تسجيل الدخولBayu membukakan pintu untuk Selvi lalu memberikan kunci mobil pada Pak Jo yang berada di garasi. Ia tidak ikut masuk bersama Selvi karena harus membawa kotak bekal untuk dicuci oleh Sri.
“Kalian pulangnya agak telat, nona Selvi ajak keluar bareng sama temennya lagi ya?” tanya Pak Jo karena kebiasaan Selvi saat bersama Pak Jo selalu pergi keluar bertemu teman-temannya.Awalnya Bayu bingung mau jawab apa tapi dengan cepat ia pun mengangguk. Seolah apa yang dikatakan oleh pak JTap, tap!Suara langkah kaki mendekat dari belakang ketika Bahu menoleh ternyata itu Basri yang baru saja keluar dari ruangan Soma. Dia datang dengan amplop di tangannya lalu menyerahkannya pada Bayu.“Ini ambil gajimu. Tadi menang jadi Boss Soma kasihin ini padamu,” ucap Basri. “Ah iya, makasih ya Bang!” jawab Bayu lali mengambil amplop di tangan Basri. “Hampir saja barusan aku ke ruangan Boss Soma.”“Iya tadi aku ke sana jadi sekalian. Kek biasanya.” Basri mulai berjalan dan Bayu ikut berjalan di sampingnya.Mereka melangkah bersama menuju lantai satu di atas tempat ini. Langkah bergema di tangga besi baik dari belakang maupun depan ada beberapa orang juga yang melewati area tangga.Sesampainya di atas saat menuju pintu keluar dari gedung. Basri sempat berhenti saat beberapa teman judinya menghampiri dan melihat ke arah Bayu.“Jadi ini Bas, temenmu yang main di bawah tadi?” tanya Eko.“Iya, kalian udah p
Bayu yang melihat itu tentu saja tersenyum ikut senang atas kemenangan yang diraih Arjuna di atas ring. Namun, ternyata setelah pertandingan Arjuna selesai nama Bayu pun dipanggil untuk naik sebagai peserta selanjutnya.“Selanjutnya Bayuu …! Akan melawan Nasirrr …!” teriak wasit dengan mikrofon.Dengan langkah pasti Bayu pun melangkah maju karena namanya sudah dipanggil. Tidak lama setelah itu orang bernama Nasir, yang menjadi lawan Bayu pun ikut menaiki arena.Di sana Nasir tampak percaya diri dengan kemampuannya. Soal penampilan dan bentuk tubuhnya yang tinggi, besar dan berotot dengan wajahnya yang beringas ia menatap tajam pada Bayu.Namun, dengan sombongnya Nasir berbicara, “Lebih baik kamu menyerah lebih awal. Dan biarkan aku menang! Toh, aku memang pasti menang!” Bayu belum membalas ia hanya mengangkat wajahnya menatap Nasir tanpa rasa takut sedikitpun.“Menang atau kalah bukankah harus dicoba?” balas Bayu akhirnya.
“Habis putaran ini kamu main dong sama kita,” ajak Tomang dengan girang kepada Bayu.Bayu mengangguk. “Boleh, tapi satu putaran saja ya.” “Hah … satu saja?” protes Tomang.“Kalo Bang Tomang nggak mau aku nggak jadi main deh!” Mendengar itu Tomang tidak bisa membiarkan Bayu tidak ikut main. Dengan terpaksa akhirnya ia pun setuju meski Bayu hanya main satu putaran.“Iya-iya satu putaran saja. Jadi kamu ikut main ya!”“Kalo gitu aku jadi ikut main!” Bayu langsung setuju.Permainan yang baru saja selesai kini baru akan dimulai lagi putaran berikutnya. Bayu mulai membantu mengumpulkan kartu yang berserakan di atas meja.Basri memundurkan kursi tempat duduknya agak ke belakang sedikit sedangkan Bayu geser maju ke depan. Saat semua kartu sudah dikumpulkan ia menunggu giliran kartunya dibagikan ke depan.Lembaran demi lembaran kini sudah pas dibagikan oleh bandar. Permainan sudah dimulai beberapa pemain mula
Suara dari tembakan sangat keras memekakan telinga. Meski memakai penutup telinga tetap saja Bayu bisa mendengar lebih jelas seperti tidak memakai penutup telinga. Namun, Alex memperhatikannya dengan seksama setiap peluru yang ditembakkan Bayu.Alex berdiri di samping dengan melipat kedua tangannya sambil terus mengamati. Dari gerakan Bayu, caranya mengarahkan senjatanya, posisi berdirinya. Semuanya memiliki proporsi yang bagus.Latihan Bayu berlanjut terus sampai akhirnya senjata yang di atas meja sudah dicobanya semua. Barulah ia berhenti lalu menoleh ke arah Alex. “Ini lap pakai handuk ini keringatmu. Lalu ambil air di meja itu.” Alex menunjuk letak air berada.“Terima kasih,” sahut Bayu.Kain handuk kecil itu langsung digunakannya. Tubuh Bayu memang bercucuran keringat meski tidak terlalu banyak. Mereka sama-sama duduk di kursi yang berada di samping rak. Ada dua kursi dan satu meja yang di atasnya sudah tersedia air botol
Selvi yang masih memakai baju singlet dan celana pendek berdiri di depan Bayu dengan wajah yang baru bangun tidurnya. Namun, wajahnya tetap terlihat cantik meski baru bangun tidur dan belum cuci muka.“Iya, dia lagi nyapu di ruang tv di sana!” Tunjuk Bayu.“Jadi aku harus nunggu dulu.”“Kamu mau jus apa?” tanya Bayu sambil membuka kulkas yang berisikan banyak buah-buahan segar di dalamnya.“Emm … mau yang rasa apel tapi …” lagi-lagi Selvi melirik ke arah tempat Sri bekerja.Bayu melirik ke blender tempat Sri biasa membuatkan jus untuk mereka. “Biar aku aja yang buatkan mau nggak?” Kedua alis Selvi terangkat. “Kamu emang bisa?” “Belum dicoba, tapi aku sering lihat cara Mbak Sri buat kok. Tenang saja sedikit paham lah.” Bayu mulai memotong buah apel ke dalam blender dan menambahkan sedikit gula. Biasanya Sri menambahkan susu kental manis ke dalamnya. Namun, Bayu bingung apakah Selvi juga mau dibuatkan seperti i
“Kamu sudah bekerja keras hari ini, jadi tidurlah dalam perjalanan. Nanti saat sampai rumah aku akan membangunkanmu,” ucap Bayu sambil melihat ke pantulan kaca.Mobil pun mulai melaju di jalan raya menuju kediaman Stevia. Butuh waktu beberapa menit jika harus sampai jadi Stevia pun sempat tertidur di jalan.Tidak lama akhirnya mobil pun sampai di rumah, Bayu menoleh ke belakang mencoba untuk memanggil membangunkan Stenia tapi sayangnya dia tidak bangun.Akhirnya Bayu pun keluar dari mobil dan membuka pintu samping lalu menyentuh pundak Stevia lalu menggoyangkannya pelan. “ … Stevia, Nona Stevia!” seru Bayu di samping Stevia.Sentuhan di pundak dan suara yang memanggil namanya dengan lembut membuat Stevia akhirnya terbangun. Ia menoleh perlahan pada Bayu lalu mengucek matanya untuk memperbaiki pandangannya yang masih belum stabil.“Hmm … Bayu apa kita udah sampai?” tanya Stevia sambil menguap dan meregangkan tubuhnya sebentar.







