Share

Bab 22

Penulis: Aamz Kyure
last update Tanggal publikasi: 2026-10-18 21:58:01

“Apa?” tanya Matthias dengan sebelah alis yang sedikit terangkat.

Padahal tadi Mayra sudah sangat percaya diri, bahkan sudah berulang kali berlatih di dalam hati agar bisa mengucapkan kalimatnya dengan benar. Ia ingin mengambil cuti untuk hari esok. Tapi begitu berdiri di hadapan pria itu, keberaniannya perlahan menipis.

Kata-kata Mayra tertahan di ujung lidah, dan ia hanya bisa menghindari tatapan pria itu dengan jantung yang berdebar kencang. Meskipun begitu, Mayra tidak bisa mengurungkan nia
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 22

    “Apa?” tanya Matthias dengan sebelah alis yang sedikit terangkat.Padahal tadi Mayra sudah sangat percaya diri, bahkan sudah berulang kali berlatih di dalam hati agar bisa mengucapkan kalimatnya dengan benar. Ia ingin mengambil cuti untuk hari esok. Tapi begitu berdiri di hadapan pria itu, keberaniannya perlahan menipis.Kata-kata Mayra tertahan di ujung lidah, dan ia hanya bisa menghindari tatapan pria itu dengan jantung yang berdebar kencang. Meskipun begitu, Mayra tidak bisa mengurungkan niatnya."Saya ingin mengambil cuti untuk hari esok, Tuan." Kata-kata itu akhirnya terucap, setelah Mayra menelan ludah dan menenangkan diri sejenak."Tidak boleh." Matthias langsung menolaknya mentah-mentah, seakan kata-kata itu sudah siap di ujung lidahnya sebelum Mayra selesai berbicara.Hati Mayra berdebar cemas, namun ia memberanikan diri untuk bertanya. "Kalau boleh tahu … apa ada alasan khusus, Tuan?”Matthias hanya diam, tatapannya masih dingin seperti sebelumnya.Mayra menarik napas pelan,

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 21

    "Ini bukan untuk siapa-siapa," jawab Mayra buru-buru, wajahnya memerah seketika tanpa alasan yang jelas.Mayra segera menyembunyikan sapu tangan itu di balik punggungnya, berharap Ivy tidak akan menanyainya lebih jauh lagi. Jangan sampai Ivy tahu sosok yang ingin dirinya berikan sapu tangan itu.Mayra menelan ludah gugup, membayangkannya saja sudah membuatnya merasa sangat malu dan tidak tenang. Ia harus menyimpan rahasia itu rapat-rapat."Lihat apa?" Mayra mendorong pelan bahu Ivy sambil memalingkan wajah sedikit. "Tidak ada yang menarik untuk dilihat.”Ivy masih tersenyum dengan tujuan menggoda Mayra. “Kau membordir sapu tangan untuk seseorang yang kau suka, itu sangat menarik.”"Jangan bicara sembarangan," bisik Mayra sepelan mungkin, matanya melirik ke kanan dan kiri seakan takut ada yang mendengar."Kenapa gugup begitu? Aku cuma bercanda." Ivy tertawa tanpa suara, matanya berbinar nakal. "Tapi … apa orang yang kau sukai benar-benar ada di kediaman ini?”Mayra langsung membekap mu

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 20

    Matthias menunduk sedikit, rahangnya mengeras sejenak sebelum ia kembali menatap Mayra. "Orang yang kau sukai itu … dia lebih menarik dariku?” Mayra benar-benar bingung. Pertanyaan itu terdengar begitu aneh di telinganya. Dia tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya bisa duduk diam dengan perasaan yang semakin gelisah.Padahal Matthias paling tidak suka membandingkan dirinya dengan orang lain, dan sekarang pria itu sendiri yang membahas sesuatu yang tidak seharusnya dibahas.“Jawab,” desak Matthias dengan sedikit penekanan.“Tuan berada di kelas yang berbeda, Tuan tidak bisa dibandingkan dengan siapapun apalagi dengan orang biasa seperti kami.” Mayra menelan ludah pelan. Entah kenapa, Mayra merasa sorot mata Matthias semakin menajam tepat setelah mendengar jawabannya.Mayra memberanikan diri menatap Matthias sedikit lebih lama dari biasanya. "Wajah Tuan terlihat agak kemerahan … apa Tuan sedang sakit?”Matthias hanya diam dengan tangan yang mencengkeram bukunya begitu kuat, jari-jari

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 19

    Mata Mayra nyaris terbelalak, jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Benda kecil di tangan pria itu terlihat sangat familiar, itu adalah ikat rambut kesukaannya yang telah hilang."Ikat rambut itu memang terlihat mirip milik saya, Tuan." Mayra menatap benda itu sekilas, ia sedikit ragu dan takut salah mengenali benda itu."Tadi pagi saat aku terbangun, benda ini sudah ada di genggamanku.” Mata Matthias menatap ikat rambut itu sejenak, seakan sedang mengingat sesuatu yang samar namun nyata.Tubuh Mayra seketika sedikit menegang kala tiba-tiba teringat kejadian kemarin malam.Matthias menatap Mayra yang masih diam memproses semuanya. “Kemarin malam, kau yang mengurusku saat mabuk. Kalau bukan milikmu, milik siapa?”Mayra berusaha menenangkan detak jantungnya yang tadi sempat berdebar kencang. “Itu memang milik saya, Tuan. Maaf, saya baru menyadarinya.”Bukannya merasa lega setelah jujur, Mayra justru menelan ludah dengan perasaan yang kian gelisah. Sesuatu di ruangan itu terasa be

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 18

    Mayra menelan ludah. "Saya akan mengambil lap—""Lap pakai bajumu," potong perempuan itu dengan cepat, raut wajahnya terlihat begitu angkuh.Mayra melirik sekilas ke arah Matthias. Pria itu hanya diam, berdiri tenang tanpa satu kata pun keluar dari bibirnya. Ia pun menyimpulkan kalau Matthias pasti samasekali tidak keberatan.“Saya mengerti, Nona.” Mayra mati-matian menahan perasaan sesak yang menggerogoti dadanya, berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang.perempuan angkuh itu tersenyum lebar, terlihat sangat puas mendapatkan apa yang ia mau."Berhenti." Suara Matthias tiba-tiba terdengar tegas, memotong gerakan Mayra yang baru saja hendak menurunkan lututnya ke lantai yang dingin itu."Lanjutkan." seru perempuan angkuh itu yang merasa tak terima. Matanya melotot ke arah Mayra."Jane Hartley." Satu panggilan itu terucap rendah namun penuh ancaman.Suara Matthias sedingin es, membuat suhu ruangan seketika terasa turun. Jane seketika terdiam, wajahnya pucat pasi mendengar nada itu yan

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 17

    Mayra refleks mundur selangkah, menjauhkan diri dari jangkauan tangan Matthias. "U-untuk ... menutupi luka yang saya dapatkan karena lalai dalam bekerja.”Mayra mencengkeram erat pinggiran nampan di tangannya, hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tertahan karena takut Matthias mengetahui apa yang telah terjadi semalam."Kau menyembunyikan sesuatu?" Tatapan Matthias tajam dan menyelidik, seakan berusaha membaca setiap ekspresi di wajah Mayra.Mayra menelan ludah dengan susah payah, kepalanya semakin menunduk dalam. "T-tidak, Tuan ... saya tidak menyembunyikan apapun.”“Aku tidak suka kau terlalu sering menunduk,” ucap Matthias dengan nada yang tegas namun tenang. “Ke depannya, ingat baik-baik hal ini. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Mayra terkejut sejenak, lalu perlahan mengangkat wajahnya sebisa mungkin meskipun hatinya masih berdebar cemas. “Saya mengerti, Tuan.”Setiap kali Mayra menatap sepasang mata berwarna abu-abu itu, perasaan aneh yang s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status