MasukDi layar ponsel lain, notifikasi yang sama muncul di tangan Yen Zhuolong kemudian membaca perlahan, lalu mengunci layar, memanggil. “Paman Lin,”
“Ya, Tuan.” Jawab Lin Thong. “Mulai hari ini,” kata Zhuolong dengan nada rendah. “Kau tidak lagi memanggilku Tuan di depan siapa pun.” Lin Thong menoleh terkejut. “Lalu saya harus …?” “Panggil aku Zhuolong.” Ia berhenti sejenak. “Atau, pelayan Yen.” “Apakah ini benar-benar perlu?” tanya Lin Thong sambil mengepalkan tangan di setir. “Untuk membunuh seekor ular,” jawab Zhuolong tenang. “Kita harus masuk ke dalam sarang.” kemudian menatap lurus ke depan. Dalam tatapan mata tidak ada keraguan. “Dan kali ini …, aku tidak akan keluar sebelum semua selesai.” Hari berlalu dengan sangat cepat, malam pun tiba, Di kamar pribadi, Fang Wei-wei berdiri di depan jendela menatap taman, terlihat sunyi. Entah mengapa, dada terasa sesak, seperti akan ada sesuatu, atau seseorang segera mengubah keseimbangan hidup yang rapuh. Sementara itu, di sisi kota lain, Yen Zhuolong mengenakan kemeja sederhana, melepas jas mahal berdiri di depan cermin, menatap bayangan wajah sendiri. Bukan lagi pewaris Zhang. Tidak pula tuan muda Yen Group. Yang akan melangkah masuk ke kediaman Gu besok, hanyalah seorang pelayan. *** Pagi itu, Gerbang kediaman keluarga Gu terbuka perlahan, udara Jiangchen terasa lebih dingin. Langit cerah pucat, seolah matahari enggan bersinar penuh di atas rumah megah terlalu banyak menyimpan rahasia. Mobil hitam berhenti tepat di depan pos penjaga. Dua satpam melangkah maju, memeriksa identitas dengan tatapan waspada. Yen Zhuolong turun dari mobil. Pakaian sederhana, kemeja putih lengan panjang, celana hitam rapi, sepatu bersih tanpa kilau berlebihan. Tidak ada satu pun yang menandakan kekuasaan atau kekayaan. Ia berdiri dengan punggung lurus, kepala sedikit menunduk, sikap yang tepat untuk seseorang yang datang menawarkan tenaga. “Nama?” tanya salah satu penjaga. “Yen Zhuolong,” jawabnya tenang. Suaranya rendah, sopan, tak menyisakan celah. Penjaga itu memeriksa daftar, lalu mengangguk. “Masuk. Jangan membuat masalah.” Zhuolong melangkah melewati gerbang. Di balik sikap tunduk itu, pikiran sedang mencatat setiap sudut: jarak pos ke pintu utama, posisi kamera, pola patroli, waktu pergantian penjaga. Tidak satu pun terlewat. Sarang ular harus dipelajari sebelum disentuh. Dalam aula utama, para pelayan sudah berbaris Kepala mereka tertunduk, tangan terlipat rapi di depan tubuh. Wang Na berdiri di barisan tengah. Ketika mendengar langkah kaki mendekat, ia menoleh setelah itu membeku ketika tatapan mata mereka bertemu, meskipun hanya sepersekian detik. Tetapi bagi Wang Na, detik itu terasa seperti hukuman mati, ia sangat mengenali mata dingin tersebut, sangat dalam hingga tidak memberi ruang untuk salah tafsir. Zhuolong mengalihkan pandangan lebih dulu, seolah Wang Na hanyalah pelayan lain yang tak berarti, gerakan kecil itu justru menghancurkan sisa ketenangan si gadis. Tangan gemetar hingga napas terasa berat. “Tenang,” bisik Wang Na pada diri sendiri. “Dia hanya pelayan.” Namun suara sendiri terdengar seperti kebohongan. Langkah kaki berat terdengar dari arah tangga. Gu Qiang muncul, mengenakan setelan rumah berwarna gelap. Wajah tampak muram, mata sipit itu menyapu barisan pelayan satu per satu, lalu berhenti pada Zhuolong. “Pelayan baru?” tanya Gu Qiang dengan datar. “Ya, Tuan,” jawab kepala pelayan. “Direkomendasikan oleh agen biasa.” Gu Qiang menatap Zhuolong lebih lama. Seolah mencoba menembus lapisan ketenangan itu. Pemuda itu menunduk sedikit lebih dalam menampakkan sikap hormat sempurna. “Namamu?” tanya Gu Qiang. “Yen Zhuolong, Tuan.” Gu Qiang mengangguk pelan. “Mulai hari ini, kau bertugas di dalam. Ikuti perintah kepala pelayan, jangan banyak bicara.” “Baik, Tuan.” Tiada emosi di wajah Zhuolong, tidak ada rasa takut, melainkan kepatuhan terukur rapi untuk seorang pemula. Gu Qiang berbalik, hendak pergi ketika terdengar suara langkah ringan dari arah koridor samping. Fang Wei-wei muncul. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna abu-abu muda. Rambut terurai sebagian, wajah pucat, tetapi sorot mata terlihat jernih. Dia berhenti sejenak memandang barisan pelayan, tetapi, tatapan itu tertahan pada Zhuolong. Ada sesuatu, ia tidak tahu apa, tetapi getaran aneh itu berada di dalam dada, seperti perasaan familiar.“Baik.” jawab Zhuolong membuat Wang Na mengatupkan rahang. ‘Area dalam; berarti lebih dekat dengan Nyonya, sehingga sering terlihat.’ Sesuatu yang selama ini dijaga dengan susah payah. Namun, sang pemuda tidak menunjukkan kemenangan, dia pun mengikuti kepala pelayan tanpa sepatah kata. Di lantai atas, Fang Wei-wei baru keluar dari kamar dengan rambut disanggul longgar, wajah tampak lelah meski riasan tipis sudah dipulas. Ia berhenti di depan jendela besar, menatap halaman dengan tatapan mata kosong. Semalam ia hampir tidak tidur. Gu Qiang pulang larut dan mabuk, hanya meninggalkan bau alkohol serta keheningan.“Teh pagi, Nyonya.” tutur kata itu terdengar lembut. Fang Wei-wei menoleh. Zhuolong berdiri dua langkah di belakang, menunduk sambil memegang nampan dengan kedua tangan. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Ia terkejut bukan karena kedatangan secara tiba-tiba, melainkan karena ketepatan waktu dalam bekerja.“Letakkan di sana,” perintah Fang
Zhuolong merasakan tatapan itu tanpa Secara naluriah dia mengenali kehadiran Fang Wei-wei sebelum logika bekerja. Pemuda itu mengangkat kepala perlahan, cukup untuk memenuhi etika, tidak berlebihan, tatapan mereka bertemu sesaat. tidak mencolok. Namun, udara di antara mereka berubah. Fang Wei-wei sedikit terkejut, lalu mengalihkan pandangan. “Ada pelayan baru?”“Ya,” jawab Suami singkat. “Tidak penting.” Kata-kata itu datar, justru menancap. Zhuolong mencatat. Tidak penting. itulah cara Gu Qiang memandang orang lain. Bahkan tidak berubah sama sekali, seperti memandang keluarga Zhang dahulu.“Pastikan dapur rapi hari ini,” lanjut Fang Wei-wei pada kepala pelayan. “Aku akan menerima tamu sore nanti.”“Baik, Nyonya.”Wanita itu melangkah pergi. Namun, dua langkah kemudian, ia berhenti sejenak, tanpa menoleh. “Pelayan baru,” panggil Fang Wei-wei pelan seperti bicara pada udara. “Pastikan ruang tamu tidak berdebu.”“Baik, Nyonya,” jawab Zhuol
Di layar ponsel lain, notifikasi yang sama muncul di tangan Yen Zhuolong kemudian membaca perlahan, lalu mengunci layar, memanggil. “Paman Lin,” “Ya, Tuan.” Jawab Lin Thong.“Mulai hari ini,” kata Zhuolong dengan nada rendah. “Kau tidak lagi memanggilku Tuan di depan siapa pun.” Lin Thong menoleh terkejut. “Lalu saya harus …?”“Panggil aku Zhuolong.” Ia berhenti sejenak. “Atau, pelayan Yen.”“Apakah ini benar-benar perlu?” tanya Lin Thong sambil mengepalkan tangan di setir.“Untuk membunuh seekor ular,” jawab Zhuolong tenang. “Kita harus masuk ke dalam sarang.” kemudian menatap lurus ke depan. Dalam tatapan mata tidak ada keraguan. “Dan kali ini …, aku tidak akan keluar sebelum semua selesai.”Hari berlalu dengan sangat cepat, malam pun tiba, Di kamar pribadi, Fang Wei-wei berdiri di depan jendela menatap taman, terlihat sunyi. Entah mengapa, dada terasa sesak, seperti akan ada sesuatu, atau seseorang segera mengubah keseimbangan hidup yang rapuh.Sementara itu, di sisi kota lain, Y
Kembali di jalan utama, Zhuolong melangkah keluar dari lorong. Hujan mulai reda, lalu menyalakan ponsel, ketika panggilan tersambung dia berkata. “Xi Fei, Percepat proses.”“Sebagai pelayan?” tanya Xi Fei.“Ya,” jawab Zhuolong. “Gu Qiang tidak akan menolak orang yang di kira bisa dikendalikan.”“Dan Wang Na?”Zhuolong menatap pantulan di kaca mobil yang berhenti di depan. “Aku menaruh kecurigaan, jika dia terlibat dalam tragedi 10 tahun lalu.” Mobil Lin Thong berhenti tepat waktu dan si pemuda segera masuk ketika pintu terbuka, dia duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. “Kau baik-baik saja, Tuan?” tanya Lin Thong. “Lebih dari baik,” ia menjawab pelan. “Mereka sudah bergerak.”“Siapa?”“Musuh lama.” Zhuolong menyandarkan kepala. “Dan itu berarti … aku sudah cukup dekat.” Mobil melaju meninggalkan jalanan basah. Di balik ketenangan, pikiran pemuda itu bekerja cepat, menyusun langkah demi langkah, karena setiap gerakan kecil akan diperhatikan, bahkan kesalahan akan berujung p
*Apex Hospital* Di dalam kamar Paviliun Privat Eksekutif, seorang remaja terbaring sembari membaca buku, meskipun dalam keadaan sakit. Ia tetap belajar karena teringat akan pesan sang kakak. Suasana tenang seketika pecah saat pintu terbuka kasar tanpa ketukan. "Usir anak ini sekarang! dia cuma yatim piatu, tidak punya hak atas perlindungan khusus di sini," perintah seorang pria berpakaian mewah. Pria itu datang mendampingi lelaki setengah baya berseragam dokter lengkap dengan kartu identitas yang menggantung di dada kiri. Perawat yang menjaga kamar, Li Xinyi, terperanjat. "Dokter, apa maksud semua ini?" "Jangan banyak tanya! Pasien ini sudah menunggak pembayaran terlalu lama," jawab dokter itu ketus. "Tuan Muda Xi menginginkan kamar eksekutif ini untuk tempat istirahat keponakan beliau." "Tetapi Dokter, keponakan Tuan Muda Xi hanya terjatuh dan cuma mengalami luka gores di lengan," sahut Li Xinyi berusaha membela. "Sedangkan Ye Tian mengidap anemia kronis bawaan lahir. Tekanan da
Setelah tersadar dari lamunan Yichen menarik napas dalam-dalam, mencoba mengurai sesak memenuhi dada, lalu di hembuskan perlahan. "Han Xiu," panggil Yichen pada asisten pribadi. "Iya, Tuan," sahut Xiu. "Ada yang bisa saya bantu?" "Apa yang akan kau lakukan jika seluruh keluargamu dibunuh, dan hanya kau yang selamat dari pembantaian itu?" Yichen melempar tanya. Ia ingin menguji sekaligus mencari pertimbangan dari tangan kanan yang paling dipercayai. "Apakah kau akan menghabisi dalang di balik kematian mereka, atau sekadar menonton hidup tenang dalam perlindungan hukum?" Han Xiu tersentak. Darah terasa mendadak berhenti dan jantung pun bertalu hebat mendengar pertanyaan sang atasan. "Tuan, saya tidak akan memilih salah satu dari pertanyaan Anda," jawab Han Xiu, menatap lurus. "Kematian terlalu instan bagi seorang pembantai. Saya justru akan datang membalas dendam dengan cara lain, memastikan dia tersiksa hingga berada di titik mati segan, hidup pun tak mau." “Paman Chen, mereka ber
Langit Jiangchen sore itu menggantung rendah, diselimuti awan kelabu bergerak perlahan, seolah enggan melepaskan hujan. Di kawasan perumahan elit Yunhe, berdiri Bangunan dua lantai bergaya modern itu dikelilingi pagar besi hitam berornamen sederhana, tidak berlebihan, tetapi jelas mahal. Taman hija







