LOGINKembali di jalan utama, Zhuolong melangkah keluar dari lorong. Hujan mulai reda, lalu menyalakan ponsel, ketika panggilan tersambung dia berkata. “Xi Fei, Percepat proses.”
“Sebagai pelayan?” tanya Xi Fei. “Ya,” jawab Zhuolong. “Gu Qiang tidak akan menolak orang yang di kira bisa dikendalikan.” “Dan Wang Na?” Zhuolong menatap pantulan di kaca mobil yang berhenti di depan. “Aku menaruh kecurigaan, jika dia terlibat dalam tragedi 10 tahun lalu.” Mobil Lin Thong berhenti tepat waktu dan si pemuda segera masuk ketika pintu terbuka, dia duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. “Kau baik-baik saja, Tuan?” tanya Lin Thong. “Lebih dari baik,” ia menjawab pelan. “Mereka sudah bergerak.” “Siapa?” “Musuh lama.” Zhuolong menyandarkan kepala. “Dan itu berarti … aku sudah cukup dekat.” Mobil melaju meninggalkan jalanan basah. Di balik ketenangan, pikiran pemuda itu bekerja cepat, menyusun langkah demi langkah, karena setiap gerakan kecil akan diperhatikan, bahkan kesalahan akan berujung pada kematian. Namun, kali ini dia bukan anak sepuluh tahun yang bersembunyi di lemari. Dia sudah berubah menjadi pria yang akan menagih penderitaan masa lalu. Pagi pun tiba dengan langit kelabu di Jiangchen. Kabut tipis menggantung di antara gedung-gedung tinggi, menutupi sinar matahari yang berusaha menembus celah-celah kota. Dari lantai tertinggi gedung Yen Group, Yen Zhuolong berdiri menghadap jendela besar, secangkir kopi hitam di tangan, bahkan aroma pahit itu memenuhi udara, tetapi tak satu pun menarik perhatian. Pikiran seakan melambat pada satu nama (Gu Qiang). “Gerakan mereka semakin tidak rapi,” lapor Xi Fei dari balik meja kerja. “Sejak tadi malam, orang-orang Gu mulai menyelidiki sekitar distrik lama, Mungkin karena mencium sesuatu.” Zhuolong mengangkat cangkir lalu menyeruput sedikit, raut wajah tetap terlihat tenang. “Itu wajar. Ketika tikus mencium asap, mereka akan mencari lubang.” “Apakah kita perlu menghilangkan jejak lebih jauh?” tanya Xi Fei. “Tidak,” jawab sang Tuan muda. “Justru biarkan mereka menemukan apa yang ingin di lihat.” Xi Fei terdiam karena memahami maksud tersebut. “Identitas palsu sudah siap. Latar belakang bersih. Riwayat kerja sebagai staf rumah tangga luar negeri, rekomendasi sempurna.” “Bagus,” ujar Zhuolong. “Kirimkan ke agen penyalur pelayan yang biasa digunakan keluarga Gu.” “Secara resmi?” “Harus resmi.”Zhuolong meletakkan cangkir, kembali menatap jendela, di bawah sana, kota Jiangchen bergerak tanpa tahu bahwa sebuah permainan lama sedang dihidupkan kembali. “Bagaimana dengan Wang Na?” tanya Xi Fei hati-hati. Sudut bibir Zhuolong terangkat samar. “Kalau menurut apa yang terjadi, sekarang sudah sangat gelisah. Itu jika dia terlibat, Perasaan bersalah akan datang menghantui, itulah pion paling rapuh.” *** Di kediaman keluarga Gu, suasana pagi terasa tegang. Para pelayan bergerak lebih cepat, kepala tertunduk, napas ditahan. Ketika Gu Qiang datang dengan langkah kaki terasa menggema di lantai marmer hingga membuat jantung berdegup lebih kencang. Seorang wanita berparas cantik berusia 30 tahun, turun dari lantai atas mengenakan gaun sederhana berwarna krem, rambut terurai rapi, wajah tenang. “Kau belum sarapan,” ujar Gu Qiang tanpa menoleh dari koran. “Tidak lapar,” jawab Fang Wei-wei singkat. Gu Qiang melipat koran lalu menatap istri. “Kau terlihat pucat.” “Kurang tidur.” Keheningan menyusup di antara mereka, seolah menjadi tamu tetap dalam pernikahan itu. Di sudut ruangan, Wang Na berdiri kaku dengan tangan mencengkeram nampan teh. dia berusaha mengatur napas, tetapi bayangan kejadian semalam terus menghantui pikiran. “Wang Na,” panggil Fang Wei-wei membuat Gadis itu terkejut. “Ya, Nyonya.” “Tehku dingin.” “Ma–maaf, Nyonya.” Gadis itu segera melangkah maju, akibat tangan sangat gemetar, dia hampir menjatuhkan nampan. Gu Qiang memperhatikan sekilas. alis pun terangkat sebelah. “Ada apa denganmu akhir-akhir ini?” “Tidak ada, Tuan,” jawab Wang Na cepat. Gu Qiang langsung menghela napas pelan. “Kalau kau tidak sanggup bekerja, katakan.” Kalimat itu membuat darah Wang Na seakan berhenti mengalir. Ia menunduk lebih dalam. “Saya sanggup, Tuan.” Sore hari, sebuah surel resmi masuk ke sistem rumah tangga keluarga Gu, Rekomendasi Pelayan Pribadi: Yen Zhuolong. Gu Qiang membaca berkas tersebut dengan ekspresi datar. Riwayat kerja sempurna, referensi dari keluarga-keluarga terpandang, tidak ada cela. Kemudian bergumam. “Orang ini terlalu bersih,” “Justru itu yang bagus,” sahut asisten pribadi pelan, mungkin lebih terdengar seperti berbisik. “Orang seperti ini mudah dikendalikan.” Gu Qiang tersenyum tipis. “Baik. Panggil dia.” Wait for the next story…“Baik.” jawab Zhuolong membuat Wang Na mengatupkan rahang. ‘Area dalam; berarti lebih dekat dengan Nyonya, sehingga sering terlihat.’ Sesuatu yang selama ini dijaga dengan susah payah. Namun, sang pemuda tidak menunjukkan kemenangan, dia pun mengikuti kepala pelayan tanpa sepatah kata. Di lantai atas, Fang Wei-wei baru keluar dari kamar dengan rambut disanggul longgar, wajah tampak lelah meski riasan tipis sudah dipulas. Ia berhenti di depan jendela besar, menatap halaman dengan tatapan mata kosong. Semalam ia hampir tidak tidur. Gu Qiang pulang larut dan mabuk, hanya meninggalkan bau alkohol serta keheningan.“Teh pagi, Nyonya.” tutur kata itu terdengar lembut. Fang Wei-wei menoleh. Zhuolong berdiri dua langkah di belakang, menunduk sambil memegang nampan dengan kedua tangan. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Ia terkejut bukan karena kedatangan secara tiba-tiba, melainkan karena ketepatan waktu dalam bekerja.“Letakkan di sana,” perintah Fang
Zhuolong merasakan tatapan itu tanpa Secara naluriah dia mengenali kehadiran Fang Wei-wei sebelum logika bekerja. Pemuda itu mengangkat kepala perlahan, cukup untuk memenuhi etika, tidak berlebihan, tatapan mereka bertemu sesaat. tidak mencolok. Namun, udara di antara mereka berubah. Fang Wei-wei sedikit terkejut, lalu mengalihkan pandangan. “Ada pelayan baru?”“Ya,” jawab Suami singkat. “Tidak penting.” Kata-kata itu datar, justru menancap. Zhuolong mencatat. Tidak penting. itulah cara Gu Qiang memandang orang lain. Bahkan tidak berubah sama sekali, seperti memandang keluarga Zhang dahulu.“Pastikan dapur rapi hari ini,” lanjut Fang Wei-wei pada kepala pelayan. “Aku akan menerima tamu sore nanti.”“Baik, Nyonya.”Wanita itu melangkah pergi. Namun, dua langkah kemudian, ia berhenti sejenak, tanpa menoleh. “Pelayan baru,” panggil Fang Wei-wei pelan seperti bicara pada udara. “Pastikan ruang tamu tidak berdebu.”“Baik, Nyonya,” jawab Zhuol
Di layar ponsel lain, notifikasi yang sama muncul di tangan Yen Zhuolong kemudian membaca perlahan, lalu mengunci layar, memanggil. “Paman Lin,” “Ya, Tuan.” Jawab Lin Thong.“Mulai hari ini,” kata Zhuolong dengan nada rendah. “Kau tidak lagi memanggilku Tuan di depan siapa pun.” Lin Thong menoleh terkejut. “Lalu saya harus …?”“Panggil aku Zhuolong.” Ia berhenti sejenak. “Atau, pelayan Yen.”“Apakah ini benar-benar perlu?” tanya Lin Thong sambil mengepalkan tangan di setir.“Untuk membunuh seekor ular,” jawab Zhuolong tenang. “Kita harus masuk ke dalam sarang.” kemudian menatap lurus ke depan. Dalam tatapan mata tidak ada keraguan. “Dan kali ini …, aku tidak akan keluar sebelum semua selesai.”Hari berlalu dengan sangat cepat, malam pun tiba, Di kamar pribadi, Fang Wei-wei berdiri di depan jendela menatap taman, terlihat sunyi. Entah mengapa, dada terasa sesak, seperti akan ada sesuatu, atau seseorang segera mengubah keseimbangan hidup yang rapuh.Sementara itu, di sisi kota lain, Y
Kembali di jalan utama, Zhuolong melangkah keluar dari lorong. Hujan mulai reda, lalu menyalakan ponsel, ketika panggilan tersambung dia berkata. “Xi Fei, Percepat proses.”“Sebagai pelayan?” tanya Xi Fei.“Ya,” jawab Zhuolong. “Gu Qiang tidak akan menolak orang yang di kira bisa dikendalikan.”“Dan Wang Na?”Zhuolong menatap pantulan di kaca mobil yang berhenti di depan. “Aku menaruh kecurigaan, jika dia terlibat dalam tragedi 10 tahun lalu.” Mobil Lin Thong berhenti tepat waktu dan si pemuda segera masuk ketika pintu terbuka, dia duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. “Kau baik-baik saja, Tuan?” tanya Lin Thong. “Lebih dari baik,” ia menjawab pelan. “Mereka sudah bergerak.”“Siapa?”“Musuh lama.” Zhuolong menyandarkan kepala. “Dan itu berarti … aku sudah cukup dekat.” Mobil melaju meninggalkan jalanan basah. Di balik ketenangan, pikiran pemuda itu bekerja cepat, menyusun langkah demi langkah, karena setiap gerakan kecil akan diperhatikan, bahkan kesalahan akan berujung p
Sepuluh tahun berlalu, Mobil hitam itu melaju tenang di tengah arus malam kota Jiangchen. Lampu-lampu gedung pencakar langit menjulang angkuh memantulkan cahaya dingin ke jendela kaca gelap tersebut. Di balik itu, Yen Zhuolong duduk tegak, kedua tangan bertumpu santai di paha, hingga tubuh pun nyaris tak bergerak meski kendaraan sesekali berbelok.Wajah tenang, tatapan mata memandang lurus ke depan, seolah menembus jalanan, bangunan, dan lalu lintas, menyusup jauh ke masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Kemudian bergumam pelan “Jiangchen,” Satu kata itu membawa aroma darah, pengkhianatan, dan kematian.Lin Thong, pria berusia 35 tahun duduk di kursi pengemudi, melirik sekilas ke kaca spion tengah. Ia telah bersama Zhuolong selama bertahun-tahun. Cukup tahu bahwa tuan muda bicara dengan nada setenang itu, pikiran pasti sedang bekerja jauh lebih kejam.“Kita sudah memasuki wilayah pusat kota,” ucap Lin Thong melapor. “Apakah langsung menuju kediaman sementara, Tuan?”“Ti
Detik berlalu, Yue Xindy menarik napas dalam-dalam, hendak menjauh, tetapi, tapi Pria itu bergerak duluan, perlahan dan sangat hati-hati, menggeser gelas agar tidak jatuh. jari-jemari menyentuh pergelangan tangan wanita tersebut, ringan bahkan nyaris sopan.“Maaf,” hanya satu kata yang keluar, dia harus segera melepaskan. Namun, sentuhan bertahan beberapa detik lebih lama, membuat jantung Yue Xindy berdegup dengan cepat. Ketika tersadar, ia bergegas menarik tangan yang berada dibawah telapak tangan adik ipar, lalu mundur setengah langkah, raut wajah terlihat memanas seperti udang rebus, pikiran langsung kacau. “Aku sangat lelah,” berusaha mencari alasan untuk pergi.Gu Qiang mengangguk, seolah tak terjadi apa-apa. Namun, tatapan mata berubah lebih dalam, jauh lebih tenang.“Beristirahatlah,” ucapan tersebut sangat lembut. “Aku akan mematikan lampu.”Wanita itu berjalan pergi tanpa menoleh. Tetapi langkah kaki sedikit gontai, bukan seperti yang diinginkan.Gu Qiang berdiri sendiri di







