LOGINRuang pertemuan Rakai Giriwasa, yang dinding-dinding batunya menyerap kelembaban purba, kini terasa diselimuti ketegangan yang kian pekat. Aura cemas memancar dari setiap Sanjaya yang hadir, menukik tajam pada pusat pusaran permasalahan: krisis suksesi takhta. Namun, di tengah atmosfer yang membeku itu, udara mendadak berubah. Getaran halus, seolah denyut nadi bumi sendiri, merambat pelan dari alas pijakan, merayapi dinding-dinding batu yang kukuh, hingga akhirnya berpusat di dada Mpu Kumbhayoni yang terdiam khusyuk.
Mpu Kumbhayoni memejamkan kedua bola matanya. Napasnya, yang semula lembut, kini berubah menjadi teratur, dalam, dan berat, menyerupai ritme detak jantung purba. Di benaknya, alunan mantra kuno yang diwariskan turun-temurun dari garis leluhur Sanjaya bergema lirih. Setiap kata bagaikan nyala yang telah lama terpendam di bawah tumpukan abu kini mulai terhembus kembali, memercikkan bara.
“Oṁ Agni-mula, jñāna-vahni, śakti prabhā...” desah M
Kemenangan atas Kunara Sancaka, pengukuhan kedaulatan Bhumi Medang atas bumi Mataram, serta kelahiran sang penerus takhta yang mulia, Dyah Lokapala – seorang pangeran yang kelak dikenal dengan gelar agung Rakai Kayuwangi – seharusnya menjadi penanda bagi datangnya era kedamaian abadi bagi seluruh persada Medang. Ibu kota diselimuti suasana suka cita dan harapan, dengan upacara-upacara adat nan meriah yang silih berganti diselenggarakan sebagai bentuk syukur atas karunia Sang Hyang Widi. Namun, di balik kemegahan perayaan yang menyilaukan mata dan riuhnya genderang kemenangan, sebuah riak kegelisahan yang halus namun mendalam, bak racun yang menyusup ke dalam sari kehidupan, mulai tumbuh subur dari celah-celah di dalam tubuh wangsa Sanjaya itu sendiri, mengancam untuk meretakkan fondasi yang telah dibangun dengan susah payah.Puncak dari serangkaian perayaan dan konsolidasi kekuasaan tersebut adalah Pisowanan Ageng, sebuah pertemuan akbar yang menghimpun seluruh pembesar watak, para pa
Bhumi Mataram berdandan, menyongsong hari besar yang terukir dalam sejarahnya. Di jantung kerajaan, kota Medang bersolek dalam kemegahan yang tak tertandingi, melampaui segala perayaan yang pernah ada. Janur kuning melengkung anggun di setiap gerbang istana, menyambut kedatangan para pembesar dari segala penjuru, para bupati dan nayaka praja, para sanak saudara, serta rakyat jelata yang berkumpul memenuhi alun-alun. Setiap hiasan, setiap untai bunga melati yang harum semerbak, seolah bercerita tentang kebahagiaan. Hari ini adalah hari ketika dua hati tulus, Wulung dan Wulan, menyatukan ikatan suci, setulus pengabdian mereka pada negara dan raja.Di pelataran utama Pendopo Ageng, Wulung berdiri gagah dalam balutan dodot kebesaran berwarna keemasan, sulaman benang perak melukis motif batik dengan simbol kekuasaan dan kebijaksanaan. Sebuah keris bertahta permata Zamrud Katon menyelinap gagah di pinggangnya, memancarkan aura ketegasan sekaligus kharisma yang mendalam. Di sampingnya, Wulan
Angin dingin menusuk tulang di lereng Candramuka, membawa serta embun beku yang merangkul setiap helai pinus dan dedaunan hutan. Kabut tebal menyelimuti area, menciptakan suasana mencekam yang seolah menahan napas, sebuah panggung alam yang murung bagi drama akhir. Di bawah komando Panglima Sanditaraparan, Gagak Rukma, pasukan elite Bhumi Medang telah mengepung posisi persembunyian terakhir Kunara Sancaka, duri dalam daging kemaharajaan yang tak kunjung layu. Strategi pengepungan telah direncanakan dengan cermat, tanpa celah bagi Sang Prahara untuk melarikan diri dari takdirnya.Kunara Sancaka, kini tampak kusam dengan jubah koyak dan rambut gimbal yang berserakan, berdiri tegak di atas sebongkah batu besar. Aura gelap masih menyelimutinya, meskipun pasukannya telah hancur dan semangat para pengikutnya telah padam. Matanya yang merah, bagai bara api iblis yang membara di tengah malam pekat, tetap memancarkan kobaran amarah yang tak terkendali. Di tangannya, cambuk sakti Pralayakusuma
Perjalanan Mudra yang panjang menuju kediaman sementara Mpu Kumbhayoni di pinggiran Giri Watangan membawa serta kabar yang tidak hanya mengejutkan secara politis, tetapi juga menggetarkan sisi emosional keluarga Sanjaya. Di sana, di antara hiruk pikuk persiapan dan kesibukan daerah transisi, Kumbhayoni sedang duduk menyendiri, menatap punggung pegunungan yang menjulang dengan perasaan campur aduk setelah kepergian adiknya, Mayang Salewang, ke tanah seberang. Kabar bahwa Mayang memutuskan untuk mengikuti suaminya dan anak-anaknya menyeberangi lautan menuju wilayah di bawah kekuasaan Rakai Warak tidak hanya meninggalkan kekosongan, tetapi juga rasa penyesalan yang dalam di benak Kumbhayoni. Ia tahu adiknya pergi untuk mencari ketenangan dan harapan baru, jauh dari intrik yang membelit wangsa mereka, namun kepergian itu seolah menegaskan isolasi dirinya yang semakin parah.Kesendirian Kumbhayoni pecah ketika Mudra, dengan rombongan pengiring yang tak terlalu mencolok namun tetap menunj
Gema terompet keberangkatan kapal menuju Swarna Bhumi perlahan sirna di cakrawala, mengantarkan seberkas hening yang menyelubungi Bhumi Medang. Kegemparan peperangan dan gejolak intrik kekuasaan kini berangsur pudar, digantikan oleh keheningan penuh harap dan tanggung jawab. Rakai Pikatan, sang penguasa baru Bhumi Medang, tak sedikit pun membuang waktu. Ia menyadari sepenuhnya bahwa fondasi stabilitas kerajaan tak lain bergantung pada kecepatan serta ketepatan langkahnya dalam mengisi kekosongan kekuasaan dan menata kembali pilar-pilar yang retak.Di dalam balairung utama keraton, yang kini terasa lebih lapang namun juga sarat dengan beban tugas negara, Rakai Pikatan duduk di atas singgasana bersama Pramodhawardhani, Ratu Permaisuri yang memancarkan ketenangan serta kearifan. Di hadapan mereka, Mahesa Seta, kini diangkat sebagai Panglima Utama Bhumi Medang yang baru, berdiri tegap dengan sikap penuh hormat. Aura kesetiaan dan kesigapan terpancar dari wajahnya. Udara balairung dipenuhi
Pada fajar yang menyingsing di atas Bhumi Medang, balairung agung istana Poh Pitu, yang biasanya dihiasi dengan gelak tawa dan nyanyian pujian, kini diselimuti keheningan yang mencekam. Aroma dupa wangi bercampur dengan ketegangan yang pekat, memenuhi setiap sudut ruang yang diukir dengan relief para dewa. Para petinggi kerajaan, dengan busana kebesaran yang sarat makna, telah memadati balairung sejak sebelum sang surya memancarkan keemasan sepenuhnya. Raut wajah mereka mencerminkan campuran rasa lega, khawatir, dan antisipasi terhadap keputusan maha penting yang akan segera diumumkan.Di undakan tertinggi singgasana, Maharaja Samarattungga berdiri tegak, namun sebuah perbedaan mencolok nampak pada penampilannya. Mahkota kebesarannya yang bertahtakan permata kini tidak lagi menghiasi kepalanya, menandakan sebuah fase transisi yang tak terelakkan. Pakaiannya yang lebih sederhana namun tetap berwibawa menyiratkan kerendahan hati seorang pemimpin yang bersiap melepaskan bebannya. Di hada







