INICIAR SESIÓNRussle akhirnya menyelesaikan dokumen terakhir.Ia bersandar di kursinya dan mengusap pinggangnya."Astaga... pantatku sampai keras begini."Seharian duduk di kursi kerja Rowan ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan.Namun rasa lelah itu segera tergantikan oleh rasa bersalah.Aku bahkan belum sempat menengok Rowan.Ia menatap jendela.Entah bagaimana keadaan saudaranya di utara.Baru saja Russle hendak keluar dari ruang kerja, pintu diketuk."Masuk."Ajudannya muncul."Tuan Duke, ada seorang pria tua yang mencari Anda."Russle mengangkat alis."Dan kau tidak membiarkannya masuk?"Nada bicaranya sengaja dibuat acuh seperti Rowan."Saya tidak pernah mengenalnya, Tuan. Begitu pula para pelayan dan pengawal lainnya."Russle terdiam sejenak."Di mana dia?""Di luar gerbang."Russle langsung berjalan keluar.Ia melewati halaman kastel, kemudian keluar melalui gerbang utama.Di sana, seorang pria tua berdiri sendirian.Jubahnya sederhana. Rambutnya telah memutih, tetapi ta
Rowan mulai bergerak ke arah lereng, sengaja memperlihatkan dirinya agar Mordrath itu terus mengejar."Hei! Kemari!"Mordrath menggeram dan melangkah maju.Rowan mundur beberapa langkah.Namun tiba-tiba makhluk itu berhenti.Rowan ikut terdiam."...Apa?"Mordrath tidak mengikuti arah yang diinginkannya. Makhluk itu justru menggeser tubuhnya ke samping, memotong jalur Rowan menuju lereng.Rowan membelalakkan mata.Makhluk ini tahu apa yang sedang kulakukan?Ia mencoba bergerak ke kiri.Mordrath mengikuti.Ke kanan.Makhluk itu kembali memotong jalurnya.Rowan menggertakkan gigi."Dasar!"Dari kejauhan, Vesper hanya berdiri diam sambil menikmati pemandangan tersebut.Ia sama sekali tidak terburu-buru membantu.Justru senyum di wajah tuanya semakin lebar."Ho... ho..."Rowan kembali mengangkat pedangnya.Mordrath menundukkan kepala, seakan sedang menunggu gerakannya.Rowan menyadari sesuatu yang membuatnya semakin tertekan.Ia bukan sedang memburu Mordrath.Justru sejak tadi...Mordrath-
Rowan berhenti.Di hadapannya berdiri sesuatu yang bahkan membuat langkahnya tertahan.Seekor Mordrath raksasa, jauh lebih besar daripada semua yang pernah dilihatnya. Tubuhnya menutupi sebagian besar pandangan di antara pegunungan, bulu hitamnya bergerak perlahan tertiup angin.Di sampingnya berdiri Vesper.Tubuh tua itu kini benar-benar menyerupai kayu yang telah mengering. Namun matanya masih hidup—bahkan terlalu hidup. Tatapannya bergerak ke arah pedang yang terikat di lengan Rowan."Wah, wah..." Suara Vesper terdengar serak."Apakah itu pedang pusaka?"Rowan langsung merasakan bulu kuduknya meremang.Tangannya hampir saja bergerak menuju pedang tersebut.Namun ia segera menahannya.Dia mengira aku Russle.Rowan harus mempertahankan kesalahpahaman itu.Ia langsung menggeleng keras."Tidak!"Vesper menyipitkan mata.Rowan menunjuk pedang di lengannya dengan ekspresi seolah-olah tersinggung."Aku tidak sebodoh itu sampai membawa barang sepenting itu ke tempat seperti ini!"Nada suar
Russle pun segera kembali ke Kastel Blackwood. Ia menuntun kudanya sambil berjalan bersama puluhan pemuda yang baru saja melewati pertempuran panjang.Sesampainya di halaman kastel, aroma daging panggang langsung menyambut mereka.Ternyata benar perkataan Russle.Para koki kastel sudah menyiapkan puluhan potong daging rusa yang dipanggang dengan madu. Hidangan itu bahkan disusun di meja panjang agar seluruh pasukan bisa makan bersama."Wah!""Benar-benar sudah disiapkan!"Para pemuda segera duduk dan menyantapnya dengan lahap. Setelah berjam-jam berada di medan perang, makanan hangat itu terasa seperti hadiah besar."Terima kasih, Tuan Duke Rowan!"Ucapan itu terdengar hampir bersamaan.Russle hanya mengangguk, lalu mencoba menyunggingkan senyum yang biasa diberikan Rowan kepada bawahannya."Sama-sama. Kalian sudah bekerja keras."Namun ketika suasana mulai tenang, salah seorang ajudan yang sejak tadi memperhatikan rombongan tiba-tiba menghampiri.Ia melihat satu hal yang terasa jangg
Russle dan Rowan saling berpandangan.Mereka tidak punya banyak waktu.Tanpa perlu berbicara, keduanya memahami apa yang harus dilakukan."Semua mundur!" perintah Russle.Para petarung segera menarik diri.Russle mengangkat tangan kanannya, sementara Rowan mengangkat tangannya seolah-olah hendak memberikan aba-aba menyerang.Padahal, di balik gerakan itu, keduanya mulai menyatukan sihir mereka.Mana Russle berputar di sekitar tubuhnya.Mana Rowan menyusul, lalu perlahan menyatu dengan milik saudaranya.WHOOOM!Angin berembus keras.Para pemuda yang berada di dekat mereka sampai harus menahan tubuh agar tidak terdorong."Jangan lepaskan formasi!" seru Russle.Rowan mengangguk.Keduanya kemudian mengarahkan tangan dan senjata mereka lurus ke depan, berpura-pura sedang mempersiapkan serangan.Mordrath-mordrath di hadapan mereka mulai menggeram.Namun bukannya menyerang, energi sihir yang terkumpul justru membentuk gelombang besar di depan mereka.BOOOOM!Gelombang tersebut menghantam tan
Tiba-tiba, dari balik pepohonan yang menutupi lereng pegunungan, ratusan burung beterbangan kocar-kacir. Kepakan sayap mereka terdengar riuh sebelum seluruh kawanan menghilang ke langit.Para pemuda langsung saling berpandangan."Itu pertanda buruk..."Russle tidak menjawab. Sejak awal ia memang merasa ada sesuatu yang janggal di wilayah ini. Bahkan itulah alasan ia datang sendiri ke garis depan.Firasatnya terus mengatakan hal yang sama.Ada sesuatu yang akan terjadi."Tunggu," ujar Russle tegas. "Apa pun yang terjadi, jangan menyerang."Para pemuda mengangguk.Rowan—yang sebenarnya adalah Russle dalam penyamaran—berdiri paling depan, memperhatikan pepohonan yang mulai bergoyang hebat.DUUM...Satu langkah.DUUM...Langkah kedua.Tanah di bawah kaki mereka bergetar.Kemudian—BRAK!Pepohonan di hadapan mereka roboh sekaligus.Sesuatu keluar dari balik hutan.Semua orang membeku.Seekor Mordrath muncul.Namun ukurannya membuat seluruh monster yang mereka hadapi sebelumnya terlihat sep
Tiga hari sejak pesta, Aruna belum keluar dari kamar.Bukan karena malas. Tapi karena ia sedang sibuk mengamati.Dari balik jendela kamarnya yang menghadap ke taman belakang, ia memperhatikan ritme kehidupan kediaman Ardent. Para pelayan lalu-lalang dengan tugas masing-masing. Kepala dapur berteria
Pesta Musim Semi berlangsung hingga larut malam, tapi Aruna sudah muak dengan kebangsawanan setelah dua jam pertama.Ia menghabiskan sisa waktu dengan berdiri di dekat meja makanan—bukan karena lapar, tapi karena di sanalah tempat paling aman. Para bangsawan sibuk bergosip dan saling menjilat, tida
Aruna butuh waktu lima menit penuh untuk berhenti menatap bayangannya sendiri di cermin.Bukan karena ia terpesona—meski harus diakui, wanita di cermin ini cantik luar biasa. Tapi karena otaknya masih sibuk mencerna fakta bahwa ia baru saja kehilangan lima persen gaji di dunia lama dan mendapatkan
"Lady Evelyne... Duchess Marianne memerintahkan Anda segera bersiap."Suara itu lembut. Terlalu lembut. Seperti kapas yang diusapkan ke telinga.Aruna membuka mata. Dan dunia yang ia kenal lenyap. Bukan lampu neon kantor. Bukan meja kerja dengan tumpukan berkas. Bukan kursi ergonomis yang sudah buny







