LOGINAsap hitam dari rumah yang terbakar masih menggantung di udara pagi yang dingin, sementara suara tangisan dan desahan kesakitan bergema di antara reruntuhan pagar bambu dan jerami yang masih menyala berkobar. Raden berdiri di depan balai adat, gelang pelindung yang baru dikenakannya bersinar dengan pola hijau yang sama dengan tanda di dadanya, sambil menyaksikan warga desa yang sibuk membersihkan puing dan merawat yang terluka. Jaka masih terbaring lemah di tikar yang disediakan oleh Siti, ramuan herbal yang diberikan mulai bekerja namun warna kulitnya masih sedikit kebiruan akibat dampak energi hitam dari batu Prahasta.“Dia akan selamat,” ujar Siti sambil mengecek denyut nadi Jaka. “Namun dia perlu istirahat yang cukup dan ramuan tambahan dari akar pohon beringin tua yang tumbuh di lereng gunung. Hanya kekuatan alam yang paling tua yang bisa membersihkan sisa energi hitam dari dalam tubuhnya.”Shinta Sari mendekati Raden, wajahnya menunjukkan perpaduan antara kelelahan dan kebanggaa
Suara adzan subuh yang belum terasa dari kejauhan masih terhalang oleh gemuruh angin yang bergulir melintasi perbukitan desa Tengger. Namun di dalam balai adat, suasana sudah penuh ketegangan – berita tentang rencana serangan Prahasta telah menyebar dengan cepat setelah beberapa pengawal desa yang berjaga di perbatasan melihat bayangan pasukan berpakaian gelap yang mengintai di balik semak duri yang tajam. Raden berdiri di tengah ruangan, menatap naskah kuno yang masih bersinar dengan cahaya hijau lembut di atas meja kayu tua. Tanda di dadanya sudah tidak bersinar secerah tadi malam, namun dia bisa merasakan getaran energi yang terus mengalir seperti aliran sungai yang tidak pernah kering. Shinta Sari berdiri di sisinya, tangannya menyentuh permukaan tanah dengan lembut sambil merasakan getaran kaki manusia yang semakin mendekat ke desa. “Mereka datang lebih cepat dari yang saya duga,” ujar Shinta Sari dengan nada tenang namun penuh perhatian. “Pasukan mereka lebih banyak dari yang
Pola akar pohon di dada Raden semakin jelas, menyebar seperti sungai kecil yang bercabang ke arah pergelangan tangan dan lehernya. Cahaya hijau keemasan yang terpancar darinya cukup terang untuk menerangi seluruh ruangan yang hanya diterangi oleh sinar bulan yang masuk melalui celah dinding bambu. Raden terkejut tidak bisa berkata-kata, matanya terfokus pada tanda yang muncul perlahan namun pasti di kulitnya – sama persis dengan pola yang diukir di balai adat dan yang dijelaskan Ki Sastro dalam legenda. Dia mengangkat tangan dengan hati-hati, meraba permukaan pola yang terasa sedikit hangat dan bergelombang seperti getaran lembut. Setiap kali dia menyentuhnya, dia merasakan aliran energi yang hangat menyebar ke seluruh tubuhnya, seolah ada hubungan langsung antara dirinya dan alam sekitar. Bunyi daun yang bertiup angin di luar rumah tampak semakin jelas, bahkan dia bisa merasakan irama getaran akar pohon di bawah tanah yang menjalar ke arah desa. “Tidak mungkin… ini benar-benar ada
Matahari mulai memancarkan sinar kemerah-merahan di atas puncak pegunungan Tengger ketika kelompok Raden memasuki lereng bawah yang dikelilingi oleh hamparan kebun teh dan ladang jagung yang masih bisa bertahan meskipun kemarau melanda kerajaan. Udara di sini terasa lebih segar dengan aroma daun segar dan tanah lembap, berbeda dengan hawa kering yang mereka rasakan selama perjalanan dari istana. Genta, yang berada di depan barisan, mengangkat tangan untuk memberhentikan kelompok. “Lihat saja, Pangeran – Desa Tengger ada di sana,” ujarnya sambil menunjuk ke arah lembah di bawah, di mana sekumpulan rumah kayu berlantai bambu tersusun rapi di antara pepohonan jati dan waru yang rindang. Di tengah desa tampak sebuah balai adat berbentuk limas dengan atap dari ijuk pohon aren, yang jelas menjadi pusat kegiatan masyarakat. Jaka yang berada di belakang seolah tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Akhirnya kita sampai juga,” ujarnya dengan suara yang sedikit terlalu keras, seolah ingin
Fajar menyingsing perlahan di atas langit Kerajaan Mataram, menyebarkan warna jingga dan emas yang menyelimuti kubah istana dan atap rumah-rumah rakyat. Namun sinar matahari tersebut tidak membawa kesegaran seperti biasa – tanah yang tandus tetap mengering, dan udara masih terasa berat akibat kemarau yang tak berakhir. Di halaman belakang istana yang sunyi, Raden Jayaningrat berdiri bersama Shinta Sari, sedang memeriksa kelengkapan barang yang akan mereka bawa dalam perjalanan. Tiga orang pemuda yang menyatakan kesediaan untuk menyertai mereka berdiri tidak jauh dari sana – masing-masing membawa peralatan bepergian dan senjata tradisional yang siap digunakan jika diperlukan. “Saya sudah menyembunyikan beberapa persediaan makanan dan air di dalam karung bambu,” ujar Shinta Sari sambil menyesuaikan ikatan kain yang membungkus tubuhnya. Baju yang terbuat dari daun dan serat alamnya tampak sederhana namun kokoh, cocok untuk menghadapi medan yang berat di pegunungan. “Jalan menuju Desa Ten
Udara di ruang bawah tanah yang gelap terasa lembap dan penuh dengan bau tanah liat basah serta lilin yang hampir padam. Patih Prabu Kala berdiri di depan meja kayu besar yang sudah lapuk akibat usia dan kelembapan, matanya menyala api saat menatap peta kuno yang terpampang di atasnya. Lima pembesar kerajaan yang telah dia rekrut duduk melingkar di sekelilingnya, wajah mereka penuh dengan kerinduan akan kekuasaan dan kekhawatiran yang tersembunyi. “Sekarang kamu semua sudah tahu apa yang saya ketahui,” ujar Patih Kala dengan suara yang dalam dan menenangkan, namun penuh dengan dominasi. “Batu Akar Raja bukan sekadar legenda – ia benar-benar ada, dan kekuatannya bisa mengubah takdir kerajaan kita. Raden Jayaningrat telah mengetahui rahasia tersebut, bahkan mungkin sudah mendapatkan petunjuk tentang lokasinya dari Mbah Ki Semar dan penyihir alam itu, Shinta Sari.” Salah satu pembesar, Tumenggung Wijaya, yang dikenal sebagai orang yang selalu haus akan kekayaan, mendongak dengan tatapan







