بيت / Fantasi / Batu Akar Raja / BAB 1: KEMARAU YANG TAK BERAKHIR

مشاركة

Batu Akar Raja
Batu Akar Raja
مؤلف: sayang ibu

BAB 1: KEMARAU YANG TAK BERAKHIR

مؤلف: sayang ibu
last update تاريخ النشر: 2026-03-25 20:03:32

Udara di Kerajaan Mataram Fiksi terasa panas dan kering, menusuk hingga ke dalam tulang belulang setiap makhluk yang menghirupnya. Ketika mentari mulai muncul dari balik gunung Tengger pada pagi itu, cahayanya tidak lagi membawa harapan seperti dulu – melainkan hanya menambah beban bagi ribuan warga yang sudah tiga musim berturut-turut bergelut dengan kemarau yang mematikan.

Raden Jayaningrat berdiri di teras tinggi Istana Jayawardhana, matanya memperhatikan hamparan sawah yang dulunya hijau menyala kini hanya tersisa hamparan tanah retak berwarna coklat kemerahan. Garis-garis retakan itu seperti luka yang tidak kunjung sembuh di tubuh kerajaan yang pernah makmur. Dia menyentuh daun sebatang pohon beringin yang tumbuh di sudut teras – daun yang sudah mengering dan pecah hanya dengan sedikit sentuhan. Seperti biasa, dia merasakan getaran lembut dari batang pohon tersebut – sebuah bahasa yang hanya dia yang bisa pahami, berisik tentang rasa haus dan keputusasaan.

“Sudah tiga musim, Tumenggung,” ujar Raden kepada lelaki tua yang berdiri di belakangnya, Tumenggung Wiryatmaja, salah satu pembesar kerajaan yang setia kepada ayahnya, Raja Jayawardhana. “Sawah-sawah di daerah utara sudah tidak ada satu butir pun padi yang bisa dipanen. Sungai Bengawan yang dulu mengalir deras kini hanya tersisa parit kecil yang penuh dengan lumpur kering.”

Tumenggung menghela napas dalam, wajahnya yang keriput menampakkan kesusahan yang dalam. “Betul, Yang Mulia. Malam kemarin saya menerima laporan dari desa-desa di kaki pegunungan – beberapa keluarga sudah mulai mengonsumsi akar pohon dan dedaunan yang masih sedikit tersisa. Ada juga yang mulai meninggalkan desa mereka mencari tempat yang lebih layak huni.”

Raden menoleh ke arah pelabuhan kerajaan yang terletak di muara sungai yang sudah mengering. Beberapa kapal dagang yang dulunya ramai berlayar kini terdampar di dasar parit yang kering, kayu kapal mulai retak karena terpapar panas matahari setiap hari. Dia ingat betul bagaimana pelabuhan itu pernah menjadi jantung perdagangan kerajaan – barang-barang dari berbagai daerah datang dan pergi, membawa kemakmuran bagi semua lapisan masyarakat. Kini, hanya ada beberapa orang pekerja yang berkutat di sekitar kapal, mencoba mencari sesuatu yang bisa dijual atau dimanfaatkan.

Di pelataran istana yang lebih rendah, suara keributan mulai terdengar. Raden dan Tumenggung turun dengan cepat, menemukan sekelompok warga yang datang dari desa-desa sekitar sedang berteriak di depan gerbang istana. Mereka membawa anak-anak yang wajahnya kurus dan mata yang kosong, serta beberapa ikat jerami yang sudah mengering sebagai bukti kegagalan panen.

“Kami ingin bertemu dengan Raja! Kami ingin bertanya, mengapa kerajaan yang dulu makmur kini dibiarkan kelaparan!” teriak seorang pria berkulit gelap dengan janggut kusut. “Kami sudah taat membayar pajak, kami sudah menjaga tanah kerajaan dengan sepenuh hati – tapi mengapa alam kini menyiksa kami?”

Suara protes lainnya mulai menyusul, semakin memaki dan mengancam. Beberapa prajurit istana siap menghadang mereka dengan tombak dan keris, namun Raden segera menghentikannya dengan gerakan tangan. Dia maju ke depan, menghadapi kerumunan dengan wajah yang tenang namun penuh perhatian.

“Saudaraku sekalian,” panggil Raden dengan suara yang jelas dan bisa terdengar di tengah keributan. “Saya mengerti rasa kesusahan kalian. Saya sendiri telah melihat dengan mata kepala saya bagaimana sawah-sawah kita mengering, bagaimana anak-anak kita kelaparan. Ayahanda saya, Raja Jayawardhana, sedang bekerja keras bersama para pembesar untuk mencari solusi. Kami telah mengirim utusan ke kerajaan-kerajaan tetangga untuk meminta bantuan makanan, dan para ahli sedang mencari cara untuk menggali sumur-sumur baru atau membuka saluran air dari pegunungan.”

Namun jawaban itu tidak cukup untuk menenangkan kerumunan. Seorang wanita muda yang membawa bayi di pundaknya melangkah ke depan, matanya penuh dengan air mata. “Yang Mulia, kami sudah mendengar janji-janji itu selama berbulan-bulan. Bantuan dari kerajaan tetangga tidak pernah datang – mereka bilang mereka juga menghadapi kesulitan yang sama. Sumur-sumur yang digali hanya menghasilkan tanah kering dan debu. Beberapa orang mulai berkata bahwa ini bukan sekadar kemarau – ini adalah kutukan karena kerajaan telah melupakan janji dengan alam!”

Kata “kutukan” seperti kilatan petir yang menyambar tengah kerumunan. Suara protes menjadi lebih keras, beberapa orang mulai menyebut nama “Batu Akar Raja” – sebuah nama yang Raden sering dengar dalam cerita rakyat namun tidak pernah mendapatkan penjelasan yang jelas dari orang dewasa di istana.

“Kutukan dari Batu Akar Raja yang hilang!” teriak seseorang dari belakang kerumunan. “Raja telah menyembunyikan pusaka kerajaan, dan alam marah karena itu!”

Dalam sekejap, suasana menjadi semakin tegang. Prajurit istana mulai mengerahkan diri lebih erat di sekitar gerbang, sementara warga semakin menggebu-kebu. Raden mencoba lagi untuk menenangkan mereka, namun sebelum dia bisa berkata apa-apa, suara keras dari balik kerumunan membuat semua orang menjadi hening.

“Ini sudah cukup!”

Raja Jayawardhana muncul dengan berpakaian kerajaan yang megah, meskipun wajahnya yang tua menunjukkan betapa beratnya beban yang dia tanggung. Dia berdiri di atas tangga istana, memandang kerumunan dengan mata yang tajam namun penuh belas kasihan.

“Saudara-saudara saya yang terkasih,” ujar Raja dengan suara yang kuat dan penuh wewenang. “Saya mengakui bahwa kerajaan sedang menghadapi masa sulit yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun tidak ada kutukan yang menghantui kita – ini adalah ujian dari alam yang mengingatkan kita akan betapa lemahnya kita jika melupakan hubungan kita dengan bumi yang memberi kita hidup. Saya berjanji, dalam waktu tiga hari lagi, kita akan mengadakan upacara besar untuk memohon restu dari para dewata alam dan mencari jalan keluar bersama-sama. Untuk saat ini, silakan pulanglah – kami akan segera mendistribusikan sisa persediaan makanan yang kami miliki kepada yang paling membutuhkan.”

Dengan kehadiran Raja, kerumunan akhirnya mulai menyebar dengan enggan. Namun ekspresi wajah mereka menunjukkan bahwa kepercayaan yang dulu mereka miliki terhadap pemerintahan sudah mulai goyah. Beberapa orang masih berbisik tentang kutukan dan Batu Akar Raja saat mereka berjalan pulang, membawa beban kesusahan yang semakin berat di pundak masing-masing.

Setelah kerumunan hilang, Raja memanggil Raden masuk ke ruang rapat istana. Di dalam ruangan yang dingin dan penuh dengan buku-buku kuno serta peta kerajaan, Raja duduk di atas kursinya yang besar, wajahnya terlihat lebih tua dari biasanya.

“Kau melihat sendiri, Jayaningrat,” ujar Raja dengan suara yang lemah. “Kekuasaan kita tidak lebih dari debu jika alam memutuskan untuk berbalik menghadapi kita. Para pembesar mulai tidak puas dengan cara saya memimpin – mereka berkata bahwa saya terlalu lemah, bahwa kita harus mengambil langkah yang lebih tegas, bahkan mungkin menggunakan kekuatan yang dilarang untuk mengakhiri kemarau ini.”

“Apakah itu berkaitan dengan Batu Akar Raja, Bapak?” tanya Raden dengan hati-hati. “Warga menyebut nama itu sebagai pusaka kerajaan yang hilang. Apa sebenarnya batu itu?”

Raja terdiam sejenak, matanya memperhatikan layar bambu yang menghadap ke taman istana yang juga sudah mengering. Setelah beberapa saat, dia hanya menggelengkan kepala. “Itu hanya cerita rakyat, anakku. Sebuah legenda yang tidak memiliki dasar nyata. Kita tidak bisa bergantung pada dongeng dalam masa sulit seperti ini. Kita harus mencari solusi dengan cara yang benar, dengan kerja keras dan kesatuan masyarakat.”

Namun ketika Raja berkata demikian, Raden melihat bahwa matanya menunjukkan sesuatu yang lain – sesuatu yang disembunyikan, sebuah rahasia yang berat.

Sore itu, Raden kembali ke kamarnya yang terletak di bagian belakang istana, dekat dengan kebun yang kini hanya tersisa tanaman yang mengering. Dia duduk di atas alas tikar yang sudah aus, mencoba untuk beristirahat setelah hari yang melelahkan. Namun benaknya terus terpikir pada kata-kata warga tentang Batu Akar Raja, dan ekspresi wajah ayahnya yang penuh dengan rahasia.

Ketika malam datang dan kegelapan menyelimuti kerajaan, Raden akhirnya tertidur lelap. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia mengalami mimpi yang akan mengubah seluruh jalannya hidup – sebuah mimpi tentang batu kecil yang bersinar dengan cahaya hijau keemasan, terpajang di tengah hutan yang tidak dikenal. Di sisi batu berdiri seorang wanita berpakaian daun dan akar pohon, yang dengan lembut mengajaknya untuk datang mencari batu tersebut. Suara bisikan yang lembut namun jelas menyebutkan nama yang membuat dirinya terkejut bahkan dalam mimpi – “Batu Akar Raja…”

--- AKHIR BAB 1 ---

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Batu Akar Raja   BAB 26: KEKUATAN YANG DIAMBIKAN

    Cahaya keemasan dari Batu Akar Raja mengalir deras ke dalam tubuh Shinta Sari, menyatu dengan cahaya zamrud yang terpancar dari liontin di lehernya. Setiap serat energi yang masuk membuatnya merasakan getaran yang kuat, seolah-olah jiwa nenek moyangnya Dewi Shinta Kencana sedang menyatu dengan dirinya. Gambar-gambar masa lalu bergerak cepat di benaknya – perjuangan nenek moyangnya untuk melindungi perjanjian, kegoncangan ketika salah satu keturunan menyimpang, dan harapan yang tertanam dalam setiap generasi untuk menyelesaikan misi yang belum selesai.Di luar ruangan tengah Gunung Akar, suara pertempuran semakin ganas. Pasukan kerajaan Kala, yang dipimpin oleh para pembesar dengan wajah berselimut bayangan, telah berhasil menembus sebagian benteng luar Bumi Akar. Serangan sihir hitam menyambar ke segala arah, menghancurkan rerumputan hijau yang tadinya subur dan membuat tanah bergetar. Pasukan Bumi Akar dan pasukan kerajaan Mataram yang datang untuk membantu berjuang dengan gigih, nam

  • Batu Akar Raja   BAB 25: RAHASIA DARI MASA LALU

    Suara gemuruh dari pertempuran di luar gerbang semakin nyaring, namun di dalam lorong Gunung Akar, seolah ada kain penghalang yang memisahkan dunia luar dengan keheningan yang mengelilingi mereka. Dinding lorong yang dihiasi gambar-gambar sejarah memancarkan cahaya lunak emas, memperlihatkan momen-momen penting dari hubungan antara kerajaan Mataram dan Bumi Akar pada abad kelima Masehi. Ratu Akarwati berhenti di depan salah satu ukiran yang menggambarkan seorang wanita muda dengan rambut hitam bergelombang dan mata zamrud yang sama dengan Shinta Sari, berdiri bersanding dengan Ratu Dewi Jayasari dan Raja Jayaputra.“Lihatlah, Dewi Shinta Sari,” ujar Ratu Akarwati dengan suara yang penuh dengan emosi. “Ukiran ini menggambarkan Dewi Jayasari, nenek moyangku, dan putri tunggalnya – Dewi Shinta Kencana, yang telah dijadikan sebagai jembatan antara dunia atas dan bawah tanah dengan cara yang tak terduga.”Shinta Sari mendekat perlahan, matanya terpaku pada ukiran tersebut. Di dalam gambar,

  • Batu Akar Raja   BAB 24: PERTEMUAN DENGAN RATU BUMI AKAR

    Cahaya dari Gunung Akar menyilaukan mata saat pertempuran antar Raden dengan Patih Prabu Kala siap meletus. Namun sebelum sihir hitam dari tangan Patih Kala bisa menyentuh tanah, sebuah tirai cahaya hijau keemasan muncul dengan tiba-tiba di antara kedua pihak, membentang luas seperti dinding tak terlihat yang memisahkan mereka. Suara gemuruh lembut seperti getaran akar pohon menggema ke seluruh medan, dan angin yang membawa aroma bunga langka Bumi Akar mulai berhembus lembut.“Patih Prabu Kala,” suara yang tenang namun penuh dengan kekuasaan terdengar dari balik tirai cahaya. “Kekuatanmu tidak akan bisa menyentuh mereka di medan yang telah menjadi saksi janji kuno. Kau telah melanggar batas antara dunia atas dan bawah tanah dengan membawa kekerasan ke wilayah Bumi Akar – hukuman akan menimpamu jika kau terus berusaha menerobos.”Patih Kala mencoba menerobos tirai cahaya dengan serangan sihir hitamnya, namun energi tersebut hanya terpantul kembali dan membuatnya terjatuh beberapa langk

  • Batu Akar Raja   BAB 23: UJIAN KEBENARAN HATI

    Sinar keemasan dari buku-buku kuno dan prasasti batu menerangi ruangan bawah tanah yang masih utuh di bawah reruntuhan istana Kota Batu Akar yang Hilang. Kelompok beristirahat sambil mempelajari catatan-catatan kuno tersebut, sementara suara nyanyian sihir hitam dari kejauhan semakin jelas – Patih Prabu Kala dan pasukannya sudah memasuki kawasan kota, menghancurkan reruntuhan yang menghalangi jalur mereka dengan kekuatan sihir yang kasar dan tidak mengenal batas.“Informasi di buku ini menjelaskan bahwa sebelum mencapai Gunung Akar, setiap calon pemegang Batu Akar Raja harus melalui tiga tahap ujian yang terletak di jalur utama menuju gunung,” ujar Ki Ageng Akarwana sambil menunjuk pada sebuah halaman yang dihiasi dengan gambar pola akar yang saling terjalin. “Ujian ini tidak menguji seberapa kuat kamu secara fisik, Raden, melainkan seberapa dalam kamu memahami makna dari perjanjian kuno dan seberapa tulus hatimu untuk menjaga keseimbangan alam.”Raden mendekat dan melihat gambar-gamb

  • Batu Akar Raja   BAB 22: KOTA BATU AKAR YANG HILANG

    Langkah kaki kelompok semakin mantap saat menjauhi Taman Pertumbuhan Akar, dengan cahaya dari Batu Akar Raja menerangi jalan yang kini tampak lebih jelas di antara reruntuhan akar dan batu yang mengelilingi lorong bawah tanah. Suara langkah kaki besar dan nyanyian sihir hitam dari kejauhan masih terdengar, namun kini mereka bisa merasakan bahwa getaran energi dari sumber tersebut bukan hanya ancaman – melainkan juga sebuah panggilan untuk menghadapi kesalahan masa lalu yang telah menyebabkan kehancuran.“Jarak ke Kota Batu Akar yang Hilang semakin dekat,” ujar Ki Ageng Akarwana sambil mengamati pola cahaya yang menyala di langit bawah tanah. Cahaya keperakan yang mereka lihat sebelumnya kini semakin jelas, membentuk kontur puncak bangunan yang tampak megah meskipun sudah terlupakan. “Kita akan segera tiba di tempat di mana perjanjian kuno antara manusia dan alam hampir hancur karena keserakahan yang tidak terkendali.”Raden menatap ke arah cahaya tersebut, merasakan bagaimana tanda ak

  • Batu Akar Raja   BAB 21: PELAJARAN TENTANG PERTUMBUHAN

    Guncangan dari bawah tanah semakin kuat, dan nyala api sihir hitam yang mengikuti jejak mereka mulai menjilat ujung-ujung akar pohon yang menyilang lorong baru yang dibuka Ki Ageng Akarwana. Cahaya dari Batu Akar Raja di tangan Raden menyala lebih terang untuk menerangi jalan yang licin dan penuh dengan reruntuhan batu yang terus bergeser seiring dengan gemuruh yang menggema.“Kita perlu berhenti sebentar di tempat yang aman!” teriak Shinta Sari sambil mengamati keadaan sekitar dengan cermat. Matanya yang terpapar cahaya hijau dari gelangnya menangkap sinyal energi yang tenang di seberang sebuah lembah kecil yang dikelilingi oleh pepohonan dengan akar yang menjalar seperti tali yang terjalin rapi. “Di sana – Taman Pertumbuhan Akar yang pernah kubicarakan. Hanya ada di sini saat alam merasa kita membutuhkan pelajaran tentang kekuatan yang sebenarnya.”Ki Ageng Akarwana mengangguk dan mengarahkan tongkatnya ke arah lembah tersebut. “Benar sekali, putri. Kita tidak bisa melanjutkan perja

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status