LOGIN#
Lyra dan Alesa keluar dari gedung kuliah saat matahari sudah mulai condong ke barat. Lorong kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa berdiri berkelompok, sebagian duduk di tangga, sebagian lagi bersandar sambil menatap ponsel. “Aku tidak suka suasananya,” ucap Alesa pelan. Lyra menoleh sekilas. “Kenapa?” “Orang-orang terlalu sering melihat ke arah kita,” jawab Alesa tanpa ragu. Lyra menarik napas pelan. “Biarkan saja. Kita pulang.” Mereka berjalan berdampingan menuju area parkir motor dan jalur angkutan umum. Langkah Lyra tetap tenang, meski ia sadar bisikan-bisikan kecil mulai terdengar saat mereka lewat. “Itu dia kan? Yang tadi pagi turun dari mobil Kak Adhi." Suara seorang perempuan terdengar samar. Lyra tidak menoleh. “Aku sumpah, dia sok jual mahal,” suara lain menyusul. Alesa berhenti mendadak. “Lyra.” “Ayo, jangan berhenti,” jawab Lyra cepat. Dia menarik lengan sahabatnya itu. Namun langkah mereka terhenti oleh seseorang yang berdiri tepat di depan jalur keluar. Marissa. Rambutnya terurai rapi, tas bermerek tergantung di bahunya, dan ekspresinya tidak ramah sama sekali. Dua orang temannya berdiri di belakang, menatap Lyra dari ujung kepala sampai kaki. “Lyra Renata,” sapa Marissa dengan nada datar. Lyra berhenti. “Iya?” Marissa tersenyum sinis. “Kita perlu bicara,” ujarnya. Alesa maju setengah langkah. “Kalau mau bicara, lakukan saja di sini,” selanya. Marissa melirik Alesa. “Ini urusanku dengannya. Bukan denganmu,” balasnya. Dia menatap Alesa kesal. “Apa pun yang mau kau katakan, kau bisa katakan di depanku,” ucap Alesa tanpa gentar. Lyra menyentuh lengan Alesa. “Tidak apa-apa.” Alesa menatapnya tidak setuju. “Kau yakin?” tanyanya khawatir. “Iya,” jawab Lyra singkat. Marissa mendengus kecil. “Berani juga kau,” ucapnya. “Kak Marissa mau apa?” tanya Lyra. Marissa mendekat satu langkah. “Aku hanya ingin memastikan satu hal. Apa hubunganmu dengan Adhikara?” Lyra mengernyitkan dahi. “Hubungan apa?” tanyanya. “Jangan pura-pura bodoh,” ucap Marissa. “Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Kak Adhi,” jawab Lyra tenang. Marissa tertawa pendek. “Lucu. Kau turun dari mobilnya pagi ini, sekarang bilang tidak ada apa-apa?” “Aku hanya menumpang. Itu saja,” balas Lyra. “Menumpang?” Marissa menaikkan alis. “Sejak kapan Adhi mau memberi tumpangan?” lanjutnya. “Entahlah, bukan aku yang mengatur itu,” jawab Lyra jujur. Marissa menatap Lyra lama. “Jadi kau menyangkal?” “Iya,” jawab Lyra tanpa basa-basi. Alesa menyilangkan tangan. “Masalah selesai, kan?” Kali ini Alesa kembali bertanya. "Aku belum selesai,” ujar Marissa cepat. Ia kembali menatap Lyra. “Aku tidak suka perempuan yang mencari perhatian dengan cara murahan.” Kalimat yang jelas ditujukan pada Lyra. Lyra menghela napas. “Aku tidak mencari perhatian siapa pun.” “Turun dari mobil Adhi di depan kafetaria bukan cari perhatian?” balas Marissa. “Bukan aku yang mengemudi,” jawab Lyra, nadanya mulai tegas. Marissa tersenyum miring. “Alasan receh.” “Apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Lyra. Marissa mendekat. “Aku ingin kau tahu posisimu, jangan sok,” ujarnya. “Posisi apa?” tanya Lyra. “Di kampus ini,” ujar Marissa pelan. “Aku bukan orang yang bisa kau injak lalu berlalu begitu saja. Kau tahu kan kalau Adhi itu kekasihku?” Lyra menatapnya lurus. “Aku tidak pernah berniat menginjak siapa pun dan sudah kubilang, aku tidak ada hubungan apa pun dengan Kak Adhi,” balasnya. “Bagus,” jawab Marissa. “Karena kalau kau sampai mencoba mengambil sesuatu yang bukan milikmu—” “Apa maksudmu?” potong Lyra. Dia mulai muak. “Adhi,” jawab Marissa tanpa ragu. Alesa tertawa sinis. “Sejak kapan manusia jadi barang milik?” Dia kembali menyela. Marissa menoleh tajam ke arah Alesa. “Kau sebaiknya diam!” Nada suara Marissa terdengar meninggi. “Dan kau sebaiknya berhenti merasa dunia berputar di sekitarmu,” balas Alesa dengan nada mencemooh. Lyra kembali menengahi. “Aku tidak tertarik pada Kak Adhi. Tidak sekarang, tidak sebelumnya dan tidak nanti!” tegasnya. Marissa memiringkan kepala. “Kau kira aku percaya?” “Itu terserah Kak Marissa,” jawab Lyra. “Aku tidak berkewajiban meyakinkanmu,” lanjutnya. Tatapan Marissa mengeras. “Kau benar-benar besar kepala.” “Aku hanya jujur,” balas Lyra. Beberapa mahasiswa mulai memperhatikan. Lingkaran kecil terbentuk. “Masalah apa ini?” seseorang berbisik. Marissa menyadarinya. Ia tersenyum kecil, lalu berkata dengan suara lebih keras, “Kalau kau memang tidak ada apa-apa dengan Adhi, seharusnya kau tidak keberatan menjaga jarak.” “Aku tidak pernah mendekatinya,” jawab Lyra. “Tapi kau menerima tumpangannya,” balas Marissa cepat. “Memang apa salahnya menerima tumpangan orang? Itu juga cuma terjadi sekali,” jawab Lyra datar. “Alasan,” kata Marissa. “Itu fakta,” balas Lyra. Alesa ikut mengangguk. Marissa mendekat lagi. “Mulai sekarang, jaga sikapmu.” “Aku selalu menjaga sikap,” jawab Lyra. “Kalau begitu bagus,” ucap Marissa. “Karena aku tidak akan sebaik ini lain kali." “Aku tidak takut. Toh aku tidak salah,” balas Lyra. Marissa tersenyum dingin. “Kita lihat saja nanti.” Itu peringatan. Ia kemudian berbalik dan pergi bersama teman-temannya. Alesa menghembuskan napas kasar. “Kurang ajar.” “Kita pulang,” ajak Lyra. Mereka berjalan menjauh dari kerumunan. Saat tiba di halte Bis, Lyra duduk dan memijat pelipisnya. “Kau baik-baik saja?” tanya Alesa. “Aku hanya lelah,” jawab Lyra. “Kau harus hati-hati, Kak Marissa tidak semudah itu melepaskanmu,” ucap Alesa. “Aku tahu,” jawab Lyra pelan. “Kau tidak salah apa-apa,” lanjut Alesa. “Jangan biarkan dia membuatmu merasa sebaliknya.” Lyra mengangguk. “Aku hanya ingin kuliah dengan tenang.” Itu adalah harapan yang sepertinya akan semakin sulit untuk terwujud dan semua hanya karena Adhikara mengantarnya ke kampus satu kali.#Lyra baru saja menyelesaikan cucian terakhir. Tangannya masih terasa lembap saat ia memeras ujung kaus tipis miliknya, lalu menggantungkannya di tali jemuran belakang. Ini karena para pembantu yang lain tidak akan pernah membiarkannya menggunakan mesin cuci untuknya mencuci bajunya sendiri, jadi Lyra harus mencuci bajunya secara manual seperti sekarang ini."Selesai juga," gumamnya pelan. Napasnya sedikit terengah-engah. Dia bahkan belum sempat mengisi perutnya sejak tadi.Waktu sudah lewat dari yang Lyra perkirakan. Ponselnya bergetar sejak beberapa menit lalu dan panggilan dari dokter yang merawat ibunya di rumah sakit baru sempat dia balas sekarang.Lyra bergegas masuk ke rumah, melewati dapur, lalu menuju kamarnya. Karena terlalu terburu-buru, Lyra hanya mendorong pintu kamarnya setengah hati tanpa memastikan kuncinya benar-benar terpasang.“Aduh semoga aku masih sempat bertemu dokternya,” gumamnya dengan gelisah sambil membuka lemari pakaian.Lyra menanggalkan kemeja dan celan
#Adhikara duduk di salah satu meja kafe dekat kampus bersama beberapa teman satu angkatannya. Tempat itu cukup ramai, dipenuhi suara obrolan mahasiswa dan denting sendok mengenai gelas. Namun, meja mereka justru berada di sudut yang agak terpisah, cukup jauh dari keramaian, seolah menjadi ruang aman untuk percakapan yang lebih lepas.Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan memegang ponsel, sementara tangannya yang lain bertumpu di meja. Sejak tadi ia lebih banyak diam. Tidak ikut tertawa. Tidak ikut menyela. Keberadaannya terasa seperti bayangan yang ikut duduk, bukan bagian dari obrolan teman-temannya.“Ngomong-ngomong,” ucap Rivan sambil menyeruput kopinya.“Kalian sadar tidak sih kalau Lyra itu cantik? Malah menurutku, dia salah satu yang tercantik dari angkatan baru.” Dia tampak bersemangat saat berbicara.Adhikara tidak bereaksi. Matanya masih tertuju ke layar ponsel.Bagas mendengus kecil. “Kau benar. Sayangnya dia sedikit dingin pada orang lain, terutama pada lawan je
#Lyra dan Alesa keluar dari gedung kuliah saat matahari sudah mulai condong ke barat. Lorong kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa berdiri berkelompok, sebagian duduk di tangga, sebagian lagi bersandar sambil menatap ponsel.“Aku tidak suka suasananya,” ucap Alesa pelan.Lyra menoleh sekilas.“Kenapa?”“Orang-orang terlalu sering melihat ke arah kita,” jawab Alesa tanpa ragu.Lyra menarik napas pelan.“Biarkan saja. Kita pulang.”Mereka berjalan berdampingan menuju area parkir motor dan jalur angkutan umum. Langkah Lyra tetap tenang, meski ia sadar bisikan-bisikan kecil mulai terdengar saat mereka lewat.“Itu dia kan? Yang tadi pagi turun dari mobil Kak Adhi." Suara seorang perempuan terdengar samar.Lyra tidak menoleh.“Aku sumpah, dia sok jual mahal,” suara lain menyusul.Alesa berhenti mendadak.“Lyra.”“Ayo, jangan berhenti,” jawab Lyra cepat. Dia menarik lengan sahabatnya itu.Namun langkah mereka terhenti oleh seseorang yang berdiri tepat di depan jalur
#Marissa baru saja turun dari mobilnya dan bergegas menuju ke arah gedung kuliah saat kemudian beberapa orang temannya menghampirinya."Mar, sudah dengar gosip baru tidak? Romeomu katanya mengizinkan seorang perempuan naik ke mobilnya!" Salah satu dari temannya itu tampak heboh.Marissa mengerutkan dahinya."Kau yakin? Adhi bukan orang yang akan dengan sukarela memberi tumpangan pada perempuan lain," tanyanya. Bahkan dirinya saja hanya kebetulan pernah naik mobil pribadi Adhikara dan itu karena mobilnya mogok."Tentu saja yakin. Selain itu, coba tebak siapa perempuan itu?" Temannya kembali bertanya.Marissa kini menatap temannya kesal."Aku saja baru tiba di kampus, bagaimana bisa aku tahu itu siapa?" Nada bicaranya agak sedikit meninggi.Teman-temannya sontak langsung diam. Mereka tentu saja tidak ingin memprovokasi Marissa. Lebih tepatnya tidak ada yang berani karena ayah Marissa bukan orang sembarangan. Ayahnya adalah pejabat daerah yang cukup berpengaruh."Siapa dia?" Marissa akh
#Lyra menatap Adhikara dengan tatapan kaget bercampur kesal saat mobil berhenti tepat di depan kafetaria."Kak? Ini terlalu ramai," ujarnya. Dia tidak mengerti kenapa Adhikara malah menghentikan mobilnya di tempat seramai ini padahal selama ini Adhikara sendiri yang selalu memperingatkannya agar tidak pernah mengatakan pada siapa pun mengenai hubungan mereka.Selain Alesa, sahabat dekat Lyra, tidak ada satupun orang di kampus yang tahu kalau dirinya dan Adhikara Bramantya adalah saudara tiri."Turun!" Adhikara memberi perintah tanpa sedikit pun menoleh ke arah Lyra.Lyra menarik napas panjang dan akhirnya membuka pintu mobil.Seketika semua mata tertuju kepadanya, bukan karena siapa dia tapi justru karena dia turun dari mobil seorang Adhikara Bramantya."Anggap saja, itu bayaran untuk sikap menyebalkanmu tadi. Seharusnya kau langsung naik kalau kuajak tanpa perlu membuatku kesal," ujar Adhikara. Dia kemudian menyalakan mobilnya lagi dan meninggalkan Lyra begitu saja di tengah hujaman
#Lyra tidak langsung bergerak setelah Adhikara meninggalkannya."Kita lihat saja nanti."Kalimat itu berputar di kepalanya, membuatnya merasa tidak nyaman.Lyra akhirnya berbalik menuju dapur, menyalakan keran, membiarkan air mengalir lebih lama dari yang dibutuhkan, sekadar untuk menenangkan pikirannya. Dia mencuci wajahnya dan menatap pantulan wajahnya di permukaan wastafel yang tampak pucat.“Aku tidak boleh lemah. Dia memang senang menggertak dan mengancam seperti seorang pengecut,” gumamnya pelan."Aku harus bertahan di ruman ini demi Mama," lanjutnya. Matanya berkaca-kaca.Di lantai atas, Adhikara berdiri di depan jendela kamarnya. Lampu kamar dibiarkan mati. Bayangan Lyra memenuhi benaknya, wajah kaget Lyra, matanya bulat Lyra yang bergetar, melintas tanpa izin memenuhi kepalanya.“Brengsek,” desisnya.Dia menekan telapak tangan ke kaca jendela. Marah pada dirinya sendiri.#Lyra menaiki tangga membawa segelas air untuk Sri Rukmini. Setiap langkahnya terasa berat, seolah rum







