LOGINLangit pagi itu biru cerah, seolah alam akhirnya berdamai setelah badai panjang. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma garam dan wangi kayu basah dari bangunan baru di ujung bukit.
Di depannya, sebuah plakat kayu sederhana berdiri tanpa kemewahan. Namun, sangat besar artinya.
“Maggie’s House Shelter & Hope Center”
Anak-anak berlarian kecil, sebagian menggenggam tangan para pengasuh, sebagian lain menatap sekeliling dengan rasa ingin tahu yang polos. Tidak ada kamera berlebihan. Tidak ada karpet merah. Hanya tawa kecil, balon kertas, dan pita biru yang siap dipotong.
Celeste berdiri di sisi panggung kecil, menarik napas dalam-dalam.
“Kau baik-baik saja?” bisik Ethan di sampingnya.
Celeste menoleh. Hari itu ia mengenakan gaun sederhana berwarna gading, rambutnya disanggul longgar.
“Aku gugup,” akunya jujur. Kedua tangannya saling menggenggam erat.
Ethan tersenyum tulus, kemudian
Akhir pekan ini menjadi jeda bagi Ethan dan Celeste. Pengalaman menghadapi Marcus dan Calem telah mendewasakan strategi mereka, namun kini alarm bahaya baru dari sosok asing mulai membayangi ketenangan itu.Di beranda Celeste duduk termangu dengan sweater krem dan rambut yang masih setengah acak. Sepiring roti panggang dan buah di depannya hanya disentuh setengah sekilas, tatapannya kosong, tersesat dalam kecemasan yang tertunda.Ethan menghampiri, membawa dua cangkir kopi. Ia hanya mengenakan kaos polos dan celana rumah, tampak jauh dari sosok pria yang dulu selalu siap dengan perlengkapan taktis di pinggangnya. Perlahan, ia meletakkan satu cangkir di depan Celeste.“Kau tidak makan,” katanya ringan.Celeste menoleh, tersenyum kecil. “Aku menikmati pemandangannya dulu,” ujarnya.Ethan duduk di seberangnya. “Laut tidak akan kabur,” tegurnya.“Justru itu,” jawab Celeste pelan.
Pagi di kota pesisir selalu hidup oleh pekik camar yang bersahutan, deru mesin kapal nelayan, dan langkah-langkah manusia yang memulai kembali hidup mereka.Pekerjaan Ethan dan Celeste pun dimulai. Kantor kecil Deighton & Miles kini berdiri di sudut jalan yang tenang. Sebuah bangunan putih gading berlantai dua dengan jendela besar yang menghadap langsung ke pelabuhan.Tidak ada papan nama yang mencolok, hanya plakat logam sederhana di samping pintu bertuliskan, “Deighton & Miles — Security & Risk Advisory”.Di dalam ruang rapat, aroma kopi segar berpadu dengan wangi kayu baru. Meski belum sepenuhnya rampung, ruangan itu sudah terasa hidup.Ethan berdiri di dekat papan tulis, mengenakan kemeja gelap dengan lengan digulung. Beberapa berkas terbuka di tangannya. Di hadapannya duduk tiga orang pria, para mantan anggota militer dengan rekam jejak bersih, tatapan tajam, dan sikap tenang.Ethan berkata dengan lugas, “Di
Malam turun perlahan di rumah pesisir itu, seolah enggan mengganggu ketenangan yang baru saja mereka raih. Lampu-lampu kota di kejauhan berpendar lembut, memantul di permukaan laut yang tenang. Angin laut berhembus membawa sisa hangat matahari sore, menyusup ke balkon lantai dua tempat Ethan dan Celeste duduk berdampingan.Setelah hiruk pikuk pesta pembukaan yayasan berakhir, kini keduanya mendapatkan kembali ketenangan bersama.Tidak ada musik yang terdengar, dan tidak ada tamu yang tersisa.Hanya dua gelas kaca di atas meja kayu kecil, suara jangkrik yang bersahutan, dan bulan separuh yang menggantung rendah di langit.Ethan datang dari dalam sambil membawa sebotol anggur, lalu menuangkannya ke masing-masing gelas bergantian.Ia mengangkat gelasnya, memutar cairan keemasan di dalamnya, lalu tersenyum kecil, senyum yang dulu jarang sekali muncul di wajahnya.“Aku masih belum terbiasa,” katanya pelan.Kemudian member
Langit pagi itu biru cerah, seolah alam akhirnya berdamai setelah badai panjang. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma garam dan wangi kayu basah dari bangunan baru di ujung bukit.Di depannya, sebuah plakat kayu sederhana berdiri tanpa kemewahan. Namun, sangat besar artinya.“Maggie’s House Shelter & Hope Center”Anak-anak berlarian kecil, sebagian menggenggam tangan para pengasuh, sebagian lain menatap sekeliling dengan rasa ingin tahu yang polos. Tidak ada kamera berlebihan. Tidak ada karpet merah. Hanya tawa kecil, balon kertas, dan pita biru yang siap dipotong.Celeste berdiri di sisi panggung kecil, menarik napas dalam-dalam.“Kau baik-baik saja?” bisik Ethan di sampingnya.Celeste menoleh. Hari itu ia mengenakan gaun sederhana berwarna gading, rambutnya disanggul longgar.“Aku gugup,” akunya jujur. Kedua tangannya saling menggenggam erat.Ethan tersenyum tulus, kemudian
Siang hari setelah penangkapan Calem Ward datang dengan sunyi yang aneh. Namun bukan sunyi yang menekan, melainkan sunyi yang akhirnya terasa aman. Kabut tipis masih menggantung rendah di antara pohon-pohon pinus di sana, tapi garis polisi yang beberapa saat lalu membentang membelah hutan kini sudah dilepas satu per satu. Jejak kaki, sisa kabel sensor, dan bekas ledakan kecil perlahan dibersihkan oleh tim Orion bersama pihak berwenang lokal.Dalam waktu singkat, semuanya kembali bersih tanpa ada sisa untuk menjadi bukti bahwa pernah terjadi pertarungan sengit antara Ethan dan Calem.Di teras rumah pesisir itu, Ethan tengah berdiri dengan secangkir kopi yang sudah dingin di tangannya. Ia memperhatikan laut yang tenang, ombak kecil yang memecah menghantam perlahan di bebatuan. Akhirnya setelah berhasil menumbangkan calem Ward, tubuhnya tidak berada dalam posisi siaga lagi. Ethan tidak menyesali keputusannya untuk tidak jadi membunuh, mengalahkan musuh tidak harus hanya dengan cara menc
Lingkaran api yang berderak di sekeliling mereka memantulkan cahaya jingga ke batang-batang pinus yang menjulang seperti saksi bisu. Udara berbau hangus dan resin terbakar, bercampur dengan kabut tipis yang belum sepenuhnya terangkat oleh matahari pagi.Di tengah arena itu, hanya ada dua orang pria, dua sisa masa lalu yang menolak mati.Calem Ward berdiri terengah, dengan dada yang bergerak naik turun cepat. Matanya merah, bukan karena asap, melainkan karena amarah yang sudah lama membusuk. Di tangannya, pisau taktis berkilat tergenggam erat, bilahnya berkilau karena menangkap pantulan cahaya api yang berkobar di sekelilingnya.Ethan melangkah maju dari balik asap tersebut, dengan gerakan tenang, tidak tergesa, dan jelas tidak ragu sama sekali.Calem langsung mendapati keberadaannya dan segera mendesis. “Kau tahu,” ujar Calem dengan tawa pendek yang patah. “Aku telah membayangkan momen ini berkali-kali. Tapi tidak pernah terpikir kau akan begitu tenang. Benarkah kau tenang, Deighton?







