Share

Bab 5

Author: Wendy
Rupanya, sosok pengintip mesum yang bersembunyi di dalam kegelapan dan mengawasiku itu… dia!

“Awalnya aku hanya ingin melihat bintang pakai teropong yang baru kubeli.”

Lukas menatap wajahku yang pucat karena terkejut, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh arti.

“Tak disangka, aku malah dapat tontonan gratis untuk pertunjukan tengah malam yang begitu menakjubkan.”

Belum sempat aku tersadar dari rasa terkejut yang luar biasa ini, Lukas sudah mencengkeram pergelangan tanganku, menarikku keluar dari tangga darurat, membawaku langsung ke dalam ruang kerjanya yang luas dan megah.

Bunyi ‘klik’ terdengar saat pintu ruang kerja dikunci dari dalam.

Dia langsung menggendong dan mendudukkanku di atas meja kerja yang besar.

Di atas meja itu berserakan berkas-berkas kasus akuisisi bernilai triliunan. Sementara aku bagaikan mangsa yang siap disembelih, terpaksa duduk di atasnya sambil mendongak menatap pria berbahaya yang baru saja melepaskan topengnya ini.

“Tadi malam jaraknya terlalu jauh dan pencahayaannya redup, ada beberapa detail yang nggak kelihatan jelas.”

Lukas membuka kancing jasnya dengan pelan, lalu menumpukan kedua tangannya di samping tubuhku. Pandangannya yang dalam terasa bagaikan sentuhan nyata yang membelai dadaku yang bergerak naik turun sangking gugupnya.

“Sekarang, di sini, peragakan ulang semuanya untukku.”

Seketika, aku seperti terlempar kembali ke malam itu. Aku membayangkan di mana tatapan orang itu mendarat di bagian tubuhku yang mana, mengandalkan fantasi tatapan liar itu hingga mencapai klimaks.

Namun kali ini, aku dan satu-satunya penontonku saling berhadapan secara langsung. Akhirnya aku bisa merasakan hangatnya tatapan itu, jauh lebih membakar dari yang kubayangkan. Seolah-olah sanggup membakar habis seluruh pakaian di tubuhku dan membongkar sisi diriku yang tengah disiksa hasrat.

Di bawah tatapan intens yang sangat berbahaya ini, rasa hampa kelainanku menyatu dengan rasa malu yang luar biasa karena rahasiaku terbongkar langsung. Perpaduan itu berubah menjadi rangsangan dahsyat yang sanggup membuatku hilang akal.

Akal sehat menyuruhku kabur, tapi di bawah tatapan anehnya, tubuhku malah gemetaran dan perlahan-lahan merenggangkan kedua kaki di hadapannya.

Persis seperti malam itu.

Tatapan mata Lukas semakin tajam.

Aku gemetaran saat mencoba meraih mainan kecil yang tergeletak di samping, tapi tanganku malah lemas berkali-kali. Hanya dengan terbenam dalam aromanya saja sudah membuat kepalaku pening luar biasa, bagaimana mungkin aku masih ingat cara memuaskan diriku sendiri?

Tanganku yang gemetaran perlahan menyentuh area terlarang yang sudah sangat basah itu, memainkannya tanpa arah yang jelas.

Namun, aku sangat frustasi saat menyadari semua ini tak sanggup memuaskan hasratku yang semakin memuncak. Hal itu malah membuatku semakin hampa, membuatku hampir meneteskan air mata.

Suasana begitu hening, hanya menyisakan desahanku yang terputus-putus.

Dia hanya berdiri diam menatapku, seakan sedang menikmati sebuah pertunjukan yang indah.

Tepat saat aku hampir menangis, tiba-tiba Lukas mengambil sebuah pulpen mahal dari tempat pensil. Batang pulpen berwarna perak itu memantulkan cahaya dingin di bawah sinar lampu.

Dia maju selangkah, membungkukkan badan, lalu ujung pulpen yang dingin itu diusapkan perlahan ke area lembut yang sudah sangat basah itu.

Sensasi dingin membuat sekujur tubuhku tersentak. Mataku yang berkaca-kaca menatap matanya yang semakin tajam.

“Masih belum cukup,” ujarnya pelan dengan nada yang tetap tenang.

“Kalau kamu nggak ingat apa yang terjadi kemarin, nggak apa-apa. Aku melihat semuanya… aku ingat setiap detail kemarin.”

Pulpen itu mulai bergerak perlahan, mempermainkan bagian demi bagian….

“Pertama-tama, mulai dari sini.”

Saat pulpen itu menyentuh area sensitifku, seluruh pertahananku hancur lebur tak bersisa.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 11

    Bahkan pada jamuan makan malam industri tahun ini, saat Lukas menggandeng tanganku memasuki ruangan, kami langsung disambut berbagai pujian dari para tokoh besar dunia bisnis.“Pak Lukas dan Bu Susan benar-benar pasangan yang serasi. Pria tampan dan wanita cantik, sungguh pasangan yang ditakdirkan bersama.”“Benar, kalian berdua memang terlihat sangat cocok berdiri berdampingan.”Setiap kali mendengar pujian seperti itu, Lukas selalu mengangguk pelan dengan sopan dan penuh kendali. Tatapannya di balik lensa kacamata tampak tenang, seolah-olah dia benar-benar seorang pria yang terhormat.Namun, hanya kami berdua yang tahu di balik penampilan yang begitu terhormat, tersembunyi dua jiwa yang tak sehat, tapi saling melengkapi dengan sempurna.Tepat di saat sosok elit dunia bisnis berpakaian rapi itu tersembunyi sambil bersulang pada semua orang, dia akan menekan remote di dalam sakunya dengan sangat pelan.Sementara di balik gaun malam yang anggun dan elegan, aku menggertakkan gigi rapat-r

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 10

    “Sudah puas lihatnya?”Aku langsung menoleh.Lukas yang seharusnya sedang perjalanan dinas ribuan kilometer jauhnya, kini malah bersandar santai di kusen pintu ruang gelap itu. Dia melepaskan dasinya tanpa terburu-buru, sementara sorot matanya memancarkan kepuasan seorang pemburu yang akhirnya berhasil menangkap buruannya.Ternyata, kartu akses itu sengaja dia tinggalkan di dalam laci.Dia sudah membaca rencana pembalasanku sejak awal. Bagaikan kucing yang sedang memburu tikus, dia memancingku perlahan-lahan hingga diriku sendiri masuk ke sarang terdalam yang sepenuhnya berada dalam pengawasannya.Dia mengira aku bakal menjerit, terpuruk atau bahkan memohon ampun seperti seekor anak domba yang siap disembelih.Namun, saat menatap seluruh permukaan dinding yang dipenuhi foto-foto itu, hasrat tersembunyi di dalam diriku untuk diperhatikan dan diamati malah benar-benar mengalahkan akal sehatku pada saat ini.Bukannya merasa takut, aku malah tiba-tiba terkekeh pelan.“Lukas, kamu tahu diri

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 9

    Bayangan siksaan tadi malam yang terasa mematikan, tapi sekaligus begitu nikmat melintas di benakku. Aku pun merinding, hanya bisa menggelengkan kepala dengan lemas dan penuh rasa terhina.Menatap sosokku yang sudah benar-benar patuh, barulah Lukas menarik tangannya dengan puas, lalu berbalik pergi ke kantor untuk bekerja.Sejak saat itu, hari-hariku di kantor berubah menjadi sebuah siksaan yang panjang dan tersembunyi.Di permukaan, Lukas tetaplah Pak Lukas yang tegas dan dingin.Dia memasang standar yang sangat tinggi padaku sebagai karyawan baru, bahkan di rapat mingguan divisi, dia mengkritik habis-habisan rancanganku.“Berani-beraninya kamu tunjukkan barang penuh celah seperti ini padaku?”Dia melemparkan berkas itu ke atas meja, tatapannya begitu dingin tanpa kehangatan sedikitpun.Semua rekan kerja menatapku dengan iba saat aku menunduk dimarahi, tapi tak ada seorangpun yang tahu.Tepat saat Lukas memarahiku dengan nada yang paling tegas, satu tangannya di dalam saku celana seda

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 8

    Logam dingin itu berkali-kali menggesek titik paling sensitifku. Aku disiksa sampai rasanya nyaris pingsan, kedua tanganku mencengkeram lengan bawahnya erat-erat, hingga air mata terdesak keluar.Namun, dia tetap mempertahankan gestur tenang dan penuh kendali sebagai seorang atasan.“Hm… kumohon… Pak Lukas… berikan… berikan padaku….”Di bawah rangsangannya yang membuatku merinding, aku disiksa sampai benar-benar kehilangan tenaga.Hingga setelah aku melepaskan semua harga diri, menangis sambil memohon ampun padanya. Dia membawa gestur seorang atasan untuk mengisi kehampaanku dengan sangat dominan.Di tengah prosesnya, dia mengangkat daguku, menatap air mata yang menetes di sudut mataku dengan puas.Dia menyiksaku hingga tak henti-hentinya mendesah, hingga akhirnya berbelas kasih untuk melepaskanku.Malam harinya, aku menyeret tubuhku yang terasa hampir remuk ini kembali ke apartemen.Aku menatap cermin, melihat jejak-jejak merah di sekujur tubuhku dan rasa takut yang kuat timbul di dal

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 7

    Namun, tepat saat aku merapikan dokumen dan bersiap menuju ruang rapat, tiba-tiba ponsel di dalam sakuku bergetar.Ada satu pesan yang masuk.[Ke area tangga kemarin.]Pengirimnya masih Lukas.Aku menatap barisan kata di layar, seketika napasku jadi memburu.Sepuluh menit lagi adalah rapat jajaran eksekutif yang dipimpin langsung oleh dia. Kok malah memanggilku ke tangga darurat? Dia mau apain?….Saat aku mendorong pintu tangga darurat yang berat, Lukas sedang bersandar di dinding. Jarinya yang panjang sedang memainkan sebuah mainan hitam dengan bentuk yang aneh.“Masukkan ini ke dalam.”Dia menyodorkan benda itu ke hadapanku, nada suaranya begitu santai, seperti sedang menyerahkan berkas fotokopi.Sekujur tubuhku tersentak, aku pun reflek memundurkan langkah.“Jangan… Pak Lukas, sebentar lagi rapatnya dimulai….”“Kamu mau pakai sendiri atau aku yang membantumu langsung?”Dia menyipitkan mata di balik lensa kacamatanya, seketika aura berbahaya menyelimutiku.Di bawah tekanan penuh int

  • Bermula Dari Teropong Malam Itu   Bab 6

    Lukas itu seorang pemburu yang sangat cerdik.Dia selalu tahu bagaimana mengatur batas yang tepat, menggunakan sentuhan yang pas untuk perlahan-lahan menggodaku hingga berada di ambang kehilangan batas. Di atas meja kerja, pulpen mahal itu berputar di antara jarinya yang jenjang.Terkadang menggesek pelan, terkadang menekan dan memutarnya perlahan.Dinginnya badan pulpen berbeda jauh dengan suhu panas membara di dalam tubuhku. Tak butuh waktu lama, diriku sudah tak sanggup menahannya lagi.“Jangan… Pak Lukas… kumohon….”Desahan dan tangisan lolos dari tenggorokanku tanpa bisa dikendalikan. Kedua tanganku meremas pinggiran meja erat-erat hingga ujung jariku memucat. Kedua kakiku malah membuka semakin lebar tanpa bisa dikendalikan.Kelainanku terpancing sepenuhnya dan akal sehatku hancur berkeping-keping bagaikan kertas yang terbakar api.Setelah merasa puas memainkanku, barulah dia menarik kembali pulpen itu perlahan-lahan. Suaranya tetap terdengar dingin, “Pergilah ke depan jendela k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status