Beranda / Romansa / Belenggu Hasrat Dendam Membara / BAB 5. BENIH YANG MULAI BERGERAK

Share

BAB 5. BENIH YANG MULAI BERGERAK

Penulis: Michaella Kim
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-13 08:25:51

Pagi itu, Ethan sedang berjalan dengan langkah cepat melewati trotoar Manhattan yang penuh dengan orang-orang kantoran berlalu lalang. Udara masih dingin, tapi pikirannya jauh lebih dingin lagi. Hari ini, ia fokus pada satu hal, yakni tentang situasi perusahaan yang masih sah atas namanya, miliknya. Satu-satunya warisan dari mendiang sang ayah yang tidak diketahui oleh Marcus Cross.

Kantor yang ia tuju saat itu hanyalah ruang sempit di lantai dua sebuah gedung tua. Bukan gedung ilegal seperti Cross Group. Tapi justru di ruangan sederhana inilah Graham menunggunya.

Saat Ethan masuk, Graham mengangkat kepala dari tumpukan berkas di atas meja kerjanya. “Selamat pagi, Tuan Deighton.”

“Pagi.” Ethan duduk, mengusap rambutnya yang masih sedikit basah karena hujan pagi. “Apa kita bisa mulai sekarang?” tanyanya dengan nada berat.

“Sudah mulai sejak semalam, Tuan,” jawab Graham sambil menutup map. “Saya punya beberapa hal yang perlu Anda lihat.”

Ia menggeser sebuah folder ke arah Ethan. Di dalamnya ada dokumen perusahaan, bernama Deighton & Miles Group. Tampak seperti hanya sebuah perusahaan kecil, tapi izin dan aksesnya, Ethan bisa menemukan sesuatu yang sangat besar di dalamnya.

“Perusahaan ini masih punya izin impor-ekspor aktif. Kami juga menemukan rekening luar negeri yang tidak pernah tersentuh oleh Cross Group,” jelas Graham dengan nada pasti. “Ayah Anda, Tuan Besar Deighton, telah menyembunyikannya dengan sangat rapi.”

Ethan menatap dokumen itu lebih lama. “Sampai Marcus tidak tahu sama sekali?” tanyanya tanpa menoleh.

Graham mengangguk. “Bahkan dia tidak tahu bahwa perusahaan ini masih punya akses ke jaringan pelabuhan lama milik Deighton.” Ia menatap Ethan dengan tatapan teguh, seperti sedang mengingatkan bahwa ini adalah suatu kekayaan yang tak ternilai. “Ini adalah pintu masuk Anda, Tuan Ethan. Pintu pertama Anda.”

Ethan menarik napas panjang. Bukan napas lega, tapi napas seseorang yang baru menyadari betapa berat langkah pertama ini. Namun, Ethan adalah seorang Deighton. Maka ia takkan mudah ditaklukkan.

“Aku sungguh tidak menyangka masih ada yang tersisa,” ujarnya.

“Marcus tidak bisa mengambil semuanya, Tuan.” Nada bicara Graham sangat tenang, tapi jelas ia begitu yakin bahwa nama besar Deighton yang sempat redup akan segera bersinar lagi.

Namun, sebelum pembahasan mereka berlanjut, ponsel Ethan, ponsel khusus yang diberikan oleh Graham kemarin, bergetar.

Satu buah pesan singkat masuk dan hanya satu kalimat.

“Jangan abaikan Celeste Morel. Dunia ini tidak sekecil yang kau kira.”

Pesan itu datang tanpa nama pengirimnya, tidak ada nomor dan anehnya tidak ada jejak yang bisa dilacak.

Seolah pesan itu masuk begitu saja lewat udara.

Ethan mematung beberapa detik, wajahnya mengeras. “Graham, kau mengirim ini?”

Graham mengangkat alis, bahkan terlihat sedikit tersinggung. “Tidak, Tuan Deighton. Saya tidak bermain kode-kodean seperti ini.”

Ethan menutup ponsel itu perlahan, tapi jari-jarinya terasa dingin. Celeste Morel? Pikirnya.

Wanita yang nyaris menabraknya kemarin, yang wajah serta namanya cukup membuat Ethan berpikir beberapa saat.

Wanita yang menawarkan segelas kopi sebagai permintaan maaf. Dan tatapan matanya yang memandang Ethan bukan sebagai pria miskin yang rendah, melainkan seperti tatapan seorang, teman?

Apakah semuanya kebetulan dalam dua hari?

Ethan tidak percaya pada kebetulan.

Namun, ia tidak mungkin membahas Celeste Morel di tengah pembahasan strategi besar yang kini disusun.

Ia memilih melanjutkan pembahasan mereka meski pikirannya sesekali terarah pada pesan tentang Celeste Morel.

Mengapa orang asing membawa nama Celeste Morel? Siapa sebenarnya Celeste Morel?

Sore harinya, di pusat kota Manhattan.

Untuk mengaktifkan legalitas Deighton & Miles Group, Ethan perlu verifikasi langsung di bank yang bekerja sama dengan perusahaan itu. Karena itu, pada sore ini ia berdiri di lobi kaca Bank Hesler, tempat banyak perusahaan besar mengurus transaksi internasional.

Saat itu ia datang dengan mengenakan kemeja biru polos yang baru ia beli dari toko diskon. Rambutnya rapi seadanya, meski tetap terlihat lusuh, tetapi Ethan sangat tampan. Ia duduk di kursi tunggu, memegang map tipis dan menatap antrean panjang di depan counter.

Untuk menyibukkan diri, ia mencoba membaca ulang berkas yang diberikan oleh Graham, tapi pikirannya terus terganggu oleh isi pesan misterius tadi.

Celeste Morel.

Selain Iris, Celeste adalah wanita kedua yang mampu membuat Ethan membayangkan wajahnya. Tapi dalam hal yang berbeda.

Ia mencoba menepis pikiran itu. Fokus pada urusan penting saat ini. Demi kehidupan baru, dan masa depan.

Namun tiba-tiba, suara lembut tapi tegas terdengar dari arah pintu masuk.

“Aku ingin laporan transaksi bulan ini, dan jangan beri alasan lagi. Kalau dokumen masih tercecer, aku sendiri yang akan audit kantor kalian.”

Ethan refleks menoleh.

Di sana, berdiri beberapa meter darinya. Wanita itu, yang sejak pagi menguntit dalam pikirannya, Celeste Morel.

Namun berbeda dari saat kemarin. Sekarang wanita itu mengenakan setelan profesional warna navy. Rambut cokelat gelapnya diikat rapi. Sepatu haknya mengetuk lantai marmer dengan ritme pasti.

Ia selalu tampak seperti wanita berkelas yang percaya diri. Seperti seseorang yang memimpin ruangan.

Dua pria berjas di sampingnya mengangguk-angguk gugup, tampak jelas mereka adalah bawahan atau mitra bisnisnya. Di dada mereka, terpasang sebuah pin emas berbentuk huruf C.

Ethan langsung dapat mengenalinya. Pin resmi dari Cross Group.

Darah Ethan terasa berhenti mengalir sesaat. Ia sudah tahu sejak kemarin, dan ia kesal karena dalam waktu beberapa detik tadi ia sempat memuji penampilan wanita itu.

“Dia pasti orang kepercayaan Marcus, dan sengaja membuat alur pertemuan kami kemarin untuk tujuan tertentu. Cih!” gumam Ethan dalam hati.

Ethan bersandar sedikit, sambil menunduk agar Celeste tidak melihatnya. Namun, seolah hidup punya ide lain, Celeste tiba-tiba menoleh.

Tak dapat terelakkan lagi. Mata mereka bertemu. Raut terkejut muncul di wajah Celeste.

Ia benar-benar mengenali Ethan.

Reaksinya seperti bukan hanya sekadar berkata, “Oh, pria itu.”

Namun lebih seperti, “Hei, aku bertemu dengan pria ini lagi.” Ada sedikit rasa penasaran sekaligus antusias.

Ethan tidak bergerak, hanya diam berwajah datar.

Celeste memberi isyarat kecil dengan jarinya, seperti meminta Ethan untuk menunggunya sebentar.

Isyarat itu kecil, elegan, nyaris tidak terlihat oleh orang lain. Tapi Ethan langsung mengerti.

Salah satu pria Cross Group itu menyadari tatapan Celeste dan bertanya, “Ada sesuatu, Nona Morel?”

Dengan cepat Celeste mengubah ekspresinya menjadi dingin dan profesional. “Tidak. Lanjutkan ke ruang rapat. Saya akan menyusul.”

Dua pria itu pun menurut tanpa bertanya.

Ethan tetap duduk, tapi jantungnya berdetak keras meski wajahnya tetap datar. Ia juga tidak tahu mengapa ia menunggu. Tapi tatapan Celeste tadi bukan tatapan main-main. Ada sesuatu yang harus ia dengar.

Kemudian Celeste mulai berjalan perlahan mendekati Ethan. Tidak secara langsung.  Seolah tidak ingin menarik perhatian dari siapapun. Bahkan kamera pengintai.

Ketika ia sampai di depan Ethan, ia bicara pelan. Nyaris berbisik.

“Kita bertemu lagi,” katanya. Ada sedikit tawa kecil yang terdengar seperti kelegaan. “Dunia memang kecil.”

Ethan menatapnya datar. “Terlalu kecil hingga membuatku gerah,” balasnya.

Celeste mengangguk, tak pernah ada raut wajah tersinggung yang terlihat. “Aku harus rapat. Tunggu aku. Ada hal yang perlu kubicarakan padamu.”

“Kenapa aku harus–“

“Ini penting,” Celeste memotong cepat. 

Ethan menatapnya lama. Ada sesuatu di mata Celeste, bukan rasa takut, bukan juga rasa bersalah. Wanita ini sangat tak terbaca. Namun, sepertinya Ethan harus menunggunya.

Akhirnya Ethan hanya menjawab singkat, “Sepuluh menit.”

Celeste tersenyum kecil, lalu pergi.

Ethan menatap punggung Celeste yang menjauh, perasaannya campur aduk.

Satu bagian dirinya ingin menjauh dari apapun yang berhubungan dengan Cross. Tapi bagian lain tahu betul bahwa dalam perang, informasi adalah senjata.

Celeste Morel jelas membawa sesuatu. Ethan yakin, pertemuan mereka kemarin memang bukanlah kebetulan.

Sebuah pesan singkat yang menyebut nama Celeste Morel pagi tadi juga harus memberinya jawaban saat ini juga.

Ethan menggertakkan giginya. “Baiklah, kita lihat siapa kau sebenarnya?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 100 CAHAYA DI ATAS TEBING

    Langit Amalfi sore itu biru pucat, seperti kanvas yang pudar oleh cahaya. Angin laut berhembus pelan, membawa aroma garam dan bougainvillea liar dari sepanjang pagar Via delle Rocce. Tanpa deru mesin atau ancaman detak jam, hanya tawa anak-anak yang terdengar di udara.“Alex! Jangan lari ke situ, itu pasir basah!”“Ini seru, Mama!”“Kalau kau jatuh—” ucapan Elena terhenti karena seruan putrinya.“Ava juga basah!”Ava tertawa dengan rok berpasir dan rambut acak-acakan. Di dekatnya, Alex terpeleset saat berlari mengitari pot bunga, namun justru tertawa seolah jatuh adalah bagian dari permainan.Lucas bersedekap di teras, tersenyum pasrah. "Mereka seperti badai kecil.""Badai yang kita ciptakan sendiri," balas Elena sambil membawa handuk.Lucas menatapnya, gaun sederhana, rambut terikat asal, tanpa sisa identitas ganda masa lalu. Kini hanya ada seorang ibu dengan binar hangat dan kelelahan yang indah.“Kau kelihatan bahagia.”“Mungkin kau lupa, aku tidak lagi bangun dengan rasa takut.”L

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 99 WARISAN TANPA NAMA

    Pagi hari di musim semi yang cerah, Lucas bersandar di ambang pintu ruang kerja, menggendong Ava yang sedang mengunyah mainan karet, dan Alex yang merangkak di lantai, mengejar bola kecil.“Lucas, apa kamu yakin jumlah dana ini tidak terlalu besar?” tanya Elena.Ia berdiri di depan meja kerjanya, jari-jarinya melayang di atas trackpad laptop. Layar menampilkan grafik donasi yang terhubung ke beberapa yayasan pendidikan dan panti asuhan di berbagai negara.Lucas tersenyum tipis. “Dulu kita menggerakkan uang untuk menjatuhkan sistem. Sekarang kita menggerakkannya untuk menyelamatkan sistem.”Elena menoleh. “Itu bukan jawaban.”Lucas melangkah mendekat. “Tidak ada yang namanya terlalu besar kalau tujuannya supaya tidak ada anak yang tidur kelaparan.”Elena terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Kadang aku lupa kita sekarang bisa melakukan sesuatu tanpa harus sembunyi.”Lucas menatap ruang kerja itu. Dulu ruangan ini penuh layar gelap, peta satelit, dan kabel-kabel enkripsi. Seka

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 98 SATU TAHUN KEBEBASAN

    Satu tahun bergulir, membawa tawa serta bahagia dalam prosesnya. Tak ada satu hari pun di mana Lucas dan Elena sempat mengeluh. Perkembangan pesat dari kedua buah hati mereka telah mengusir rasa penat yang sulit singgah lama.Pagi itu, Lucas sedang berperan menjadi tukang kayu. Sementara istrinya, setia menjadi juri untuk menilai hasil karyanya.“Lucas, jangan bilang kau salah pasang lagi.”Elena berdiri di ambang pintu taman, tangan kirinya memegang loyang kue vanila, dan tangan kanannya menunjuk ke arah suaminya yang sedang berjongkok di tengah rumput, dikelilingi oleh potongan kayu, baut kecil, dan sebuah kursi kuda-kudaan setengah jadi.Hari ini, mereka mengadakan perayaan satu tahun usia Alex dan Ava.Lucas menoleh padanya dengan wajah serius. “Aku tidak salah pasang. Aku hanya merakit dengan pendekatan alternatif,” ia mengelak.Elena menaikan alisnya. “Pendekatan alternatif itu maksudnya kepalanya terbalik?”Lucas pun menatap mainan itu, lalu menatap Elena dengan tampang polosny

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 97 LANGKAH-LANGKAH KECIL DI AMALFI

    Waktu berlalu dengan cepat di Via delle Rocce. Kini, si kembar yang diberi nama Alex dan Ava sudah mulai belajar merangkak dan mengeksplorasi setiap sudut rumah yang telah dilapisi karpet tebal oleh sang ayah, Lucas.Di ruang tamu, Elena mengedarkan pandangannya yang tertuju pada seluruh lantai. Melihat semua hasil karya suaminya itu, ia menghela napas pasrah.“Lucas, kalau kau memasang satu karpet lagi, rumah ini akan berubah menjadi lapangan senam bayi,” katanya setengah menggoda. Di hadapannya, Alex sedang merangkak dengan kecepatan mencurigakan, sementara Ava mencoba menirunya tapi malah terguling pelan ke samping, lalu tertawa sendiri. Begitu menggemaskan, membuat hari-hari Elena terasa hangat.Lucas sedang berlutut di lantai, masih saja sibuk menempelkan satu karpet tambahan di dekat rak buku. “Kau terlambat, sayang. Lantai ini keras, kalau mereka jatuh—”“Mereka jatuh dari ketinggian sepuluh sentimeter, Ayah,” potong Elena gemas.Lucas menoleh sambil memasang wajah serius. “Se

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 96 RITME BARU DI VIA DELLE ROCCE

    Dua hari pasca kelahiran dari dua cahaya kehidupan bagi Lucas dan Elena, Via delle Rocce kini sepenuh berbeda.Dua bayi mungil itu mengubah ritme yang dijalani oleh kedua orang tuanya menjadi lebih ramai dan penuh warna. Kadang tawa, kadang harus berbisik, bukan karena waspada, melainkan suara bising sedikit saja bisa menyebabkan tangisan kencang.Kesibukan keduanya pun melebihi saat berada dalam misi masa lalu, bahkan Lucas harus bekerja dengan sentuhan ekstra lembut sekaligus cekatan dalam waktu yang bersamaan. Hanya karena takut sentuhan tangan besarnya itu dapat menyakiti kulit bayi-bayinya yang masih sangat rentan.“Lucas, yang ini sudah sendawa belum?” tanya Elena.Suaranya terdengar dari arah sofa, pelan tapi mengandung nada waspada khas ibu baru. Ia belum pulih sepenuhnya, namun bersikeras ingin mengurus anak-anaknya. Tetap saja, aturan ketat dari Lucas tidak boleh dilanggar.Di lengan Elena, bayi perempuan mereka terlelap damai, wajahnya merah muda, lebih mirip Lucas versi ga

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 95 KELAHIRAN CAHAYA BARU

    Lucas mengemudikan mobilnya dengan penuh perhitungan, fokusnya seperti sedang dikejar oleh prajurit bayaran.“Lucas, jangan mengebut, tapi jangan pelan juga.”Suara Elena terdengar terputus-putus, bercampur antara tawa gugup dan napas yang sudah tidak beraturan. Tangannya mencengkeram sabuk pengaman, sementara satu tangan lain menggenggam lengan Lucas seolah itu satu-satunya jangkar di dunia.Lucas melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan berkelok yang turun dari Amalfi menuju Napoli. Lampu-lampu kota masih tampak jauh dari mereka, tapi laut gelap di sebelah kanan seperti bayangan yang terus mengikuti mereka.“Aku akan membawa kita secepat mungkin tanpa membuatmu pingsan,” katanya, suaranya tenang tapi rahangnya mengeras. “Tarik napasmu, kau harus tenang. Ikuti aku.”Elena mengangguk, meski wajahnya pucat. “Aku benci bagian ini, Lucas.”“Kau tidak sendirian di bagian mana pun,” jawab Lucas cepat. “Dengarkan napasku.”Ia menarik napas dalam-dalam, sengaja membuatnya terdengar. Elen

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status