หน้าหลัก / Urban / Bara Dendam Membara / Bab 3: Anjing salah menikam mangsa.

แชร์

Bab 3: Anjing salah menikam mangsa.

ผู้เขียน: Lucky Star
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-27 20:03:25

Sepuluh tahun berlalu, Mobil hitam itu melaju tenang di tengah arus malam kota Jiangchen. Lampu-lampu gedung pencakar langit menjulang angkuh memantulkan cahaya dingin ke jendela kaca gelap tersebut. Di balik itu, Yen Zhuolong duduk tegak, kedua tangan bertumpu santai di paha, hingga tubuh pun nyaris tak bergerak meski kendaraan sesekali berbelok.

Wajah tenang, tatapan mata memandang lurus ke depan, seolah menembus jalanan, bangunan, dan lalu lintas, menyusup jauh ke masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Kemudian bergumam pelan “Jiangchen,” Satu kata itu membawa aroma darah, pengkhianatan, dan kematian.

Lin Thong, pria berusia 35 tahun duduk di kursi pengemudi, melirik sekilas ke kaca spion tengah. Ia telah bersama Zhuolong selama bertahun-tahun. Cukup tahu bahwa tuan muda bicara dengan nada setenang itu, pikiran pasti sedang bekerja jauh lebih kejam.

“Kita sudah memasuki wilayah pusat kota,” ucap Lin Thong melapor. “Apakah langsung menuju kediaman sementara, Tuan?”

“Tidak,” jawab Zhuolong singkat. “Putar ke arah distrik lama.”

Lin Thong sedikit terkejut, tetapi tak berani membantah. Setir diputar halus, mobil berbelok ke arah kawasan yang mulai jarang dilalui kendaraan mewah. Gedung-gedung modern perlahan digantikan bangunan lama yang masih menyimpan sisa-sisa kejayaan masa silam.

Distrik itu adalah tempat keluarga Zhang dulu berkuasa. Zhuolong menyandarkan punggung lalu menutup mata perlahan.

Ingatan datang tanpa diundang.

***

Malam itu dingin. Zhang Zhuo kecil terbangun di dalam kegelapan, kepala terasa berat, tubuh terasa basah oleh air asin. Suara ombak menghantam sesuatu di kejauhan. Ia ingin berteriak, tetapi tenggorokan terasa sakit, dia ingin bergerak, tetapi tubuh seperti mati rasa.

“Masih hidup.”

“Buang saja. Anak kecil begini tidak akan bertahan.”

Langkah kaki menjauh, suara mesin perahu meraung.

Zhang Zhuo tak tahu berapa lama ia terombang-ambing di antara hidup dan mati sebelum berakhir diseret ombak ke tepi pantai terpencil.

Ketika terbangun kembali, langit telah berubah warna, sejak hari itulah (Zhang Zhuo) mati.

***

Mobil berhenti di lampu merah, Zhuolong membuka mata, raut wajah kembali datar, seolah kilasan masa lalu barusan hanyalah bayangan tipis, tak layak ditanggapi. Lalu meraih ponsel dari saku jas, layar menyala menampilkan satu nama.

(Xi Fei).

“Bagaimana?” tanya Zhuolong tanpa basa-basi setelah sambungan telepon terhubung.

“Semua sudah sesuai rencana, Tuan,” jawab seorang pria dalam sambungan telepon. “Data keluarga Gu sudah diperbarui. Pola hidup Gu Qiang tidak banyak berubah. Rutinitas kaku, temperamental, dan …,”

“Masih gemar mempermainkan nyawa orang lain,” sahut Zhuolong dingin.

“Benar.” jawab Xi Fei setelah terdiam sesaat.

Zhuolong menggeser jari di layar, membuka berkas digital. Foto-foto lama, laporan keuangan, catatan rumah sakit, hingga daftar pelayan aktif di kediaman keluarga Gu.

Satu nama membuat sudut bibir terangkat samar.

(Wang Na)

“Aku merasa tak asing dengan marga ini?” tanya Zhuolong pelan.

“Oh, Nona Wang,” jawab Xi Fei kemudian memberikan penjelasan. “Dia adalah putri pelayan lama keluarga Zhang. Status ekonomi buruk dan si Ibu sakit keras dan dirawat di rumah sakit.”

“Rumah sakit?” tanya Zhuolong pelan.

“Iya, meskipun dia adalah anjing Gu Qiang, tetap mendapatkan perawatan ekslusif di rumah sakir Gu Emergency” jawaban itu membuat udara di dalam mobil terasa lebih dingin.

“Gu Emergency?” Zhuolong meminta informasi lebih lanjut.

“Em, Rumah sakit tersebut adalah salah satu aset property milik Keluarga Zhang, ZCH (Zhang Central Hospital). Tak hanya itu, hampir meliputi semua properti termasuk Gu Technologi, dulu property milik Grup Zhang.”

“Tak ada kebetulan di dunia ini,” ujar Zhuolong. “Semua sudah tersusun rapi dalam rencana dikemas dalam samaran.” lalu mematikan panggilan.

Lampu lalu lintas berubah hijau. Mobil kembali melaju.

“Paman Lin,” panggil Zhuolong tanpa menoleh.

“Ya, Tuan.”

“Kau masih ingat ucapanku delapan tahun lalu?”

Lin Thong mengangguk kecil. “Tentang, membalas dendam tanpa pertumpahan darah?”

“Benar.” Zhuolong tersenyum tipis. “Darah terlalu cepat kering. Aku ingin penderitaan.” sambung Zhuolong.

“Apakah kita akan langsung mendekati keluarga Gu?” tanya Lin Thong setelah menelan saliva.

“Tidak,” jawab Zhuolong. “Mangsa yang terlalu waspada sehingga sulit untuk dijerat. Aku akan masuk perlahan.”

“Lalu apa rencana tuan?” Lin Thong bertanya dengan sedikit ragu.

Zhuolong memejamkan mata sejenak, lalu membuka kembali dengan tatapan jauh lebih tajam.

“Sebagai pelayan.”

Lin Thong refleks menginjak rem sedikit terlalu keras. Mobil tersentak ringan sebelum kembali stabil.

“Tuan …!” Lin Thong sangat terkejut dengan rencana gila tersebut, kemudian menarik napas dalam-dalam. “Maaf. Saya hanya khawatir.”

“Kau takut, jika aku akan bernasib seperti dulu?” tanya Zhuolong tenang.

“Gu Qiang licik,” jawab Lin Thong jujur. “Ia tega membunuh tanpa menggunakan tangan.”

“Itulah mengapa,” balas Zhuolong, “aku harus berada sedekat mungkin.”

Mobil memasuki area parkir sebuah gedung tinggi.

*Yen Group*

Zhuolong turun, jas berkibar ringan tertiup angin. Para staf mengenal identitas dia sebagai tuan muda dari konsorsium luar negeri, menunduk hormat.

Tanpa sepengetahuan mereka, dialah pendiri Yen Grup, Presdir dibalik bayangan.

Di lantai teratas gedung itu, Zhuolong berdiri di depan jendela besar, memandang kota Jiangchen dari ketinggian. Kota itu pernah menyimpan kenangan, meskipun sudah dihancurkan menjadi butiran debu.

“Kembali ku bukan untuk merebut apa yang pernah hilang,” ucap Yen Zhuolong lirih pada pantulan bayangan sendiri.“Tetapi untuk memastikan, kalian semua harus kehilangan, seperti aku di masa lalu.”

Di dalam dada, dendam berubah menjadi es, bukan untuk mencair, melainkan untuk menusuk.

***

Malam di Jiangchen tak pernah tidur. Semua hanya berganti wajah, dari hiruk pikuk siang menjadi gelap. Yen Zhuolong melangkah keluar dari gedung Yen Group dengan langkah tenang. Hujan tipis turun, membasahi trotoar dan memantulkan cahaya lampu jalan, sengaja tidak membawa payung agar air hujan membasahi rambut. Naluri lama itu muncul. Bukan rasa takut …, Melainkan, kesadaran.

Ada yang mengikuti. Zhuolong berhenti sejenak di tepi jalan, berpura-pura mengirim pesan. Dari pantulan kaca etalase toko di depan, dia menangkap bayangan samar: seorang pria bertopi, berdiri terlalu lama, terlalu kaku, dengan jarak yang sengaja dijaga.

“Paman Lin,” dia berucap pelan sesudah ponsel diangkat ke telinga. “Jangan menjemputku.”

Suara Lin Thong terdengar waspada. “Ada apa, Tuan?”

“Ekorku muncul lebih cepat dari perkiraan.” Hening sesaat di seberang. “Perlu saya kirim orang?”

“Tidak.” Zhuolong tersenyum tipis. “Aku ingin tahu, siapa yang berani bermain.”

Ia mematikan panggilan, lalu melangkah menyeberang jalan. Lampu lalu lintas berubah merah. Kendaraan berhenti. Zhuolong bergerak cepat, masuk ke lorong sempit di antara dua bangunan lama.

Langkah kaki dari belakang ikut bergerak.

Satu.

Dua.

Tiga.

Zhuolong memperlambat langkah, lalu masuk tangan ke saku jas, bukan untuk mengambil senjata, agar terlihat tak menyadari apa pun, dan dengan kebiasaan itulah cara dia menenangkan diri.

Lorong itu lembap dan gelap, bau sampah bercampur air hujan menusuk indra penciuman, lampu redup berkedip di kejauhan.

“Keluar!” teriak Zhuolong ketika menghentikan langkah kaki tanpa menoleh. “Aku tidak suka permainan murahan.”.

Sesaat kemudian, dua bayangan muncul dari balik kegelapan. Dua pria itu bertubuh sedang, pakaian kasual, tetapi postur mereka terlalu siap untuk disebut orang biasa.

“Tenang saja, Tuan,” kata salah satu dengan senyum miring. “Kami hanya ingin bicara.”

“Kalian salah orang,” tutur Zhuolong berbalik perlahan, tatapan mata terlihat sangat tenang, bahkan terlihat bosan.

“Ah, jangan rendah hati.” Pria sebelah melangkah lebih dekat. “Orang sepertimu, tidak mungkin salah.”

Hujan makin deras, Zhuolong menghela napas kecil, seolah kecewa. “Siapa yang menyuruh kalian?”

Mereka berdua saling pandang lalu tertawa.“Itu bukan urusanmu.” setelah itu dia pun bergerak menyerang, dalam satu gerakan cepat, Zhuolong maju, dia menghantam pergelangan tangan pria pertama, memutar dengan presisi hingga terdengar bunyi retakan halus, pria itu menjerit tertahan, jatuh berlutut.

Yang kedua refleks menyerang dari samping, tetapi Zhuolong sudah mengantisipasi. Ia menghindar setengah langkah, lalu menghantam ulu hati lawan dengan siku. Tubuh itu terhuyung, napas tercekik. “Tak sia-sia dulu aku ikut latihan taekwondo,” gumamnya sambil merapikan jas, dalam hati sedikit merasa puas karena mendapat sedikit hiburan.

“Pria-pria bodoh,” ujar Zhuolong pelan, “kalian kira aku pemuda lemah.” lalu meraih kerah kedua pria itu, mendekatkan wajah dengan tatapan dingin nan menekan. “Siapa yang menyuruh kalian?!” tanya Zhuolong setengah berteriak.

Kedua pria itu gemetar. “Ka … kami hanya disuruh. Pelayan keluarga Gu, Wang Na.” setelah mendengar nama tersebut, Zhuolong melepaskan cengkeraman mereka ambruk dan terbatuk keras.

“Pergi!” perintah Yen Zhuolong setengah berteriak “Sampaikan pada yang menyuruh kalian, aku tidak suka diganggu.” Kedua orang itu tidak perlu diperintah dua kali. Mereka tertatih keluar lorong, menghilang di balik hujan. Zhuolong berdiri sendiri, menatap lorong kosong. Sudut bibir terangkat samar. “Kecurigaanku semakin besar, jika kau adalah putri dari Pelayan Wang!” Tetapi, timbul pertanyaan besar dari benak pemuda itu, atas dasar apa dia menyuruh orang lain mengawasku, apakah dia terlibat dalam insiden sepuluh tahun lalu.

***

Di sisi lain, Wang Na duduk gelisah di bangku kecil dekat kolam renang kediaman Gu. Tangan gemetar saat memegang kain pel, setiap terdengar suara ia bergegas menoleh. Bayangan wajah Yen Zhuolong, tatapan dingin, senyum tipis, seakan terus menghantui pikirannya. “Tenang,” dia pada berusaha menenangkan diri sendiri. “Dia hanya tamu. Orang kaya yang kebetulan lewat.”

Meskipun, perasaan tersebut enggan pergi.

“Mengapa kau melamun?!” ucap Gu Qiang tiba-tiba muncul dari pintu belakang rumah dengan raut wajah muram.

“Ma, maaf, Tuan.” jawab Wang Na tersentak.

“Bekerja dengan benar!” Gu Qiang melirik kolam, lalu berjalan pergi. “Aku tidak suka kelalaian.”

Wang Na menunduk untuk mengatur napas, Hati berdebar kencang. Ia teringat pesan singkat yang baru saja di terima dari orang yang ia suruh.

[Gagal. Orang itu berbahaya.] Ia pun berkeringat dingin, detak jantung berdegup kencang hingga membuat seluruh tubuh pun gemetar.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bara Dendam Membara    Bab 5: Rekomendasi Pelayan secara resmi.

    Di layar ponsel lain, notifikasi yang sama muncul di tangan Yen Zhuolong kemudian membaca perlahan, lalu mengunci layar, memanggil. “Paman Lin,” “Ya, Tuan.” Jawab Lin Thong.“Mulai hari ini,” kata Zhuolong dengan nada rendah. “Kau tidak lagi memanggilku Tuan di depan siapa pun.” Lin Thong menoleh terkejut. “Lalu saya harus …?”“Panggil aku Zhuolong.” Ia berhenti sejenak. “Atau, pelayan Yen.”“Apakah ini benar-benar perlu?” tanya Lin Thong sambil mengepalkan tangan di setir.“Untuk membunuh seekor ular,” jawab Zhuolong tenang. “Kita harus masuk ke dalam sarang.” kemudian menatap lurus ke depan. Dalam tatapan mata tidak ada keraguan. “Dan kali ini …, aku tidak akan keluar sebelum semua selesai.”Hari berlalu dengan sangat cepat, malam pun tiba, Di kamar pribadi, Fang Wei-wei berdiri di depan jendela menatap taman, terlihat sunyi. Entah mengapa, dada terasa sesak, seperti akan ada sesuatu, atau seseorang segera mengubah keseimbangan hidup yang rapuh.Sementara itu, di sisi kota lain, Y

  • Bara Dendam Membara    Bab 4: Mereka sudah bergerak 

    Kembali di jalan utama, Zhuolong melangkah keluar dari lorong. Hujan mulai reda, lalu menyalakan ponsel, ketika panggilan tersambung dia berkata. “Xi Fei, Percepat proses.”“Sebagai pelayan?” tanya Xi Fei.“Ya,” jawab Zhuolong. “Gu Qiang tidak akan menolak orang yang di kira bisa dikendalikan.”“Dan Wang Na?”Zhuolong menatap pantulan di kaca mobil yang berhenti di depan. “Aku menaruh kecurigaan, jika dia terlibat dalam tragedi 10 tahun lalu.” Mobil Lin Thong berhenti tepat waktu dan si pemuda segera masuk ketika pintu terbuka, dia duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. “Kau baik-baik saja, Tuan?” tanya Lin Thong. “Lebih dari baik,” ia menjawab pelan. “Mereka sudah bergerak.”“Siapa?”“Musuh lama.” Zhuolong menyandarkan kepala. “Dan itu berarti … aku sudah cukup dekat.” Mobil melaju meninggalkan jalanan basah. Di balik ketenangan, pikiran pemuda itu bekerja cepat, menyusun langkah demi langkah, karena setiap gerakan kecil akan diperhatikan, bahkan kesalahan akan berujung p

  • Bara Dendam Membara    Bab 3: Anjing salah menikam mangsa.

    Sepuluh tahun berlalu, Mobil hitam itu melaju tenang di tengah arus malam kota Jiangchen. Lampu-lampu gedung pencakar langit menjulang angkuh memantulkan cahaya dingin ke jendela kaca gelap tersebut. Di balik itu, Yen Zhuolong duduk tegak, kedua tangan bertumpu santai di paha, hingga tubuh pun nyaris tak bergerak meski kendaraan sesekali berbelok.Wajah tenang, tatapan mata memandang lurus ke depan, seolah menembus jalanan, bangunan, dan lalu lintas, menyusup jauh ke masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Kemudian bergumam pelan “Jiangchen,” Satu kata itu membawa aroma darah, pengkhianatan, dan kematian.Lin Thong, pria berusia 35 tahun duduk di kursi pengemudi, melirik sekilas ke kaca spion tengah. Ia telah bersama Zhuolong selama bertahun-tahun. Cukup tahu bahwa tuan muda bicara dengan nada setenang itu, pikiran pasti sedang bekerja jauh lebih kejam.“Kita sudah memasuki wilayah pusat kota,” ucap Lin Thong melapor. “Apakah langsung menuju kediaman sementara, Tuan?”“Ti

  • Bara Dendam Membara    Bab 2: Hancur gara-gara orang ke-tiga.

    Detik berlalu, Yue Xindy menarik napas dalam-dalam, hendak menjauh, tetapi, tapi Pria itu bergerak duluan, perlahan dan sangat hati-hati, menggeser gelas agar tidak jatuh. jari-jemari menyentuh pergelangan tangan wanita tersebut, ringan bahkan nyaris sopan.“Maaf,” hanya satu kata yang keluar, dia harus segera melepaskan. Namun, sentuhan bertahan beberapa detik lebih lama, membuat jantung Yue Xindy berdegup dengan cepat. Ketika tersadar, ia bergegas menarik tangan yang berada dibawah telapak tangan adik ipar, lalu mundur setengah langkah, raut wajah terlihat memanas seperti udang rebus, pikiran langsung kacau. “Aku sangat lelah,” berusaha mencari alasan untuk pergi.Gu Qiang mengangguk, seolah tak terjadi apa-apa. Namun, tatapan mata berubah lebih dalam, jauh lebih tenang.“Beristirahatlah,” ucapan tersebut sangat lembut. “Aku akan mematikan lampu.”Wanita itu berjalan pergi tanpa menoleh. Tetapi langkah kaki sedikit gontai, bukan seperti yang diinginkan.Gu Qiang berdiri sendiri di

  • Bara Dendam Membara    Bab 1 : Serigala bermata putih 

    Langit Jiangchen sore itu menggantung rendah, diselimuti awan kelabu bergerak perlahan, seolah enggan melepaskan hujan. Di kawasan perumahan elit Yunhe, berdiri Bangunan dua lantai bergaya modern itu dikelilingi pagar besi hitam berornamen sederhana, tidak berlebihan, tetapi jelas mahal. Taman hijau terawat membentang di halaman depan, dengan jalur batu abu-abu selelu terlihat bersih. Setiap detail rumah itu berbicara tentang kestabilan dan kemapanan. Bagi orang luar, keluarga Zhang simbol kesempurnaan; kaya, terhormat, dan bahagia. Mungkin lebih tepat: keluarga ideal. Dari balik jendela besar lantai dua, seorang anak laki-laki berdiri tanpa suara, ia menempelkan tangan mungil pada kaca jendela, sementara mata menatap halaman rumah yang luas dan tertata rapi, dia bernama Zhang Zhuo 10 tahun, raut wajah masih menyisakan kepolosan masa kanak-kanak, ada kehati-hatian terlalu dini, seolah ia terbiasa memperhatikan lebih banyak daripada yang sering dilakukan anak seusianya.Anak itu tumb

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status