Beranda / Romansa / Belenggu Hasrat Dendam Membara / BAB 50 PERTEMPURAN DI POROS VENTILASI

Share

BAB 50 PERTEMPURAN DI POROS VENTILASI

Penulis: Michaella Kim
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-19 14:05:39

Celeste masih mengacungkan senjata milik Calem. Namun, kedua tangannya terlalu gemetar untuk bisa menarik pelatuknya.

“Sial, ayolah Celeste!” bisiknya pelan, bahkan bibirnya ikut bergetar.

Calem memperhatikan cara tangan Celeste yang gemetar saat memegang pistol. Melihat keraguan dalam sepersekian detik itu, Calem tahu satu hal, bahwa Celeste tidak akan memilih untuk menjadi pembunuh.

“Lihat dirimu,” katanya pelan, namun suaranya menggema di poros ventilasi yang tinggi dan sempit itu. “Kau bukan pembunuh, Celeste. Kau tidak pernah jadi apa pun selain milik Marcus Cross.”

Sambil berucap, tangan Calem bergerak perlahan ke sisi pinggang. Ingin meraih pistol cadangan.

Ethan melihatnya meskipun samar, lalu berteriak, “Jangan coba-coba, Calem!”

Ia pun menembak lebih dulu, sebelum Calem berhasil mengacungkan senjata itu ke arah Celeste.

Peluru Ethan berhasil menghantam kaki Calem, menembus dagingnya. Darahnya pun memercik ke dinding baja, membuat Calem menggeram keras dan tubuhnya terhuyung,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 70 SERANGAN BALIK DEIGHTON & MILES

    Berbekal bukti transaksi ilegal temuan Celeste, Ethan mengambil langkah berani. Pagi itu, ia terbang sendirian ke pusat finansial untuk menemui pengacara utama Valentin Volkov, sementara Celeste memantau pergerakan data dari jarak jauh.“Kalau aku terlambat mengangkat telepon, itu berarti rapat sudah dimulai.” Suara Ethan terdengar rendah dan terkendali dari balik earpiece.Pantulan cahaya bandara di layar laptop menandakan Ethan sudah jauh dari rumah pesisir mereka. Sambil terus mengetik, Celeste bersandar di kursinya.“Jalur komunikasi aman. Aku sudah masuk ke server firma hukum mereka,” lapornya.“Kau yakin soal dokumen itu?” tanya Ethan pelan.“Sangat yakin,” sahut Celeste tegas. “Transaksi dua tahun lalu itu bukan eror teknis. Volkov menyuap regulator untuk membungkam audit internal. Jika ini bocor, reputasinya runtuh dalam semalam.” Nada suaranya penuh kemenangan.Ethan tersen

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 69 PERANG DI BALIK MEJA

    Gerimis tipis di pesisir siang itu tampak seperti tirai abu-abu yang perlahan menutup langit. Di dalam ruang kerja rumah kayu yang menghadap laut, Celeste terpaku di depan laptop. Layarnya dipenuhi barisan teks hukum yang kaku, kontras dengan isi kepalanya yang riuh di tengah kesunyian yang mencekam.Sebuah notifikasi muncul tiba-tiba, amplop digital berlogo firma hukum raksasa di Zurich. Meski bahasanya sangat formal dan sioan, Celeste tahu itu adalah ancaman. Ia membaca baris demi baris dengan napas tertahan, menyadari bahwa ketenangan hidupnya baru saja berakhir.“Dia akhirnya memulainya,” ucap Celeste datar, suaranya tertahan.Ethan yang berdiri di dekat jendela menoleh cepat. “Lewat jalur resmi?”Celeste mengangguk. “Gugatan perdata. Dia mengklaim kepemilikan tiga aset yayasan, termasuk Maggie’s House. Alasannya karena kontrak lama dibuat atas nama perusahaan cangkang Cross Group,” urainya.

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 68 CETAK BIRU MASA DEPAN

    Akhir pekan ini menjadi jeda bagi Ethan dan Celeste. Pengalaman menghadapi Marcus dan Calem telah mendewasakan strategi mereka, namun kini alarm bahaya baru dari sosok asing mulai membayangi ketenangan itu.Di beranda Celeste duduk termangu dengan sweater krem dan rambut yang masih setengah acak. Sepiring roti panggang dan buah di depannya hanya disentuh setengah sekilas, tatapannya kosong, tersesat dalam kecemasan yang tertunda.Ethan menghampiri, membawa dua cangkir kopi. Ia hanya mengenakan kaos polos dan celana rumah, tampak jauh dari sosok pria yang dulu selalu siap dengan perlengkapan taktis di pinggangnya. Perlahan, ia meletakkan satu cangkir di depan Celeste.“Kau tidak makan,” katanya ringan.Celeste menoleh, tersenyum kecil. “Aku menikmati pemandangannya dulu,” ujarnya.Ethan duduk di seberangnya. “Laut tidak akan kabur,” tegurnya.“Justru itu,” jawab Celeste pelan.

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 67 JEJAK DIGITAL YANG TERSISA

    Pagi di kota pesisir selalu hidup oleh pekik camar yang bersahutan, deru mesin kapal nelayan, dan langkah-langkah manusia yang memulai kembali hidup mereka.Pekerjaan Ethan dan Celeste pun dimulai. Kantor kecil Deighton & Miles kini berdiri di sudut jalan yang tenang. Sebuah bangunan putih gading berlantai dua dengan jendela besar yang menghadap langsung ke pelabuhan.Tidak ada papan nama yang mencolok, hanya plakat logam sederhana di samping pintu bertuliskan, “Deighton & Miles — Security & Risk Advisory”.Di dalam ruang rapat, aroma kopi segar berpadu dengan wangi kayu baru. Meski belum sepenuhnya rampung, ruangan itu sudah terasa hidup.Ethan berdiri di dekat papan tulis, mengenakan kemeja gelap dengan lengan digulung. Beberapa berkas terbuka di tangannya. Di hadapannya duduk tiga orang pria, para mantan anggota militer dengan rekam jejak bersih, tatapan tajam, dan sikap tenang.Ethan berkata dengan lugas, “Di

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 66 DUA GELAS DAN CAHAYA BULAN

    Malam turun perlahan di rumah pesisir itu, seolah enggan mengganggu ketenangan yang baru saja mereka raih. Lampu-lampu kota di kejauhan berpendar lembut, memantul di permukaan laut yang tenang. Angin laut berhembus membawa sisa hangat matahari sore, menyusup ke balkon lantai dua tempat Ethan dan Celeste duduk berdampingan.Setelah hiruk pikuk pesta pembukaan yayasan berakhir, kini keduanya mendapatkan kembali ketenangan bersama.Tidak ada musik yang terdengar, dan tidak ada tamu yang tersisa.Hanya dua gelas kaca di atas meja kayu kecil, suara jangkrik yang bersahutan, dan bulan separuh yang menggantung rendah di langit.Ethan datang dari dalam sambil membawa sebotol anggur, lalu menuangkannya ke masing-masing gelas bergantian.Ia mengangkat gelasnya, memutar cairan keemasan di dalamnya, lalu tersenyum kecil, senyum yang dulu jarang sekali muncul di wajahnya.“Aku masih belum terbiasa,” katanya pelan.Kemudian member

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 65 BUNGA LAVENDER UNTUK MAGGIE

    Langit pagi itu biru cerah, seolah alam akhirnya berdamai setelah badai panjang. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma garam dan wangi kayu basah dari bangunan baru di ujung bukit.Di depannya, sebuah plakat kayu sederhana berdiri tanpa kemewahan. Namun, sangat besar artinya.“Maggie’s House Shelter & Hope Center”Anak-anak berlarian kecil, sebagian menggenggam tangan para pengasuh, sebagian lain menatap sekeliling dengan rasa ingin tahu yang polos. Tidak ada kamera berlebihan. Tidak ada karpet merah. Hanya tawa kecil, balon kertas, dan pita biru yang siap dipotong.Celeste berdiri di sisi panggung kecil, menarik napas dalam-dalam.“Kau baik-baik saja?” bisik Ethan di sampingnya.Celeste menoleh. Hari itu ia mengenakan gaun sederhana berwarna gading, rambutnya disanggul longgar.“Aku gugup,” akunya jujur. Kedua tangannya saling menggenggam erat.Ethan tersenyum tulus, kemudian

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status