Home / Fantasi / Batu Akar Raja / BAB 2: RAHASIA DI DALAM MIMPI

Share

BAB 2: RAHASIA DI DALAM MIMPI

Author: sayang ibu
last update publish date: 2026-03-25 17:56:43

Keringat menetes deras dari dahi Raden Jayaningrat ketika dia terbangun dengan tiba-tiba di tengah malam. Jasadnya terasa lemas, seolah telah melakukan perjalanan jauh selama berjam-jam lamanya dia tertidur. Dia menyentuh pelukan yang biasa ditempatkan di sisi kasurnya – kain katun yang biasanya sejuk kini terasa hangat dan lembab karena keringatnya. Bulan purnama yang sedang melintas di atas langit memberikan cukup cahaya untuk melihat ke sekeliling kamarnya yang sederhana namun rapi.

Mimpi itu masih sangat jelas dalam benaknya – lebih jelas dari setiap kenangan yang pernah dia miliki. Dia masih bisa merasakan kesegaran udara hutan yang tidak pernah dia lihat, masih bisa melihat cahaya hijau keemasan yang menyala dari batu kecil yang terpajang di tengah hamparan lumut berwarna hijau tua. Dan wajah wanita itu – wajah yang lembut namun penuh dengan kekuasaan, berpakaian dari anyaman daun dan akar pohon yang tampak hidup dan bergerak dengan sendirinya.

Raden berdiri dan menuju ke jendela kamar, melihat ke arah arahan yang sama dengan yang dia lihat dalam mimpi – arah gunung Tengger yang menjulang tinggi, sebagian tubuhnya diselimuti kabut malam yang tipis. Di balik gunung itu, ada kawasan yang dikenal sebagai Hutan Wonomulyo – sebuah hutan yang dilarang keras untuk ditempati oleh siapapun di kerajaan. Kisah rakyat mengatakan bahwa hutan tersebut adalah tempat tinggal makhluk gaib dan penjaga alam yang tidak suka diganggu oleh manusia.

Sejak pagi tadi, setelah kejadian kerumunan di depan istana, pikirannya tidak pernah lepas dari kata-kata yang mereka sebutkan – Batu Akar Raja. Ayahnya menyangkal bahwa itu lebih dari sekadar legenda, namun ekspresi wajah sang Raja ketika menyebut nama itu tidak bisa berbohong pada Raden. Sejak kecil, dia telah memiliki kemampuan untuk merasakan emosi dan pikiran dari tumbuhan di sekitarnya – sebuah hadiah yang dia sembunyikan dari semua orang kecuali Tumenggung Wiryatmaja, yang menemukan rahasianya saat Raden masih balita.

“Yang Mulia masih terjaga?” suara lembut Tumenggung Wiryatmaja terdengar dari luar kamar. Raden menyadari bahwa dia telah berdiri di jendela selama cukup lama hingga membuat orang lain khawatir.

“Silakan masuk, Tumenggung,” jawab Raden sambil menoleh.

Tumenggung masuk dengan sikap yang selalu sopan dan penuh rasa hormat. Di tangannya ada sebuah piring kecil berisi air hangat dan beberapa keping buah aren yang matang – satu-satunya makanan yang masih cukup melimpah di istana saat ini. “Saya melihat lampu di kamar Yang Mulia menyala dan khawatir. Apakah Yang Mulia tidak bisa tidur karena memikirkan kemarau?”

Raden menggelengkan kepala, mengambil gelas air dan menghirupnya dengan perlahan. “Ada lebih dari itu, Tumenggung. Malam ini saya mengalami mimpi yang sangat jelas – sebuah mimpi yang tidak seperti mimpi biasa yang pernah saya alami.” Tanpa berpikir dua kali, dia mulai menceritakan setiap detail dari mimpinya – mulai dari hutan yang tidak dikenal, batu bersinar yang aneh, hingga wanita berpakaian daun yang menyebut nama Batu Akar Raja.

Tumenggung mendengarkan dengan seksama, wajahnya yang keriput menunjukkan ekspresi yang semakin serius seiring dengan kelanjutan cerita Raden. Ketika Raden selesai bercerita, Tumenggung terdiam sejenak sebelum berbicara dengan suara yang lebih rendah dari biasanya.

“Yang Mulia, saya sudah mendengar cerita tentang Batu Akar Raja sejak saya masih muda – cerita yang tidak pernah diceritakan secara terbuka di istana. Kakek saya, yang dulu menjadi penasihat raja terdahulu, pernah menyebutkan bahwa batu tersebut bukan hanya pusaka kerajaan, melainkan jembatan antara dunia manusia dan dunia alam yang lebih dalam. Katanya, hanya orang yang memiliki hubungan khusus dengan alam yang bisa melihat batu tersebut dalam mimpi.”

“Apakah Anda tahu di mana lokasi hutan yang saya lihat dalam mimpi itu, Tumenggung?” tanya Raden dengan penuh harapan.

Tumenggung menghela napas dalam, matanya melihat ke arah jendela ke arah Hutan Wonomulyo. “Saya menduga itu adalah Hutan Wonomulyo, Yang Mulia. Hutan yang dilarang oleh kerajaan karena dianggap tempat yang terkutuk. Namun kakek saya pernah mengatakan bahwa hutan tersebut bukan terkutuk – hanya saja tidak semua orang berhak memasuki wilayahnya. Orang yang memiliki niat yang tidak benar akan tersesat selamanya di dalamnya.”

Sebelum mereka bisa berbicara lebih lanjut, suara hentakan kaki berbaris terdengar dari arah gerbang istana. Kedua pria itu segera keluar ke koridor dan melihat sekelompok prajurit bergegas menuju ruang rapat utama. Dari ekspresi wajah para prajurit tersebut, mereka bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak baik yang terjadi.

“Yang Mulia, sepertinya ada laporan penting yang harus disampaikan kepada Raja,” ujar Tumenggung. “Saya sarankan kita segera pergi ke ruang rapat.”

Ketika mereka tiba di ruang rapat, Raja Jayawardhana sudah duduk di kursinya yang besar, dikelilingi oleh para pembesar kerajaan termasuk Patih Prabu Kala – seorang lelaki tinggi dengan wajah yang selalu tampak serius dan terkadang mengerikan. Di depan mereka berdiri seorang utusan dari desa yang terletak di pinggiran hutan, wajahnya penuh dengan ketakutan dan kelelahan.

“Yang Mulia Raja,” ucap utusan dengan suara gemetar, “Kami datang untuk melaporkan bahwa beberapa warga desa kami yang pergi mencari air ke sumber yang terletak di pinggiran Hutan Wonomulyo tidak pernah kembali. Yang tersisa hanya jejak kaki yang masuk ke dalam hutan dan kemudian menghilang seperti terkutuk. Beberapa orang yang melihat mereka pergi mengatakan bahwa ada suara nyanyian yang menarik mereka masuk ke dalam hutan.”

Patih Prabu Kala segera melompat berdiri, matanya menyala dengan api kemarahan atau mungkin kesenangan yang tersembunyi. “Ini adalah bukti bahwa kutukan sudah mulai menyebar! Hutan tersebut telah menjadi sarang kekuatan jahat yang mengancam keselamatan kerajaan. Saya menyarankan agar kita mengirim pasukan untuk membersihkan hutan tersebut dan menghancurkan segala kekuatan gaib yang ada di dalamnya!”

Raja Jayawardhana menggelengkan kepala dengan lembut namun tegas. “Kita tidak bisa bertindak sembarangan, Patih Kala. Hutan Wonomulyo telah ada jauh sebelum kerajaan ini berdiri. Ada alasan mengapa nenek moyang kita melarang untuk memasuki wilayahnya.”

“Namun rakyat kita dalam bahaya, Yang Mulia!” tegas Patih Kala. “Kita tidak bisa tinggal diam sambil melihat mereka terseret ke dalam kegelapan oleh kekuatan yang tidak kita kenal!”

Perdebatan antara Raja dan Patih Kala semakin memanas, namun Raden tidak lagi bisa fokus pada apa yang mereka bicarakan. Pikirannya kembali terbang ke mimpinya, ke wanita berpakaian daun yang dengan lembut mengajaknya untuk datang. Suara nyanyian yang disebutkan oleh utusan desa – apakah itu sama dengan suara yang dia dengar dalam mimpi?

Malam itu, setelah rapat selesai dan semua orang kembali ke kamar masing-masing, Raden tidak bisa tidur lagi. Mimpi itu datang kembali dengan lebih jelas dari sebelumnya. Kali ini, wanita itu berbicara dengan suara yang merdu namun jelas terdengar dalam benaknya: “Datanglah padaku, Raden Jayaningrat. Datanglah ke Hutan Wonomulyo jika kamu ingin menyelamatkan kerajaanmu. Batu Akar Raja menunggu yang berhak untuk membawanya kembali…”

Raden merasakan getaran yang kuat dari pohon jambu air yang tumbuh di halaman belakang istana – sebuah pesan yang jelas bahwa dia harus mengambil tindakan. Dia tahu bahwa memasuki Hutan Wonomulyo adalah pelanggaran terhadap perintah kerajaan, namun suara dalam dirinya semakin kuat menyuruhnya untuk pergi.

Di balik tirai malam yang semakin dalam, Raden mulai menyusun rencana untuk pergi ke hutan yang dilarang pada hari berikutnya. Dia tidak tahu apa yang akan dia temukan di sana, namun dia merasa bahwa jawaban untuk kemarau yang tak berakhir dan masa depan kerajaan ada di dalam hutan tersebut – bersama dengan batu sakral yang hanya dia yang bisa lihat dalam mimpi.

--- AKHIR BAB 2 ---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Batu Akar Raja   BAB 18: UJIAN DARI HUTAN AKAR

    Jembatan akar pohon yang kokoh bergoyang lembut di bawah langkah kaki kelompok ketika mereka menyebrang sungai kristal, dengan suara gemericik air yang menyertainya seperti irama alami. Cempaka Kecil dan kelompok Orang Akar berjalan di depan sebagai pembimbing, dengan tubuh mereka yang kecil namun lincah bergerak dengan cepat di atas akar-akar yang menjulang dari permukaan jembatan. Udara di sekitar mereka kini terasa lebih dingin, dan aroma bunga misterius yang tadinya menguat kini digantikan oleh aroma tanah basah dan kayu tua yang menyegarkan.“Di depan kita adalah gerbang Hutan Akar,” bisik Cempaka Kecil sambil menghentikan langkahnya tepat di ujung jembatan. Dia mengangkat tangan kecilnya yang berisi rerumputan hijau, mengarahkan ke arah hamparan pepohonan raksasa yang bayangannya tampak semakin jelas. “Perhatikan dengan seksama – akar-akar di sini tidak tumbuh ke dalam tanah seperti di dunia atas atau bahkan di bagian awal Bumi Akar. Mereka menyebar di permukaan, merangkak dan b

  • Batu Akar Raja   BAB 17: DUNIA DI BAWAH TANAH

    Lorong yang diterangi oleh lumut berwarna-warni semakin membelok ke kanan, dan langkah kaki kelompok perjalanan mulai terdengar dengan gema yang lembut di lorong bawah tanah yang kokoh. Udara yang hangat dan penuh dengan aroma bunga misterius semakin menguat, membuat setiap anggota kelompok merasa seolah bernapas kembali setelah menghadapi pertempuran di luar gerbang. Raden merasakan Batu Akar Raja di telapak tangannya menjadi lebih hangat, dan pola akar pohon di permukaannya mulai bergerak perlahan seolah bernapas menyamai irama detak jantungnya.“Sekarang kita benar-benar berada di dalam Bumi Akar,” bisik Shinta Sari dengan suara penuh kagum, meskipun wajahnya menunjukkan bahwa dia sudah mengenal tempat ini. “Setiap sudut di sini menyimpan keajaiban yang diciptakan oleh kekuatan alam yang murni – kekuatan yang telah ada jauh sebelum kerajaan kita berdiri di dunia atas.”Ketika mereka mencapai ujung lorong, pemandangan yang menghadang membuat seluruh kelompok terpana dan terpaksa ber

  • Batu Akar Raja   BAB 16: GERBANG DI DALAM AIR TERJUN

    Kabut tipis yang menyelimuti kaki pegunungan mulai menghilang seiring dengan langkah mantap kelompok perjalanan yang semakin mendekati arah tenggara. Udara menjadi semakin segar dan bercampur dengan aroma tanah basah serta minyak atsiri dari pepohonan pinus yang tumbuh rimbun di lereng bukit. Raden merasakan gelang akar beringin di pergelangannya mulai bersinar dengan intensitas yang lebih jelas, seolah sedang membimbing langkah mereka ke arah yang benar.“Jalan akan semakin sempit dari sini,” ujar Shinta Sari sambil mengintip ke dalam celah semak yang hanya bisa dilewati satu orang sekaligus. “Kita harus berhati-hati – tanah di sekitar sini sering longsor dan banyak celah tersembunyi yang ditutupi oleh lumut tebal.” Dia kemudian mengeluarkan salah satu biji magis dari tas kulitnya dan melemparkannya ke depan. Biji tersebut mendarat di atas tanah dan langsung tumbuh menjadi tali tipis namun kuat yang menjulang ke atas, membentuk jalan kecil yang aman untuk dilewati.Jaka, yang kini su

  • Batu Akar Raja   BAB 15: KEPUTUSAN UNTUK MELANJUTKAN PERJALANAN

    Sinar matahari mulai menyinari atap bambu balai adat saat Raden berdiri di tengah ruangan, memegang batu kecil yang diberikan oleh makhluk alam dan menatap peta tua yang terbentang di atas meja kayu. Jaka sudah mampu duduk sendiri, meskipun masih harus bersandar pada bantalan tikar, dan membantu Ki Sastro menandai jalur yang akan ditempuh menuju Air Terjun Cinta. Di sekitar mereka, para pemuda desa termasuk Danu sedang menyiapkan perlengkapan perjalanan – tali tambang yang kuat dari kulit pohon, kantong anyaman untuk menyimpan makanan kering dan ramuan herbal, serta senjata tradisional seperti keris dan tombak yang diberi ramuan daun sirih agar tidak terluka oleh energi hitam.“Jalur utama menuju pegunungan telah dipantau oleh pasukan Patih Kala,” ujar Ki Sastro sambil menunjuk pada peta dengan jari yang keriput namun tetap lincah. “Kita harus mengambil jalur lama yang digunakan oleh nenek moyang kita untuk menghindari pertemuan dini dengan mereka. Jalur tersebut melewati Hutan Wonomu

  • Batu Akar Raja   BAB 14: KEKUATAN PERTAMA YANG MUNCUL

    Asap hitam dari rumah yang terbakar masih menggantung di udara pagi yang dingin, sementara suara tangisan dan desahan kesakitan bergema di antara reruntuhan pagar bambu dan jerami yang masih menyala berkobar. Raden berdiri di depan balai adat, gelang pelindung yang baru dikenakannya bersinar dengan pola hijau yang sama dengan tanda di dadanya, sambil menyaksikan warga desa yang sibuk membersihkan puing dan merawat yang terluka. Jaka masih terbaring lemah di tikar yang disediakan oleh Siti, ramuan herbal yang diberikan mulai bekerja namun warna kulitnya masih sedikit kebiruan akibat dampak energi hitam dari batu Prahasta.“Dia akan selamat,” ujar Siti sambil mengecek denyut nadi Jaka. “Namun dia perlu istirahat yang cukup dan ramuan tambahan dari akar pohon beringin tua yang tumbuh di lereng gunung. Hanya kekuatan alam yang paling tua yang bisa membersihkan sisa energi hitam dari dalam tubuhnya.”Shinta Sari mendekati Raden, wajahnya menunjukkan perpaduan antara kelelahan dan kebanggaa

  • Batu Akar Raja   BAB 13: PEREBUTAN PERTAMA

    Suara adzan subuh yang belum terasa dari kejauhan masih terhalang oleh gemuruh angin yang bergulir melintasi perbukitan desa Tengger. Namun di dalam balai adat, suasana sudah penuh ketegangan – berita tentang rencana serangan Prahasta telah menyebar dengan cepat setelah beberapa pengawal desa yang berjaga di perbatasan melihat bayangan pasukan berpakaian gelap yang mengintai di balik semak duri yang tajam. Raden berdiri di tengah ruangan, menatap naskah kuno yang masih bersinar dengan cahaya hijau lembut di atas meja kayu tua. Tanda di dadanya sudah tidak bersinar secerah tadi malam, namun dia bisa merasakan getaran energi yang terus mengalir seperti aliran sungai yang tidak pernah kering. Shinta Sari berdiri di sisinya, tangannya menyentuh permukaan tanah dengan lembut sambil merasakan getaran kaki manusia yang semakin mendekat ke desa. “Mereka datang lebih cepat dari yang saya duga,” ujar Shinta Sari dengan nada tenang namun penuh perhatian. “Pasukan mereka lebih banyak dari yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status