LOGIN“Baik.” jawab Zhuolong membuat Wang Na mengatupkan rahang. ‘Area dalam; berarti lebih dekat dengan Nyonya, sehingga sering terlihat.’ Sesuatu yang selama ini dijaga dengan susah payah. Namun, sang pemuda tidak menunjukkan kemenangan, dia pun mengikuti kepala pelayan tanpa sepatah kata.
Di lantai atas, Fang Wei-wei baru keluar dari kamar dengan rambut disanggul longgar, wajah tampak lelah meski riasan tipis sudah dipulas. Ia berhenti di depan jendela besar, menatap halaman dengan tatapan mata kosong. Semalam ia hampir tidak tidur. Gu Qiang pulang larut dan mabuk, hanya meninggalkan bau alkohol serta keheningan. “Teh pagi, Nyonya.” tutur kata itu terdengar lembut. Fang Wei-wei menoleh. Zhuolong berdiri dua langkah di belakang, menunduk sambil memegang nampan dengan kedua tangan. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Ia terkejut bukan karena kedatangan secara tiba-tiba, melainkan karena ketepatan waktu dalam bekerja. “Letakkan di sana,” perintah Fang Wei-wei menunjuk meja kecil. Sang pemuda melakukan tanpa suara. Ketika ia hendak mundur, Fang Wei-wei berkata, “Tunggu.” Zhuolong berhenti. “Kau pelayan baru?” “Ya, Nyonya.” “Kemarin ruang tamu sangat bersih.” “Itu tugas saya.” jawab Zhuolong datar tapi tidak dingin. Tanpa disadari Fang Wei-wei menatap lebih lama. Ada sesuatu dalam cara pemuda itu berdiri tegak, tetapi tidak menantang melainkan patuh. “Siapa yang mengajarimu bekerja seperti itu?” Zhuolong menunduk sedikit lebih dalam. “Saya belajar sendiri.” Jawaban itu membuat Fang Wei-wei terdiam lalu mengangguk pelan. “Baik. Pergilah.” Pemuda itu mundur dengan langkah tenang. Akan tetapi, ketika pintu tertutup, Fang Wei-wei menyadari jika jantung berdetak sedikit lebih cepat. Lalu mengerutkan kening, meneguk teh yang sudah mulai mendingin. “Aneh,” pikirnya. Terlalu aneh untuk seorang pelayan baru. Di sisi lain rumah, Gu Qiang sedang sarapan dengan wajah masam. “Mana kopi?!” Seorang pelayan lain tergesa mendekat. Zhuolong melihat dari kejauhan, mengamati, mencatat, dari nada tinggi Gu Qiang, hingga cara membanting sendok, dan tatapan merendahkan sering dilemparkan pada siapa pun ketika salah gerak. Inilah pria yang dulu masuk ke kediaman Zhang dan menghancurkan keluarga kakak sendiri. Zhuolong menunduk untuk menyembunyikan kilatan dingin di mata. Wang Na mendekat, berbisik tajam, “Jangan menatap Tuan seperti itu.” “Saya tidak menatap,” jawab Zhuolong tenang. “Kau pikir aku bodoh?!” Zhuolong mengangkat wajah perlahan, cukup untuk menatap mata Wang Na, singkat, datar, tanpa emosi. “Saya tahu tempat saya.” Siang hari, rumah terasa lebih ramai. Tamu bisnis Gu Qiang datang silih berganti. Zhuolong bertugas mengantar minuman, mencatat kebiasaan kecil: siapa yang duduk paling dekat, siapa yang berbicara paling banyak, siapa yang diam tetapi memegang kendali. Fang Wei-wei jarang muncul. Ketika itu dia pun turun, wajah kembali tenang, seperti topeng dilatih bertahun-tahun. Zhuolong melihat semua disaat berdiri di belakang Gu Qiang, tersenyum tipis pada tamu, tetapi mata terlihat kosong. Tatapan mereka sempat bertemu, meskipun hanya sepersekian detik. Namun, Fang Wei-wei merasa seperti ditanya tanpa kata: Apakah kau baik-baik saja? maka mengalihkan pandangan lebih dulu. Sore menjelang, hujan turun tiba-tiba. Langit menggelap, menekan atap rumah dengan suara deras. Para pelayan bergerak cepat menutup jendela. Zhuolong berdiri di koridor, memandang hujan. Air mengalir seperti tirai, memisahkan dunia dalam rumah dan dunia luar. Ia teringat masa kecil, malam ketika hujan turun dan sang ibu tidak pernah bangun lagi. “Kau tidak istirahat?” tanya Fang Wei-wei datang dari belakang. Zhuolong berbalik, kemudian menggeleng sambil tersenyum. “Semua pelayan sudah bergantian.” “Saya tidak masalah, Nyonya.” sambung pemuda dengan sopan. Fang Wei-wei menatap hujan, berdiri di samping dengan jarak aman. “Kadang, terlalu keras pada diri sendiri hanya membuat luka bertambah.” Zhuolong terdiam, untuk pertama kali ini tidak langsung mengeluarkan jawabanan. “Luka,” kata pemuda pelan. “Tidak selalu buruk, dia mengingatkan kita untuk tidak lupa.” Kalimat itu membuat Fang Wei-wei menoleh, terasa menusuk lebih dalam dari seorang pelayan,tanpa sadar bertanya. “Kau …, sering terluka?” Pemuda itu menunduk lagi. “Maaf, Nyonya. Saya terlalu banyak bicara.” Hening langsung menyelimuti, yang tersisa hanya suara hujan. Fang Wei-wei menghela napas. “Pergilah. Keringkan pakaianmu.” “Baik.” balas Zhuolong lalu melangkah pergi, meninggalkan Fang Wei-wei sendirian di koridor.“Baik.” jawab Zhuolong membuat Wang Na mengatupkan rahang. ‘Area dalam; berarti lebih dekat dengan Nyonya, sehingga sering terlihat.’ Sesuatu yang selama ini dijaga dengan susah payah. Namun, sang pemuda tidak menunjukkan kemenangan, dia pun mengikuti kepala pelayan tanpa sepatah kata. Di lantai atas, Fang Wei-wei baru keluar dari kamar dengan rambut disanggul longgar, wajah tampak lelah meski riasan tipis sudah dipulas. Ia berhenti di depan jendela besar, menatap halaman dengan tatapan mata kosong. Semalam ia hampir tidak tidur. Gu Qiang pulang larut dan mabuk, hanya meninggalkan bau alkohol serta keheningan.“Teh pagi, Nyonya.” tutur kata itu terdengar lembut. Fang Wei-wei menoleh. Zhuolong berdiri dua langkah di belakang, menunduk sambil memegang nampan dengan kedua tangan. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Ia terkejut bukan karena kedatangan secara tiba-tiba, melainkan karena ketepatan waktu dalam bekerja.“Letakkan di sana,” perintah Fang
Zhuolong merasakan tatapan itu tanpa Secara naluriah dia mengenali kehadiran Fang Wei-wei sebelum logika bekerja. Pemuda itu mengangkat kepala perlahan, cukup untuk memenuhi etika, tidak berlebihan, tatapan mereka bertemu sesaat. tidak mencolok. Namun, udara di antara mereka berubah. Fang Wei-wei sedikit terkejut, lalu mengalihkan pandangan. “Ada pelayan baru?”“Ya,” jawab Suami singkat. “Tidak penting.” Kata-kata itu datar, justru menancap. Zhuolong mencatat. Tidak penting. itulah cara Gu Qiang memandang orang lain. Bahkan tidak berubah sama sekali, seperti memandang keluarga Zhang dahulu.“Pastikan dapur rapi hari ini,” lanjut Fang Wei-wei pada kepala pelayan. “Aku akan menerima tamu sore nanti.”“Baik, Nyonya.”Wanita itu melangkah pergi. Namun, dua langkah kemudian, ia berhenti sejenak, tanpa menoleh. “Pelayan baru,” panggil Fang Wei-wei pelan seperti bicara pada udara. “Pastikan ruang tamu tidak berdebu.”“Baik, Nyonya,” jawab Zhuol
Di layar ponsel lain, notifikasi yang sama muncul di tangan Yen Zhuolong kemudian membaca perlahan, lalu mengunci layar, memanggil. “Paman Lin,” “Ya, Tuan.” Jawab Lin Thong.“Mulai hari ini,” kata Zhuolong dengan nada rendah. “Kau tidak lagi memanggilku Tuan di depan siapa pun.” Lin Thong menoleh terkejut. “Lalu saya harus …?”“Panggil aku Zhuolong.” Ia berhenti sejenak. “Atau, pelayan Yen.”“Apakah ini benar-benar perlu?” tanya Lin Thong sambil mengepalkan tangan di setir.“Untuk membunuh seekor ular,” jawab Zhuolong tenang. “Kita harus masuk ke dalam sarang.” kemudian menatap lurus ke depan. Dalam tatapan mata tidak ada keraguan. “Dan kali ini …, aku tidak akan keluar sebelum semua selesai.”Hari berlalu dengan sangat cepat, malam pun tiba, Di kamar pribadi, Fang Wei-wei berdiri di depan jendela menatap taman, terlihat sunyi. Entah mengapa, dada terasa sesak, seperti akan ada sesuatu, atau seseorang segera mengubah keseimbangan hidup yang rapuh.Sementara itu, di sisi kota lain, Y
Kembali di jalan utama, Zhuolong melangkah keluar dari lorong. Hujan mulai reda, lalu menyalakan ponsel, ketika panggilan tersambung dia berkata. “Xi Fei, Percepat proses.”“Sebagai pelayan?” tanya Xi Fei.“Ya,” jawab Zhuolong. “Gu Qiang tidak akan menolak orang yang di kira bisa dikendalikan.”“Dan Wang Na?”Zhuolong menatap pantulan di kaca mobil yang berhenti di depan. “Aku menaruh kecurigaan, jika dia terlibat dalam tragedi 10 tahun lalu.” Mobil Lin Thong berhenti tepat waktu dan si pemuda segera masuk ketika pintu terbuka, dia duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. “Kau baik-baik saja, Tuan?” tanya Lin Thong. “Lebih dari baik,” ia menjawab pelan. “Mereka sudah bergerak.”“Siapa?”“Musuh lama.” Zhuolong menyandarkan kepala. “Dan itu berarti … aku sudah cukup dekat.” Mobil melaju meninggalkan jalanan basah. Di balik ketenangan, pikiran pemuda itu bekerja cepat, menyusun langkah demi langkah, karena setiap gerakan kecil akan diperhatikan, bahkan kesalahan akan berujung p
Sepuluh tahun berlalu, Mobil hitam itu melaju tenang di tengah arus malam kota Jiangchen. Lampu-lampu gedung pencakar langit menjulang angkuh memantulkan cahaya dingin ke jendela kaca gelap tersebut. Di balik itu, Yen Zhuolong duduk tegak, kedua tangan bertumpu santai di paha, hingga tubuh pun nyaris tak bergerak meski kendaraan sesekali berbelok.Wajah tenang, tatapan mata memandang lurus ke depan, seolah menembus jalanan, bangunan, dan lalu lintas, menyusup jauh ke masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Kemudian bergumam pelan “Jiangchen,” Satu kata itu membawa aroma darah, pengkhianatan, dan kematian.Lin Thong, pria berusia 35 tahun duduk di kursi pengemudi, melirik sekilas ke kaca spion tengah. Ia telah bersama Zhuolong selama bertahun-tahun. Cukup tahu bahwa tuan muda bicara dengan nada setenang itu, pikiran pasti sedang bekerja jauh lebih kejam.“Kita sudah memasuki wilayah pusat kota,” ucap Lin Thong melapor. “Apakah langsung menuju kediaman sementara, Tuan?”“Ti
Detik berlalu, Yue Xindy menarik napas dalam-dalam, hendak menjauh, tetapi, tapi Pria itu bergerak duluan, perlahan dan sangat hati-hati, menggeser gelas agar tidak jatuh. jari-jemari menyentuh pergelangan tangan wanita tersebut, ringan bahkan nyaris sopan.“Maaf,” hanya satu kata yang keluar, dia harus segera melepaskan. Namun, sentuhan bertahan beberapa detik lebih lama, membuat jantung Yue Xindy berdegup dengan cepat. Ketika tersadar, ia bergegas menarik tangan yang berada dibawah telapak tangan adik ipar, lalu mundur setengah langkah, raut wajah terlihat memanas seperti udang rebus, pikiran langsung kacau. “Aku sangat lelah,” berusaha mencari alasan untuk pergi.Gu Qiang mengangguk, seolah tak terjadi apa-apa. Namun, tatapan mata berubah lebih dalam, jauh lebih tenang.“Beristirahatlah,” ucapan tersebut sangat lembut. “Aku akan mematikan lampu.”Wanita itu berjalan pergi tanpa menoleh. Tetapi langkah kaki sedikit gontai, bukan seperti yang diinginkan.Gu Qiang berdiri sendiri di







