Share

Bab 4

Author: Wendy
Di bawah tatapan Lukas yang dingin dan begitu intimidasi, akhirnya pertahananku runtuh sepenuhnya.

Kedua kakiku melemas, tubuhku meluncur tanpa daya menyusuri dinding dan sebuah desahan yang sangat manis lolos begitu saja tannpa bisa ditahan.

“Sepertinya tekanan darahmu lumayan rendah, sampai berdiri saja nggak stabil.”

Lukas menatap diriku yang terkulai tak berdaya dari posisinya yang lebih tinggi. Di balik lensa kacamatanya, tatapan matanya tampak menajam.

Namun tak disangka, nada suaranya berubah menjadi lebih lembut, “Sudahlah, pulang dan istirahatlah.”

Mendengar kalimat itu, aku merasa seperti mendapat anugerah besar. Jantungku yang tadinya melompat ke tenggorokan, akhirnya bisa tenang kembali.

“Te… terima kasih, Pak Lukas.”

Aku menarik napas dalam-dalam, menahan sensasi gemetar yang terus menjalar di dalam tubuh, lalu berpegangan pada dinding dingin untuk berdiri demi secepatnya kabur dari pria menakutkan ini.

“Tapi….”

Baru saja aku melangkah satu langkah, tiba-tiba suara Lukas terdengar lagi.

“Ponsel di dalam sakumu terus bergetar, kok nggak diangkat?”

Seketika, sekujur tubuhku membeku, aliran darahku seolah berbalik arah.

“Aku… itu hanya telepon iseng yang mengganggu….”

Aku mundur dengan panik, otakku terasa kosong, terbata-bata mencoba mencari alasan untuk menutupi hal itu.

Namun, Lukas sama sekali tak memberiku kesempatan untuk mengarang cerita.

Dia membungkukkan badan, tangan besarnya langsung terulur ke arahku.

Dari balik rok… dia menyentuh tali-tali kendali mainan itu.

Tubuhku melemas, hampir saja berlutut di lantai.

Suaranya membawa aura yang berbahaya.

“Hm? Ponselmu ada di sini?”

Tangan itu meluncur menyusuri lekuk pinggul, menyelinap masuk ke balik rok dan menyingkap rokku yang menutupi semuanya dari tadi.

Semua kepura-puraanku hancur seketika.

Mainan kecil yang sedang bergetar hebat dengan frekuensi tinggi itu terpampang nyata begitu saja di depan matanya.

Mampus.

Terasa ada ledakan di dalam kepalaku, wajahku langsung pucat seperti sebuah kertas.

Padahal aku sudah bersusah payah untuk bisa masuk ke perusahaan besar ini, tapi di hari pertama kerja malah bersembunyi di tangga darurat untuk melakukan hal memalukan seperti ini. Bisa-bisanya malah langsung tertangkap basah oleh si mitra bisnis perusahaan.

Aku pasti bakal dipecat dan reputasiku akan hancur lebur di seluruh industri ini.

Rasa malu, marah dan keputusasaan yang luar biasa menenggelamkanku. Tepat saat aku memejamkan mata, bersiap pasrah menerima kemarahan, serta surat pemecatannya, tiba-tiba bagian dalam pahaku merasakan sentuhan kasar.

Lukas tak mengatakan apa-apa. Dia hanya perlahan mengusap bagian bokongku yang terpampang, jarinya menggesek area sensitifku yang sedang gemetaran, lalu menyangkutkan jarinya pada utas tali yang menggantung di luar.

Kemudian, dengan gerakan yang sangat lambat dan menyiksa, dia menariknya keluar perlahan-lahan.

“Hmm… jangan….”

Gesekan yang halus dan intens itu langsung meledakkan kelainanku.

Kedua kakiku semakin lemas. Aku terpaksa mendongakkan kepala dan suara penuh permohonan keluar dari tenggorokanku tanpa bisa dikendalikan.

“Pak Lukas… kumohon, jangan….”

Bunyi ‘ting’ yang pelan terdengar saat mainan itu berhasil ditarik keluar sepenuhnya, jatuh di tangga dan masih bergetar.

Lukas menaikkan alisnya dengan acuh tak acuh, lalu terkekeh.

Kedua tangannya mengurung tubuhku yang lemas, mendekap seluruh tubuhku ke dalam pelukannya.

Dia menempelkan bibirnya di dekat telingaku, berbisik dengan suara berat yang penuh niat jahat.

“Tadi malam, bukannya kamu sangat jago bermain di depan jendela kamar? Kok hari ini baru sebentar saja sudah nggak sanggup?”

Kalimat itu bagaikan sambaran petir yang membelah kepalaku.

Tadi malam… di depan jendela kamar….

Mataku terbelalak lebar sangking tak percayanya. Aku menatap tajam ke arah pria berpakaian rapi yang memancarkan aura dingin dan dominan di hadapanku ini.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 11

    Bahkan pada jamuan makan malam industri tahun ini, saat Lukas menggandeng tanganku memasuki ruangan, kami langsung disambut berbagai pujian dari para tokoh besar dunia bisnis.“Pak Lukas dan Bu Susan benar-benar pasangan yang serasi. Pria tampan dan wanita cantik, sungguh pasangan yang ditakdirkan bersama.”“Benar, kalian berdua memang terlihat sangat cocok berdiri berdampingan.”Setiap kali mendengar pujian seperti itu, Lukas selalu mengangguk pelan dengan sopan dan penuh kendali. Tatapannya di balik lensa kacamata tampak tenang, seolah-olah dia benar-benar seorang pria yang terhormat.Namun, hanya kami berdua yang tahu di balik penampilan yang begitu terhormat, tersembunyi dua jiwa yang tak sehat, tapi saling melengkapi dengan sempurna.Tepat di saat sosok elit dunia bisnis berpakaian rapi itu tersembunyi sambil bersulang pada semua orang, dia akan menekan remote di dalam sakunya dengan sangat pelan.Sementara di balik gaun malam yang anggun dan elegan, aku menggertakkan gigi rapat-r

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 10

    “Sudah puas lihatnya?”Aku langsung menoleh.Lukas yang seharusnya sedang perjalanan dinas ribuan kilometer jauhnya, kini malah bersandar santai di kusen pintu ruang gelap itu. Dia melepaskan dasinya tanpa terburu-buru, sementara sorot matanya memancarkan kepuasan seorang pemburu yang akhirnya berhasil menangkap buruannya.Ternyata, kartu akses itu sengaja dia tinggalkan di dalam laci.Dia sudah membaca rencana pembalasanku sejak awal. Bagaikan kucing yang sedang memburu tikus, dia memancingku perlahan-lahan hingga diriku sendiri masuk ke sarang terdalam yang sepenuhnya berada dalam pengawasannya.Dia mengira aku bakal menjerit, terpuruk atau bahkan memohon ampun seperti seekor anak domba yang siap disembelih.Namun, saat menatap seluruh permukaan dinding yang dipenuhi foto-foto itu, hasrat tersembunyi di dalam diriku untuk diperhatikan dan diamati malah benar-benar mengalahkan akal sehatku pada saat ini.Bukannya merasa takut, aku malah tiba-tiba terkekeh pelan.“Lukas, kamu tahu diri

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 9

    Bayangan siksaan tadi malam yang terasa mematikan, tapi sekaligus begitu nikmat melintas di benakku. Aku pun merinding, hanya bisa menggelengkan kepala dengan lemas dan penuh rasa terhina.Menatap sosokku yang sudah benar-benar patuh, barulah Lukas menarik tangannya dengan puas, lalu berbalik pergi ke kantor untuk bekerja.Sejak saat itu, hari-hariku di kantor berubah menjadi sebuah siksaan yang panjang dan tersembunyi.Di permukaan, Lukas tetaplah Pak Lukas yang tegas dan dingin.Dia memasang standar yang sangat tinggi padaku sebagai karyawan baru, bahkan di rapat mingguan divisi, dia mengkritik habis-habisan rancanganku.“Berani-beraninya kamu tunjukkan barang penuh celah seperti ini padaku?”Dia melemparkan berkas itu ke atas meja, tatapannya begitu dingin tanpa kehangatan sedikitpun.Semua rekan kerja menatapku dengan iba saat aku menunduk dimarahi, tapi tak ada seorangpun yang tahu.Tepat saat Lukas memarahiku dengan nada yang paling tegas, satu tangannya di dalam saku celana seda

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 8

    Logam dingin itu berkali-kali menggesek titik paling sensitifku. Aku disiksa sampai rasanya nyaris pingsan, kedua tanganku mencengkeram lengan bawahnya erat-erat, hingga air mata terdesak keluar.Namun, dia tetap mempertahankan gestur tenang dan penuh kendali sebagai seorang atasan.“Hm… kumohon… Pak Lukas… berikan… berikan padaku….”Di bawah rangsangannya yang membuatku merinding, aku disiksa sampai benar-benar kehilangan tenaga.Hingga setelah aku melepaskan semua harga diri, menangis sambil memohon ampun padanya. Dia membawa gestur seorang atasan untuk mengisi kehampaanku dengan sangat dominan.Di tengah prosesnya, dia mengangkat daguku, menatap air mata yang menetes di sudut mataku dengan puas.Dia menyiksaku hingga tak henti-hentinya mendesah, hingga akhirnya berbelas kasih untuk melepaskanku.Malam harinya, aku menyeret tubuhku yang terasa hampir remuk ini kembali ke apartemen.Aku menatap cermin, melihat jejak-jejak merah di sekujur tubuhku dan rasa takut yang kuat timbul di dal

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 7

    Namun, tepat saat aku merapikan dokumen dan bersiap menuju ruang rapat, tiba-tiba ponsel di dalam sakuku bergetar.Ada satu pesan yang masuk.[Ke area tangga kemarin.]Pengirimnya masih Lukas.Aku menatap barisan kata di layar, seketika napasku jadi memburu.Sepuluh menit lagi adalah rapat jajaran eksekutif yang dipimpin langsung oleh dia. Kok malah memanggilku ke tangga darurat? Dia mau apain?….Saat aku mendorong pintu tangga darurat yang berat, Lukas sedang bersandar di dinding. Jarinya yang panjang sedang memainkan sebuah mainan hitam dengan bentuk yang aneh.“Masukkan ini ke dalam.”Dia menyodorkan benda itu ke hadapanku, nada suaranya begitu santai, seperti sedang menyerahkan berkas fotokopi.Sekujur tubuhku tersentak, aku pun reflek memundurkan langkah.“Jangan… Pak Lukas, sebentar lagi rapatnya dimulai….”“Kamu mau pakai sendiri atau aku yang membantumu langsung?”Dia menyipitkan mata di balik lensa kacamatanya, seketika aura berbahaya menyelimutiku.Di bawah tekanan penuh int

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 6

    Lukas itu seorang pemburu yang sangat cerdik.Dia selalu tahu bagaimana mengatur batas yang tepat, menggunakan sentuhan yang pas untuk perlahan-lahan menggodaku hingga berada di ambang kehilangan batas. Di atas meja kerja, pulpen mahal itu berputar di antara jarinya yang jenjang.Terkadang menggesek pelan, terkadang menekan dan memutarnya perlahan.Dinginnya badan pulpen berbeda jauh dengan suhu panas membara di dalam tubuhku. Tak butuh waktu lama, diriku sudah tak sanggup menahannya lagi.“Jangan… Pak Lukas… kumohon….”Desahan dan tangisan lolos dari tenggorokanku tanpa bisa dikendalikan. Kedua tanganku meremas pinggiran meja erat-erat hingga ujung jariku memucat. Kedua kakiku malah membuka semakin lebar tanpa bisa dikendalikan.Kelainanku terpancing sepenuhnya dan akal sehatku hancur berkeping-keping bagaikan kertas yang terbakar api.Setelah merasa puas memainkanku, barulah dia menarik kembali pulpen itu perlahan-lahan. Suaranya tetap terdengar dingin, “Pergilah ke depan jendela k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status