Share

Bab 4

Author: Yuna
Di hari acaranya, aku baru bangun saat hari sudah siang.

Ponselku sudah dipenuhi lebih dari 99 pesan yang belum dibaca.

Di dalam grup, orang-orang sedang sibuk mendiskusikan tempat duduk untuk nanti malam.

Ada yang sengaja mengirimkan foto sebuah kursi yang ekstra lebar.

[Kursi ini disiapkan khusus untuk Helen. Kalau kursi biasa takutnya malah nggak muat.]

[Perhatian sekali, wajib dikasih penghargaan pahlawan Universitas Iranda.]

John juga ikut membalas di grup.

[Dia nggak bakal datang, nggak perlu repot-repot.]

Sofia, [Bagaimana kalau dia benaran datang? Kalian harus janji padaku, nggak boleh menertawakan dia lagi.]

Semakin dia mencoba membelaku, ejekan di dalam grup malah semakin parah.

Aku tak bicara apa-apa, lalu bangun untuk bersiap-siap.

Jam dua siang, Tania datang menerobos rumahku sambil membawa dua kotak perlengkapan rias wajah.

“Pokoknya hari ini aku harus mendandani kamu dengan gaya riasan wajah untuk menghadapi pria brengsek.”

Aku duduk di depan cermin, lalu menaikkan alisku sambil menatapnya.

“Apa itu gaya riasan wajah untuk menghadapi pria brengsek?”

“Riasan wajah natural yang bisa membuat pria brengsek langsung kena serangan jantung di tempat begitu melihatmu.”

Setelah selesai mencatok rambutku, Tania mengeluarkan sebuah gaun tali berwarna hitam dari dalam lemari.

Potongan gaunnya sangat minimalis, agak ketat di bagian pinggang, memperlihatkan garis bahu dan leher yang jenjang ramping.

Saat aku selesai mengganti pakaian dan keluar, Tania terdiam selama setengah menit.

Setelah itu, dia memegang dadanya sendiri.

“Mampus.”

“Kenapa?”

“Kalau aku jadi laki-laki, pasti bakal rela ikhlas masuk penjara dua tahun demi mendapatkanmu.”

Aku sampai tertawa mendengarnya.

Namun, dia malah menarikku untuk berputar dua kali, semakin melihatku, wajahnya semakin antusias.

“Gaya perempuan lugu dan polos seperti Sofia memang lumayan kalau berdiri sendiri.”

“Tapi kalau dibandingkan denganmu, dia hanya seperti kakak-kakak penerima tamu di depan gedung pernikahan.”

“Jaga ucapanmu.”

“Aku hanya kasih penilaian yang objektif.”

Jam lima sore, tiba-tiba orang di dalam grup mengirimkan video dari lokasi acara.

Di tengah ruang VIP, terdapat sebuah kue berwarna putih.

Di atasnya tertulis kalimat dari krim merah, [Selamat datang kakak ipar 100 kg.]

Suara tawa di sekitarnya langsung memekakkan telinga.

Seorang pria berambut cepak berteriak ke arah kamera, “Helen, kalau kamu masih nggak datang, kami yang bakal mewakili dirimu untuk menyelesaikan misi pasangannya!”

John duduk di sofa. Dia melirik ke arah kamera, lalu tertawa mengejek.

“Sudah kubilang sejak awal, dia nggak bakal berani.”

“Dulu bahkan panggilan video saja nggak berani diangkat, kalian masih berharap dia berani muncul?”

Sofia memukulnya pelan sambil merajuk,

“Jangan bicara seperti itu tentang adik tingkat kita.”

Aku mematikan video tersebut.

Sangking kesalnya, Tania langsung mengambil kunci mobil.

“Ayo! Hari ini kalau nggak menampar mereka sampai mati rasa, aku lemah!”

Baru saja keluar rumah, tiba-tiba masuk pesan baru dari nomor tak dikenal.

Nama profilnya hanya satu kata.

Peter.

Setelah membukanya, terlihat pesannya,

[Maaf, kejadian ini ada karena game yang kuikuti. Aku yang bakal menyelesaikan masalah ini.]

[Perlukah aku datang menjemputmu?]

Aku menatap kata ‘maaf’ itu, kesan baikku padanya bertambah beberapa poin.

[Nggak perlu, aku sudah dijalan.]

[Untuk misi nanti malam, aku bakal kooperatif.]

Status sedang mengetik terlihat cukup lama.

Namun, pada akhirnya dia hanya mengirimkan satu kalimat,

[Jangan memaksakan diri.]

Setengah jam kemudian, mobil berhenti di depan pintu hotel.

Awalnya, Tania ingin menemaniku naik ke atas, tapi dia tiba-tiba dipanggil pulang oleh ibunya karena ada urusan mendadak.

Sebelum pergi, dia menggenggam tanganku erat-erat.

“Kalau ada apa-apa langsung telepon aku. Siapa yang berani menyentuhmu, aku bakal pajang wajahnya di forum cinta kampus malam ini juga.”

Aku mengangguk, lalu turun dari mobil.

Saat melewati lobi hotel, resepsionis laki-laki sampai melirikku berkali-kali.

Bahkan hingga aku masuk ke dalam lift, pandangan mata dari balik pintu kaca masih menempel padaku.

Ruang VIP berada di lantai tiga paling ujung.

Aku berjalan melangkah dengan sepatu hak tinggiku. Meskipun terhalang pintu yang tebal, aku masih bisa mendengar suara obrolan dan tawa dari dalam.

“Sudah jam enam, dia benaran nggak datang.”

“Uang 40 juta Kak John sudah aman.”

“Sudah kubilang, dengan ukuran tubuh seperti itu, jalan sampai hotel saja sudah butuh tabung oksigen di tengah jalan.”

“Kak Peter juga belum datang, jangan-jangan kabur sangking ketakutannya?”

Tak lama kemudian, terdengar suara santai John yang terkesan tak acuh.

“Aku sudah menasihatinya untuk nggak datang sejak awal.”

“Orang seperti dia masih bisa membohongi dirinya sendiri selama hidup di dunia maya, tapi begitu bertemu langsung, bukannya itu sama saja dengan memberikan hukuman pada dirinya sendiri di depan umum?”

Sofia menyahut sambil tertawa pelan,

“Helen mungkin bukan sengaja mau menipu orang kok.”

“Mungkin dia hanya ingin disukai orang lain saja.”

Ruangan kembali dipenuhi dengan suara tawa ejekan.

Aku berdiri di luar pintu, lalu pelan-pelan mengangkat tangan.

Bersamaan dengan itu, dari arah belakang terdengar suara pria yang berat.

“Helen?”

Aku menoleh.

Di bawah sorotan lampu koridor, tampak seorang pria bertubuh tinggi memakai kemeja hitam, dengan raut wajah dingin yang berkesan tegas.

Saat melihatku, terlihat jelas wajahnya tampak terkejut.

“Kamu…”

Aku melemparkan senyuman padanya.

“Peter?”

Di dalam ruang VIP, ada orang yang sudah mulai berhitung mundur.

“Sepuluh detik terakhir, kalau dia masih belum datang, taruhannya resmi ditutup!”

“Sepuluh!”

“Sembilan!”

“Delapan!”

Peter masih terus menatapku tanpa berkedip.

Aku membalikkan badan kembali, lalu memegang gagang pintu.

Tepat satu detik sebelum hitungan mundur angka nol, aku mendorong pintunya perlahan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Berhasil Diet Untuk Menampar Pacarku   Bab 10

    Malam itu, aku insomnia.Berbaring di atas ranjang sambil bolak-balik menatap langit-langit, isi kepalaku dipenuhi ucapan Peter.Aku benar-benar tak mengingat kejadian itu lagi.Namun, dia mengingatnya selama sepuluh tahun penuh.Ponselku tiba-tiba menyala, sebuah pesan masuk dari Peter.[Sudah sampai rumah?][Sudah.][Pergelangan tanganmu jangan lupa diolesi obat.]Aku menatap layar ponsel, ragu-ragu sejenak, lalu akhirnya memberanikan diri menanyakan keraguan di dalam hatiku,[Jadi, kamu sudah mengenaliku sejak awal?]Dia sempat terdiam sejenak.[Iya.][Foto zaman SMA juga masih bisa dikenali?][Bisa.]Dia membalas tanpa ragu sedikitpun.[Kamu nggak banyak berubah.]Aku menundukkan kepala, melirik kembali foto di dalam grup yang memperlihatkan sosok diriku yang masih gemuk sampai kontur wajahku hampir berhimpitan satu sama lain.Ini yang dibilang tak banyak berubah?Aku benar-benar meragukan kalau mata Peter ini memang sudah dilengkapi fitur kecantikan bawaan.[Terus kamu ikut permai

  • Berhasil Diet Untuk Menampar Pacarku   Bab 9

    Usai Peter bicara, raut wajah John langsung benar-benar memuram.“Peter, kamu benaran menganggap serius permainan ini?”“Aku dan Helen sudah pacaran sebelas bulan, kamu nggak ada hak untuk ikut campur.”“Sebelas bulan?”Peter menatapnya dan melanjutkan dengan dingin, “Sudah pacaran sebelas bulan, tapi masih tega menjadikan dia bahan taruhan?”Seketika, John langsung terdiam.Orang di sekitar tak ada yang berani menyahut.Namun, dari cara orang-orang menatapnya, semuanya sudah terlihat jelas.John menggertakkan giginya, lalu menoleh menatapku.“Helen, aku akui kalau perbuatanku malam ini memang agak keterlaluan.”“Tapi aku sama sekali nggak berniat mau putus denganmu.”“Ini hanya permainan antar teman saja, kamu harus membuat masalahnya sampai serumit ini?”Aku mengelus pergelangan tanganku yang memerah akibat cengkeramannya tadi, lalu tiba-tiba merasa semua ini sangat tak berarti.Bahkan sampai detik inipun, dia masih tak merasa dirinya salah.Dia hanya menganggap diriku yang kurang p

  • Berhasil Diet Untuk Menampar Pacarku   Bab 8

    “Mulai hitung waktunya.”Tepat usai Peter bicara, suasana di dalam ruang VIP langsung meledak.“Sepuluh!”“Sembilan!”“Delapan!”Suara sorakan dan godaan hampir saja merobohkan atap ruangan.Aku tak menyangka dia akan mendadak menggendongku, jadi reflek semakin mempererat rangkulan tanganku.Melalui kain kemejanya yang tipis, aku bisa merasakan otot bahu dan punggungnya yang menegang.Namun, gendongannya sangat stabil.Jangankan sepuluh detik, bahkan napasnya pun tak terengah sama sekali.Pria berambut cepak mengambil ponselnya dan mendekati kami.“Kak Peter, lihat ke arah kamera!”“Momen seperti ini harus diabadikan!”John melayangkan tatapan dingin ke arahnya.“Simpan ponselmu.”Pria berambut cepak itu langsung menciut, tapi wajahnya masih memancarkan cengiran menggoda.“Iya paham, kakak ipar nggak boleh sembarangan difoto.”Panggilan ‘kakak ipar’ itu langsung membuat suara tawa di sekitar meledak lebih keras.Namun, raut wajah John sudah benar-benar muram.“Cukup!”Dia langsung mem

  • Berhasil Diet Untuk Menampar Pacarku   Bab 7

    Tepat saat empat kata ‘harus siap menerima kekalahan’ terucap, suasana di dalam ruang VIP langsung hening.Semua orang spontan menatap Peter.Tadi saat menyusun misi pasangan, mereka adalah orang-orang yang paling antusias.Karena dalam bayangan mereka, Peter harus saling menyuapi kue, berfoto sambil bergandengan tangan dan terakhir menggendong wanita dengan berat 100 kg.Membayangkannya saja sudah sangat konyol.Namun sekarang, tak ada lagi yang bisa tertawa.Malah ada yang mulai berkata dengan iri, “Kak Peter bukan kalah, tapi malah untung besar.”“Kalau tahu tampang Helen seperti ini, tadi aku saja yang mewakili Kak Peter mengocok dadunya.”“Mimpi saja kamu, emangnya dia mau denganmu?”Mendengar itu, raut wajah John terlihat semakin muram.Namun, Peter tak memedulikan mereka sama sekali. Dia hanya menunduk dan bertanya padaku, “Kamu nggak menyesal?”“Kenapa harus menyesal?”Aku melirik ke arah daftar misi di atas meja.“Misi pertama, saling menyuapi kue.”Baru saja selesai bicara,

  • Berhasil Diet Untuk Menampar Pacarku   Bab 6

    Tepat saat namaku terucap, seluruh ruang VIP seolah ditekan tombol jeda.“Apa?”“Helen? Jadi dia orang yang di grup….”“Seriusan?”Pria berambut cepak itu melotot. Mulutnya menganga lebar, sampai-sampai tidak sanggup mengeluarkan satu kalimat utuh.Dia langsung membuka foto masa SMAku di grup, mengangkat ponselnya dan membandingkannya berulang kali.Di foto itu, leherku tertutup lipatan lemak dan seragam sekolahku terlihat hampir meledak.Sedangkan diriku yang berdiri di depannya sekarang memiliki tulang selangka yang tegas dan pinggang yang ramping.Dia langsung menelan ludah.“Ini… ini benaran orang yang sama?”Tak ada yang menjawabnya.Karena semua orang di ruangan sedang melakukan hal yang sama.Menunduk melihat foto, lalu mendongak lagi untuk melihatku.Menunduk lagi dan mendongak lagi.Di sudut ruangan, seorang wanita berbisik pelan, “Mata dan hidungnya emang sama persis.”“Hanya saja setelah kurusan, semua kontur wajahnya jadi….”Belum selesai wanita itu bicara, orang di sebela

  • Berhasil Diet Untuk Menampar Pacarku   Bab 5

    Tepat saat pintu ruang VIP itu didorong terbuka, hitungan mundur tepat berakhir di angka nol.Seketika, suasana di dalam langsung hening.Puluhan pasang mata kompak tertuju padaku secara bersamaan.Ada yang sampai lupa meminum gelas anggur yang sudah diangkat dan ada juga yang sudut bibirnya masih menyisakan tawa yang belum sempat ditarik kembali.Pria berambut cepak yang duduk paling dekat dengan pintu sempat terdiam selama beberapa detik.“Nona cantik, kamu cari siapa?”“Kamu nggak salah ruangan?”Pria di sebelahnya langsung menyahut, “Salah masuk juga nggak apa-apa, sama-sama mahasiswa baru di Universitas Iranda. Ayo, main bersama saja.”“Iya, ayo masuk dan duduk saja.”Pria berambut cepak tadi baru tersadar, lalu terburu-buru menggeser sebuah kursi.“Sini, duduk di sebelahku.”Orang-orang yang tadi sempat mengeluh kekurangan tempat duduk, sekarang malah berlomba-lomba menunjukkan keramahan mereka.Aku tak bergerak, hanya mengalihkan pandanganku ke bagian tengah meja.Di atas kue b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status