Home / Romansa / Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri! / Bab 6. Kesalahan Kedua 3

Share

Bab 6. Kesalahan Kedua 3

Author: Kichi Ang
last update Last Updated: 2025-12-31 16:42:41

#

Lyra dan Alesa keluar dari gedung kuliah saat matahari sudah mulai condong ke barat.

Lorong kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa berdiri berkelompok, sebagian duduk di tangga, sebagian lagi bersandar sambil menatap ponsel.

“Aku tidak suka suasananya,” ucap Alesa pelan.

Lyra menoleh sekilas.

“Kenapa?”

“Orang-orang terlalu sering melihat ke arah kita,” jawab Alesa tanpa ragu.

Lyra menarik napas pelan.

“Biarkan saja. Kita pulang.”

Mereka berjalan berdampingan menuju area parkir motor dan jalur angkutan umum.

Langkah Lyra tetap tenang, meski ia sadar bisikan-bisikan kecil mulai terdengar saat mereka lewat.

“Itu dia kan? Yang tadi pagi turun dari mobil Kak Adhi." Suara seorang perempuan terdengar samar.

Lyra tidak menoleh.

“Aku sumpah, dia sok jual mahal,” suara lain menyusul.

Alesa berhenti mendadak.

“Lyra.”

“Ayo, jangan berhenti,” jawab Lyra cepat. Dia menarik lengan sahabatnya itu.

Namun langkah mereka terhenti oleh seseorang yang berdiri tepat di depan jalur keluar.

Marissa.

Rambutnya terurai rapi, tas bermerek tergantung di bahunya, dan ekspresinya tidak ramah sama sekali.

Dua orang temannya berdiri di belakang, menatap Lyra dari ujung kepala sampai kaki.

“Lyra Renata,” sapa Marissa dengan nada datar.

Lyra berhenti.

“Iya?”

Marissa tersenyum sinis.

“Kita perlu bicara,” ujarnya.

Alesa maju setengah langkah.

“Kalau mau bicara, lakukan saja di sini,” selanya.

Marissa melirik Alesa.

“Ini urusanku dengannya. Bukan denganmu,” balasnya. Dia menatap Alesa kesal.

“Apa pun yang mau kau katakan, kau bisa katakan di depanku,” ucap Alesa tanpa gentar.

Lyra menyentuh lengan Alesa.

“Tidak apa-apa.”

Alesa menatapnya tidak setuju.

“Kau yakin?” tanyanya khawatir.

“Iya,” jawab Lyra singkat.

Marissa mendengus kecil.

“Berani juga kau,” ucapnya.

“Kak Marissa mau apa?” tanya Lyra.

Marissa mendekat satu langkah.

“Aku hanya ingin memastikan satu hal. Apa hubunganmu dengan Adhikara?”

Lyra mengernyitkan dahi.

“Hubungan apa?” tanyanya.

“Jangan pura-pura bodoh,” ucap Marissa.

“Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Kak Adhi,” jawab Lyra tenang.

Marissa tertawa pendek.

“Lucu. Kau turun dari mobilnya pagi ini, sekarang bilang tidak ada apa-apa?”

“Aku hanya menumpang. Itu saja,” balas Lyra.

“Menumpang?” Marissa menaikkan alis. “Sejak kapan Adhi mau memberi tumpangan?” lanjutnya.

“Entahlah, bukan aku yang mengatur itu,” jawab Lyra jujur.

Marissa menatap Lyra lama.

“Jadi kau menyangkal?”

“Iya,” jawab Lyra tanpa basa-basi.

Alesa menyilangkan tangan.

“Masalah selesai, kan?” Kali ini Alesa kembali bertanya.

"Aku belum selesai,” ujar Marissa cepat.

Ia kembali menatap Lyra.

“Aku tidak suka perempuan yang mencari perhatian dengan cara murahan.” Kalimat yang jelas ditujukan pada Lyra.

Lyra menghela napas.

“Aku tidak mencari perhatian siapa pun.”

“Turun dari mobil Adhi di depan kafetaria bukan cari perhatian?” balas Marissa.

“Bukan aku yang mengemudi,” jawab Lyra, nadanya mulai tegas.

Marissa tersenyum miring.

“Alasan receh.”

“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Lyra.

Marissa mendekat.

“Aku ingin kau tahu posisimu, jangan sok,” ujarnya.

“Posisi apa?” tanya Lyra.

“Di kampus ini,” ujar Marissa pelan.

“Aku bukan orang yang bisa kau injak lalu berlalu begitu saja. Kau tahu kan kalau Adhi itu kekasihku?”

Lyra menatapnya lurus.

“Aku tidak pernah berniat menginjak siapa pun dan sudah kubilang, aku tidak ada hubungan apa pun dengan Kak Adhi,” balasnya.

“Bagus,” jawab Marissa.

“Karena kalau kau sampai mencoba mengambil sesuatu yang bukan milikmu—”

“Apa maksudmu?” potong Lyra. Dia mulai muak.

“Adhi,” jawab Marissa tanpa ragu.

Alesa tertawa sinis.

“Sejak kapan manusia jadi barang milik?” Dia kembali menyela.

Marissa menoleh tajam ke arah Alesa.

“Kau sebaiknya diam!” Nada suara Marissa terdengar meninggi.

“Dan kau sebaiknya berhenti merasa dunia berputar di sekitarmu,” balas Alesa dengan nada mencemooh.

Lyra kembali menengahi.

“Aku tidak tertarik pada Kak Adhi. Tidak sekarang, tidak sebelumnya dan tidak nanti!” tegasnya.

Marissa memiringkan kepala.

“Kau kira aku percaya?”

“Itu terserah Kak Marissa,” jawab Lyra. “Aku tidak berkewajiban meyakinkanmu,” lanjutnya.

Tatapan Marissa mengeras.

“Kau benar-benar besar kepala.”

“Aku hanya jujur,” balas Lyra.

Beberapa mahasiswa mulai memperhatikan. Lingkaran kecil terbentuk.

“Masalah apa ini?” seseorang berbisik.

Marissa menyadarinya. Ia tersenyum kecil, lalu berkata dengan suara lebih keras,

“Kalau kau memang tidak ada apa-apa dengan Adhi, seharusnya kau tidak keberatan menjaga jarak.”

“Aku tidak pernah mendekatinya,” jawab Lyra.

“Tapi kau menerima tumpangannya,” balas Marissa cepat.

“Memang apa salahnya menerima tumpangan orang? Itu juga cuma terjadi sekali,” jawab Lyra datar.

“Alasan,” kata Marissa.

“Itu fakta,” balas Lyra.

Alesa ikut mengangguk.

Marissa mendekat lagi.

“Mulai sekarang, jaga sikapmu.”

“Aku selalu menjaga sikap,” jawab Lyra.

“Kalau begitu bagus,” ucap Marissa. “Karena aku tidak akan sebaik ini lain kali."

“Aku tidak takut. Toh aku tidak salah,” balas Lyra.

Marissa tersenyum dingin.

“Kita lihat saja nanti.” Itu peringatan.

Ia kemudian berbalik dan pergi bersama teman-temannya.

Alesa menghembuskan napas kasar.

“Kurang ajar.”

“Kita pulang,” ajak Lyra.

Mereka berjalan menjauh dari kerumunan.

Saat tiba di halte Bis, Lyra duduk dan memijat pelipisnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Alesa.

“Aku hanya lelah,” jawab Lyra.

“Kau harus hati-hati, Kak Marissa tidak semudah itu melepaskanmu,” ucap Alesa.

“Aku tahu,” jawab Lyra pelan.

“Kau tidak salah apa-apa,” lanjut Alesa. “Jangan biarkan dia membuatmu merasa sebaliknya.”

Lyra mengangguk.

“Aku hanya ingin kuliah dengan tenang.”

Itu adalah harapan yang sepertinya akan semakin sulit untuk terwujud dan semua hanya karena Adhikara mengantarnya ke kampus satu kali.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 121. Inikah Yang Terbaik? 3

    #Malika duduk terdiam di ruang tengah kediaman keluarga Bramantya, matanya tak lepas dari layar ponsel yang masih menunjukkan deretan pesan tanpa balasan. Sudah dua hari nomor Lyra tidak aktif. Setiap kali ia mencoba menghubungi, hanya suara operator yang menyambutnya, tanda kalau Lyra tidak mengaktifkan ponselnya. Meski Adhikara berulang kali meyakinkannya bahwa Lyra hanya sedang butuh waktu di rumah seorang teman, insting Malika sebagai seorang ibu tidak bisa dibohongi. Ada sesuatu yang tidak beres, sebuah firasat buruk yang terus membayangi pikirannya."Haruskah aku mencari dan menemuinya di rumah temannya itu?" gumam Malika pelan.Padahal, Malika ingin berbicara langsung dengan Lyra mengenai rencananya. Itulah alasan mengapa Malika rela menginap di rumah keluarga Bramantya di tengah jadwal kerjanya yang sangat padat kali ini."Lyra," gumam Malika pelan, suaranya nyaris hilang ditelan kesunyian ruangan tersebut. Dia sebenarnya hanya tidak ingin Lyra mengalami apa yang dulu suda

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 120. Inikah Yang Terbaik? 2

    #Lampu kamar yang temaram masih menyala, membiaskan cahaya redup yang menyentuh wajah Adhikara. Di sisi tempat tidur, Lyra berdiri mematung. Ia sudah mengenakan pakaian lengkap, sebuah blus sederhana dengan jaket tipis yang membungkus tubuh ringkihnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat sebuah tas kecil yang berisi barang-barang miliknya yang tidak akan pernah bisa dia tinggalkan. Salah satunya foto keluarganya.Lyra menunduk, menatap Adhikara yang masih terlelap dengan napas yang teratur. Selama beberapa saat, matanya beralih pada lantai kamar. Pakaian mereka berserakan di sana, menjadi saksi bisu betapa kacaunya gairah keduanya beberapa jam yang lalu. Aroma percintaan mereka, campuran antara wangi maskulin Adhikara dan aroma tubuhnya sendiri, masih tertinggal pekat di udara, masuk ke dalam paru-parunya dan membuat dada Lyra terasa sesak. Ia menggigit bibirnya pelan. "Ini benar-benar yang terakhir," gumam Lyra, suaranya nyaris tidak terdengar, hilang ditelan kesunyian kama

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 119. Inikah Yang Terbaik? 1

    #Malam itu, ruang tengah apartemen terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh suara rendah dari tayangan televisi yang sebenarnya tidak benar-benar mereka tonton. Adhikara duduk di sofa besar, merengkuh tubuh Lyra dalam pelukannya. Ini adalah momen langka. Selama hubungan mereka terjalin, ketenangan seperti ini hampir tidak pernah ada. Biasanya hanya ada ketegangan, air mata, atau gairah yang meledak karena amarah. Namun setelah makan malam tadi, suasana mendadak melunak.Adhikara menyisir rambut Lyra yang halus dengan jemarinya, gerakan yang sangat protektif sekaligus posesif. Ia menghirup aroma sampo dari puncak kepala gadis itu, mencoba meresapi kedamaian yang terasa asing ini."Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Adhikara dengan suara rendah, nyaris berbisik.Lyra yang sejak tadi hanya menyandarkan kepalanya di dada Adhikara perlahan mendongak. Matanya terlihat lelah, namun ia memaksakan sebuah lengkungan tipis di bibirnya. "Aku sudah tidak apa-apa, Kak," balasnya sing

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 118. Selamat Tinggal 6

    #Deru mesin mobil sport Adhikara memecah keheningan jalanan menuju kompleks apartemennya. Dia mencengkeram kemudi dengan buku-jari tangannya yang memutih. Amarah dan ketakutan bercampur aduk di dadanya sejak ia mendengar kabar bahwa neneknya, Sri Rukmini, telah menemui Lyra secara sepihak. Dia mengetahui itu dari sopir yang baru saja mengantar neneknya pulang."Sialan," umpat Adhikara sambil menyalip kendaraan di depannya dengan kasar.Meski petugas apartemen sudah memastikan pada Adhikara kalau Lyra sudah kembali ke apartemen meski sempat terlihat keluar dari gedung itu sebelumnya, dia tetap saja tidak bisa menghapuskan rasa khawatirnya.Matanya melirik sebuah kotak beludru kecil yang tergeletak di dashboard mobilnya. Cincin itu seharusnya baru akan ia berikan setelah peringatan empat puluh hari kematian Ratna Puspita. Ia ingin melamar Lyra setelah masa berduka selesai. Namun, campur tangan neneknya mengubah segalanya. Adhikara merasa terdesak. Ia membutuhkan ikatan yang lebih ku

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 117. Selamat Tinggal 5

    #Langkah kaki Sri Rukmini terdengar berwibawa saat ia memasuki ruang teh eksklusif di kawasan Senayan tersebut. Aroma teh yang menenangkan dan interior serba putih yang megah menyambutnya, namun suasana hatinya jauh dari kata damai. Tempat ini biasanya menjadi tempatnya berkumpul bersama rekan-rekan yang dia kenal dari kalangan atas. Namun sore ini, ia datang bukan untuk bertemu dengan salah satu teman kalangan atasnya, melainkan dengan Lyra.Sri Rukmini memilih tempat ini karena ini tidak jauh dari kompleks apartemen mewah milik Adhikara.Dari kejauhan, matanya menangkap sosok yang ia cari. Lyra duduk sendirian di sudut yang cukup privat, membelakangi jendela besar yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Anehnya, Sri Rukmini merasa gadis itu terlihat sangat cocok berada di sana. Cara Lyra memegang cangkir porselennya, punggungnya yang tegak, hingga caranya menyesap Earl Grey terlihat begitu elegan, seolah ia memang dibesarkan di lingkungan yang sama eksklusifnya

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 116. Selamat Tinggal 4

    #Cahaya lampu temaram di kamar apartemen itu terasa asing saat Lyra perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, kepalanya berdenyut nyeri seolah ada godam yang menghantam sarafnya. Hal pertama yang ia tangkap adalah sosok Adhikara yang duduk di tepi ranjang, bayangannya jatuh menimpa tubuh Lyra yang tampak semakin ringkih di balik selimut."Kau sudah bangun?" tanya Adhikara pelan. Suaranya rendah, nyaris berbisik. "Bagaimana perasaanmu? Kau tidur sangat lama, Lyra. Aku sudah membelikan makanan untukmu kalau-kalau kau merasa lapar." Tangannya terulur menyentuh anak rambut yang jatuh di pipi dan dahi Lyra lalu menyelipkannya ke belakang telinga Lyra."Jangan tidur terus," ucap Adhikara lagi.Lyra tidak menjawab. Matanya yang sembab menatap Adhikara dengan binar yang redup, kosong dan menyayat hati, seolah jiwanya telah terkuras habis."Kau sudah kembali?" gumam Lyra lirih.Setelah itu, ia kembali memejamkan mata seakan tidak lagi memiliki keinginan untuk sekadar bangkit atau menapak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status