Share

Bab-03

Author: AgathaQuiin20
last update Last Updated: 2025-09-07 19:35:33

“Gue beneran gak habis pikir sama mereka. Kemarin Jess nangis kejer liat Tian tunangan sama Hanna. Sekarang malah … .” Elina menghela nafas panjang, lalu menatap Jesslyn yang mengobati luka Christian dengan telaten. Sesekali meniup luka yang baru saja diberi obat merah.

“Cinta beneran mereka?” 

“Ya dipikir aja Mbak ngak mungkin gak cinta sampai nunggu bertahun-tahun. Kalau gue jadi Jes udah berpaling cari yang lain tuh.” 

Rhea mengangguk kecil menatap wajah Christian yang babak belur. Ada rasa kasihan disana tapi ada juga rasa lega yang Rhea rasakan. Entah kenapa rasanya melihat hubungan mereka membaik membuat Rhea sedikit senang. Bukannya tidak suka, mereka berteman sudah lama bahkan luar dalam mereka tahu semuanya. Rhea hanya khawatir sesuatu akan terjadi dengan Jesslyn. Hanya itu saja tidak lebih.

“Begini biar apa? Biar jago ngajak anak orang berantem? Yang ngerasa sakit Lo sendiri bukan orang lain.” 

Sejak mengobati luka Christian, wanita itu tak berhenti mendumel. Seolah rasa kesal yang dia pendam selama ini dia curahkan begitu saja di hadapan pria itu. Kembalinya dia menang membuang hidup Jesslyn lebih berwarna. Bahkan ketika satu hari saja mereka tidak bertemu Jesslyn merasa kehilangan karena tidak ada orang yang menggoda dirinya hingga marah. Tapi ketika tahu orang yang berpengaruh dalam hidupnya adalah orang di masa lalunya membuat Jesslyn sedikit Menjaga jarak, apalagi dia adalah tunangan temannya sendiri. 

Rasa sesak itu kembali terasa, wanita itu menarik nafasnya begitu dalam dan menghembuskan dengan perlahan. Bibirnya mengunci, dia lebih fokus pada sudut bibir pria itu yang sobek dan terus mengeluarkan darah. Bibir yang beberapa jam lalu menciumnya habis-habisnya, dan sialnya Jesslyn hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah ketika tangannya tak sengaja mengusap bibir itu dengan lembut. 

Oh shit!! Murahan sekali. Pikir Jesslyn. 

Melihat reaksi Jesslyn, Christian tersenyum. Dia menarik tangan wanita itu yang ingin menyentuh kembali sudut bibirnya untuk diobati. Dengan secepat kilat Christian mengecup bibir wanita itu sebanyak dua kali.

Tentu hal itu membuat kedua mata Jesslyn berkedip beberapa kali karena shock. Lalu mendorong tubuh Christian untuk segera menjauh.

“Gak sepantasnya Lo lakuin ini ke gue!!” Cetus Jesslyn.

“Kenapa? Lo lupa apa yang udah barusan gue lakuin ke elo waktu di apartemen?” Tanya Christian dengan nada memancing. 

Noah yang penasaran pun mendekat. “Lo berdua habis ngapain? Itu … leher Jes juga ada cupangnya.” 

Mendengar kata cupang Jesslyn langsung mencari kaca di dompet makeup milik Elina. Dan benar saja cupang warna merah yang cukup ketara di leher Jesslyn membuat wanita itu mengumpat seketika. Kenapa dia tidak sadar dengan apa yang terjadi tadi siang? 

Tidak terjadi apapun pada Christian dan juga Jesslyn. Dia hanya datang mengantar map setelah itu wanita itu pulang, tidak lebih. Mau melakukan apapun juga disana ada Hanna. Kalau masalah cupang, setelah pulang dari apartemen Jesslyn bertemu dengan seseorang itulah kenapa ada cupang di leher Jesslyn. Dan itu bukan ulah Christian, dia tahu betul dan tahu batasan jika dia harus berbuat nekat dengan Christian. Meskipun temannya tahu jika Jesslyn pernah bodoh menunggu Christian untuk kembali padanya. Jelas wanita itu agar Noah dan yang lain tidak salah paham 

“Gue yang bikin, itu sebagai tanda kepemilikan. Kalau Ai milik gue.” kata Christian tiba-tiba.

Sabian, Arzhacel dan juga Noah pun semakin bingung. Dari dulu mereka tahu betapa besarnya cinta Christian untuk Jesslyn. tidak mungkin rasanya mereka melakukan hal itu di apartemen yang dimana ada Hanna disana. Entah Christian atau Jesslyn yang berbohong tapi penjelasan mereka cukup masuk akal. 

“Buset deh … siapa nih yang bener?” kata Noah 

“Gue.” 

“Gue.” 

Jawab mereka berdua sama. 

Noah menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Lalu menatap Christian dan juga Jesslyn secara bergantian. 

“Gue–” 

“Diem Lo!!” Sentak Jesslyn dan membuat Noah kembali menutup bibirnya. “Bilangin sama dia jangan deketin gue lagi, minimal ingat apa yang sudah terjadi beberapa bulan yang lalu. Kalau perlu gue ingetin, hari ini gue kasihan sama dia bukan berarti dia bisa nyium gue di tempat umum begini. Gue punya harga diri, apa perlu gue gampar sekalian?”

Mengangkat kedua tangannya Noah memilih untuk mundur. Dia tahu betul diantara Rhea, Elina, hanya Jesslyn lah yang paling galak. Paling tidak bisa disentuh dengan apapun kecuali dia sendiri yang mau. Dan untuk sekarang dia sudah membuktikan jika rasa sakit yang dia rasakan membuat suasana diantara mereka mencengkram.

***

Jesslyn memutuskan untuk pulang, peduli setan jika Sabian akan marah atau apapun itu. Sejujurnya Jesslyn bingung dimana letak dirinya yang dulu? Yang mana paling suka menggoda Sabian hingga darah tinggi. Tapi yang ada wanita itu seolah tidak tertarik dengan siapapun kembali. Dia tidak suka menggoda Sabian lagi, dia tidak suka Christian ada di sekitarnya lagi. Kenapa dia seperti ini? Ini bukan diri Jesslyn, dia memang suka marah tapi … kenapa? 

Pertunangan itu benar-benar membuat Jesslyn terpuruk. Dia sudah menunggu lama tapi yang menjadi pendamping hidup Christian bukan lagi dirinya melainkan Hanna, temannya dulu. Sakit hatinya membuat dirinya berubah drastis dan Jesslyn tidak nyaman dengan dirinya yang sekarang. Seperti bukan dirinya saja. 

Pulang ke rumahnya, Jesslyn memilih untuk merendam dirinya lebih lama di dalam bathtub. Mungkin dengan begini mood Jesslyn bisa kembali seperti sedia kala. Seharusnya wanita itu tidak lagi memperdulikan Christian, tidak lagi memikirkan pria itu yang sudah menyakitinya begitu dalam. Mungkin besok dia akan menunjukkan dirinya yang seperti dulu lagi, yang dimana ada atau tidak ya Christian bukan pengaruh besar dalam hidupnya. Kita sudah memilih jalan masing-masing, dan Jesslyn tidak ada hak untuk memikirkan pria brengsek itu kembali. 

Terlalu asik menikmati merendam diri di dalam bathtub. Suara ketukan pintu membuat Jesslyn membuka matanya sebelah. Dia hanya memastikan jika suara ketukan itu tidak halusinasi, karena Jesslyn baru saja memejamkan matanya dan hampir tertidur. 

“Jesslyn ada teman kamu didepan.” Itu suara ibunya, dan teman? Siapa yang datang ke rumah? Elina? Rhea? Untuk apa? 

Lagian jika Elina dan juga Rhea, ibunya tidak perlu berteriak seperti ini dan akan membiarkan mereka berdua masuk ke dalam kamar Jesslyn. Hanya dengan menggunakan jubah mandi, rambut yang digulung dengan handuk wanita itu memutuskan untuk keluar kamar. Ngerepotin banget mereka berdua ini. 

“Lo berdua tinggal masuk ke kamar aja, ngapain bikin emak gue— Lo … ngapain Lo kesini?” pekik Jesslyn kaget ketika tahu siapa yang datang ke rumahnya dan kenapa tamunya tidak langsung masuk ke kamar. 

Ya, dia adalah Christian Abinaya. Dengan wajah babak belur nya dia duduk santai di ruang tamu bersama dengan ibu Jesslyn. 

“Jes kenapa cuma pake jubah mandi sih.” Geram sang ibu 

“Itu … Mami ngapain ngebiarin dia masuk sih.” 

Ibu Jesslyn merasa tidak enak hati dan menarik tangan Jesslyn untuk masuk ke kamarnya. Minimal anak perawannya ini mengenakan baju yang lebih sopan ketimbang jubah mandi. Dia bukan anak kecil lagi, dia wanita dewasa yang dimana pria itu bisa berpikir aneh-aneh tentang putrinya. 

“Jangan banyak bicara. Pakai baju mu yang benar dan temui Abi.” 

****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Behind the Ring   Bab-104

    Christian duduk diam di ruang kerjanya yang luas, cahaya dari jendela hanya menyinari sebagian wajahnya. Di meja, layar tablet masih menampilkan berita pembatalan pertunangan dengan keluarga Hwang. Gambar dirinya dan Hanna terpampang jelas — formal, kaku, dan dingin seperti kisah yang seharusnya sudah berakhir.Pintu terbuka tanpa ketukan. Elina dan Rhea masuk hampir bersamaan, membawa kegelisahan di wajah masing-masing. Tak ada sapaan, tak ada basa-basi.“Lo beneran ngumumin pembatalan itu sendiri?” Elina meletakkan tasnya di sofa, suaranya menahan emosi. “Tanpa kasih tahu siapapun?”Christian hanya menatap layar di depannya. “Harus ada yang ngelakuin sesuatu. Gue capek liat semuanya pura-pura normal.”Elina ingin membalas, tapi Rhea sudah duduk lebih dulu. Wajahnya canggung, tapi ada sesuatu di matanya — seperti orang yang menyimpan rahasia yang terlalu lama.“Christian,” ucapnya pelan. “Gue harus ngomong sesuatu sebelum semuanya makin jauh.”Pria itu menatapnya singkat, tanpa ekspr

  • Behind the Ring   Bab-103

    Pagi itu terlalu tenang untuk sesuatu yang sebentar lagi akan pecah. Cahaya matahari menembus jendela besar mansion keluarga Tian, memantul di lantai marmer yang mengkilap, menciptakan pantulan yang indah — tapi dingin. Di tengah ruang tamu megah itu, Yoora duduk di kursi utama, dengan wajah tegang dan tangan menggenggam secangkir teh yang sudah lama tak disentuh.Di depannya, keluarga Hanna — ayah, ibu, dan Hanna sendiri — tampak berusaha menjaga wibawa, meski ketegangan di udara bisa dipotong dengan pisau. Hanna mengenakan dress pastel rapi, tapi matanya sembab.Lalu terdengar langkah tegas dari arah tangga.Christian Tian muncul dengan jas abu muda, rambut sedikit acak, tapi ekspresinya begitu tenang hingga terasa berbahaya. Ia menatap satu per satu orang di ruangan itu sebelum membuka suara.“Terima kasih sudah datang pagi-pagi,” ucapnya datar. “Aku ingin bicara langsung bia

  • Behind the Ring   Bab-102

    “Lo serius El?” Rhea nampak ragu dengan cerita itu, tapi dari cara bicara Elina dan raut wajah yang serius membuat Rhea mempertimbangkan cerita itu.“Demi Tuhan Mbak Rhea. Gue rela jomblo seumur hidup kalau gue bohong sama Lo.” Rhea mengangguk kecil. “Masa iya sejahat itu dia, El?” “Heh Mbak Rhea Lo yang setelah ini bakalan jadi sepupuan sama dia, masa iya nggak tau sikapnya macam mana?”Masalahnya selama ini Hanna menunjukkan diri yang cukup baik. Hanna juga mengenal Rhea meskipun tidak sedekat Elina dan juga Jesslyn. Mereka hanya bertemu jika Hanna main ke kantor Sabian, atau mungkin dalam acara keluarga Miller yang mengharuskan Hanna datang. Dan selama ini yang dia tunjukkan sikap baik, manis dan perhatiannya pada keluarga Miller. Tidak ada yang aneh, bahkan jika di bilang curiga jika dia orang jahat tidak akan terlintas dipikiran Rhea dan yang lain. Wanita itu cukup baik, topengnya cukup baik sehingga Rhea ragu dengan apa yang dibicarakan oleh Elina barusan. Tidak mungkin rasany

  • Behind the Ring   Bab-101

    Suasana kantor tampak biasa — rapat, tumpukan berkas, aroma kopi pagi. Tapi di ruang HRD, Jesslyn menatap surat di tangannya dengan alis berkerut.Kertas putih dengan kop resmi, tanda tangan dewan direksi, dan tulisan jelas:Penempatan sementara ke cabang Sabian Asia (Singapore Division)Sebagai bentuk pengembangan profesional dan tanggung jawab baru.“Singapore?” gumam Jesslyn pelan. “Gue bahkan nggak pernah apply untuk overseas post…”Elina yang duduk di meja seberang ikut menatap kertas itu, wajahnya kaget. “Gila, itu posisi tinggi, tapi… tiba-tiba banget, Jess. Lo yakin bukan ada yang salah sistem?”Jesslyn tidak menjawab. Di dadanya ada sesuatu yang tidak tenang, meski di permukaan ia berusaha tersenyum. “Ya mungkin keberuntungan aja kali…” katanya lemah. Tapi ada untungnya juga dia harus pergi ke Singapore, setidaknya dia bisa menenangkan diri apalagi adegan semalHari itu langit mendung. Jesslyn turun ke basement dengan langkah cepat, membawa berkas penting untuk rapat sore. I

  • Behind the Ring   Bab-100

    “Apa yang kamu lihat kemarin belum cukup untuk membuatmu sadar, Nona Jesslyn?”Langkah kaki Jesslyn terhenti langsung, tanpa menoleh pun dia tahu siapa yang berbicara padanya siang ini. Noah? Yang melihat hal itu hanya mengintip dari kejauhan dan tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.Dengan telat dan keberanian yang mendalam. Wanita itu membalik badannya dan tersenyum kecil. “Jadi anda sudah tau Nyonya Yoora?”“Ya … aku tahu segala hal, Jesslyn.” Katanya dengan elegant.Jesslyn tertawa kecil. “Segitunya ya Anda ingin saya hancur?”Dengan perkataan itu Yoora tidak suka. Dia melemparkan tatapan tajam dan menusuk untuk Jesslyn. Seolah tatapan itu sebuah peringatan kalau Jesslyn tidak akan memiliki celah untuk kembali pada Christian. Wanita itu hanya ingin yang terbaik untuk Christian, tidak ada

  • Behind the Ring   Bab-99

    Udara malam itu berat. Langit Ibukota gelap tapi tak hujan, hanya kelam dan pengap seperti menyimpan sesuatu yang ingin meledak. Jesslyn memandangi pesan singkat dari Christian di layar ponselnya — hanya satu baris.“Datang ke apartemen dulu, aku perlu bicara.” ucap Jesslyn membuka pesan masuk dari Christian.“Kenapa Jess?” Tanya Rhea yang melihat wajah Jesslyn berubah total.“Gue harus pergi, nanti gue balik lagi.” Tidak ada emoji, tidak ada nada lembut seperti biasanya. Datar, dingin. Tapi justru itu yang membuat dada Jesslyn bergetar hebat. Ia tak tahu kenapa, tapi langkah kakinya terasa berat menuju lift rumah Rhea. Seakan setiap detik mendekatkan dirinya pada sesuatu yang tidak siap dihadapi.Begitu pintu apartemen itu terbuka, aroma ruangan langsung memukul memorinya. Dulu, tempat ini menjadi rumah Christian bersama Hanna — sebelum semuanya berantakan, sebelum Christian memilih tinggal bersamanya. Jesslyn menatap dinding yang masih menyimpan bingkai foto lama yang belum dicopot

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status