MasukZhuolong merasakan tatapan itu tanpa Secara naluriah dia mengenali kehadiran Fang Wei-wei sebelum logika bekerja. Pemuda itu mengangkat kepala perlahan, cukup untuk memenuhi etika, tidak berlebihan, tatapan mereka bertemu sesaat. tidak mencolok. Namun, udara di antara mereka berubah. Fang Wei-wei sedikit terkejut, lalu mengalihkan pandangan. “Ada pelayan baru?”
“Ya,” jawab Suami singkat. “Tidak penting.” Kata-kata itu datar, justru menancap. Zhuolong mencatat. Tidak penting. itulah cara Gu Qiang memandang orang lain. Bahkan tidak berubah sama sekali, seperti memandang keluarga Zhang dahulu. “Pastikan dapur rapi hari ini,” lanjut Fang Wei-wei pada kepala pelayan. “Aku akan menerima tamu sore nanti.” “Baik, Nyonya.” Wanita itu melangkah pergi. Namun, dua langkah kemudian, ia berhenti sejenak, tanpa menoleh. “Pelayan baru,” panggil Fang Wei-wei pelan seperti bicara pada udara. “Pastikan ruang tamu tidak berdebu.” “Baik, Nyonya,” jawab Zhuolong sopan tapi tepat, berhasil membuat Fang Wei-wei menoleh kembali, meskipun hanya sebentar. Tetapi, tatapan tersebut seolah menyentuh wajah Zhuolong, lalu pergi. Di belakang punggung Zhuolong, Wang Na menelan ludah, rasa takut itu kini bercampur dengan kecemburuan dan kecemasan, Dia tahu betul, sekali perhatian Nyonya beralih, keseimbangan rapuh ini akan runtuh. Hari serasa berjalan lambat, Zhuolong bekerja tanpa cela, gerakan efisien, tenang, nyaris tak terdengar, tanpa mencuri perhatian, kehadiran itu sulit diabaikan. Para pelayan lain mulai melirik, berbisik pelan. Ada yang kagum dan ada yang curiga. Sore menjelang, Fang Wei-wei turun ke ruang tamu, lalu berhenti ketika melihat ruangan itu bersih sempurna, bahkan sudut-sudut kecil yang biasa terlewat, kini tertata rapi. Kemudian bertanya. “Siapa yang membersihkan ini?” “Pelayan baru, Nyonya,” jawab kepala pelayan. Fang Wei-wei mengangguk. Tatapan mata lantas mencari satu sosok, disaat menemukan dia berkata, “Kau.” Pemuda itu melangkah maju sambil menunduk. “Ya, Nyonya.” “Kerjamu rapi.” puji Fang Wei-wei. “Terima kasih, Nyonya.” Hening sejenak. Wanita itu merasa kurang nyaman, bukan ancaman, melainkan rasa aman yang seharusnya tidak boleh muncul pada orang asing. Gu Qiang melintas, melirik singkat. “Jangan terlalu dekat dengan pelayan.” Fang Wei-wei tidak menjawab. Ia hanya menoleh sebentar ke arah Zhuolong, lalu pergi. Si pemuda kembali menunduk, menyembunyikan sesuatu dalam tatapan mata, langkah pertama berhasil. Malam kembali datang, Di kamar kecil pelayan, Zhuolong berdiri di depan jendela sempit, tatapan mata mengarah pada taman gelap, di bawah. Ponsel bergetar pelan. Pesan dari Lin Thong: “Kau sudah di dalam.” Zhuolong membalas singkat: “Ya.” kemudian menyimpan ponsel sambil berbisik pada kegelapan, hampir tak terdengar. “Gu Qiang, aku sudah pulang.” Pagi datang tanpa kehangatan. Kabut tipis menyelimuti taman belakang kediaman keluarga Gu, menggantung rendah di antara pepohonan hias yang dipangkas rapi. Embun masih menempel di dedaunan. Yen Zhuolong sudah terjaga sebelum bel berbunyi, ia duduk di tepi ranjang sempit kamar pelayan, merapikan manset kemeja dengan gerakan perlahan, Setiap tarikan napas diatur agar detak jantung terasa tenang. Hari pertama selalu menentukan. Jika lebih menonjol pasti dicurigai. Bila terlalu pasif pasti akan ditindas. Maka ia memilih berada di tengah: cukup terlihat meskipun tak mencolok. Setelah siap, ia mengambil langkah ringan berjalan keluar kamar, lorong pelayan masih sepi, hanya terdengar suara sapu di kejauhan. Aroma pembersih lantai bercampur dengan bau teh pagi dari dapur menusuk indra penciuman, disaat melangkah ke sana. “Cepat juga kau,” suara Wang Na terdengar dari belakang. Yen Zhuolong menoleh sekilas kemudian menunduk hormat. “Saya terbiasa bangun pagi.” membuat si gadis mengamati dari ujung rambut hingga ujung sepatu, tidak ada cela dan tiada sikap sembrono. membuat hati semakin gelisah. “Jangan sok rajin,” dia berucap begitu dingin. “Di sini, jika terlalu rajin akan cepat mati.” Zhuolong hanya tersenyum tipis, tetapi sopan. Bahkan tidak menjawab apa pun. Dia lebih memilih mulai bekerja dari mengangkat nampan hingga menyusun piring, membersihkan permukaan meja dapur dengan gerakan terampil, bahkan sangat cekatan tanpa menimbulkan suara berisik, menarik perhatian Kepala pelayan disaat memperhatikan dari jauh. “Yen Zhuolong,” panggilnya setelah mengangguk pelan. Pemuda itu berhenti lalu berbalik. “Ya?” “Kau ikut aku hari ini, bertugas di area dalam. Ingat! Jangan sampai salah bicara.”Zhuolong merasakan tatapan itu tanpa Secara naluriah dia mengenali kehadiran Fang Wei-wei sebelum logika bekerja. Pemuda itu mengangkat kepala perlahan, cukup untuk memenuhi etika, tidak berlebihan, tatapan mereka bertemu sesaat. tidak mencolok. Namun, udara di antara mereka berubah. Fang Wei-wei sedikit terkejut, lalu mengalihkan pandangan. “Ada pelayan baru?”“Ya,” jawab Suami singkat. “Tidak penting.” Kata-kata itu datar, justru menancap. Zhuolong mencatat. Tidak penting. itulah cara Gu Qiang memandang orang lain. Bahkan tidak berubah sama sekali, seperti memandang keluarga Zhang dahulu.“Pastikan dapur rapi hari ini,” lanjut Fang Wei-wei pada kepala pelayan. “Aku akan menerima tamu sore nanti.”“Baik, Nyonya.”Wanita itu melangkah pergi. Namun, dua langkah kemudian, ia berhenti sejenak, tanpa menoleh. “Pelayan baru,” panggil Fang Wei-wei pelan seperti bicara pada udara. “Pastikan ruang tamu tidak berdebu.”“Baik, Nyonya,” jawab Zhuol
Di layar ponsel lain, notifikasi yang sama muncul di tangan Yen Zhuolong kemudian membaca perlahan, lalu mengunci layar, memanggil. “Paman Lin,” “Ya, Tuan.” Jawab Lin Thong.“Mulai hari ini,” kata Zhuolong dengan nada rendah. “Kau tidak lagi memanggilku Tuan di depan siapa pun.” Lin Thong menoleh terkejut. “Lalu saya harus …?”“Panggil aku Zhuolong.” Ia berhenti sejenak. “Atau, pelayan Yen.”“Apakah ini benar-benar perlu?” tanya Lin Thong sambil mengepalkan tangan di setir.“Untuk membunuh seekor ular,” jawab Zhuolong tenang. “Kita harus masuk ke dalam sarang.” kemudian menatap lurus ke depan. Dalam tatapan mata tidak ada keraguan. “Dan kali ini …, aku tidak akan keluar sebelum semua selesai.”Hari berlalu dengan sangat cepat, malam pun tiba, Di kamar pribadi, Fang Wei-wei berdiri di depan jendela menatap taman, terlihat sunyi. Entah mengapa, dada terasa sesak, seperti akan ada sesuatu, atau seseorang segera mengubah keseimbangan hidup yang rapuh.Sementara itu, di sisi kota lain, Y
Kembali di jalan utama, Zhuolong melangkah keluar dari lorong. Hujan mulai reda, lalu menyalakan ponsel, ketika panggilan tersambung dia berkata. “Xi Fei, Percepat proses.”“Sebagai pelayan?” tanya Xi Fei.“Ya,” jawab Zhuolong. “Gu Qiang tidak akan menolak orang yang di kira bisa dikendalikan.”“Dan Wang Na?”Zhuolong menatap pantulan di kaca mobil yang berhenti di depan. “Aku menaruh kecurigaan, jika dia terlibat dalam tragedi 10 tahun lalu.” Mobil Lin Thong berhenti tepat waktu dan si pemuda segera masuk ketika pintu terbuka, dia duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. “Kau baik-baik saja, Tuan?” tanya Lin Thong. “Lebih dari baik,” ia menjawab pelan. “Mereka sudah bergerak.”“Siapa?”“Musuh lama.” Zhuolong menyandarkan kepala. “Dan itu berarti … aku sudah cukup dekat.” Mobil melaju meninggalkan jalanan basah. Di balik ketenangan, pikiran pemuda itu bekerja cepat, menyusun langkah demi langkah, karena setiap gerakan kecil akan diperhatikan, bahkan kesalahan akan berujung p
Sepuluh tahun berlalu, Mobil hitam itu melaju tenang di tengah arus malam kota Jiangchen. Lampu-lampu gedung pencakar langit menjulang angkuh memantulkan cahaya dingin ke jendela kaca gelap tersebut. Di balik itu, Yen Zhuolong duduk tegak, kedua tangan bertumpu santai di paha, hingga tubuh pun nyaris tak bergerak meski kendaraan sesekali berbelok.Wajah tenang, tatapan mata memandang lurus ke depan, seolah menembus jalanan, bangunan, dan lalu lintas, menyusup jauh ke masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Kemudian bergumam pelan “Jiangchen,” Satu kata itu membawa aroma darah, pengkhianatan, dan kematian.Lin Thong, pria berusia 35 tahun duduk di kursi pengemudi, melirik sekilas ke kaca spion tengah. Ia telah bersama Zhuolong selama bertahun-tahun. Cukup tahu bahwa tuan muda bicara dengan nada setenang itu, pikiran pasti sedang bekerja jauh lebih kejam.“Kita sudah memasuki wilayah pusat kota,” ucap Lin Thong melapor. “Apakah langsung menuju kediaman sementara, Tuan?”“Ti
Detik berlalu, Yue Xindy menarik napas dalam-dalam, hendak menjauh, tetapi, tapi Pria itu bergerak duluan, perlahan dan sangat hati-hati, menggeser gelas agar tidak jatuh. jari-jemari menyentuh pergelangan tangan wanita tersebut, ringan bahkan nyaris sopan.“Maaf,” hanya satu kata yang keluar, dia harus segera melepaskan. Namun, sentuhan bertahan beberapa detik lebih lama, membuat jantung Yue Xindy berdegup dengan cepat. Ketika tersadar, ia bergegas menarik tangan yang berada dibawah telapak tangan adik ipar, lalu mundur setengah langkah, raut wajah terlihat memanas seperti udang rebus, pikiran langsung kacau. “Aku sangat lelah,” berusaha mencari alasan untuk pergi.Gu Qiang mengangguk, seolah tak terjadi apa-apa. Namun, tatapan mata berubah lebih dalam, jauh lebih tenang.“Beristirahatlah,” ucapan tersebut sangat lembut. “Aku akan mematikan lampu.”Wanita itu berjalan pergi tanpa menoleh. Tetapi langkah kaki sedikit gontai, bukan seperti yang diinginkan.Gu Qiang berdiri sendiri di
Langit Jiangchen sore itu menggantung rendah, diselimuti awan kelabu bergerak perlahan, seolah enggan melepaskan hujan. Di kawasan perumahan elit Yunhe, berdiri Bangunan dua lantai bergaya modern itu dikelilingi pagar besi hitam berornamen sederhana, tidak berlebihan, tetapi jelas mahal. Taman hijau terawat membentang di halaman depan, dengan jalur batu abu-abu selelu terlihat bersih. Setiap detail rumah itu berbicara tentang kestabilan dan kemapanan. Bagi orang luar, keluarga Zhang simbol kesempurnaan; kaya, terhormat, dan bahagia. Mungkin lebih tepat: keluarga ideal. Dari balik jendela besar lantai dua, seorang anak laki-laki berdiri tanpa suara, ia menempelkan tangan mungil pada kaca jendela, sementara mata menatap halaman rumah yang luas dan tertata rapi, dia bernama Zhang Zhuo 10 tahun, raut wajah masih menyisakan kepolosan masa kanak-kanak, ada kehati-hatian terlalu dini, seolah ia terbiasa memperhatikan lebih banyak daripada yang sering dilakukan anak seusianya.Anak itu tumb







