Masuk*Apex Hospital*
Di dalam kamar Paviliun Privat Eksekutif, seorang remaja terbaring sembari membaca buku, meskipun dalam keadaan sakit. Ia tetap belajar karena teringat akan pesan sang kakak. Suasana tenang seketika pecah saat pintu terbuka kasar tanpa ketukan. "Usir anak ini sekarang! dia cuma yatim piatu, tidak punya hak atas perlindungan khusus di sini," perintah seorang pria berpakaian mewah. Pria itu datang mendampingi lelaki setengah baya berseragam dokter lengkap dengan kartu identitas yang menggantung di dada kiri. Perawat yang menjaga kamar, Li Xinyi, terperanjat. "Dokter, apa maksud semua ini?" "Jangan banyak tanya! Pasien ini sudah menunggak pembayaran terlalu lama," jawab dokter itu ketus. "Tuan Muda Xi menginginkan kamar eksekutif ini untuk tempat istirahat keponakan beliau." "Tetapi Dokter, keponakan Tuan Muda Xi hanya terjatuh dan cuma mengalami luka gores di lengan," sahut Li Xinyi berusaha membela. "Sedangkan Ye Tian mengidap anemia kronis bawaan lahir. Tekanan darah pasien sangat rendah, ditambah lagi golongan darah pasien adalah Rh-negatif, sangat langka. Memindahkan pasien dalam kondisi sekritis ini itu sama saja mempermainkan nyawa orang!" Tanpa memperdulikan etika medis maupun penjelasan tersebut, dokter setengah baya itu justru melayangkan tamparan keras ke pipi Li Xinyi. Plak! "Perawat sialan! Sudah bosan hidup?!" bentak sang dokter yang telah dikuasai emosi. Ye Tian yang menyaksikan kejadian itu langsung menurunkan kaki dari ranjang. Tubuh remaja itu gemetar, namun tangan kurus itu berusaha menahan lengan Li Xinyi. "Kakak Perawat, jangan membuat Dokter semakin marah. Aku tak mengapa bila harus keluar dari kamar ini," ucap Ye Tian memohon agar tidak tidak terjadi kegaduhan hingga memperpanjang keributan. "Sebentar lagi kakak laki-laki saya datang. Beliau pasti membawa pendonor darah yang cocok sekaligus melunasi semua tunggakan rumah sakit." "Tetapi Tian, kondisimu masih sangat lemah," bantah Li Xinyi dengan mata berkaca-kaca, menahan rasa perih di pipi. Dokter itu tertawa meremehkan, lalu membentak, "Kau selalu bilang kakakmu akan datang dan membawa pendonor! apakah terbukti?! pemilik darah langka jenis itu tidak akan sudi datang demi gelandangan seperti kalian!" “Heh!” sahut Xi An. “Apa maksud dari perkataan mu? ponakanku tidak layak mendapatkan layanan eksekutif?!” “Bukan seperti itu maksudku, Tuan,” jawab perawat Li dengan menunduk hormat. “Aku tidak mau tahu, bocah itu harus pergi dari kamar ini!” perintah Xi An tanpa memperdulikan etika medis sama sekali. “Kak, aku pindah ke kamar biasa saja,” sahut Ye Tian menggenggam tangan perawat Li yang hendak membatah permintaan Tuan muda Xi. “Tapi Tian, kondisimu masih sangat lemah,” bantah Xinyi. “Baguslah, kalau kau tau diri,” sambung Xi An dengan nada merendahkan. “Cepat, kemasi barang-barang mu.” Baru beberapa langkah masuk ke dalam kamar eksekutif, pria itu berkata, “Akh! lama. Pengawal buang semua barang-barang si miskin itu,” “Baik Tuan,” jawab beberapa pengawal, kemudian membuang semua barang-barang milik Tian keluar dari kamar. *** “Tuan, ada kabar dari rumah sakit,” tutur Asisten Han memberikan ponsel yang menampilkan pengusiran Tian. “Menarik, tapi belum saatnya aku muncul di depan bocah itu, sebelum aku membawa sang ibu untuk tanggung jawab,” balas Yichen mengembalikan gawai tersebut. “Lantas apa yang harus saya lakukan?” tanya Han. Yichen tidak bergeming beberapa saat, memikirkan cara agar mereka tidak semena-mena pada orang kecil. “Paman Chen Biao …,” gumam Zhang Yichen. “Perintahkan Paman Chen Biao untuk menyelesaikan tugas ini.” “Baik tuan,” Asisten Han Xiu pun melangkahkan pergi. “Permainan ini semakin menarik,” batin Zhang Yichen sambil menggoyangkan gelas berisi anggur. Ia lantas membuka pintu almari yang menampilkan foto keluarga orang yang merenggut kebahagiaan di masa lalu. Zhang Yichen pun mengambil satu foto wanita cantik dan ditatap beberapa saat, kemudian di coret silang dengan spidol berwarna merah. Ia sudah menandai wanita tersebut sebagai (Target utama).“Baik.” jawab Zhuolong membuat Wang Na mengatupkan rahang. ‘Area dalam; berarti lebih dekat dengan Nyonya, sehingga sering terlihat.’ Sesuatu yang selama ini dijaga dengan susah payah. Namun, sang pemuda tidak menunjukkan kemenangan, dia pun mengikuti kepala pelayan tanpa sepatah kata. Di lantai atas, Fang Wei-wei baru keluar dari kamar dengan rambut disanggul longgar, wajah tampak lelah meski riasan tipis sudah dipulas. Ia berhenti di depan jendela besar, menatap halaman dengan tatapan mata kosong. Semalam ia hampir tidak tidur. Gu Qiang pulang larut dan mabuk, hanya meninggalkan bau alkohol serta keheningan.“Teh pagi, Nyonya.” tutur kata itu terdengar lembut. Fang Wei-wei menoleh. Zhuolong berdiri dua langkah di belakang, menunduk sambil memegang nampan dengan kedua tangan. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Ia terkejut bukan karena kedatangan secara tiba-tiba, melainkan karena ketepatan waktu dalam bekerja.“Letakkan di sana,” perintah Fang
Zhuolong merasakan tatapan itu tanpa Secara naluriah dia mengenali kehadiran Fang Wei-wei sebelum logika bekerja. Pemuda itu mengangkat kepala perlahan, cukup untuk memenuhi etika, tidak berlebihan, tatapan mereka bertemu sesaat. tidak mencolok. Namun, udara di antara mereka berubah. Fang Wei-wei sedikit terkejut, lalu mengalihkan pandangan. “Ada pelayan baru?”“Ya,” jawab Suami singkat. “Tidak penting.” Kata-kata itu datar, justru menancap. Zhuolong mencatat. Tidak penting. itulah cara Gu Qiang memandang orang lain. Bahkan tidak berubah sama sekali, seperti memandang keluarga Zhang dahulu.“Pastikan dapur rapi hari ini,” lanjut Fang Wei-wei pada kepala pelayan. “Aku akan menerima tamu sore nanti.”“Baik, Nyonya.”Wanita itu melangkah pergi. Namun, dua langkah kemudian, ia berhenti sejenak, tanpa menoleh. “Pelayan baru,” panggil Fang Wei-wei pelan seperti bicara pada udara. “Pastikan ruang tamu tidak berdebu.”“Baik, Nyonya,” jawab Zhuol
Di layar ponsel lain, notifikasi yang sama muncul di tangan Yen Zhuolong kemudian membaca perlahan, lalu mengunci layar, memanggil. “Paman Lin,” “Ya, Tuan.” Jawab Lin Thong.“Mulai hari ini,” kata Zhuolong dengan nada rendah. “Kau tidak lagi memanggilku Tuan di depan siapa pun.” Lin Thong menoleh terkejut. “Lalu saya harus …?”“Panggil aku Zhuolong.” Ia berhenti sejenak. “Atau, pelayan Yen.”“Apakah ini benar-benar perlu?” tanya Lin Thong sambil mengepalkan tangan di setir.“Untuk membunuh seekor ular,” jawab Zhuolong tenang. “Kita harus masuk ke dalam sarang.” kemudian menatap lurus ke depan. Dalam tatapan mata tidak ada keraguan. “Dan kali ini …, aku tidak akan keluar sebelum semua selesai.”Hari berlalu dengan sangat cepat, malam pun tiba, Di kamar pribadi, Fang Wei-wei berdiri di depan jendela menatap taman, terlihat sunyi. Entah mengapa, dada terasa sesak, seperti akan ada sesuatu, atau seseorang segera mengubah keseimbangan hidup yang rapuh.Sementara itu, di sisi kota lain, Y
Kembali di jalan utama, Zhuolong melangkah keluar dari lorong. Hujan mulai reda, lalu menyalakan ponsel, ketika panggilan tersambung dia berkata. “Xi Fei, Percepat proses.”“Sebagai pelayan?” tanya Xi Fei.“Ya,” jawab Zhuolong. “Gu Qiang tidak akan menolak orang yang di kira bisa dikendalikan.”“Dan Wang Na?”Zhuolong menatap pantulan di kaca mobil yang berhenti di depan. “Aku menaruh kecurigaan, jika dia terlibat dalam tragedi 10 tahun lalu.” Mobil Lin Thong berhenti tepat waktu dan si pemuda segera masuk ketika pintu terbuka, dia duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. “Kau baik-baik saja, Tuan?” tanya Lin Thong. “Lebih dari baik,” ia menjawab pelan. “Mereka sudah bergerak.”“Siapa?”“Musuh lama.” Zhuolong menyandarkan kepala. “Dan itu berarti … aku sudah cukup dekat.” Mobil melaju meninggalkan jalanan basah. Di balik ketenangan, pikiran pemuda itu bekerja cepat, menyusun langkah demi langkah, karena setiap gerakan kecil akan diperhatikan, bahkan kesalahan akan berujung p
*Apex Hospital* Di dalam kamar Paviliun Privat Eksekutif, seorang remaja terbaring sembari membaca buku, meskipun dalam keadaan sakit. Ia tetap belajar karena teringat akan pesan sang kakak. Suasana tenang seketika pecah saat pintu terbuka kasar tanpa ketukan. "Usir anak ini sekarang! dia cuma yatim piatu, tidak punya hak atas perlindungan khusus di sini," perintah seorang pria berpakaian mewah. Pria itu datang mendampingi lelaki setengah baya berseragam dokter lengkap dengan kartu identitas yang menggantung di dada kiri. Perawat yang menjaga kamar, Li Xinyi, terperanjat. "Dokter, apa maksud semua ini?" "Jangan banyak tanya! Pasien ini sudah menunggak pembayaran terlalu lama," jawab dokter itu ketus. "Tuan Muda Xi menginginkan kamar eksekutif ini untuk tempat istirahat keponakan beliau." "Tetapi Dokter, keponakan Tuan Muda Xi hanya terjatuh dan cuma mengalami luka gores di lengan," sahut Li Xinyi berusaha membela. "Sedangkan Ye Tian mengidap anemia kronis bawaan lahir. Tekanan da
Setelah tersadar dari lamunan Yichen menarik napas dalam-dalam, mencoba mengurai sesak memenuhi dada, lalu di hembuskan perlahan. "Han Xiu," panggil Yichen pada asisten pribadi. "Iya, Tuan," sahut Xiu. "Ada yang bisa saya bantu?" "Apa yang akan kau lakukan jika seluruh keluargamu dibunuh, dan hanya kau yang selamat dari pembantaian itu?" Yichen melempar tanya. Ia ingin menguji sekaligus mencari pertimbangan dari tangan kanan yang paling dipercayai. "Apakah kau akan menghabisi dalang di balik kematian mereka, atau sekadar menonton hidup tenang dalam perlindungan hukum?" Han Xiu tersentak. Darah terasa mendadak berhenti dan jantung pun bertalu hebat mendengar pertanyaan sang atasan. "Tuan, saya tidak akan memilih salah satu dari pertanyaan Anda," jawab Han Xiu, menatap lurus. "Kematian terlalu instan bagi seorang pembantai. Saya justru akan datang membalas dendam dengan cara lain, memastikan dia tersiksa hingga berada di titik mati segan, hidup pun tak mau." “Paman Chen, mereka ber
Langit Jiangchen sore itu menggantung rendah, diselimuti awan kelabu bergerak perlahan, seolah enggan melepaskan hujan. Di kawasan perumahan elit Yunhe, berdiri Bangunan dua lantai bergaya modern itu dikelilingi pagar besi hitam berornamen sederhana, tidak berlebihan, tetapi jelas mahal. Taman hija







