Beranda / Romansa / Belenggu Hasrat Dendam Membara / BAB 45 JALUR MENUJU INTI

Share

BAB 45 JALUR MENUJU INTI

Penulis: Michaella Kim
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-17 13:04:01

Sirene merah masih berputar-putar di dinding saat Ethan menarik Celeste keluar dari ruang server. Lampu strobo memercikkan bayangan kacau di sepanjang lorong, seolah ikut menghitung mundur kehancuran sistem. Di belakang mereka, rangkaian server raksasa itu mulai mengeluarkan suara aneh, seperti erangan besi panas yang dimasukkan ke dalam air dingin.

“Waktunya tinggal beberapa menit sebelum Cross Group memutus seluruh node.” Celeste berkata sambil berlari. Napasnya mulai berat, tapi matanya penuh fokus tajam. “Jika jaringan benar-benar hangus, semua akses backup ke bunker akan tertutup otomatis.”

“Itu berarti kita terjebak,” tambah Ethan. “Atau bukti fisik itu ikut hilang.”

“Dan Marcus menang.”

Mereka saling bertukar pandang sejenak. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Mereka pun mempercepat langkah.

Lorong utilitas yang dipilih Celeste sangat sempit dan lebih gelap dari jalur sebelumnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 70 SERANGAN BALIK DEIGHTON & MILES

    Berbekal bukti transaksi ilegal temuan Celeste, Ethan mengambil langkah berani. Pagi itu, ia terbang sendirian ke pusat finansial untuk menemui pengacara utama Valentin Volkov, sementara Celeste memantau pergerakan data dari jarak jauh.“Kalau aku terlambat mengangkat telepon, itu berarti rapat sudah dimulai.” Suara Ethan terdengar rendah dan terkendali dari balik earpiece.Pantulan cahaya bandara di layar laptop menandakan Ethan sudah jauh dari rumah pesisir mereka. Sambil terus mengetik, Celeste bersandar di kursinya.“Jalur komunikasi aman. Aku sudah masuk ke server firma hukum mereka,” lapornya.“Kau yakin soal dokumen itu?” tanya Ethan pelan.“Sangat yakin,” sahut Celeste tegas. “Transaksi dua tahun lalu itu bukan eror teknis. Volkov menyuap regulator untuk membungkam audit internal. Jika ini bocor, reputasinya runtuh dalam semalam.” Nada suaranya penuh kemenangan.Ethan tersen

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 69 PERANG DI BALIK MEJA

    Gerimis tipis di pesisir siang itu tampak seperti tirai abu-abu yang perlahan menutup langit. Di dalam ruang kerja rumah kayu yang menghadap laut, Celeste terpaku di depan laptop. Layarnya dipenuhi barisan teks hukum yang kaku, kontras dengan isi kepalanya yang riuh di tengah kesunyian yang mencekam.Sebuah notifikasi muncul tiba-tiba, amplop digital berlogo firma hukum raksasa di Zurich. Meski bahasanya sangat formal dan sioan, Celeste tahu itu adalah ancaman. Ia membaca baris demi baris dengan napas tertahan, menyadari bahwa ketenangan hidupnya baru saja berakhir.“Dia akhirnya memulainya,” ucap Celeste datar, suaranya tertahan.Ethan yang berdiri di dekat jendela menoleh cepat. “Lewat jalur resmi?”Celeste mengangguk. “Gugatan perdata. Dia mengklaim kepemilikan tiga aset yayasan, termasuk Maggie’s House. Alasannya karena kontrak lama dibuat atas nama perusahaan cangkang Cross Group,” urainya.

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 68 CETAK BIRU MASA DEPAN

    Akhir pekan ini menjadi jeda bagi Ethan dan Celeste. Pengalaman menghadapi Marcus dan Calem telah mendewasakan strategi mereka, namun kini alarm bahaya baru dari sosok asing mulai membayangi ketenangan itu.Di beranda Celeste duduk termangu dengan sweater krem dan rambut yang masih setengah acak. Sepiring roti panggang dan buah di depannya hanya disentuh setengah sekilas, tatapannya kosong, tersesat dalam kecemasan yang tertunda.Ethan menghampiri, membawa dua cangkir kopi. Ia hanya mengenakan kaos polos dan celana rumah, tampak jauh dari sosok pria yang dulu selalu siap dengan perlengkapan taktis di pinggangnya. Perlahan, ia meletakkan satu cangkir di depan Celeste.“Kau tidak makan,” katanya ringan.Celeste menoleh, tersenyum kecil. “Aku menikmati pemandangannya dulu,” ujarnya.Ethan duduk di seberangnya. “Laut tidak akan kabur,” tegurnya.“Justru itu,” jawab Celeste pelan.

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 67 JEJAK DIGITAL YANG TERSISA

    Pagi di kota pesisir selalu hidup oleh pekik camar yang bersahutan, deru mesin kapal nelayan, dan langkah-langkah manusia yang memulai kembali hidup mereka.Pekerjaan Ethan dan Celeste pun dimulai. Kantor kecil Deighton & Miles kini berdiri di sudut jalan yang tenang. Sebuah bangunan putih gading berlantai dua dengan jendela besar yang menghadap langsung ke pelabuhan.Tidak ada papan nama yang mencolok, hanya plakat logam sederhana di samping pintu bertuliskan, “Deighton & Miles — Security & Risk Advisory”.Di dalam ruang rapat, aroma kopi segar berpadu dengan wangi kayu baru. Meski belum sepenuhnya rampung, ruangan itu sudah terasa hidup.Ethan berdiri di dekat papan tulis, mengenakan kemeja gelap dengan lengan digulung. Beberapa berkas terbuka di tangannya. Di hadapannya duduk tiga orang pria, para mantan anggota militer dengan rekam jejak bersih, tatapan tajam, dan sikap tenang.Ethan berkata dengan lugas, “Di

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 66 DUA GELAS DAN CAHAYA BULAN

    Malam turun perlahan di rumah pesisir itu, seolah enggan mengganggu ketenangan yang baru saja mereka raih. Lampu-lampu kota di kejauhan berpendar lembut, memantul di permukaan laut yang tenang. Angin laut berhembus membawa sisa hangat matahari sore, menyusup ke balkon lantai dua tempat Ethan dan Celeste duduk berdampingan.Setelah hiruk pikuk pesta pembukaan yayasan berakhir, kini keduanya mendapatkan kembali ketenangan bersama.Tidak ada musik yang terdengar, dan tidak ada tamu yang tersisa.Hanya dua gelas kaca di atas meja kayu kecil, suara jangkrik yang bersahutan, dan bulan separuh yang menggantung rendah di langit.Ethan datang dari dalam sambil membawa sebotol anggur, lalu menuangkannya ke masing-masing gelas bergantian.Ia mengangkat gelasnya, memutar cairan keemasan di dalamnya, lalu tersenyum kecil, senyum yang dulu jarang sekali muncul di wajahnya.“Aku masih belum terbiasa,” katanya pelan.Kemudian member

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 65 BUNGA LAVENDER UNTUK MAGGIE

    Langit pagi itu biru cerah, seolah alam akhirnya berdamai setelah badai panjang. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma garam dan wangi kayu basah dari bangunan baru di ujung bukit.Di depannya, sebuah plakat kayu sederhana berdiri tanpa kemewahan. Namun, sangat besar artinya.“Maggie’s House Shelter & Hope Center”Anak-anak berlarian kecil, sebagian menggenggam tangan para pengasuh, sebagian lain menatap sekeliling dengan rasa ingin tahu yang polos. Tidak ada kamera berlebihan. Tidak ada karpet merah. Hanya tawa kecil, balon kertas, dan pita biru yang siap dipotong.Celeste berdiri di sisi panggung kecil, menarik napas dalam-dalam.“Kau baik-baik saja?” bisik Ethan di sampingnya.Celeste menoleh. Hari itu ia mengenakan gaun sederhana berwarna gading, rambutnya disanggul longgar.“Aku gugup,” akunya jujur. Kedua tangannya saling menggenggam erat.Ethan tersenyum tulus, kemudian

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status