Share

Bab 3

Author: Wendy
Hanya dengan mengingat kembali pertunjukanku tadi malam, hasrat aneh yang tertanam di dalam diriku langsung tumbuh liar seperti rumput liar.

Kelainanku kambuh lagi.

Sensasi geli yang menyiksa mulai menjalar di pangkal paha. Rasa hampa itu membuatku seperti duduk di atas jarum, napasku bahkan mulai berat tanpa bisa dikendalikan.

Aku benar-benar sudah tak sanggup menahannya.

Memanfaatkan kesempatan saat atasanku tak memperhatikan, aku mengambil mainan kecil berbentuk lipstik yang selalu kubawa di dalam tas. Aku menyelinap keluar kantor dengan perasaan cemas, lalu mendorong pintu tangga darurat di ujung lorong.

Suasana di area tangga itu remang-remang dan tak ada seorang pun.

Aku bersandar di dinding semen yang dingin, tak sabar menyibak bagian bawah rok kerja pas badanku, hendak meredakan gairah panas yang menyiksa ini.

Namun, tepat saat aku baru saja menempelkan benda kecil yang dingin itu di balik rok, bunyi ‘krek’ pun terdengar.

Pintu tangga darurat di lantai atas tiba-tiba didorong terbuka.

“Siapa?!”

Rasa terkejut yang luar biasa membuat sekujur tubuhku gemetar. Tanganku tersentak hebat, sampai-sampai tak hanya mendorong mainan itu langsung masuk ke dalam, tapi juga tak sengaja menekan tombolnya ke tingkat paling maksimal!

Diiringi langkah kaki yang tegas dari sepatu kulit yang menginjak di anak tangga, sebuah sosok tinggi tegap berjalan turun dari sudut tangga.

Ternyata itu Lukas!

Dia menyelipkan satu tangannya ke dalam saku celananya, menatapku yang sedang panik dari posisi yang lebih tinggi.

Kacamata berbingkai emasnya memantulkan cahaya pucat dari lampu tangga, membuat emosi di balik matanya sulit terbaca.

“Bzz….”

Suara getaran yang tadinya samar, kini mulai membesar di dalam area tangga yang tertutup dan sangat sunyi ini.

Tubuhku terasa merinding, kedua kakiku langsung lemas sampai nyaris tak sanggup berdiri.

Mampus! Aku bakal ketahuan!

Namun, Lukas seakan sama sekali tak mendengar suara yang memalukan itu. Pandangannya menyapu diriku dengan dingin.

“Lagi jam kerja, apain kamu bersembunyi di sini?”

Suaranya terdengar berat dan tegas, membawa aura intimidasi seorang atasan.

Aku merapatkan kedua kakiku erat-erat, mencoba menutup semuanya menggunakan rok, bahkan suaraku sampai terdengar gemetaran.

“Pak… Pak Lukas… aku karyawan baru. Aku agak darah rendah, kepalaku pusing, jadi mau cari angin dulu di sini….”

Sambil berbicara, aku merapat ke dinding, mencoba mencari kesempatan untuk kabur.

“Darah rendah?”

Lukas tak berbalik seperti yang kuharapkan, melainkan malah melangkah turun dua anak tangga lagi, menutup rapat jalan keluarku satu-satunya.

Seketika, aura dingin pria dewasa langsung mengurungku.

“Cari angin perlu bersembunyi di area titik buta CCTV?”

Dengan wajah tanpa ekspresi, dia menatap ke arah mataku yang mulai berkaca-kaca karena menahan kenikmatan hebat, dengan nada bicara formal yang mencekik.

“Aku… aku hanya takut terlihat oleh atasan.”

Aku hampir menangis sangking paniknya, memeras otak untuk mencari alasan konyol demi menyuruhnya pergi.

Namun, Lukas seperti robot yang tak berperasaan, bukan hanya tak pergi, dia malah terus mendesak dengan penuh tekanan.

“Kamu ditempatkan di divisi apa? Siapa atasanmu? Kamu sudah baca buku panduan karyawan?”

Setiap kali dia mengajukan satu pertanyaan, getaran di dalam tubuhku seolah semakin kuat.

“Bzz….”

Sensasi geli berfrekuensi tinggi itu terasa seperti aliran listrik yang terus-menerus menyerang kewarasanku.

Dalam ketakutan luar biasa karena sewaktu-waktu dia bisa memergokiku dan membongkar semuanya tepat di hadapanku, pertahanan diriku yang kelainan ini benar-benar runtuh akibat sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Di hadapanku berdiri seorang atasan dingin yang berkuasa, sementara di dalam tubuhku terdapat getaran yang membuatku gila.

“Aku… aku….”

Aku menggigit bibir bawahku erat-erat, jariku meremas permukaan dinding kasar itu dengan putus asa.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 11

    Bahkan pada jamuan makan malam industri tahun ini, saat Lukas menggandeng tanganku memasuki ruangan, kami langsung disambut berbagai pujian dari para tokoh besar dunia bisnis.“Pak Lukas dan Bu Susan benar-benar pasangan yang serasi. Pria tampan dan wanita cantik, sungguh pasangan yang ditakdirkan bersama.”“Benar, kalian berdua memang terlihat sangat cocok berdiri berdampingan.”Setiap kali mendengar pujian seperti itu, Lukas selalu mengangguk pelan dengan sopan dan penuh kendali. Tatapannya di balik lensa kacamata tampak tenang, seolah-olah dia benar-benar seorang pria yang terhormat.Namun, hanya kami berdua yang tahu di balik penampilan yang begitu terhormat, tersembunyi dua jiwa yang tak sehat, tapi saling melengkapi dengan sempurna.Tepat di saat sosok elit dunia bisnis berpakaian rapi itu tersembunyi sambil bersulang pada semua orang, dia akan menekan remote di dalam sakunya dengan sangat pelan.Sementara di balik gaun malam yang anggun dan elegan, aku menggertakkan gigi rapat-r

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 10

    “Sudah puas lihatnya?”Aku langsung menoleh.Lukas yang seharusnya sedang perjalanan dinas ribuan kilometer jauhnya, kini malah bersandar santai di kusen pintu ruang gelap itu. Dia melepaskan dasinya tanpa terburu-buru, sementara sorot matanya memancarkan kepuasan seorang pemburu yang akhirnya berhasil menangkap buruannya.Ternyata, kartu akses itu sengaja dia tinggalkan di dalam laci.Dia sudah membaca rencana pembalasanku sejak awal. Bagaikan kucing yang sedang memburu tikus, dia memancingku perlahan-lahan hingga diriku sendiri masuk ke sarang terdalam yang sepenuhnya berada dalam pengawasannya.Dia mengira aku bakal menjerit, terpuruk atau bahkan memohon ampun seperti seekor anak domba yang siap disembelih.Namun, saat menatap seluruh permukaan dinding yang dipenuhi foto-foto itu, hasrat tersembunyi di dalam diriku untuk diperhatikan dan diamati malah benar-benar mengalahkan akal sehatku pada saat ini.Bukannya merasa takut, aku malah tiba-tiba terkekeh pelan.“Lukas, kamu tahu diri

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 9

    Bayangan siksaan tadi malam yang terasa mematikan, tapi sekaligus begitu nikmat melintas di benakku. Aku pun merinding, hanya bisa menggelengkan kepala dengan lemas dan penuh rasa terhina.Menatap sosokku yang sudah benar-benar patuh, barulah Lukas menarik tangannya dengan puas, lalu berbalik pergi ke kantor untuk bekerja.Sejak saat itu, hari-hariku di kantor berubah menjadi sebuah siksaan yang panjang dan tersembunyi.Di permukaan, Lukas tetaplah Pak Lukas yang tegas dan dingin.Dia memasang standar yang sangat tinggi padaku sebagai karyawan baru, bahkan di rapat mingguan divisi, dia mengkritik habis-habisan rancanganku.“Berani-beraninya kamu tunjukkan barang penuh celah seperti ini padaku?”Dia melemparkan berkas itu ke atas meja, tatapannya begitu dingin tanpa kehangatan sedikitpun.Semua rekan kerja menatapku dengan iba saat aku menunduk dimarahi, tapi tak ada seorangpun yang tahu.Tepat saat Lukas memarahiku dengan nada yang paling tegas, satu tangannya di dalam saku celana seda

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 8

    Logam dingin itu berkali-kali menggesek titik paling sensitifku. Aku disiksa sampai rasanya nyaris pingsan, kedua tanganku mencengkeram lengan bawahnya erat-erat, hingga air mata terdesak keluar.Namun, dia tetap mempertahankan gestur tenang dan penuh kendali sebagai seorang atasan.“Hm… kumohon… Pak Lukas… berikan… berikan padaku….”Di bawah rangsangannya yang membuatku merinding, aku disiksa sampai benar-benar kehilangan tenaga.Hingga setelah aku melepaskan semua harga diri, menangis sambil memohon ampun padanya. Dia membawa gestur seorang atasan untuk mengisi kehampaanku dengan sangat dominan.Di tengah prosesnya, dia mengangkat daguku, menatap air mata yang menetes di sudut mataku dengan puas.Dia menyiksaku hingga tak henti-hentinya mendesah, hingga akhirnya berbelas kasih untuk melepaskanku.Malam harinya, aku menyeret tubuhku yang terasa hampir remuk ini kembali ke apartemen.Aku menatap cermin, melihat jejak-jejak merah di sekujur tubuhku dan rasa takut yang kuat timbul di dal

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 7

    Namun, tepat saat aku merapikan dokumen dan bersiap menuju ruang rapat, tiba-tiba ponsel di dalam sakuku bergetar.Ada satu pesan yang masuk.[Ke area tangga kemarin.]Pengirimnya masih Lukas.Aku menatap barisan kata di layar, seketika napasku jadi memburu.Sepuluh menit lagi adalah rapat jajaran eksekutif yang dipimpin langsung oleh dia. Kok malah memanggilku ke tangga darurat? Dia mau apain?….Saat aku mendorong pintu tangga darurat yang berat, Lukas sedang bersandar di dinding. Jarinya yang panjang sedang memainkan sebuah mainan hitam dengan bentuk yang aneh.“Masukkan ini ke dalam.”Dia menyodorkan benda itu ke hadapanku, nada suaranya begitu santai, seperti sedang menyerahkan berkas fotokopi.Sekujur tubuhku tersentak, aku pun reflek memundurkan langkah.“Jangan… Pak Lukas, sebentar lagi rapatnya dimulai….”“Kamu mau pakai sendiri atau aku yang membantumu langsung?”Dia menyipitkan mata di balik lensa kacamatanya, seketika aura berbahaya menyelimutiku.Di bawah tekanan penuh int

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 6

    Lukas itu seorang pemburu yang sangat cerdik.Dia selalu tahu bagaimana mengatur batas yang tepat, menggunakan sentuhan yang pas untuk perlahan-lahan menggodaku hingga berada di ambang kehilangan batas. Di atas meja kerja, pulpen mahal itu berputar di antara jarinya yang jenjang.Terkadang menggesek pelan, terkadang menekan dan memutarnya perlahan.Dinginnya badan pulpen berbeda jauh dengan suhu panas membara di dalam tubuhku. Tak butuh waktu lama, diriku sudah tak sanggup menahannya lagi.“Jangan… Pak Lukas… kumohon….”Desahan dan tangisan lolos dari tenggorokanku tanpa bisa dikendalikan. Kedua tanganku meremas pinggiran meja erat-erat hingga ujung jariku memucat. Kedua kakiku malah membuka semakin lebar tanpa bisa dikendalikan.Kelainanku terpancing sepenuhnya dan akal sehatku hancur berkeping-keping bagaikan kertas yang terbakar api.Setelah merasa puas memainkanku, barulah dia menarik kembali pulpen itu perlahan-lahan. Suaranya tetap terdengar dingin, “Pergilah ke depan jendela k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status