mahal.” Jantung Zhang Zhuo berdegup kencang. lalu perlahan mundur perlahan meskipun kaki sangat bergetar ketakutan, dalam hati menjerit menyuruh untuk segera bersembunyi. Ia berlari tanpa suara ke kamar orang tua, lalu membuka lemari besar di sudut ruangan. Tanpa ragu, ia masuk dan menutup pintu lemari dari dalam. Napas seolah tertahan. tangan mungil itu menutup mulut sendiri agar tidak bersuara, suara langkah kaki semakin dekat, lemari-laci dibuka paksa, barang-barang dibanting, seseorang mengumpat pelan. “Cari sampai ketemu!” Waktu terasa membeku. “Kita harus begerak cepat,” kata yang lain. “Gu Qiang tidak mau ada sisa.” Nama itu menusuk telinga Zhang Zhuo seperti belati. Air mata mengalir tanpa suara. “Papa … Mama …” gumamnya nyaris tak terdengar. Pintu lemari terbuka mendadak, cahaya menyilaukan masuk. Namun yang berdiri di sana bukan pria dewasa, melainkan seorang gadis kecil yang tidak Zhuo kenali. “Kakak,” tutur gadis kecil pelan, seolah akan memberikan perlindungan, tatapan mata Zhang Zhuo membulat, dia mengisyaratkan gadis kecil itu untuk tidak bersuara. Gadis itu ragu sejenak, lalu berteriak. “Ada di sini!” Teriakan itu adalah vonis mati untuk Zhang Zhuo, setelah itu dia tidak ingat apa yang terjadi. Yang ada dalam ingatan hanya rasa sakit di belakang kepala, karena kegelapan menelan semua.Di layar ponsel lain, notifikasi yang sama muncul di tangan Yen Zhuolong kemudian membaca perlahan, lalu mengunci layar, memanggil. “Paman Lin,” “Ya, Tuan.” Jawab Lin Thong.“Mulai hari ini,” kata Zhuolong dengan nada rendah. “Kau tidak lagi memanggilku Tuan di depan siapa pun.” Lin Thong menoleh terkejut. “Lalu saya harus …?”“Panggil aku Zhuolong.” Ia berhenti sejenak. “Atau, pelayan Yen.”“Apakah ini benar-benar perlu?” tanya Lin Thong sambil mengepalkan tangan di setir.“Untuk membunuh seekor ular,” jawab Zhuolong tenang. “Kita harus masuk ke dalam sarang.” kemudian menatap lurus ke depan. Dalam tatapan mata tidak ada keraguan. “Dan kali ini …, aku tidak akan keluar sebelum semua selesai.”Hari berlalu dengan sangat cepat, malam pun tiba, Di kamar pribadi, Fang Wei-wei berdiri di depan jendela menatap taman, terlihat sunyi. Entah mengapa, dada terasa sesak, seperti akan ada sesuatu, atau seseorang segera mengubah keseimbangan hidup yang rapuh.Sementara itu, di sisi kota lain, Y
Kembali di jalan utama, Zhuolong melangkah keluar dari lorong. Hujan mulai reda, lalu menyalakan ponsel, ketika panggilan tersambung dia berkata. “Xi Fei, Percepat proses.”“Sebagai pelayan?” tanya Xi Fei.“Ya,” jawab Zhuolong. “Gu Qiang tidak akan menolak orang yang di kira bisa dikendalikan.”“Dan Wang Na?”Zhuolong menatap pantulan di kaca mobil yang berhenti di depan. “Aku menaruh kecurigaan, jika dia terlibat dalam tragedi 10 tahun lalu.” Mobil Lin Thong berhenti tepat waktu dan si pemuda segera masuk ketika pintu terbuka, dia duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. “Kau baik-baik saja, Tuan?” tanya Lin Thong. “Lebih dari baik,” ia menjawab pelan. “Mereka sudah bergerak.”“Siapa?”“Musuh lama.” Zhuolong menyandarkan kepala. “Dan itu berarti … aku sudah cukup dekat.” Mobil melaju meninggalkan jalanan basah. Di balik ketenangan, pikiran pemuda itu bekerja cepat, menyusun langkah demi langkah, karena setiap gerakan kecil akan diperhatikan, bahkan kesalahan akan berujung p
Sepuluh tahun berlalu, Mobil hitam itu melaju tenang di tengah arus malam kota Jiangchen. Lampu-lampu gedung pencakar langit menjulang angkuh memantulkan cahaya dingin ke jendela kaca gelap tersebut. Di balik itu, Yen Zhuolong duduk tegak, kedua tangan bertumpu santai di paha, hingga tubuh pun nyaris tak bergerak meski kendaraan sesekali berbelok.Wajah tenang, tatapan mata memandang lurus ke depan, seolah menembus jalanan, bangunan, dan lalu lintas, menyusup jauh ke masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Kemudian bergumam pelan “Jiangchen,” Satu kata itu membawa aroma darah, pengkhianatan, dan kematian.Lin Thong, pria berusia 35 tahun duduk di kursi pengemudi, melirik sekilas ke kaca spion tengah. Ia telah bersama Zhuolong selama bertahun-tahun. Cukup tahu bahwa tuan muda bicara dengan nada setenang itu, pikiran pasti sedang bekerja jauh lebih kejam.“Kita sudah memasuki wilayah pusat kota,” ucap Lin Thong melapor. “Apakah langsung menuju kediaman sementara, Tuan?”“Ti
Detik berlalu, Yue Xindy menarik napas dalam-dalam, hendak menjauh, tetapi, tapi Pria itu bergerak duluan, perlahan dan sangat hati-hati, menggeser gelas agar tidak jatuh. jari-jemari menyentuh pergelangan tangan wanita tersebut, ringan bahkan nyaris sopan.“Maaf,” hanya satu kata yang keluar, dia harus segera melepaskan. Namun, sentuhan bertahan beberapa detik lebih lama, membuat jantung Yue Xindy berdegup dengan cepat. Ketika tersadar, ia bergegas menarik tangan yang berada dibawah telapak tangan adik ipar, lalu mundur setengah langkah, raut wajah terlihat memanas seperti udang rebus, pikiran langsung kacau. “Aku sangat lelah,” berusaha mencari alasan untuk pergi.Gu Qiang mengangguk, seolah tak terjadi apa-apa. Namun, tatapan mata berubah lebih dalam, jauh lebih tenang.“Beristirahatlah,” ucapan tersebut sangat lembut. “Aku akan mematikan lampu.”Wanita itu berjalan pergi tanpa menoleh. Tetapi langkah kaki sedikit gontai, bukan seperti yang diinginkan.Gu Qiang berdiri sendiri di
Langit Jiangchen sore itu menggantung rendah, diselimuti awan kelabu bergerak perlahan, seolah enggan melepaskan hujan. Di kawasan perumahan elit Yunhe, berdiri Bangunan dua lantai bergaya modern itu dikelilingi pagar besi hitam berornamen sederhana, tidak berlebihan, tetapi jelas mahal. Taman hijau terawat membentang di halaman depan, dengan jalur batu abu-abu selelu terlihat bersih. Setiap detail rumah itu berbicara tentang kestabilan dan kemapanan. Bagi orang luar, keluarga Zhang simbol kesempurnaan; kaya, terhormat, dan bahagia. Mungkin lebih tepat: keluarga ideal. Dari balik jendela besar lantai dua, seorang anak laki-laki berdiri tanpa suara, ia menempelkan tangan mungil pada kaca jendela, sementara mata menatap halaman rumah yang luas dan tertata rapi, dia bernama Zhang Zhuo 10 tahun, raut wajah masih menyisakan kepolosan masa kanak-kanak, ada kehati-hatian terlalu dini, seolah ia terbiasa memperhatikan lebih banyak daripada yang sering dilakukan anak seusianya.Anak itu tumb







