Beranda / Mafia / Belenggu Membara Sang Penguasa / 6 > Aku Sendirian Sekarang

Share

6 > Aku Sendirian Sekarang

Penulis: Li Pena
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-27 13:19:38

Pagi hari...

Livia terbangun dengan dada sesak, seolah udara di kamar itu terlalu berat untuk dihirup. Langit-langit putih menatapnya dingin, tak memberi jawaban apa pun atas mimpi buruk yang baru saja terputus. Ia duduk perlahan, rambutnya jatuh menutupi wajahnya, tangan gadis itu gemetar ringan.

Ini bukan kamar tapi penjara. Setiap sudut kamarnya seolah berteriak hal yang sama, bahwa kau nggak bisa ke mana-mana.

Ia melirik jam di meja kecil. Pukul enam lewat. Terlalu pagi untuk dunia yang ingin berpura-pura normal.

Meski begitu, Livia tetap bangkit, lalu berjalan tanpa alas kaki menuju jendela. Tirai tebal masih tertutup rapat. Ia menariknya sedikit-cukup untuk melihat taman rapi di luar sana. Terlihat Indah. Tenang. Namun palsu.

"Indah namun palsu," gumamnya disertai senyuman pahit.

Pintu kembali diketuk. Dua kali. Irama yang sama seperti kemarin. "Masuk," katanya dengan nada malas.

Mara muncul dengan langkah tenang, membawa nampan sarapan. Wajah wanita itu tetap datar, terlalu profesional untuk rumah yang menyimpan begitu banyak rahasia.

"Segeralah bersiap," kata Mara.

"Bersiap buat apa?" tanyanya sembari menyandarkan bahu ke jendela.

"Pergi keluar."

Livia tertawa kecil. "Keluar ke mana? Halaman depan?" ejek Livia.

"Ke kota."

Tawa Livia langsung terhenti. "Serius?" Ia langsung memasang wajah yang serius.

Mara mengangguk. "Bersama Tuan Raka."

"Kalau begitu, jawabanku tetep sama. Aku nggak mau." tolaknya mentah-mentah.

Mara meletakkan nampan di meja. "Ini bukan soal mau atau nggak."

Livia berjalan mendekati Mara. "Terus soal apa?"

"Keselamatan."

"Kedengarannya ironis," sahut Livia, sinis.

Mara menatapnya lebih lama dari biasanya. "Dunia luar mulai sadar kamu masih ada."

Dada Livia seketika menegang. "Terus mereka nyari aku?"

"Sebagian nyari kamu. Sebagian nyari Tuan Raka."

"Dan aku jalannya," timpal Livia. Ia menyimpulkan pahit.

Mara tidak menyangkal. "Hari ini cuma simbol."

"Besok?"

"Itu tergantung kamu."

Kalimat itu menggantung, berat dan menyesakkan. Livia memalingkan wajah. Ia benci bagaimana semua orang di rumah ini bicara seolah nasibnya barang yang bisa ditukar.

Setengah jam kemudian, Livia turun ke lantai bawah. Gaun sederhana membalut tubuhnya, tapi tak cukup menyembunyikan kegugupannya.

Sementara itu, Raka sudah menunggu di ruang depan dengan setelan hitamnya yang rapi, posturnya santai, tapi aura di sekitarnya selalu membuat ruangan terasa lebih sempit.

"Kamu kelihatan kayak mau kabur," kata Raka tanpa menoleh.

"Aku selalu kepikiran itu," jawab Livia.

"Bagus. Artinya kamu masih hidup."

Livia berhenti di depannya. "Kenapa aku?" tanyanya dengan memberanikan diri untuk menatap pria tampan namun berhati iblis itu.

Raka membalas tatapan gadis itu dengan tajam, dan menimbang. "Karena kamu punya nama."

"Nama yang pengen aku kubur."

"Sayangnya, nama itu masih berisik."

Livia mengepalkan tangan. "Kamu pakai aku." sentak Livia dengan sorot matanya yang tajam.

"Iya." jawabnya, dingin.

Pengakuan itu terlalu jujur. Livia terdiam sesaat sebelum berkata, "Kalau aku kenapa-kenapa?"

Raka mendekat satu langkah. "Jangan mikir sejauh itu."

"Itu bukan jawaban."

Raka membuka pintu mobil. "Itu perintah."

Perdebatan mereka berhenti, dan diakhiri dengan mereka yang langsung memasuki mobil. Dan kini mobil itu melaju meninggalkan gerbang. Livia menatap keluar jendela dengan jantung yang berdegup tak beraturan.

"Kalau hari ini aku mati," katanya tiba-tiba, "kamu bakal nyesel?"

Raka tidak langsung menjawab.

"Aku nggak nyesel," katanya akhirnya. "Tapi aku balas." sambung Raka.

***

Setelah beberapa menit kemudian, kini mereka sampai di salah satu restoran.

Restoran itu kecil dan hangat, kontras dengan ketegangan yang langsung menusuk begitu mereka masuk. Livia bisa merasakan tatapan tersembunyi dari berbagai arah. Semua orang tampak biasa. Dan itu yang paling berbahaya.

Mereka duduk di pojok. Raka bersikap santai, seolah ini cuma makan siang biasa. Namun Livia tahu itu hanyalah sandiwara.

"Tempat ini nggak aman," bisiknya pada Raka seraya menatap ke sekelilingnya.

"Tempat aman cuma kuburan," jawab Raka, datar.

Tiba-tiba seorang pria paruh baya datang dengan senyum lebar. Gerakannya santai, tapi matanya terlalu awas. Ia duduk tanpa basa-basi.

"Raka," sapanya ramah. "Lama nggak ketemu."

"Belum cukup lama," jawab Raka datar.

Pria itu tertawa, lalu menatap Livia. "Dan ini?"

"Sesuatu yang bukan urusanmu," timpal Raka, ketus.

Livia mengangkat dagu. "Aku Livia." Ia memperkenalkan dirinya tanpa disuruh.

"Arion," sambung pria itu pelan.

Napas Livia tercekat begitu ia mendengar pria itu menyebut nama ayahnya. Ia merasakan tangan Raka menegang di atas meja.

"Kamu terlalu banyak tahu," ujar Raka dingin.

"Semua orang tahu sekarang," balas pria itu. "Gadis Arion masih hidup. Dan sekarang duduk di sebelahmu," lanjutnya sambil menatap ke arah Livia.

"Pesanmu apa?" potong Raka.

"Jangan terlalu kelihatan peduli," jawabnya santai.

"Orang bakal nyerang dari situ."

Livia tertawa pendek. "Jadi, aku ini umpan." Ia lagi-lagi menyimpulkan tentang dirinya bagi Raka.

"Kenyataan nggak selalu manis, Nona Arion," kata pria itu dengan nada mengejek.

Raka berdiri tiba-tiba. Suaranya rendah tapi menggetarkan. "Kamu udah selesai."

Pria itu pun ikut berdiri. "Aku cuma ngingetin."

"Ambil ingatanmu," sahut Raka, "dan pergi sebelum aku berubah pikiran." Ia memerintahkan pria itu untuk segera pergi.

Pria itu melirik Livia sekali lagi. "Hati-hati. Dunia ini suka menghancurkan yang lemah." katanya pada Livia.

"Keluar!" bentak Raka dengan sorot matanya yang menunjukkan kekesalannya.

Pria itu akhirnya pergi. Dan begitu pria itu pergi, Livia menghembuskan napas kasar. "Kamu dengar cara dia ngomong?" tanya Livia pada Raka.

"Itu ancaman." Jawabnya datar.

"Dan kamu diem aja?"

Raka menatapnya. "Aku catat."

"Itu aja?"

"Untuk sekarang, ya."

Livia mencondongkan tubuhnya. "Kamu ngetes mereka pake aku."

"Iya."

"Gimana kalau aku mati?"

Raka mendekat. "Kalau kamu mati, mereka nggak bakal sempat ngerayain." ucapnya dengan nada rendah.

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Dan ketika dalam perjalanan pulang, Livia tak berkata apa-apa.

"Kamu takut?" tanya Raka sambil menoleh ke arah Livia.

"Takut sama dunia," jawabnya jujur. "Dan sama kamu juga." lanjutnya.

"Itu sehat."

"Kenapa nggak lepasin aku aja?"

Raka menatap lurus ke depan. "Karena mereka nggak bakal berhenti."

"Dan kamu?"

"Aku lebih kejam."

Ia menghentikan mobilnya. Kemudian ia membuka pintu, lalu menatap Livia. "Inget satu hal. Jangan nyebrang garis."

Livia mengerutkan dahinya. "Garis apa?" tanyanya, bingung.

"Garis antara takut sama percaya."

Livia turun, dan menatapnya dingin sebelum akhirnya ia berkata. "Dan kalau aku nyebrang?"

Raka mendekat, suaranya nyaris bisikan. "Aku yang bakal narik kamu balik."

Livia sadar saat itu, bahwa perlindungan Raka bukan tembok. Tapi sangkar.

***

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    39 > Sisa Yang Tak Bisa Dikubur

    Pintu ICU tertutup perlahan. Bunyi itu cukup pelan. Terlalu pelan untuk sesuatu yang barusan merenggut separuh dunia Livia. Lampu merah di atas pintu menyala stabil, dingin, seolah tidak peduli pada darah yang masih mengering di tangan wanita itu.Livia berdiri terpaku dengan tubuhnya yang basah. Rambut hitamnya menggumpal di leher dan punggung, gaun gelapnya berat oleh air dan noda merah yang belum sempat ia sadari. Tangannya masih gemetar, jari-jarinya kaku, seolah lupa bagaimana cara melepaskan sesuatu.Sementara di balik pintu itu, Raka bertarung sendirian. Dan ia… tidak bisa ikut menemani pria yang ia cintai. "Duduk, Liv," ucap Maya pada wanita yang tak ingin terlihat rapuh itu.Suara Maya terdengar dekat. Lebih lembut dari biasanya. Namun Livia tetap tidak menoleh. Matanya masih setia menatap lantai putih rumah sakit yang memantulkan cahaya pucat. Pantulan bayangannya terlihat cukup asing. Ia tampak kurus, rapuh, seperti versi dirinya yang belum sempat ia kenali. "Aku baik-bai

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    38 > Titik Balik

    "DOR!"Suara tembakan itu memecah dunia. Bukan kerasnya yang paling menyakitkan, tapi sunyi yang menyusul setelahnya. Sunyi yang terlalu cepat. Terlalu kosong.Livia merasa tubuhnya kehilangan berat. Seolah hujan tak lagi jatuh ke tanah, tapi langsung ke dadanya, seolah menghantam jantungnya berkali-kali. Udara tersedak di tenggorokannya. Dunia berputar, lampu helipad melebur jadi garis-garis cahaya yang goyah."Raka!" teriaknya. Nama itu keluar dari mulutnya seperti jeritan yang terlambat. Suaranya pecah di tengah hujan, tenggelam di antara langkah-langkah panik dan teriakan yang tak lagi ia dengar dengan utuh. Ia berlari.Langkahnya terpeleset, sepatu basah menghantam lantai dingin, tapi ia tak peduli. Gaun gelapnya terseret air, rambut hitamnya menempel di wajah pucat yang kini tak lagi menyimpan amarah... hanya ketakutan. Tubuh Raka tergeletak di dekat pintu lorong ICU.Tubuhnya mengeluarkan darah. Terlalu jelas dan bahkan terlalu nyata.Livia berlutut, tangannya gemetar saat me

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    37 > Wajah Dari Masa Lalu

    Hujan masih jatuh, tapi tak lagi terdengar oleh Livia. Dunia seolah menyempit pada satu titik... pria yang berdiri di bawah lampu darurat helipad itu. Tubuhnya tinggi, tegap, bahu lebar dibungkus mantel gelap yang basah. Rambutnya hitam dengan gurat abu tipis di pelipis, wajahnya tegas dengan rahang keras yang dulu sering muncul dalam foto-foto lama… foto yang sudah ia bakar sendiri bertahun-tahun lalu.Matanya. Mata itu tak berubah sama sekali. Hitam, tenang, dan ia terlalu mengenalnya."Livia," panggil pria itu lagi, kali ini suaranya lebih rendah, stabil, seolah mereka hanya bertemu setelah makan malam biasa. "Kamu kelihatan… lebih dewasa."Nafas Livia tercekat. Dadanya naik turun. Air hujan mengalir di sepanjang wajahnya, bercampur dengan sesuatu yang asin... ia tak yakin apakah itu hujan atau ingatan yang bocor begitu saja."Itu nggak mungkin," gumamnya pada dirinya sendiri. Suaranya serak. "Kamu sudah lama mati."Mendengarnya, pria

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    36 > Saat Segalanya Dipertaruhkan

    Hujan turun makin kejam, menghantam atap rumah sakit dan helipad dengan suara keras, seolah langit ikut murka. Angin memutar baling-baling helikopter yang masih melayang rendah, membuat udara bergetar dan rambut Livia berkibar liar di wajahnya. Gaun hitamnya menempel di tubuh ramping itu, memperjelas bahu tegas dan tulang selangka yang kini basah, dingin, tapi tak goyah.Lampu kota di kejauhan padam sebagian.Gelap menjalar seperti penyakit, menelan satu demi satu wilayah. Kekacauan yang ia lepaskan kini hidup, bernapas, dan bergerak.Damar mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya, senyum tenangnya retak. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol. Pria itu masih berdiri tegap, tapi matanya tak lagi penuh kendali."Kamu gila," katanya, suaranya tenggelam oleh deru angin.Livia berdiri diam. Wajahnya pucat, tapi matanya hitam pekat, berkilat oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari amarah. Keyakinan. Keputusan yang sudah dibuat dan tak

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    35 > Di Antara Hidup Dan Perang

    Bau antiseptik bercampur darah basah menyergap hidung, begitu Livia melangkah masuk. Lorong rumah sakit itu terlalu terang, dengan lampu putihnya yang kejam serta memantulkan wajah-wajah tegang, epatu yang berlari, dan genangan air hujan yang menetes dari ujung mantel hitamnya. Gaunnya menempel di tubuh rampingnya, basah dan robek, memperlihatkan kulit pucat di betis dan pergelangan. Rambut hitamnya yang panjang kini luruh menempel di leher, tapi langkahnya tetap tegak. Tidak ragu. Tidak goyah.Monitor jantung berbunyi dari segala arah. bip… bip… bip…Ritme itu cukup menusuk kepala.Maya berjalan setengah langkah di belakangnya. Ia mengenakan jaket hitam dengan bahu tegap, dan mata awas. Tangannya sudah di dekat pinggang, siap untuk menyerang kapan saja."Mereka sengaja bikin rumah sakit ini sibuk, dengan ambulans keluar-masuk, keamanan lengah," ucap Maya, pelan. Livia tidak menjawab. Namun matanya menyapu papan digit

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    34 > Saat Dunia Tak Lagi Diam

    Ledakan itu tidak hanya mengguncang tanah... namun ia juga merobek malam. Gelombang panas menyapu gudang, membuat udara mendesis. Dinding besi bergetar keras, debu runtuh dari langit-langit, dan tubuh-tubuh terhuyung oleh hentakan yang datang terlambat tapi mematikan. Lampu darurat padam total. Kali ini, bukan sekadar gelap… melainkan kegelapan yang disertai kekacauan. Livia tersandung satu langkah ke belakang. Tumit sepatu botnya nyaris tergelincir di lantai beton yang retak. Nafasnya tertahan, dadanya terasa sesak, bukan karena asap... melainkan karena satu nama yang bergaung di kepalanya.Raka."Timur...!" teriak seseorang dari luar, suaranya pecah oleh ledakan susulan.Maya refleks menarik Livia ke sisi dinding, menekan tubuhnya agar merunduk. Postur Maya pendek dan atletis, rambut pendeknya kini berantakan, wajahnya penuh jelaga tapi matanya tajam, fokus. "Ledakan itu bukan punya kita," katanya cepat. "Itu bom jarak deka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status