Mag-log inLusiana kembali memijat kepalanya yang baru saja selesai dipijat oleh ART-nya. Sejak mendengar kabar Yudha memboyong Tari berbulan madu ke Bali, entah kenapa ia jadi kesal. Ia masih setengah hati mengharapkan cucu dari rahim gadis miskin itu.
“Mama kenapa?” tanya Rudi yang baru saja pulang bersama putra sulungnya. Tadinya ia pikir, istrinya tidur karena salam mereka tidak dibalas.
Lusiana yang bersantai di sofa depan tv mendongak. Setelah melihat kedatangan suami dan anaknya, wanita itu tak juga beranjak. Tetap rebahan santai dengan kaki tersilang. Bahkan wajahnya tetap cemberut.
“Ma, perusahaan sedikit tidak stabil. Kalau dalam tiga bulan masalah di internal perusahaan belum berhasil diatasi, mungkin kita akan bangkrut,” ucap Arbian mengedipkan sebelah mata pada papanya.
“APA??!!!” Lusiana sontak turun dari sofa lalu berbalik menatap suaminya.
Rudi memilih diam mengikuti sandiwara putranya. Rasanya ia ingin tert
Tangisan bayi yang melengking membuat belasan orang itu bersorak. Mereka sejak tadi menunggu kelahiran bayi Tari dan Yudha. Rian meneteskan air mata mendengar suara tangisan keponakannya. Rasanya sungguh luar biasa. Bahkan saat ini, perasaannya lebih sulit dijelaskan dibanding soal matematika rumit.Yudha baru saja bangkit dari sujud syukurnya. Pria itu lekas berbalik memeluk Rian sampai seragam Rian juga ikut kotor karenanya. Keduanya saling berbisik mengucap selamat."Akhirnya dia lahir. Selamat, Bang," bisik Rian."Aku jadi ayah, Yan," bisik Yudha.Arbian menepuk pundak Yudha sembari berkata, "Akhirnya akan ada yang berani memarahimu."Kamil dan Prasetyo tertawa. Dua pria paruh baya itu setuju akan hal itu. Yudha dan keras kepalanya bahkan berani melawan senior dan atasannya sendiri. Sejauh ini, Yudha hanya akan mengalah pada anak kecil saja. Pintu ruang bersalin terbuka. Semua mata menoleh menunggu siapapun yang hendak keluar. Mereka tak sabar ingin tahu."Selamat, bayinya laki-
Suara ledakan petasan kembali menandakan jika musuh menginjak ranjau. Serka Hilman tertawa saat Kapten Raka menghela napas panjang. Perhitungannya meleset dan sekarang ia sudah dinyatakan tewas dalam permainan ini."Sayang sekali, Kapten. Tim Charlie sekarang tersisa dua orang saja," ucap Hilman dari atas pohon."Kalian lanjutkan ke pos berikutnya! Pos terakhir sudah dekat, cepat!" perintah Kapten Raka.Awalnya, Tim Charlie bergerak agresif dengan berhasil melumpuhkan Hilman, Fatur, dan Rian. Namun, siapa sangka jebakan yang disiapkan Hilman justru balik menjadi bumerang untuknya.Dua anggotanya mengangguk lalu bergegas. Tak lama kemudian, saat keduanya mendaki tebing, punggung mereka terkena peluru karet. Punggung mereka seketika berwarna merah.Dari saluran walkie talkie, Ken berkata, "Game over! Kapten, dua penyusup terakhir berhasil dilumpuhkan. Laporan selesai!""Kerja bagus, Ken! Kau dapat bonus kalau
Lusiana sudah beberapa kali mencari tahu tentang Ayana. Akan tetapi, tetap saja tak ada kabar. Sepertinya, gadis itu sengaja menghilang. Pihak rumah sakit tempat Ayana bekerja hanya memberikan informasi singkat. Ayana mengajukan cuti panjang. Sejujurnya, Lusiana takut jika Ayana menaruh dendam padanya. Jangan sampai gadis itu malah menyebar fitnah di luar sana. Suami dan anak-anaknya benar. Bila Ayana bisa memfitnah Tari sekejam itu, maka tidak menutup kemungkinan Ayana juga bisa memfitnah dirinya. Mendengar suara mobil putranya, Lusiana beranjak. Tidak seperti biasanya, Arbian pulang dengan wajah lelah, tapi tidak sore ini. Senyum putra sulungnya itu merekah. "Ada kabar bahagia apa sampai anak mama yang satu ini tersenyum lebar? Tumben? Biasanya kamu pulang bawa setumpuk lelah," komentar Lusiana. Arbian terkekeh kecil lalu meraih tangan mamanya. Pria itu tidak lekas pamit ke kamar seperti biasanya. Arbian justru menarik Lusiana duduk di
Kembali terbangun dengan menghirup udara segar Pulau Dewata sudah pernah dirasakan Yudha. Akan tetapi, berbeda dengan beberapa hari terakhir. Ia tidak terbangun sendirian, melainkan di sampingnya ada bidadari bumi yang membuatnya betah bergelayut di bawah selimut.Rencana bulan madunya sudah berhasil ia realisasikan sejak tiga hari lalu. Janjinya sudah Yudha penuhi. Terekam jelas senyum bahagia Tari saat menikmati harinya di tempat ini.Yudha tersenyum mengenang ucapan Tari dulu. Meski Pulau Bali cukup dekat dengan Surabaya, tapi istrinya belum pernah sekalipun menginjak pulau ini. Tari mengaku tidak pernah punya kesempatan berlibur karena sibuk mencari uang untuk makan. Kini, wanitanya itu tidak perlu lagi hawatir akan uang. Dengan sifat Tari, Yudha yakin jika uang yang ia siapkan untuk istrinya itu tidak akan habis hingga saat tiba waktunya menghembuskan napas terakhir."Sayang," bisik Yudha mengecup pundak polos istrinya. "
"Rian itu ... dia sebenarnya adiknya Kapten Hamdani. Sama seperti Mas Arbian, Rian juga paman dari bayi kami," jelas Yudha membuat kedua orang tuanya kembali terkejut."Rahasiakan hal ini!" pinta Tari menatap kedua mertuanya bergantian. Di sisi lain, ia tidak ingin mereka mencegah Rian mendekati keponakannya sendiri. Terutama Lusiana."Pantas saja anak itu sangat protektif terhadap Tari," batin Rudi teringat bagaimana usaha Rian selama ini. Setiap ada kesempatan, Rian akan keluar batalyon dan mencari keberadaan Tari. Dengan kecerdasan dan kepekaannya, Rian akhirnya menyadari jika dirinya terlibat dan mulai membuntutinya. Bukannya langsung memberitahu Yudha, Rian tetap berpikir panjang dan menimbang banyak hal.Tari beranjak ke dapur dan disaat itu Rudi berkata, "Pantas saja kamu tidak keberatan Kayla dekat dengan Rian. Ternyata kamu sudah lama mengenal Rian.""Dia jauh lebih baik dari Yudha, Pa. Kalau Rian tidak punya kontrol dan kesabaran yang besar, dia tidak akan meminta tolong Ka
'Boleh nggak, sekali ini saja aku egois, Mas?' Sepenggal kalimat itu sempat membuat Yudha bergeming beberapa hari yang lalu. Tari tidak minta berlian, rumah, atau saham. Istrinya hanya minta kesempatan untuk egois. Memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri, bukan karena memikirkan perasaan orang lain.Yudha saat itu mengangguk tanpa merasa keberatan. Kini, Yudha sudah mendapati jawaban dari rasa penasarannya. Tari melaporkan suaminya sendiri pada sang Danyon. Hal itu sama sekali tak pernah terlintas dalam benak Yudha.Bukan hanya Yudha saja yang terkejut. Keluarga Giriandra dan Tim Alfa pun demikian. Mereka sama sekali tidak menduga jika Tari akan mengambil tindakan setegas ini. Akibatnya, Yudha dikeluarkan dari daftar promosi kenaikan pangkat tahun ini."Tari! Apa kamu sudah gila?! Kenapa kamu malah laporin Yudha sama atasannya?! Dasar wanita tidak tahu diuntung!" cecar Lusiana yang sore ini datang ke rumdis putranya. Tari dengan santai menyuguhkan jus jeruk untuk kedua mertuanya. T







