LOGIN“Apa dia serius?”
Ethan mengembuskan napas, menyandarkan punggung ke kursi tunggu bank yang empuk tapi entah kenapa tetap terasa seperti duduk di atas batu. Ia sudah menunggu hampir lima belas menit sejak Celeste mengatakan untuk menunggunya selama sepuluh menit.
Tanpa sadar kedua mata Ethan sudah berkali-kali melirik pintu lift tempat Celeste masuk sebelumnya.
Orang-orang lalu-lalang, staf bank sibuk, dan di luar hujan tipis masih turun, membuat seluruh kaca berembun. Tapi bukan cuaca yang membuat ketegangan mencubit tengkuknya.
Isi pesan di ponsel itu membuatnya ingin buru-buru mendapatkan jawaban dari Celeste, dan ia sudah tidak bisa menunggu lebih dari ini.
“Jangan abaikan Celeste Morel. Dunia ini tak sekecil yang kau kira.”
Sial. Bahkan untuk standar orang yang baru keluar penjara, ini meresahkan.
Ethan mengetuk ujung sepatunya ke lantai marmer, ritme tak sadar yang menunjukkan ia gelisah. Bukan gelisah karena Celeste, tapi karena fakta bahwa ada seseorang yang sepertinya mengirim Celeste Morel kepadanya.
Saat pintu lift itu terbuka, Ethan langsung menoleh.
Celeste keluar dengan langkah mantap, blazer navy dan rambut kecokelatannya tersapu rapi di belakang telinga. Sekilas ia tampak seperti semua eksekutif muda ambisius di kota ini, anggun, terukur, sibuk. Tapi Ethan sudah melihat sesuatu yang lain di balik itu, peringatan untuk berhati-hati dengan wanita itu.
Ketika mata mereka bertemu, Celeste berhenti. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat denyut Ethan melompat.
“Akhirnya,” gumam Ethan tanpa suara.
Celeste mendekat, mengusap sedikit kaca tablet di tangannya seolah untuk mengulur waktu. Setelah cukup dekat, ia menurunkan suaranya.
“Kau di sini untuk apa?” tanyanya. Bukan ramah. Bukan juga sopan. Lebih seperti seseorang yang ingin memastikan sesuatu sebelum mengambil langkah berikutnya.
Ethan menaikkan alis. “Itu bukan urusanmu.”
Celeste menghela napas pendek, agak putus asa namun tetap elegan. “Bank ini terhubung dengan jaringan yang, yah, kau tahu siapa yang menguasainya.”
“Cross Group,” potong Ethan dingin.
Celeste memandangnya lama, seolah ingin membaca reaksi itu sampai lapis terdalam. “Jadi kau sengaja datang ke tempat yang Marcus Cross kendalikan?”
Ethan tak menjawab. Ia hanya menahan tatapannya. Di dalam kepalanya, serphan curiga mulai tersusun. Celeste terlalu ingin tahu. Terlalu sadar akan setiap gerakannya.
Sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, Celeste mendekat setengah langkah, cukup dekat hingga aroma parfum samar, bergamot dan cedar, menyentuh hidung Ethan.
“Marcus Cross tidak memberikan informasi kepada sembarang orang, termasuk aku,” bisiknya. “Dia tidak gegabah untuk melakukan hal itu, sepenting apapun posisiku. Ada bagian-bagian yang dia tutupi. Termasuk tentangmu.”
Ethan mengerutkan kening. “Jadi kau mengaku bekerja untuk dia?”
Celeste menahan senyum tipis, bukan senyum bahagia, lebih seperti smirk seseorang yang menyadari dirinya berada di antara dua jurang. “Lebih tepatnya aku bekerja di bawah Cross Group. Itu berbeda dari bekerja untuk Marcus Cross.”
“Heh.” Ethan menyilangkan tangan. “Kedengarannya sama saja.”
“Tidak,” jawab Celeste cepat. “Jika itu sama, aku tidak akan memperingatkanmu.”
Ethan menegakkan bahu. Tubuhnya seakan otomatis bersiap bertarung, meski bukan adu fisik. Ia merasa seperti berada dalam duel kata yang bisa membuatnya terpeleset kapanpun.
“Peringatan apa?”
Celeste melihat sekeliling, refleks seorang yang terbiasa menyimpan rahasia, lalu menatap Ethan lagi.
“Gerak-gerikmu sudah mulai masuk radar Cross Group. Dan Marcus Cross, dia bukan orang yang suka kejutan.”
Ethan merasakan napasnya tercekat sedetik. Bukan karena takut, tapi karena ia tahu benar bagaimana cara Marcus bermain. Bapak iblis itu tidak pernah menyerang dengan tangan kosong. Semuanya terencana, ditata seperti permainan catur.
“Apakah kau bilang begitu karena kau peduli?” tanya Ethan, setengah mengejek, setengah penasaran juga.
“Jangan terlalu percaya diri,” balas Celeste cepat. “Aku hanya–“
“Tidak ingin ikut mati?” Ethan memotong.
Celeste memiringkan kepala, tersenyum tipis. “Begitulah.”
Sebelum Ethan sempat menekan lebih jauh, suara panggilan dari arah belakang memotong momen itu.
“Nona Morel?”
Seorang pegawai bank memanggilnya.
“Manajemen minta tanda tangan Anda.”
Celeste mengangguk, lalu menatap Ethan sekali lagi. Tatapan itu, rumit. Seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi menahan diri.
“Hati-hati,” ucapnya pelan. “Sungguh.”
Kemudian ia pergi.
Ethan menonton punggung Celeste menjauh lagi. Langkahnya tegap, gerakannya anggun, tapi ada keraguan samar di setiap ayunan lengannya. Wanita itu bukan hanya alat dalam mesin Marcus, ia tidak tampak sekuat itu. Atau setidaknya, ia sudah mulai retak.
Ethan mengembuskan napas panjang. “Brengsek, ini makin rumit.”
Ia belum sempat berdiri saat ponselnya bergetar.
Satu nama muncul di layar. Graham.
Ethan menjawab cepat, “Ya?”
Suara Graham terdengar lebih tegang dari biasanya.
“Tuan Deighton, saya butuh waktu dua menit Anda. Anda harus mendengar ini.”
“Apa?”
“Kabar besar.” Graham menurunkan suaranya, seperti takut ada seseorang menguping meski ia sendiri ada di kantor. “Orion Blaze setuju bertemu malam ini.”
Ethan membatu. “Kau bercanda.”
“Tidak.” Graham menghela napas berat.
“Orion jarang membuka pintu untuk siapa pun. Bahkan dulu ke ayah Anda pun tidak mudah. Tapi dia bilang, dia mau bicara dengan Anda. Hanya dengan Anda saja.”
Ethan berdiri perlahan. “Di mana?”
“Gudang tua dekat pelabuhan 46. Anda tahu tempatnya.”
Ethan tahu. Tempat itu terkenal. Lokasi transaksi gelap, tawar-menawar harga darah, dan reputasi Orion sebagai pria yang tidak mengenal kata ’loyal’. Ia hanya menaati kekuatan. Siapa yang kuat, dialah yang Orion ikuti.
“Kalau aku berhasil meyakinkan dia,” Ethan bergumam, lebih ke diri sendiri. “Aku bisa dapat jaringan distribusi yang Cross Group pikir sudah mati.”
“Itu sebabnya Anda harus pergi,” tekan Graham. “Tapi hati-hati. Orion tidak suka basa-basi. Dan kalai dia merasa Anda datang dengan tangan kosong, dia–“
“Aku tahu.”
Graham melanjutkan, “Satu hal lagi. Anda harus pastikan tak ada yang mengikuti. Cross Group sedang sensitif. Gerakan Anda di bank itu, kemungkinan sudah dilaporkan pada Marcus Cross.”
Ethan menoleh instingtif ke arah lobi tempat Celeste berada tadi. “Ya. Aku sadar.”
“Jangan terlambat. Malam ini bisa menentukan segalanya,” ucap Graham.
Ethan menutup telepon dan berdiri diam selama beberapa detik. Pikirannya penuh suara, tentang Celeste Morel, pesan misterius, Marcus, Orion, ayahnya. Semuanya berputar dalam orbit yang sama, saling berbenturan.
Ia melangkah keluar dari gedung bank, disambut udara dingin dan bau hujan yang tidak pernah hilang dari kota ini.
Lampu-lampu jalan menyala redup, membiaskan warna emas di air yang menetes dari atap bangunan.
Celeste Morel.
Marcus Cross.
Orion Blaze.
Puzzle besar itu mulai bergerak, dan ia ada di tengahnya.
Ethan menatap bayangannya di genangan air di trotoar. Mata gelap, wajah letih, tapi tekad menyala lebih terang daripada lampu neon di sekelilingnya.
Malam ini, ia akan bertemu Orion Blaze.
Malam ini, ia akan menempatkan dirinya di papan permainan yang lebih besar dengan bantuan Orion.
Ethan menarik napas panjang.
“Dad, dulu ini permainanmu. Tapi sekarang, giliranku.”
Ia mulai berjalan dengan langkah pasti.
Langit Amalfi sore itu biru pucat, seperti kanvas yang pudar oleh cahaya. Angin laut berhembus pelan, membawa aroma garam dan bougainvillea liar dari sepanjang pagar Via delle Rocce. Tanpa deru mesin atau ancaman detak jam, hanya tawa anak-anak yang terdengar di udara.“Alex! Jangan lari ke situ, itu pasir basah!”“Ini seru, Mama!”“Kalau kau jatuh—” ucapan Elena terhenti karena seruan putrinya.“Ava juga basah!”Ava tertawa dengan rok berpasir dan rambut acak-acakan. Di dekatnya, Alex terpeleset saat berlari mengitari pot bunga, namun justru tertawa seolah jatuh adalah bagian dari permainan.Lucas bersedekap di teras, tersenyum pasrah. "Mereka seperti badai kecil.""Badai yang kita ciptakan sendiri," balas Elena sambil membawa handuk.Lucas menatapnya, gaun sederhana, rambut terikat asal, tanpa sisa identitas ganda masa lalu. Kini hanya ada seorang ibu dengan binar hangat dan kelelahan yang indah.“Kau kelihatan bahagia.”“Mungkin kau lupa, aku tidak lagi bangun dengan rasa takut.”L
Pagi hari di musim semi yang cerah, Lucas bersandar di ambang pintu ruang kerja, menggendong Ava yang sedang mengunyah mainan karet, dan Alex yang merangkak di lantai, mengejar bola kecil.“Lucas, apa kamu yakin jumlah dana ini tidak terlalu besar?” tanya Elena.Ia berdiri di depan meja kerjanya, jari-jarinya melayang di atas trackpad laptop. Layar menampilkan grafik donasi yang terhubung ke beberapa yayasan pendidikan dan panti asuhan di berbagai negara.Lucas tersenyum tipis. “Dulu kita menggerakkan uang untuk menjatuhkan sistem. Sekarang kita menggerakkannya untuk menyelamatkan sistem.”Elena menoleh. “Itu bukan jawaban.”Lucas melangkah mendekat. “Tidak ada yang namanya terlalu besar kalau tujuannya supaya tidak ada anak yang tidur kelaparan.”Elena terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Kadang aku lupa kita sekarang bisa melakukan sesuatu tanpa harus sembunyi.”Lucas menatap ruang kerja itu. Dulu ruangan ini penuh layar gelap, peta satelit, dan kabel-kabel enkripsi. Seka
Satu tahun bergulir, membawa tawa serta bahagia dalam prosesnya. Tak ada satu hari pun di mana Lucas dan Elena sempat mengeluh. Perkembangan pesat dari kedua buah hati mereka telah mengusir rasa penat yang sulit singgah lama.Pagi itu, Lucas sedang berperan menjadi tukang kayu. Sementara istrinya, setia menjadi juri untuk menilai hasil karyanya.“Lucas, jangan bilang kau salah pasang lagi.”Elena berdiri di ambang pintu taman, tangan kirinya memegang loyang kue vanila, dan tangan kanannya menunjuk ke arah suaminya yang sedang berjongkok di tengah rumput, dikelilingi oleh potongan kayu, baut kecil, dan sebuah kursi kuda-kudaan setengah jadi.Hari ini, mereka mengadakan perayaan satu tahun usia Alex dan Ava.Lucas menoleh padanya dengan wajah serius. “Aku tidak salah pasang. Aku hanya merakit dengan pendekatan alternatif,” ia mengelak.Elena menaikan alisnya. “Pendekatan alternatif itu maksudnya kepalanya terbalik?”Lucas pun menatap mainan itu, lalu menatap Elena dengan tampang polosny
Waktu berlalu dengan cepat di Via delle Rocce. Kini, si kembar yang diberi nama Alex dan Ava sudah mulai belajar merangkak dan mengeksplorasi setiap sudut rumah yang telah dilapisi karpet tebal oleh sang ayah, Lucas.Di ruang tamu, Elena mengedarkan pandangannya yang tertuju pada seluruh lantai. Melihat semua hasil karya suaminya itu, ia menghela napas pasrah.“Lucas, kalau kau memasang satu karpet lagi, rumah ini akan berubah menjadi lapangan senam bayi,” katanya setengah menggoda. Di hadapannya, Alex sedang merangkak dengan kecepatan mencurigakan, sementara Ava mencoba menirunya tapi malah terguling pelan ke samping, lalu tertawa sendiri. Begitu menggemaskan, membuat hari-hari Elena terasa hangat.Lucas sedang berlutut di lantai, masih saja sibuk menempelkan satu karpet tambahan di dekat rak buku. “Kau terlambat, sayang. Lantai ini keras, kalau mereka jatuh—”“Mereka jatuh dari ketinggian sepuluh sentimeter, Ayah,” potong Elena gemas.Lucas menoleh sambil memasang wajah serius. “Se
Dua hari pasca kelahiran dari dua cahaya kehidupan bagi Lucas dan Elena, Via delle Rocce kini sepenuh berbeda.Dua bayi mungil itu mengubah ritme yang dijalani oleh kedua orang tuanya menjadi lebih ramai dan penuh warna. Kadang tawa, kadang harus berbisik, bukan karena waspada, melainkan suara bising sedikit saja bisa menyebabkan tangisan kencang.Kesibukan keduanya pun melebihi saat berada dalam misi masa lalu, bahkan Lucas harus bekerja dengan sentuhan ekstra lembut sekaligus cekatan dalam waktu yang bersamaan. Hanya karena takut sentuhan tangan besarnya itu dapat menyakiti kulit bayi-bayinya yang masih sangat rentan.“Lucas, yang ini sudah sendawa belum?” tanya Elena.Suaranya terdengar dari arah sofa, pelan tapi mengandung nada waspada khas ibu baru. Ia belum pulih sepenuhnya, namun bersikeras ingin mengurus anak-anaknya. Tetap saja, aturan ketat dari Lucas tidak boleh dilanggar.Di lengan Elena, bayi perempuan mereka terlelap damai, wajahnya merah muda, lebih mirip Lucas versi ga
Lucas mengemudikan mobilnya dengan penuh perhitungan, fokusnya seperti sedang dikejar oleh prajurit bayaran.“Lucas, jangan mengebut, tapi jangan pelan juga.”Suara Elena terdengar terputus-putus, bercampur antara tawa gugup dan napas yang sudah tidak beraturan. Tangannya mencengkeram sabuk pengaman, sementara satu tangan lain menggenggam lengan Lucas seolah itu satu-satunya jangkar di dunia.Lucas melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan berkelok yang turun dari Amalfi menuju Napoli. Lampu-lampu kota masih tampak jauh dari mereka, tapi laut gelap di sebelah kanan seperti bayangan yang terus mengikuti mereka.“Aku akan membawa kita secepat mungkin tanpa membuatmu pingsan,” katanya, suaranya tenang tapi rahangnya mengeras. “Tarik napasmu, kau harus tenang. Ikuti aku.”Elena mengangguk, meski wajahnya pucat. “Aku benci bagian ini, Lucas.”“Kau tidak sendirian di bagian mana pun,” jawab Lucas cepat. “Dengarkan napasku.”Ia menarik napas dalam-dalam, sengaja membuatnya terdengar. Elen







