Share

Bab 15

Author: lovelypurple
last update publish date: 2025-10-06 17:23:14
"Tapi jika kau tahu kebenarannya sekarang, itu akan merusak semua rencana yang… telah kita susun dengan susah payah,” bisik Wanita Bertopeng itu pelan.

Selesai berkata begitu, ia menyesuaikan posisi tubuh Larisa di lengannya. Gerakannya lembut namun cepat. Ia melangkah ringan tanpa suara, bagaikan kabut yang merayap di atas tanah. Dalam sekejap, tubuhnya dan tawanan yang pingsan itu sudah lenyap, ditelan pekatnya malam di Hutan Terlarang. Yang tersisa hanyalah desir angin malam dan kesunyian yan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bara Dendam Sagara    Bab 34

    Saat Ibu Sarinem sedang panik mengipasi wajahnya, sosok gadis lain muncul dari balik tirai dapur, membawa baskom berisi air. Rambutnya diikat rapi, wajahnya bersih tanpa riasan, dan matanya bulat lebar menatap Sagara dengan penuh rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan.Dia adalah Kirana, putri tunggal Ibu Sarinem, yang mewarisi kecantikandari sang ibu, sementara status sebagai keturunan saudagar kaya di ibu kota didapat dari mendiang ayahnya. Senyum Sagara yang baru saja terukir membuat rona merah di pipi Kirana yang bening dan ia tanpa sadar menjatuhkan baskomnya, membuat genangan air kecil di lantai kayu."Astaga, Kirana!" pekik Ibu Sarinem, lalu segera tersenyum malu-malu kepada Sagara. "Maaf, Kisanak. Anakku ini memang ceroboh. Tapi hatinya baik kok!"Kirana tergagap meminta maaf, tetapi matanya tetap tak lepas dari wajah Ranu. Dia tahu Ibu Sarinem memang kasar, tetapi jarang sekali wanita cerewet itu langsung berubah seperti ini hanya karena uang, atau lebih tepatnya, hanya

  • Bara Dendam Sagara    Bab 33

    Sagara tak membuang waktu. Peluit tulang telah dibunyikan, entah seberapa lemah suaranya, Rangga pasti memiliki mata dan telinga yang siap siaga. Di dunia persilatan, berasumsi sinyal itu tak sampai adalah kebodohan paling mematikan. Dengan urgensi baru yang membakar jiwanya, ia bergerak.Hutan bambu di hadapannya seperti labirin hijau. Sagara menuruni lereng tebing dengan langkah cepat namun senyap, tubuhnya serasa seringan kapas, setiap langkah adalah penari tanpa suara. Teknik 'Tusukan Arus Bawah' menjadi mantra baru yang mengalir di benaknya. Ujung jari kakinya menyentuh lumut, sebuah denyutan energi halus menjalar, menghapus jejak, mengembalikan bumi ke asalnya. Ia bukan lagi pengejar. Ia adalah bayangan, jejak tak kasat mata di atas dunia yang penuh mata.Angin pagi mengusik dedaunan, membawa bisikan lautan dan juga, entah mengapa, bisikan Larisa. Wajah tunangannya yang cantik, tawanya, janji-janji yang tak sempat terpenuhi. Amarah kembali berdesir, tetapi kali ini, ia bukan bad

  • Bara Dendam Sagara    Bab 32

    “Mati kau, pengkhianat!” jerit Danu, menerjang maju dengan pedang teracung. Serangannya membabi buta, didorong oleh teror.Sagara tidak menghindar. Ia tetap berdiri di tempatnya. Saat pedang Danu hanya berjarak satu jengkal dari dadanya, ia menggerakkan tangan kirinya. Ia tidak menangkis bilah pedang itu. Ia meraih pergelangan tangan Danu.Lagi-lagi, bukan dengan cengkeraman yang mematahkan tulang, melainkan dengan sentuhan yang seolah menyerap.“Ikat,” bisiknya sekali lagi.Danu merasakan hal yang sama seperti yang Bima rasakan. Energi dingin merambat dari pergelangan tangannya, melumpuhkan lengannya, lalu bahunya, hingga seluruh sisi tubuhnya terasa kaku seperti es. Pedangnya jatuh ke tanah dengan bunyi denting yang nyaring. Momentum serangannya telah dicuri, diserap, dan dinetralkan dalam sekejap mata.“Bagaimana… bagaimana mungkin?” racaunya, separuh tubuhnya kini lumpuh.Sagara menatap mata Danu yang dipenuhi teror. “Aku tidak ingin melukaimu.”“Jangan berbohong!” pekik Danu, men

  • Bara Dendam Sagara    Bab 31

    Dua pasang mata elang api yang terukir di pelindung dada mereka berkilat-kilat disiram cahaya api unggun. Mereka adalah anjing penjaga Rangga, tembok pertama antara Sagara dan kebebasannya, antara dirinya dan jalan menuju Larisa.Sagara menahan napas, menekan tubuhnya lebih dalam ke rumpun bambu yang dingin dan basah. Embun pagi menetes dari daun-daun di atasnya, terasa seperti tusukan es di tengkuknya, namun ia tidak bergeming. Dari celah sempit di antara batang-batang bambu yang kokoh, ia mempelajari setiap gerakan mereka. Yang satu, bertubuh lebih kurus dan tampak gelisah, terus-menerus melirik ke dalam kegelapan hutan. Yang lain, lebih kekar dan percaya diri, menyandarkan tombaknya ke sebatang pohon dan menghangatkan tangan di atas api.“Hentikan kegelisahanmu itu, Danu,” kata si penjaga kekar, suaranya serak dan penuh kejengkelan. “Kau membuatku ikut tegang.”Penjaga yang dipanggil Danu itu tersentak, bahunya menegang. “Aku tidak bisa, Bima. Tempat ini memberikan firasat buruk ke

  • Bara Dendam Sagara    Bab 30

    "Kau bukan lagi Sagara si Penguasa Jurus Harimau Merah. Kau adalah pewaris Cakra Laut Selatan," tutur Ki Jatmika menasehati Sagara.Dengan diberikannya liontin medali Cakra Selatan, hal itu berarti menandakan bahwa sudah saatnya bagi Sagara untuk berkelana dan menuntaskan urusannya yang belum tuntas."Sagara, kini aku izinkan kau untuk terjun ke dunia persilatan sesungguhnya. Namun, pembelajaranmu belum tuntas sepenuhnya," lontar Ki Jatmika."Liontin yang aku berikan padamu itu bukan sekadar liontin biasa. Ia memiliki roh. Roh yang membimbing pemiliknya untuk menguasai Jurus Cakra Laut Selatan secara sempurna," paparnya lebih lanjut."Roh... guru?"Ya, sekarang pegang liontin itu,” perintah Ki Jatmika."Baik, Ki. Sudah.""Dengarkan baik-baik. Sekarang kau usap permukaannya sebanyak tiga kali, lalu ucapkan mantranya."“Mantra apa, Guru?” tanya Sagara, jemarinya yang ragu melayang di atas permukaan dingin liontin perunggu itu.Ki Jatmika tidak menjawab langsung. Ia hanya tersenyum tipi

  • Bara Dendam Sagara    Bab 29

    ...air yang meresap ke dalam bumi yang haus.Keheningan kembali menyelimuti mereka. Ki Jatmika menatap Sagara dengan kebanggaan yang nyaris tak terlihat.“Kau berhasil,” bisik Ki Jatmika.Sagara membuka matanya, terkejut. Ia menarik pusarannya, membiarkan tangan Ki Jatmika bebas. Pemuda itu tidak merasa lelah, tidak merasa nyeri, hanya ketenangan yang luar biasa.“Aku… aku tidak tahu bagaimana,” aku Sagara, napasnya masih teratur, “aku hanya membiarkannya mengalir.”“Justru itu kuncinya,” balas Ki Jatmika, mundur selangkah. “Kau berhenti melawan diri sendiri. Kau berhenti melawan bayangan Rangga. Kau menerima arus itu sebagai bagian darimu.”Sagara mengangguk. Keseimbangan yang ia rasakan berbeda dari latihan fisik mana pun. Ini adalah keseimbangan jiwa.“Tapi ini baru permulaan, Nak,” lanjut Ki Jatmika, matanya kembali tajam. “Mengekang amarah itu mudah dalam kondisi santai. Sekarang, aku ingin kau menghadapi arus yang tidak bisa kau kendalikan. Aku ingin kau menggunakan semua yang k

  • Bara Dendam Sagara    Bab 16

    BAB 16 – Mata Batin SamudraDeru ombak Laut Selatan terdengar seperti napas seekor naga raksasa yang sedang tidur. Di bibir pantai, di bawah cahaya fajar yang baru merayap di ufuk timur, Sagara Wicaksana menarik napas dalam-dalam. Seluruh tenaga dalam yang ia kumpulkan selama berhari-hari kini terp

  • Bara Dendam Sagara    Bab 14

    "...Kau tidak hanya akan berhadapan dengan Rangga yang kau kenal, tetapi juga dengan kekuatan gelap yang telah berakar sangat dalam dan kini tumbuh subur di jantung dunia persilatan. Kau akan menghadapi muridku, kekuatan yang lebih tua dan lebih licik dari yang pernah kau bayangkan. Jangan biarkan

  • Bara Dendam Sagara    Bab 13

    Sebuah ombak kecil yang tenang tiba-tiba... pecah menjadi semburan air yang melesat tinggi, membentuk tiang-tiang air yang gemuruh di udara sebelum jatuh kembali dengan percikan memekakkan telinga. Sagara terhuyung ke belakang, lututnya nyaris menyentuh pasir basah, napasnya tersengal-sengal. Energ

  • Bara Dendam Sagara    Bab 12

    Kitab itu, hukum naga hitam, semua itu... terasa seperti jurang gelap yang menganga, siap menelannya."Tidak, Guru," Sagara akhirnya berkata, mengangkat kepalanya, matanya sedikit memerah karena emosi yang tertahan. "Aku tidak ingin menjadi seperti mereka. Aku tidak ingin menghancurkan. Aku hanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status