Se connecterMata Mayra nyaris terbelalak, jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Benda kecil di tangan pria itu terlihat sangat familiar, itu adalah ikat rambut kesukaannya yang telah hilang."Ikat rambut itu memang terlihat mirip milik saya, Tuan." Mayra menatap benda itu sekilas, ia sedikit ragu dan takut salah mengenali benda itu."Tadi pagi saat aku terbangun, benda ini sudah ada di genggamanku.” Mata Matthias menatap ikat rambut itu sejenak, seakan sedang mengingat sesuatu yang samar namun nyata.Tubuh Mayra seketika sedikit menegang kala tiba-tiba teringat kejadian kemarin malam.Matthias menatap Mayra yang masih diam memproses semuanya. “Kemarin malam, kau yang mengurusku saat mabuk. Kalau bukan milikmu, milik siapa?”Mayra berusaha menenangkan detak jantungnya yang tadi sempat berdebar kencang. “Itu memang milik saya, Tuan. Maaf, saya baru menyadarinya.”Bukannya merasa lega setelah jujur, Mayra justru menelan ludah dengan perasaan yang kian gelisah. Sesuatu di ruangan itu terasa be
Mayra menelan ludah. "Saya akan mengambil lap—""Lap pakai bajumu," potong perempuan itu dengan cepat, raut wajahnya terlihat begitu angkuh.Mayra melirik sekilas ke arah Matthias. Pria itu hanya diam, berdiri tenang tanpa satu kata pun keluar dari bibirnya. Ia pun menyimpulkan kalau Matthias pasti samasekali tidak keberatan.“Saya mengerti, Nona.” Mayra mati-matian menahan perasaan sesak yang menggerogoti dadanya, berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang.perempuan angkuh itu tersenyum lebar, terlihat sangat puas mendapatkan apa yang ia mau."Berhenti." Suara Matthias tiba-tiba terdengar tegas, memotong gerakan Mayra yang baru saja hendak menurunkan lututnya ke lantai yang dingin itu."Lanjutkan." seru perempuan angkuh itu yang merasa tak terima. Matanya melotot ke arah Mayra."Jane Hartley." Satu panggilan itu terucap rendah namun penuh ancaman.Suara Matthias sedingin es, membuat suhu ruangan seketika terasa turun. Jane seketika terdiam, wajahnya pucat pasi mendengar nada itu yan
Mayra refleks mundur selangkah, menjauhkan diri dari jangkauan tangan Matthias. "U-untuk ... menutupi luka yang saya dapatkan karena lalai dalam bekerja.”Mayra mencengkeram erat pinggiran nampan di tangannya, hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tertahan karena takut Matthias mengetahui apa yang telah terjadi semalam."Kau menyembunyikan sesuatu?" Tatapan Matthias tajam dan menyelidik, seakan berusaha membaca setiap ekspresi di wajah Mayra.Mayra menelan ludah dengan susah payah, kepalanya semakin menunduk dalam. "T-tidak, Tuan ... saya tidak menyembunyikan apapun.”“Aku tidak suka kau terlalu sering menunduk,” ucap Matthias dengan nada yang tegas namun tenang. “Ke depannya, ingat baik-baik hal ini. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Mayra terkejut sejenak, lalu perlahan mengangkat wajahnya sebisa mungkin meskipun hatinya masih berdebar cemas. “Saya mengerti, Tuan.”Setiap kali Mayra menatap sepasang mata berwarna abu-abu itu, perasaan aneh yang s
Ujung hidung Matthias bergeser perlahan di sepanjang garis leher Mayra, menekan lembut sebelum bibirnya berbisik tepat di samping telinga Mayra dengan nada rendah. “My Queen.”“T-tolong menjauh sekarang juga.” Tubuh Mayra gemetar, kali ini ia mendorong sekuat tenaga dengan gerakan agak kasar. Alih-alih melepaskan, Matthias justru menekan bibirnya di kulit leher Mayra. Pria itu meninggalkan tanda yang tak akan hilang begitu saja, sesuatu di dalam diri Mayra seketika meledak.Mayra meronta, dan tanpa sadar kuku-kukunya mencakar punggung pria itu. Ia marah, takut, dan apa yang terjadi sekarang sungguh telah melanggar batas yang seharusnya ada di antara mereka.“Sshh.” Suara itu lolos begitu saja dari bibir Matthias, cakaran Mayra tak sengaja mengenai luka lama di punggungnya yang belum sepenuhnya kering.Saat Matthias sedikit lengah, ia akhirnya berhasil melepaskan diri dengan susah payah dan segera mundur dan bergegas berdiri agar Matthias tak lagi menjangkaunya.“Saya tidak bermaksud
“Apa kau bisa berhenti membahas hal yang menakutkan?” Mayra menatapnya lemah, suaranya terdengar memohon.“Ya sudahlah.” Ivy menghela napas panjang, raut wajahnya berubah menjadi pasrah.Ivy menyadari bahwa kekhawatirannya yang terus dirinya ucapkan justru semakin menekan Mayra, samasekali tidak membuat Mayra merasa terbantu. Ia menepuk pelan lengan Mayra tanpa mengatakan apapun lagi.“Kalau kue ulang tahun itu harus sama persis, berarti penampilannya juga harus sama.” Mayra berhenti sejenak, rasa cemas kembali menyusup. “Tapi aku bahkan tidak tahu detail apa pun tentang kue itu.”“Menurutmu aku tidaklah begitu berguna?” Ivy tersenyum sedikit, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku. “Aku punya fotonya.”Mayra menatapnya lebar, napasnya tertahan sejenak sebelum akhirnya merasa sedikit lega. “Kau sangat hebat.”“Banyak pelayan yang memiliki foto ini, tidak ada yang begitu hebat. Mereka berpikir kalau mereka pasti bisa ditunjuk kapan saja, jadi menyimpan foto itu sangatlah berguna,” teran
“Bukannya kemarin malam dia masuk kamar di atas jam sepuluh? Bisa-bisanya dia masih hidup.” Salah satu teman kamar Mayra berkomentar dengan nada tak percaya sekaligus sinis.Mayra baru saja menyelesaikan seluruh tugasnya, tubuhnya terasa lelah dan pikirannya masih penuh kegelisahan. Ia lebih memilih untuk tidak terlalu peduli dengan kalimat pedas itu.Di kediaman ini, pelanggaran aturan jam malam adalah dosa yang biasanya dibayar dengan nyawa. Fakta bahwa Mayra masih berdiri di sana tanpa luka sedikit pun, terasa tak masuk akal bagi mereka.“Itu karena temanku adalah pelayan pribadi Tuan Hayes.” Ivy muncul tiba-tiba dari arah belakang, lalu merangkul bahu Mayra erat. “Kau tidak terima? Mau menggantikan posisi temanku?”“Tch.” Pelayan yang berkomentar tadi langsung melengos memalingkan wajah, raut wajahnya masih menampakkan ketidakrelaan.“Tch tch apa?” Nada bicara Ivy berubah dingin dan tajam.“Sudah …” Mayra menarik lengan Ivy pelan, membujuknya agar tenang. “Kau cuma akan lelah kala







