LOGINSinar matahari sore menembus jendela kafe, menyinari kepulan uap dari dua cangkir kopi yang ada di atas meja. Di sana, suasana yang beberapa hari lalu penuh ketegangan, kini perlahan mencair menjadi sebuah perbincangan yang jauh lebih manusiawi. Alex duduk berhadapan dengan Gadis, menatap wanita itu dengan sorot mata yang tak lagi tajam, melainkan penuh dengan penyesalan yang tulus. "Bagaimana kabarmu, Gadis? Maksudku... setelah hari itu," tanya Alex pelan, suaranya hampir tenggelam di antara denting sendok kafe. Gadis tersenyum tipis, sebuah senyum yang membawa keletihan namun tetap berusaha tegar. "Masih mencoba menata hidup, Alex. Aku sedang memasukkan beberapa lamaran, tapi kamu tahu sendiri... berita kemarin belum benar-benar reda. Beberapa perusahaan tampak ragu saat melihat namaku." Mendengar itu, hati Alex semakin mencelos. Ia melihat betapa besar dampak dari badai kecemburuan Nina terhadap hidup Gadis yang tidak bersalah. Keheningan sempat merayap di antara mereka, sebe
Suasana di ruang tengah semakin tegang saat notifikasi ponsel Amanda terus berbunyi. Kali ini, bukan hujatan yang muncul, melainkan rentetan pesan penuh keputusasaan dari salah satu pemilik akun yang sebelumnya paling vokal menyerang Amanda. Seorang wanita, yang dalam profilnya terlihat seperti ibu muda biasa, mengirimkan pesan panjang lebar. Ia memohon ampun dengan kata-kata yang bersimbah air mata digital. "Ibu Amanda, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya khilaf, saya hanya ikut-ikutan berkomentar tanpa berpikir panjang. Saya punya anak kecil, suami saya hanya pekerja harian. Jika saya dilaporkan, hidup saya hancur. Tolong, cabut rencana laporan itu, saya mohon dengan sangat..." Amanda menatap layar itu dengan rasa iba yang mendalam. Ia menoleh pada Rudi yang duduk di sampingnya, hendak menunjukkan pesan itu dengan harapan hati suaminya melunak. "Rudi, lihat ini... dia sudah minta maaf. Dia punya anak kecil. Mungkin kita bisa—" Tanpa sepatah kata pun, Rudi menyambar ponse
Layar ponsel itu seakan memuntahkan racun. Kolom komentar di unggahan foto maternity terbaru mereka berubah menjadi medan pertempuran verbal yang brutal. Foto yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan—menampilkan Rudi yang memeluk Amanda dengan latar estetis—kini justru menjadi bumerang yang menghantam mereka tanpa ampun. Netizen, dengan ketajaman lidah anonimitas mereka, mulai menyoroti perut Amanda yang masih tampak rata. "Hamil berapa bulan sih? Kok rata banget? Jangan-jangan cuma konten buat nutupi berita mandul kemarin?" "Drama apalagi ini? Perut karet atau bantal? Kelihatan banget settingan-nya!" "Kasihan Rudi, saking pengennya punya anak sampai harus sandiwara begini." Tudingan "hamil palsu" menyebar seperti api di atas jerami kering. Kabar miring yang diembuskan Ratna di acara arisan tempo hari kini mendapatkan validasi visual di mata publik internet yang haus akan skandal. Rudi melemparkan ponselnya ke atas meja kerja dengan dentuman keras. Wajahnya memerah, urat-ura
Warung kelontong yang semula tenang dengan obrolan ringan ibu-ibu kompleks mendadak berubah menjadi panggung drama yang memalukan. Alex, dengan rahang yang mengeras dan mata yang menyala oleh amarah murni, melangkah lebar membelah kerumunan. Ia tidak peduli lagi pada etika atau tatapan menghakimi dari tetangga-tetangganya.Tanpa sepatah kata pun, Alex menyambar pergelangan tangan Nina dengan kasar. Tas belanjaan yang dipegang Nina nyaris terjatuh saat Alex menariknya menjauh dari lingkaran sosialnya."Alex! Apa-apaan ini?! Kamu menyakitiku!" teriak Nina, wajahnya memerah antara rasa sakit dan malu karena menjadi tontonan ibu-ibu kompleks yang kini mulai berbisik-bisik.Alex tidak berhenti sampai mereka berada di sudut yang agak sepi, namun suaranya tetap meledak, bergetar oleh kemarahan yang tertahan. "Apa yang kau lakukan, Nina?! Jawab aku! Apa tujuanmu datang ke kantor Gadis dan mempermalukannya. Nina mencoba melepaskan cengkeramannya, matanya menantang Alex dengan keberanian yang
Kertas putih di tangan Gadis terasa seberat bongkahan batu. Huruf-huruf hitam yang tercetak di atasnya, kata-kata formal seperti "pemutusan hubungan kerja" dan "pelanggaran kode etik" seakan menari-nari dengan kejam, mengaburkan pandangannya yang mulai digenangi air mata.Puing-Puing Kehormatan yang RuntuhSurat itu bukan sekadar pemberitahuan pemecatan; itu adalah vonis mati bagi karier yang telah ia bangun dengan tetesan keringat, lembur yang tak terhitung, dan integritas yang selalu ia jaga. Hanya butuh satu jam bagi Nina untuk menghancurkan segalanya. Fitnah yang diteriakkan Nina di tengah kantor tempo hari telah bermetamorfosis menjadi kebenaran yang diyakini oleh perusahaan.Gadis duduk di kursi kerjanya untuk terakhir kali. Di sekelilingnya, suasana kantor terasa sangat asing. Rekan-rekan kerja yang dulu sering mengajaknya makan siang kini mendadak sibuk dengan monitor masing-masing, tak ada satu pun yang berani menatap matanya. Kesunyian itu jauh lebih menyakitkan daripada mak
Suasana di dalam mobil dalam perjalanan pulang terasa begitu mencekam, lebih dingin daripada AC yang berembus paling kencang. Namun, badai yang sesungguhnya baru meledak saat pintu gerbang rumah mewah itu tertutup rapat. Begitu kaki mereka menginjak lantai marmer ruang tamu, Margareth tidak lagi mampu membendung lahar amarah yang sudah mendidih sejak di hotel. Margareth melemparkan tas mahalnya ke sofa dengan kasar. Ia berbalik, menatap Amanda dengan tatapan yang seolah ingin menembus jantung menantunya itu. "Apa yang ada di dalam otakmu, Amanda?!" teriak Margareth, suaranya melengking memenuhi ruangan. "Kau berdiri di sana seperti patung bodoh sementara wanita itu meludahi harga dirimu! Dia menghina suamimu, dia menuduhmu sebagai pezina, dan kau hanya diam? Kau membiarkan aku bertarung sendirian seperti orang gila di depan teman-temanku!" Amanda hanya menunduk, bahunya gemetar, air mata yang sejak tadi ditahannya mulai jatuh membasahi gaun cantiknya yang kini terasa seperti kain k







