Share

Bab 3

Author: Yuna
Aku dan John pertama kali saling kenal di sebuah game kompetitif.

Waktu itu aku masih kelas 3 SMA dan berat badanku mencapai 100 kg.

Laki-laki di kelas memberiku julukan ‘kulkas dua pintu’.

Yang perempuan kelihatannya seperti tidak ikut-ikutan, tapi setiap kali aku lewat, mereka langsung mengecilkan suara dan tertawa bersama.

Pernah suatu kali saat pelajaran olahraga ada tes lari 800 meter.

Aku berlari di urutan paling terakhir, sampai terengah-engah dan hampir pingsan.

Laki-laki yang pernah kusukai diam-diam berdiri di garis akhir, lalu melangkah mundur dua langkah dengan raut wajah jijik.

“Jangan jatuh ke arahku.”

“Sudah seperti gempa saja, siapa yang kuat menahanmu?”

Satu kelas langsung tertawa riuh.

Malam itu, aku bersembunyi di dalam game dan tak ingin berbicara sepatah katapun.

Di saat itulah, John menambahkanku sebagai teman.

Setelah mendengar suaraku, dia terus-menerus bertanya beberapa kali,

“Suara kamu manis sekali, benar-benar bukan pengisi suara profesional?”

Setelah itu, kami jadi sering main bersama.

Saat aku dimaki oleh rekan tim, dia bakal menyalakan mikrofon untuk membelaku.

“Hanya main game saja, apain emosi dengan perempuan?”

Dia juga setia menemaniku mengobrol saat aku sedang sedih.

“Siapa bilang kalau gemuk itu nggak cantik? Justru gemuk itu lucu, lho.”

“Helen, entah bagaimanapun penampilanmu, aku tetap suka padamu.”

Aku pun memercayainya.

Bahkan gara-gara mendengar kalimat ‘entah bagaimanapun penampilanmu’, untuk pertama kalinya aku merasa bahwa diriku memang pantas disukai.

Sampai akhirnya setengah tahun yang lalu, John tanpa sengaja melihat akun media sosial lamaku yang terhubung dengan akun game.

Di sana ada nama sekolah SMA dan nama asliku.

Sejak saat itu, sikapnya langsung berubah menjadi dingin.

Biasanya ada puluhan pesan yang masuk dalam sehari, setelah itu hanya tersisa ucapan selamat pagi dan selamat malam.

Aku sempat bertanya ada apa dengannya.

Dia beralasan sedang stres menyiapkan diri untuk ujian nasional.

Jika dipikir-pikir sekarang, mana mungkin karena stres ujian?

Jelas-jelas karena dia sudah menelusuri foto-fotoku.

Namun, dia tak langsung memutuskan hubungan denganku.

Karena aku masih bisa menemaninya menaikkan peringkat game, bisa membantunya membuat catatan pelajaran dan bisa menampung semua emosinya saat dia sedang terpuruk.

Dia tak rela membuang sebuah tempat sampah emosi yang serbaguna begitu saja.

Jadi, dia mengulur waktu sampai sehari sebelum masuk kuliah, lalu menggunakan permainan dadu untuk menendangku secara halus pada orang lain.

Ponselku berdering lagi.

Kali ini, aku mengangkatnya.

Nada suara John terdengar sangat kesal.

“Kok kamu saling bersahutan dengan Peter di dalam grup, apa maksudmu?”

“Dia membelaku, kok malah dianggap bersahut-sahutan?”

“Laki-laki seperti dia mana mungkin mau membela perempuan tanpa alasan?”

John tertawa sinis.

“Jangan kira gara-gara suaramu bagus, kamu bisa berhasil menggodanya. Selera John itu jauh lebih tinggi dariku, kedatanganmu hanya bakal mempermalukan dirimu sendiri saja.”

Aku terdiam selama dua detik.

“Jadi, menurutmu aku nggak pantas untukmu?”

“Bukan itu maksudku.”

“Terus kenapa kamu memasang taruhan 20 juta kalau aku nggak bakal berani datang?”

Dia langsung terdiam.

Beberapa saat kemudian, dia berbicara dengan nada kesal,

“Ya sudah, kamu sengaja memaksaku untuk jujur, ‘kan?”

“Helen, aku sudah tahu seperti apa rupamu.”

“Kita cukup berpacaran online saja. Kita nggak cocok kalau di dunia nyata.”

“Kamu juga jangan menyalahkanku. Memang sudah naluri laki-laki suka dengan perempuan yang cantik.”

“Aku nggak langsung memblokirmu saja sudah cukup menjaga perasaanmu.”

Aku memegang ponselku erat-erat. Rasa nyeri yang tersisa di dalam hatiku, akhirnya benar-benar menjadi mati rasa.

“Kalau begitu, terima kasih ya. Ternyata kamu masih cukup beretika.”

John tak menangkap sindiran dalam kalimatku, nada suaranya malah agak melunak.

“Kamu nggak perlu datang besok, uang enam juta itu bakal kugantikan.”

“Sofia juga bakal datang besok. Kamu hanya bakal semakin terlihat memprihatinkan kalau berdiri di sebelahnya.”

Aku bertanya dengan santai, “Kamu sangat akrab dengannya?”

Di balik telepon langsung menjadi hening.

“Jangan pikirkan yang aneh-aneh, aku nggak ada hubungan apa-apa dengannya.”

Aku tersenyum.

Sepertinya acara kumpul-kumpul besok bakal jauh lebih ramai dari yang kubayangkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Berhasil Diet Untuk Menampar Pacarku   Bab 10

    Malam itu, aku insomnia.Berbaring di atas ranjang sambil bolak-balik menatap langit-langit, isi kepalaku dipenuhi ucapan Peter.Aku benar-benar tak mengingat kejadian itu lagi.Namun, dia mengingatnya selama sepuluh tahun penuh.Ponselku tiba-tiba menyala, sebuah pesan masuk dari Peter.[Sudah sampai rumah?][Sudah.][Pergelangan tanganmu jangan lupa diolesi obat.]Aku menatap layar ponsel, ragu-ragu sejenak, lalu akhirnya memberanikan diri menanyakan keraguan di dalam hatiku,[Jadi, kamu sudah mengenaliku sejak awal?]Dia sempat terdiam sejenak.[Iya.][Foto zaman SMA juga masih bisa dikenali?][Bisa.]Dia membalas tanpa ragu sedikitpun.[Kamu nggak banyak berubah.]Aku menundukkan kepala, melirik kembali foto di dalam grup yang memperlihatkan sosok diriku yang masih gemuk sampai kontur wajahku hampir berhimpitan satu sama lain.Ini yang dibilang tak banyak berubah?Aku benar-benar meragukan kalau mata Peter ini memang sudah dilengkapi fitur kecantikan bawaan.[Terus kamu ikut permai

  • Berhasil Diet Untuk Menampar Pacarku   Bab 9

    Usai Peter bicara, raut wajah John langsung benar-benar memuram.“Peter, kamu benaran menganggap serius permainan ini?”“Aku dan Helen sudah pacaran sebelas bulan, kamu nggak ada hak untuk ikut campur.”“Sebelas bulan?”Peter menatapnya dan melanjutkan dengan dingin, “Sudah pacaran sebelas bulan, tapi masih tega menjadikan dia bahan taruhan?”Seketika, John langsung terdiam.Orang di sekitar tak ada yang berani menyahut.Namun, dari cara orang-orang menatapnya, semuanya sudah terlihat jelas.John menggertakkan giginya, lalu menoleh menatapku.“Helen, aku akui kalau perbuatanku malam ini memang agak keterlaluan.”“Tapi aku sama sekali nggak berniat mau putus denganmu.”“Ini hanya permainan antar teman saja, kamu harus membuat masalahnya sampai serumit ini?”Aku mengelus pergelangan tanganku yang memerah akibat cengkeramannya tadi, lalu tiba-tiba merasa semua ini sangat tak berarti.Bahkan sampai detik inipun, dia masih tak merasa dirinya salah.Dia hanya menganggap diriku yang kurang p

  • Berhasil Diet Untuk Menampar Pacarku   Bab 8

    “Mulai hitung waktunya.”Tepat usai Peter bicara, suasana di dalam ruang VIP langsung meledak.“Sepuluh!”“Sembilan!”“Delapan!”Suara sorakan dan godaan hampir saja merobohkan atap ruangan.Aku tak menyangka dia akan mendadak menggendongku, jadi reflek semakin mempererat rangkulan tanganku.Melalui kain kemejanya yang tipis, aku bisa merasakan otot bahu dan punggungnya yang menegang.Namun, gendongannya sangat stabil.Jangankan sepuluh detik, bahkan napasnya pun tak terengah sama sekali.Pria berambut cepak mengambil ponselnya dan mendekati kami.“Kak Peter, lihat ke arah kamera!”“Momen seperti ini harus diabadikan!”John melayangkan tatapan dingin ke arahnya.“Simpan ponselmu.”Pria berambut cepak itu langsung menciut, tapi wajahnya masih memancarkan cengiran menggoda.“Iya paham, kakak ipar nggak boleh sembarangan difoto.”Panggilan ‘kakak ipar’ itu langsung membuat suara tawa di sekitar meledak lebih keras.Namun, raut wajah John sudah benar-benar muram.“Cukup!”Dia langsung mem

  • Berhasil Diet Untuk Menampar Pacarku   Bab 7

    Tepat saat empat kata ‘harus siap menerima kekalahan’ terucap, suasana di dalam ruang VIP langsung hening.Semua orang spontan menatap Peter.Tadi saat menyusun misi pasangan, mereka adalah orang-orang yang paling antusias.Karena dalam bayangan mereka, Peter harus saling menyuapi kue, berfoto sambil bergandengan tangan dan terakhir menggendong wanita dengan berat 100 kg.Membayangkannya saja sudah sangat konyol.Namun sekarang, tak ada lagi yang bisa tertawa.Malah ada yang mulai berkata dengan iri, “Kak Peter bukan kalah, tapi malah untung besar.”“Kalau tahu tampang Helen seperti ini, tadi aku saja yang mewakili Kak Peter mengocok dadunya.”“Mimpi saja kamu, emangnya dia mau denganmu?”Mendengar itu, raut wajah John terlihat semakin muram.Namun, Peter tak memedulikan mereka sama sekali. Dia hanya menunduk dan bertanya padaku, “Kamu nggak menyesal?”“Kenapa harus menyesal?”Aku melirik ke arah daftar misi di atas meja.“Misi pertama, saling menyuapi kue.”Baru saja selesai bicara,

  • Berhasil Diet Untuk Menampar Pacarku   Bab 6

    Tepat saat namaku terucap, seluruh ruang VIP seolah ditekan tombol jeda.“Apa?”“Helen? Jadi dia orang yang di grup….”“Seriusan?”Pria berambut cepak itu melotot. Mulutnya menganga lebar, sampai-sampai tidak sanggup mengeluarkan satu kalimat utuh.Dia langsung membuka foto masa SMAku di grup, mengangkat ponselnya dan membandingkannya berulang kali.Di foto itu, leherku tertutup lipatan lemak dan seragam sekolahku terlihat hampir meledak.Sedangkan diriku yang berdiri di depannya sekarang memiliki tulang selangka yang tegas dan pinggang yang ramping.Dia langsung menelan ludah.“Ini… ini benaran orang yang sama?”Tak ada yang menjawabnya.Karena semua orang di ruangan sedang melakukan hal yang sama.Menunduk melihat foto, lalu mendongak lagi untuk melihatku.Menunduk lagi dan mendongak lagi.Di sudut ruangan, seorang wanita berbisik pelan, “Mata dan hidungnya emang sama persis.”“Hanya saja setelah kurusan, semua kontur wajahnya jadi….”Belum selesai wanita itu bicara, orang di sebela

  • Berhasil Diet Untuk Menampar Pacarku   Bab 5

    Tepat saat pintu ruang VIP itu didorong terbuka, hitungan mundur tepat berakhir di angka nol.Seketika, suasana di dalam langsung hening.Puluhan pasang mata kompak tertuju padaku secara bersamaan.Ada yang sampai lupa meminum gelas anggur yang sudah diangkat dan ada juga yang sudut bibirnya masih menyisakan tawa yang belum sempat ditarik kembali.Pria berambut cepak yang duduk paling dekat dengan pintu sempat terdiam selama beberapa detik.“Nona cantik, kamu cari siapa?”“Kamu nggak salah ruangan?”Pria di sebelahnya langsung menyahut, “Salah masuk juga nggak apa-apa, sama-sama mahasiswa baru di Universitas Iranda. Ayo, main bersama saja.”“Iya, ayo masuk dan duduk saja.”Pria berambut cepak tadi baru tersadar, lalu terburu-buru menggeser sebuah kursi.“Sini, duduk di sebelahku.”Orang-orang yang tadi sempat mengeluh kekurangan tempat duduk, sekarang malah berlomba-lomba menunjukkan keramahan mereka.Aku tak bergerak, hanya mengalihkan pandanganku ke bagian tengah meja.Di atas kue b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status