Partager

Bab 3

Auteur: Liam
Aku malu setengah mati, rasanya ingin menghilang saja.

“Oh ya?” Anton terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar luar biasa menggoda di tengah kegelapan, “Jangan tegang, rileks saja. Lihat, lampu daruratnya sudah menyala.”

Bersamaan dengan ucapannya, sebuah lampu darurat berwarna kuning menyala di bagian atas lift.

Cahayanya sangat redup, tapi sudah lebih dari cukup untuk membuatku melihat dengan jelas betapa tidak pantasnya posisi kami saat ini.

Seluruh tubuhku hampir menggantung di badannya. Dadaku yang empuk tertekan oleh dadanya yang bidang hingga berubah bentuk. Yang lebih parahnya lagi, bokongku ditopang oleh telapak tangannya, menempel lekat-lekat pada bagian depan tubuhnya.

Sementara itu, tangannya yang satu lagi entah sejak kapan sudah bertumpu pada dinding lift di belakangku, membuat posisi mengurung yang tegas.

Aku terkunci di dalam dekapannya, sama sekali tak bisa melarikan diri.

Tatapannya tampak begitu dalam, mirip seperti sumur tua yang tak berdasar, sedang mengamati setiap bagian tubuhku.

Tatapannya sangat agresif, seolah sanggup menembus pakaian tipis yang kukenakan dan menelanjangi seluruh rahasia memalukan di dalam tubuhku.

“Lepas… lepaskan aku.” Aku sempat memberontak, tapi dia malah menahanku semakin erat. Tangan yang menopang bokongku bahkan sengaja meremasnya, membuatku berteriak kaget.

“Bu Selly, kamu belum bisa berdiri tegak,” ujarnya dengan nada yang sangat formal, tapi tatapan matanya malah semakin memanas seperti besi pijar yang siap menandai tubuhku dengan tanda miliknya.

“Sinyalnya agak jelek di sini, aku mau telepon panggilan darurat dulu.”

Ujarnya sambil mengeluarkan ponselnya dengan satu tangan, tapi matanya sama sekali tak beralih dari wajahku.

Aku bisa merasakan benda miliknya yang menekan tubuhku tampaknya semakin mengeras setelah teriakan kagetku tadi, lalu mendesak semakin dalam ke belahan bokongku.

Aku tak berani bergerak. Aku hanya bisa pasrah dalam dekapannya dengan tubuh kaku, merasa seperti seekor katak yang sedang diincar oleh ular, bahkan untuk bernapas pun rasanya sulit.

Dia menghubungi petugas, lalu menjelaskan situasinya secara singkat dan jelas.

Setelah menutup telepon, dia menunduk menatapku dengan sudut bibir yang menajam membentuk senyuman penuh makna.

“Petugas butuh waktu untuk sampai ke sini, kira-kira dua puluh menit.”

Dia terdiam sejenak, lalu ujung jarinya yang panas seakan sengaja menyapu punggungku yang basah oleh keringat, memancing gelombang getaran di tubuhku.

“Bu Selly, kamu harus bertahan sebentar.”

Kata ‘bertahan’ sengaja dia tekankan dengan berat, seolah sedang mengisyaratkan sesuatu.

Aku sangat yakin kalau dia benar-benar sengaja.

Dia pasti sudah menyadari keanehan tubuhku dan parahnya, dia menikmati situasi ini.

Waktu menunggu selama dua puluh menit terasa begitu lambat, setiap detiknya seperti berjalan selama satu abad.

Udara di dalam lift terasa semakin menipis dan suhunya terus melonjak naik, bagaikan sebuah pengukus yang tertutup rapat.

Aku bisa mencium aroma keringatku sendiri yang bercampur dengan hormon kewanitaan, sekaligus aroma maskulinnya yang pekat dan begitu mendominasi.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 16

    Kami belanja sayur bersama, memasak bersama dan saling bersandar di sofa sambil menonton film persis seperti pasangan suami istri pada umumnya.Aku tak pernah lagi melihat Anton.Kata tetangga, tepat sehari setelah Jefri pulang, dia langsung mengundurkan diri atas kemauannya sendiri.Tidak ada yang tahu dia pergi ke mana.Dia bagaikan hembusan angin mendung yang mendadak menerobos masuk ke dalam hidupku, menimbulkan riak gelombang, lalu menghilang begitu saja tanpa suara.Aku tahu, sebenarnya dia takut.Dia takut kalau Jefri akan nekat membesarkan masalah ini. Orang licik seperti dia yang menganggap reputasi lebih penting dari apapun, jelas tidak akan pernah mengambil resiko itu.Satu bulan kemudian, rumah kami berhasil terjual.Kami mengemas semua barang bawaan dan pergi meninggalkan kota yang menyimpan terlalu banyak kenangan memalukan ini.Kami pindah ke sebuah kota kecil yang hangat.Menggunakan uang hasil penjualan rumah, Jefri membuka sebuah kafe kecil.Sementara aku mulai menjal

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 15

    Usai menceritakannya, aku menatapnya dengan cemas, menunggu vonis darinya.Aku merasa diriku seperti selembar kemeja putih yang terkena noda, yang tidak akan pernah bisa dicuci bersih lagi.Jefri tidak berbicara, dia hanya memelukku dan mendengarkan dalam diam.Rasa syok, marah, perih di wajahnya… semuanya bercampur menjadi satu, hingga akhirnya melebur menjadi sebuah helaan napas yang panjang.“Dasar bodoh,” ucapnya sambil menangkup wajahku, lalu dengan lembut mengusap air mataku menggunakan ujung jarinya. “Kok nggak bilang padaku dari awal?”Aku terdiam.Kupikir dia akan menginterogasiku, merasa muak padaku atau bahkan meminta cerai.Namun, aku sama sekali tak menyangka kalau kalimat pertama yang keluar dari mulutnya malah kata-kata itu.“Aku… aku takut kamu menganggapku kotor, menganggapku bukan wanita baik-baik….” ucapku tersedu-sedu.“Sembarangan.” Alis Jefri berkerut. Dia menunduk, lalu mendaratkan kecupan hangat di keningku, “Kamu itu istriku, satu-satunya wanita yang kupilih da

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 14

    Emangnya apa yang bisa kujelaskan?Menjelaskan kalau tubuhku sakit? Menjelaskan kalau aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri? Atau menjelaskan kalau pria ini yang memancingku perlahan-lahan?Semua kata-kata itu terasa tak berarti di hadapan pemandangan memalukan yang terpampang nyata saat ini.“Pak Anton.” Jefri tak melihatku, melainkan kembali menatap Anton dan berkata dengan nada suara yang sangat dingin, “Silakan pergi dari rumahku sekarang juga.”Anton mengangkat bahu, wajahnya masih dihiasi senyuman palsu yang sama.“Tentu saja, karena Pak Jefri sudah pulang, aku sudah bisa lebih tenang.” Dia berjalan ke arah pintu. Saat melewati samping Jefri, dia sengaja menghentikan langkah dan membisikkan sesuatu dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.Aku melihat wajah Jefri langsung berubah menjadi pucat, kepalan tangannya berbunyi, seolah detik berikutnya dia akan langsung melayangkan tinjunya.Namun pada akhirnya, dia tetap menahannya.Anton tersenyum puas, lalu berbal

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 13

    Seluruh tubuhku kaku, bahkan sampai lupa untuk bernapas.Aku bisa merasakan tubuhnya yang tegap sedang menempel erat pada lututku, terhalang oleh selembar pakaian yang tipis.Hawa panas dan ketegangan yang familiar sekaligus mengintimidasi itu membuat kedua kakiku lemas, sampai-sampai aku hampir tak sanggup lagi untuk duduk tegak.“Apa… apa sebenarnya yang kamu mau?” tanyaku dengan suara gemetar.“Aku mau apa?” Anton terkekeh pelan. Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku, lalu mengucapkan setiap kata dengan jelas, dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kami berdua,“Aku mau membantumu.”“Membantumu… meredakan suhu tubuh.”Usai bicara, bibirnya yang panas langsung mendarat di daun telingaku.Dia menciumnya dengan lembut.Bom….Rasanya otakku benar-benar meledak saat itu juga.Seluruh akal sehat dan pemberontakanku runtuh sepenuhnya dalam sekejap.Aku menyerah untuk melawan, membiarkan bibir hangatnya menyusuri daun telingaku, terus bergerak turun, lalu mengecup leherku.Tepat pada sa

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 12

    “Ah… jangan… jangan….” Akhirnya, aku tak sanggup menahan diri lagi dan spontan menjerit.“Jangan apa?” Anton menghentikan gerakannya, lalu mendongak menatapku.Cahaya dari senter membuat guratan wajahnya hilang timbul di kegelapan. Dalam sepasang matanya, tampak kilatan gairah yang menyala-nyala.“Bu Selly, kamu gemetar hebat.” Dia mengulurkan tangan yang satu lagi, yang tak terkena salep, lalu mengusap pipiku dengan lembut, “Wajahmu juga sangat panas, jangan-jangan karena efek salepnya yang terlalu bagus dalam melancarkan darah?”Aku menatap wajahnya yang berada begitu dekat denganku, menghirup aroma maskulinnya yang pekat, hingga akhirnya tali pertahanan terakhir di dalam otakku putus begitu saja.Entah dari mana datangnya kekuatan itu, aku mendadak melayangkan tendangan keras tepat ke arah dadanya.“Pergi! Pergi dari sini!” teriakku dengan histeris.Anton jelas tak menduga kalau aku akan mendadak melawan. Tendanganku membuatnya terhuyung ke belakang hingga terduduk di lantai.Bukann

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 11

    Aku tahu dia pasti akan segera kembali.Dan kali ini, aku tidak tahu apakah diriku masih sanggup mempertahankan batas pertahanan terakhirku.Aku duduk lemas di sofa dengan pikiran yang benar-benar kacau berantakan.Kabur?Emangnya aku bisa kabur ke mana? Seluruh area komplek apartemen ini adalah wilayah kekuasaannya.Melawan?Aku memandangi pergelangan tanganku yang ramping, lalu membayangkan bentuk tubuhnya yang kekar dan penuh tenaga. Pikiran untuk melawan rasanya jadi sangat konyol.Lapor polisi? Dia belum melakukan tindakan fisik yang melanggar hukum, bahkan selama ini dia selalu muncul dengan sikap ‘ingin menolongku’. Kalau aku lapor polisi, mungkinkah polisi akan percaya? Yang ada, kalau masalah ini sampai membesar, justru diriku sendiri yang akan menanggung malu.Aku merasa seperti sedang terjebak di dalam sebuah jaring raksasa yang tak kasat mata. Semakin aku memberontak, jeratannya justru terasa semakin kencang melilitku.Tak sampai dua menit, Anton sudah kembali.Dia memegan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status