LOGINSuara air keran dan dentingan piring terdengar sampai ruang tamu tempat Rini mengelap meja. Sedangkan Sri baru saja mengantarkan makan siang pada Stevia di lantai atas dan kini ia menuruni tangga.Berjalan sedikit lalu melihat Bayu yang baru saja selesai mencuci piring kini sedang menyusun rapi piring di rak dapur. “Kamu udah cuci sendiri? Padahal bisa tunggu aku yang cucikan.” Sri langsung mencuci satu piring yang dibawah barusan dari kamar Stevia.“Nggak apa-apa Mbak, lagian ini kan cuma dikit aja jadi sekalian aku yang cucikan,” jawab Bayu santai. Ia baru saja selesai meletakkan piring di rak.“Kalo gitu aku pergi dulu ya, Mbak!”Sri hanya mengangguk saat melihat Bayu keluar dari area dapur. Meninggalkan istri yang masih berdiri mengelak piring. Di luar Bayu berjalan ke arah tempat Arif bekerja. Ternyata sesampainya di sana Arif tidak sedang bekerja Bayu melihat kalau dia sudah menyelesaikan semuanya sudah beres dikerjakan.
“Tidak,” protes Bayu. “Biar aku saja yang bawakan Mbak. Soalnya Mbak juga pasti lagi ada kerjaan lain.” “Kalau dipikir-pikir iya juga sih. Aku masih ada kerjaan banyak, tumpukan baju yang belum disetrika dan dilipat masih berada di ruang gosok. Kalau gitu kamu aja yang antar.”Sri jadi lesu karena mengingat tumpukan pakaian yang belum disetrikanya. Sedangkan Bayu melihat sekeliling mencari keberadaan Rini yang biasanya membantu Sri tapi tidak ada.“Mbak Rini tumben nggak keliatan,” celetuknya.“Oh … tadi aku menyuruhnya untuk pergi membeli belanjaan dapur mungkin nanti pulangnya. Tadi sih dia pergi ikut sama Non Selvi dan Pak Jo, jadi kayaknya nanti diantar sama pak Jo lagi pulangnya.”“Pantesan aku nggak lihat dia. Soalnya biasanya kan Mbak Rini yang bantuin.” “Iya, biar dia belajar pergi sendiri. Soalnya kemarin-kemarin kan belanjanya sama aku terus bahkan udah aku ajarin juga.” Sri mulai mematikan kompor hingga berbunyi ‘cet
“Nona, sudah bersiap?” tanya Bayu lalu segera ikut meraih tangan Stevia untuk membantunya berjalan.“Ayo pegangan sama aku saja. Dokter bilang Nona sudah bisa benar-benar pulang sekarang?” “Iya, barusan dokternya masuk ke sini terus kamu masuk saat dia udah keluar,” jawab Stevia.“Urusan administrasi sudah selesai?” Bayu meraih kursi roda yang dibawa suster lalu mendudukkan Stevia dia tasnya.“Udah, semuanya sudah diurus jadi aku bisa keluar dari rumah sakit hari ini.” Stevia mulai bersandar di kursi rodanya.“Kalau gitu aku akan mendorong Nona sampai ke mobil.” “Ya, tolong ya. Eh, satu lagi aku lupa memberitahukanmu.”Bayu menunduk sebentar lalu melihat ke depan lagi sambil terus berjalan di lorong. “Apa yang belum Nona beritahu?” “Hari ini mungkin pria itu akan datang ke rumah.” Pria itu yang dimaksud Stevia adalah Farhat—tunangannya sendiri. Tentu tanpa menyebutkan nama Bayu juga sudah
“Hnggh …!” desahan yang hampir saja keluar dari mulutnya segera Sri tutup dengan tangannya.Plak! Plok! 3xBayu menghentakkan dirinya lebih dalam di tubuh Sri, gerakannya cepat karena sangat terburu-buru. Sambil melihat ke sekeliling Sri menahan suara desahannya tapi disaat yang sama ia merasakan batang Bayu bergerak maju mundur dengan sangat cepat.Kakinya terangkat ke atas meja saat Bayu menghentakkan dirinya masuk lebih dalam. Ritemnya semakin cepat hingga keduanya sama-sama merasakan klimaks dan menyelesaikannya lebih cepat.“Jangan dicabut!” pinta Sri. “Biarkan di dalam saja agar cairannya tidak menetes ke mana-mana.”Dengan nafas yang sama-sama masih tersengal Bayu masih belum mengeluarkan miliknya. Hingga akhirnya cairannya keluar di dalam membuat tubuh Sri sempat menggeliat.Tap, tap!Langkah suara kaki berjalan masuk dari pintu belakang terdengar. Saat itu juga jantung Sri dan Bayu berdebar kencang dan mereka me
“Ahh … uhunghh, ahh … dalamnya! Cepat gerakin aja langsung!”Mendengar rengekan Selvi membuat jiwa Bayu semakin tertantang untuk membuatnya semakin gacor. Bayu menambahkan goyangan pinggulnya lebih cepat dan hentakan di dalam sana semakin terasa jelas meski beberapa kali Selvi cum sendirian. “Aku masih sensitif, jangan terlalu di tekan dan hentakkan! Aahhnggh …!”Bayu menarik tangan Selvi agar tubuhnya bisa lebih dekat masuk ke dalam saat hentakan di pinggulnya bergerak. Dengan lubang yang berdenyut-denyut menghisap batang Bayu dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya.“Mau ini mau itu, tadi mau digerakin cepat. Sekarang giliran dicepetin langsung teriak. Kamu gimana sih?” bisik Bayu sambil tersenyum dan bergerak lebih liar lagi.Nafas Selvi sampai terengah-engah merasakan hentakkan di dalam tubuhnya secara bertubi-tubi. Namun, karena nikmat ia hanya semakin mendesah lebih kuat lagi memenuhi sudut kamar.“Akkhh … aahh! Bayu
Akan tetapi, meski sadar kalau ternyata ada yang harus dibayar jika menggunakan kekuatan itu Bayu tetap melakukannya. Karena dengan bercumbu dengan wanita dapat menambahkan energi kekuatannya. Menurut Bayu itu adalah hal yang sangat mudah.Dengan wajahnya yang saat ini berubah menjadi jauh lebih tampan dari sebelumnya tentu saja tidak susah bagi Bayu untuk menaklukkan hati wanita manapun. Dan itu semua berkat batu yang sangat berharga baginya, meski sekilas tampak seperti batu perhiasan murahan. Namun, kekuatan yang dimilikinya membuat banyak keuntungan bagi Bayu. Mengingat asal usul batu itu yang hanya didapatkan dari pemberian seorang pria tua yang dibantunya kala itu. Jujur saja Bayu sangat penasaran dengan pria tua yang sudah memberikannya batu itu. Akan tetapi sayangnya jika ingin mengetahui keberadaan pria itu ia harus pergi ke wilayah pinggiran kota untuk mencarinya yang merupakan seorang pedagang keliling.Memikirkan itu membuat Bayu menghela nafa







