Beranda / Mafia / Belenggu Membara Sang Penguasa / 7 > Pria yang Menjagaku

Share

7 > Pria yang Menjagaku

Penulis: Li Pena
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-27 16:00:02

Malam hari...

Malam ini Livia duduk di tepi ranjang. Ia memeluk lututnya sambil menatap bayangannya sendiri di cermin.

Wajahnya tampak utuh. Tapi bagian dalamnya terasa compang-camping. Lalu ia berdiri, berjalan mondar-mandir.

Udara di kamar itu terasa pengap. Pikirannya berkecamuk, memutar ulang kata-kata pria di restoran tadi, tatapan orang-orang asing, dan satu hal yang paling mengganggu-cara Raka berdiri di depannya, seperti dunia cuma punya satu poros, yaitu dirinya.

Ketukan lagi-lagi terdengar. Namun kali hanya terdengar satu kali.

"Masuk," ucap Livia tanpa menoleh.

Raka muncul di ambang pintu. Kali ini tanpa jas, kemeja hitamnya terbuka satu kancing menunjukkan dada bidangnya. malam ini ia tampak lebih manusiawi dalam cahaya redup, namun tak menutup aura berbahayanya.

"Kamu belum tidur," katanya.

"Kelihatannya," timpal Livia, ketus. Ia kembali duduk.

Raka pun masuk dan menutup pintu. "Setelah hari ini, itu normal."

"Normal versi kamu aneh," sahut Livia.

Raka menyandarkan tubuh ke dinding. "Kamu ketakutan." ucapnya lembut.

"Selamat. Kamu jenius."

"Aku serius, Nona Arion." Ia memasang wajah yang serius.

Livia mendongak, dan menatap pria itu. "Kenapa kamu ke sini?" tanya Livia akhirnya.

"Buat pastiin kamu masih di kamar."

"Dan kalau aku nggak?"

Raka menatapnya tajam. "Aku bakal nyari." jawab Raka, cepat.

Nada suaranya datar, tapi ancamannya begitu nyata. Livia menelan ludah setelah mendengar ucapan pria itu.

"Kenapa mereka tahu namaku?" tanyanya pelan.

"Karena Arion nggak pernah mati sepenuhnya," jawab Raka. "Musuh ayahmu masih hidup."

"Dan mereka pengen balas dendam lewat aku."

"Iya."

"Terus kamu?" Livia berdiri. "Kamu masuk ke hidupku bukan buat nolong. Tapi buat nutup lubang masalahmu sendiri, 'kan?" Ia menatap tajam kedua mata pria itu.

Raka tidak menyangkalnya. Dan itu yang membuat dada Livia makin sesak.

"Aku nggak bohong," kata Raka akhirnya. "Tapi aku juga nggak ninggalin kamu."

"Itu kedengerannya egois." timpal Livia, ketus.

"Aku emang egois."

Livia tertawa pendek, getir. "Gila. Kamu ngomong kayak gini tanpa rasa bersalah." sambarnya sambil menggelengkan kepalanya.

"Rasa bersalah hanya bikin orang mati." tegasnya.

Ia mendekat satu langkah, hingga jarak mereka pun menyempit. Bahkan Livia bisa mencium aroma khas Raka yang begitu tajam, maskulin, dan menenangkan dengan cara yang salah.

"Kamu bikin aku takut," kata Livia lirih. Ia meremas jemarinya sendiri.

"Bagus, itu artinya takut bikin kamu nurut." Raka menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.

"Aku bukan anjingmu." bantah Livia, kesal.

Raka melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di depannya. "Nggak. Kamu jauh lebih berharga." bisiknya di telinga Livia, sehingga gadis itu dapat merasakan nafasnya pria itu.

Kalimat itu terasa seperti jeratan.

Livia memalingkan wajah. "Keluar." ucapnya datar.

Raka tidak bergerak, meski ia diusir oleh Livia. "Kamu aman malam ini."

"Aku bilang keluar!" bentaknya, kesal.

Hening menggantung.

Dan setelah beberapa detik, Raka berbalik menuju pintu. "Liv," katanya tanpa menoleh, "jangan bikin aku nyesel ngejagain kamu." ucapnya, lembut.

Pintu tertutup.

Livia terduduk lemas. Yang paling menakutkan bukan ancaman Raka. Tapi fakta bahwa sebagian dirinya ingin ia kembali.

***

Pagi ini Livia turun ke halaman belakang, ia mengenakan jaket tipis. Udara masih basah oleh embun. Gadis itu butuh ruang. Butuh napas tanpa tatapan pengawas.

Namun, ia tidak menyadari kalau Raka sudah ada di sana, sedang berlatih. Pukulan demi pukulan mendarat ke samsak hitam, keras, terukur, penuh amarah yang tertahan. Keringat membasahi pelipisnya.

"Kamu selalu mukul benda mati?" tanya Livia, refleks ketika melihat pria itu sedang berlatih.

Raka berhenti. "Kadang." jawabnya singkat.

"Kenapa nggak orang?" tanya Livia, penasaran.

"Karena yang pantas aku hajar belum muncul."

Livia mendekat beberapa langkah. "Atau kamu takut kebablasan?" cibir Livia dengan sedikit mengejek.

Raka menatapnya. "Kamu nyari masalah pagi buta begini?"

"Enggak. Aku nyari jawaban." timpal Livia dengan nada mengejek.

"Jawaban jarang ramah."

Livia berdiri tepat di depannya. "Sampai kapan?"

Raka mengangkat alis. "Sampai kapan apa?"

"Sampai aku bisa pergi."

Raka menghela napas. "Kamu nggak ngerti, Liv."

"Jelasin." tegasnya.

"Kalau kamu keluar sekarang, kamu mati."

"Dan kalau aku di sini?"

"Kamu hidup."

"Tapi bukan bebas, 'kan." Ia tersenyum getir.

Raka terdiam sesaat. "Kebebasan itu hanya ilusi."

"Bullshit." Ia memalingkan wajahnya.

Raka melangkah lebih dekat. Lalu ia memegang bahu gadis itu disertai tatapan yang begitu lekat.

"Aku ngurung kamu biar kamu napas besok."

Livia menatapnya, matanya berkilat marah. "Tapi kamu menikmatinya? Karena kamu ngerasa punya kendali."

"Kontrol itu perlu."

Livia menggelengkan kepalanya. "Atau mungkin kamu takut kehilangan aku?" sambar Livia dengan pertanyaan.

Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari tuduhan mana pun. Raka membeku sepersekian detik.

"Aku nggak takut," katanya akhirnya.

"Kamu bohong."

Raka menunduk, suara rendah. "Kalau aku bohong, kamu nggak akan berdiri di sini."

Livia tertawa hambar. "Atau mungkin aku cuma pion yang belum kamu buang."

Raka mencengkeram pergelangan tangan Livia, keras tapi terkontrol. "Jangan ucapin itu!" bentaknya penuh emosi.

"Kenapa? Kena?" ejeknya sembari tersenyum kecil.

Tatapan Raka menggelap. "Aku benci kamu ngeremehin dirimu sendiri." jelas Raka dengan jujur.

"Lucu," sahut Livia. "Padahal kamu yang bikin aku ngerasa kayak properti."

Kini hening menyergap mereka. Nafas mereka saling bersinggungan.

"Lepasin," kata Livia pelan.

Raka mengendurkan cengkeramannya, tapi tidak menjauh. "Aku bakal ngajarin kamu caranya bertahan."

"Aku nggak minta." tolak Livia, cepat.

"Kamu butuh."

Livia menatapnya lama. "Kalau suatu hari aku lari?"

Raka mendekat, suaranya dingin. "Akan aku kejar."

"Dan kalau aku benci kamu?"

"Aku tahan."

"Kalau aku jatuh cinta?"

Raka terdiam. Untuk pertama kalinya, Livia melihat retakan di wajahnya.

"Jangan," kata Raka lirih.

Jawaban itu lebih menakutkan dari ancaman mana pun. Livia melangkah mundur.

"Kamu udah terlambat." Livia tersenyum kecil.

Kemudian ia berbalik pergi, meninggalkan Raka yang masih berdiri sendiri di halaman yang sunyi.

Sementara itu, Raka mengepalkan tangan. Karena ia tahu, bahwa retakan itu nyata. Dan Livia Althea Arion bukan lagi sekadar target

***

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    39 > Sisa Yang Tak Bisa Dikubur

    Pintu ICU tertutup perlahan. Bunyi itu cukup pelan. Terlalu pelan untuk sesuatu yang barusan merenggut separuh dunia Livia. Lampu merah di atas pintu menyala stabil, dingin, seolah tidak peduli pada darah yang masih mengering di tangan wanita itu.Livia berdiri terpaku dengan tubuhnya yang basah. Rambut hitamnya menggumpal di leher dan punggung, gaun gelapnya berat oleh air dan noda merah yang belum sempat ia sadari. Tangannya masih gemetar, jari-jarinya kaku, seolah lupa bagaimana cara melepaskan sesuatu.Sementara di balik pintu itu, Raka bertarung sendirian. Dan ia… tidak bisa ikut menemani pria yang ia cintai. "Duduk, Liv," ucap Maya pada wanita yang tak ingin terlihat rapuh itu.Suara Maya terdengar dekat. Lebih lembut dari biasanya. Namun Livia tetap tidak menoleh. Matanya masih setia menatap lantai putih rumah sakit yang memantulkan cahaya pucat. Pantulan bayangannya terlihat cukup asing. Ia tampak kurus, rapuh, seperti versi dirinya yang belum sempat ia kenali. "Aku baik-bai

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    38 > Titik Balik

    "DOR!"Suara tembakan itu memecah dunia. Bukan kerasnya yang paling menyakitkan, tapi sunyi yang menyusul setelahnya. Sunyi yang terlalu cepat. Terlalu kosong.Livia merasa tubuhnya kehilangan berat. Seolah hujan tak lagi jatuh ke tanah, tapi langsung ke dadanya, seolah menghantam jantungnya berkali-kali. Udara tersedak di tenggorokannya. Dunia berputar, lampu helipad melebur jadi garis-garis cahaya yang goyah."Raka!" teriaknya. Nama itu keluar dari mulutnya seperti jeritan yang terlambat. Suaranya pecah di tengah hujan, tenggelam di antara langkah-langkah panik dan teriakan yang tak lagi ia dengar dengan utuh. Ia berlari.Langkahnya terpeleset, sepatu basah menghantam lantai dingin, tapi ia tak peduli. Gaun gelapnya terseret air, rambut hitamnya menempel di wajah pucat yang kini tak lagi menyimpan amarah... hanya ketakutan. Tubuh Raka tergeletak di dekat pintu lorong ICU.Tubuhnya mengeluarkan darah. Terlalu jelas dan bahkan terlalu nyata.Livia berlutut, tangannya gemetar saat me

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    37 > Wajah Dari Masa Lalu

    Hujan masih jatuh, tapi tak lagi terdengar oleh Livia. Dunia seolah menyempit pada satu titik... pria yang berdiri di bawah lampu darurat helipad itu. Tubuhnya tinggi, tegap, bahu lebar dibungkus mantel gelap yang basah. Rambutnya hitam dengan gurat abu tipis di pelipis, wajahnya tegas dengan rahang keras yang dulu sering muncul dalam foto-foto lama… foto yang sudah ia bakar sendiri bertahun-tahun lalu.Matanya. Mata itu tak berubah sama sekali. Hitam, tenang, dan ia terlalu mengenalnya."Livia," panggil pria itu lagi, kali ini suaranya lebih rendah, stabil, seolah mereka hanya bertemu setelah makan malam biasa. "Kamu kelihatan… lebih dewasa."Nafas Livia tercekat. Dadanya naik turun. Air hujan mengalir di sepanjang wajahnya, bercampur dengan sesuatu yang asin... ia tak yakin apakah itu hujan atau ingatan yang bocor begitu saja."Itu nggak mungkin," gumamnya pada dirinya sendiri. Suaranya serak. "Kamu sudah lama mati."Mendengarnya, pria

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    36 > Saat Segalanya Dipertaruhkan

    Hujan turun makin kejam, menghantam atap rumah sakit dan helipad dengan suara keras, seolah langit ikut murka. Angin memutar baling-baling helikopter yang masih melayang rendah, membuat udara bergetar dan rambut Livia berkibar liar di wajahnya. Gaun hitamnya menempel di tubuh ramping itu, memperjelas bahu tegas dan tulang selangka yang kini basah, dingin, tapi tak goyah.Lampu kota di kejauhan padam sebagian.Gelap menjalar seperti penyakit, menelan satu demi satu wilayah. Kekacauan yang ia lepaskan kini hidup, bernapas, dan bergerak.Damar mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya, senyum tenangnya retak. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol. Pria itu masih berdiri tegap, tapi matanya tak lagi penuh kendali."Kamu gila," katanya, suaranya tenggelam oleh deru angin.Livia berdiri diam. Wajahnya pucat, tapi matanya hitam pekat, berkilat oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari amarah. Keyakinan. Keputusan yang sudah dibuat dan tak

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    35 > Di Antara Hidup Dan Perang

    Bau antiseptik bercampur darah basah menyergap hidung, begitu Livia melangkah masuk. Lorong rumah sakit itu terlalu terang, dengan lampu putihnya yang kejam serta memantulkan wajah-wajah tegang, epatu yang berlari, dan genangan air hujan yang menetes dari ujung mantel hitamnya. Gaunnya menempel di tubuh rampingnya, basah dan robek, memperlihatkan kulit pucat di betis dan pergelangan. Rambut hitamnya yang panjang kini luruh menempel di leher, tapi langkahnya tetap tegak. Tidak ragu. Tidak goyah.Monitor jantung berbunyi dari segala arah. bip… bip… bip…Ritme itu cukup menusuk kepala.Maya berjalan setengah langkah di belakangnya. Ia mengenakan jaket hitam dengan bahu tegap, dan mata awas. Tangannya sudah di dekat pinggang, siap untuk menyerang kapan saja."Mereka sengaja bikin rumah sakit ini sibuk, dengan ambulans keluar-masuk, keamanan lengah," ucap Maya, pelan. Livia tidak menjawab. Namun matanya menyapu papan digit

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    34 > Saat Dunia Tak Lagi Diam

    Ledakan itu tidak hanya mengguncang tanah... namun ia juga merobek malam. Gelombang panas menyapu gudang, membuat udara mendesis. Dinding besi bergetar keras, debu runtuh dari langit-langit, dan tubuh-tubuh terhuyung oleh hentakan yang datang terlambat tapi mematikan. Lampu darurat padam total. Kali ini, bukan sekadar gelap… melainkan kegelapan yang disertai kekacauan. Livia tersandung satu langkah ke belakang. Tumit sepatu botnya nyaris tergelincir di lantai beton yang retak. Nafasnya tertahan, dadanya terasa sesak, bukan karena asap... melainkan karena satu nama yang bergaung di kepalanya.Raka."Timur...!" teriak seseorang dari luar, suaranya pecah oleh ledakan susulan.Maya refleks menarik Livia ke sisi dinding, menekan tubuhnya agar merunduk. Postur Maya pendek dan atletis, rambut pendeknya kini berantakan, wajahnya penuh jelaga tapi matanya tajam, fokus. "Ledakan itu bukan punya kita," katanya cepat. "Itu bom jarak deka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status