Share

Bab 4

Penulis: Liam
Kedua aroma itu bercampur menjadi satu, berpadu menjadi sejenis perangsang yang membuat wajah merona dan jantung berdebar kencang.

Akal sehatku menjerit gila memintaku untuk mendorongnya menjauh, tapi tubuhku malah seolah kehilangan seluruh tenaganya, malah dengan serakah menghirup aroma maskulinnya yang entah bagaimana bisa meredakan rasa gerah di tubuhku sementara.

Anton tak bicara lagi. Dia hanya mempertahankan posisinya yang sedang mendekapku. Tangannya terasa sangat sopan, yang satu berada di pinggangku dan yang satu lagi menopang bokongku.

Namun, justru kesopanan seperti inilah yang jauh lebih mematikan.

Dia tampak seperti seorang pemburu berpengalaman yang penuh kesabaran, hanya dengan mengandalkan suhu tubuhnya yang panas, serta benda miliknya yang sekeras besi yang menekan belahan bokongku, dia terus memberikan tekanan padaku secara konsisten tanpa suara.

Aku merasa diriku hampir gila.

Rasa geli dan hampa di antara selangkanganku menjadi semakin kuat, aliran hangat terus keluar tanpa bisa ditahan. Aku bahkan sudah bisa merasakan bagian belakang celana yogaku mulai berubah menjadi dingin dan basah.

Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku erat-erat untuk menelan kembali semua desahan dan napas yang memburu ke dalam perut. Kuku-kukuku menancap dalam ke telapak tangan, mencoba menggunakan rasa sakit demi mendapatkan sedikit kesadaran.

“Bu Selly.” Entah berapa lama waktu berlalu, tiba-tiba Anton bersuara, suaranya terdengar sangat serak, “Kamu menggigit bibir sampai terluka.”

Aku tersentak dan reflek melonggarkan gigitanku.

Ujung jarinya yang hangat perlahan menyentuh bibirku. Dia tak segera menariknya, melainkan menggunakan permukaan jarinya yang agak kasar untuk mengusap luka bekas gigitanku itu dengan lembut dan berulang kali.

Gerakannya sangat pelan, membawa semacam ketenangan yang hampir terasa seperti sebuah perhatian.

Namun, sentuhan ini malah terasa bagai sehelai bulu yang menggelitik sarafku yang tegang, terasa seperti percikan api yang jatuh di atas padang rumput yang kering.

Seluruh tubuhku tersentak, tidak mampu menahannya lagi. Sebuah desahan terisak yang sudah lama kutahan akhirnya lolos dari tenggorokanku.

“Hmm….”

Begitu suara itu keluar, rasanya aku ingin menggigit lidahku sendiri sampai putus.

Di tengah kegelapan, aku mendengar Anton menghela napas yang terdengar puas dan berat.

Lengan yang melingkar di pinggangku mendadak menjadi lebih erat, membuatku semakin menempel ke tubuhnya.

Benda sekeras besi yang terhalang oleh dua lapis kain, dengan kuat menyodok ke atas tepat di belahan bokongku sebagai bentuk hukuman.

“Jangan takut….” Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku. Hembusan napasnya yang panas bagaikan api yang membakar padang rumput, sementara suaranya dipenuhi nada kemenangan dan gairah yang begitu pekat, “Sebentar lagi kamu akan merasa nyaman.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 16

    Kami belanja sayur bersama, memasak bersama dan saling bersandar di sofa sambil menonton film persis seperti pasangan suami istri pada umumnya.Aku tak pernah lagi melihat Anton.Kata tetangga, tepat sehari setelah Jefri pulang, dia langsung mengundurkan diri atas kemauannya sendiri.Tidak ada yang tahu dia pergi ke mana.Dia bagaikan hembusan angin mendung yang mendadak menerobos masuk ke dalam hidupku, menimbulkan riak gelombang, lalu menghilang begitu saja tanpa suara.Aku tahu, sebenarnya dia takut.Dia takut kalau Jefri akan nekat membesarkan masalah ini. Orang licik seperti dia yang menganggap reputasi lebih penting dari apapun, jelas tidak akan pernah mengambil resiko itu.Satu bulan kemudian, rumah kami berhasil terjual.Kami mengemas semua barang bawaan dan pergi meninggalkan kota yang menyimpan terlalu banyak kenangan memalukan ini.Kami pindah ke sebuah kota kecil yang hangat.Menggunakan uang hasil penjualan rumah, Jefri membuka sebuah kafe kecil.Sementara aku mulai menjal

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 15

    Usai menceritakannya, aku menatapnya dengan cemas, menunggu vonis darinya.Aku merasa diriku seperti selembar kemeja putih yang terkena noda, yang tidak akan pernah bisa dicuci bersih lagi.Jefri tidak berbicara, dia hanya memelukku dan mendengarkan dalam diam.Rasa syok, marah, perih di wajahnya… semuanya bercampur menjadi satu, hingga akhirnya melebur menjadi sebuah helaan napas yang panjang.“Dasar bodoh,” ucapnya sambil menangkup wajahku, lalu dengan lembut mengusap air mataku menggunakan ujung jarinya. “Kok nggak bilang padaku dari awal?”Aku terdiam.Kupikir dia akan menginterogasiku, merasa muak padaku atau bahkan meminta cerai.Namun, aku sama sekali tak menyangka kalau kalimat pertama yang keluar dari mulutnya malah kata-kata itu.“Aku… aku takut kamu menganggapku kotor, menganggapku bukan wanita baik-baik….” ucapku tersedu-sedu.“Sembarangan.” Alis Jefri berkerut. Dia menunduk, lalu mendaratkan kecupan hangat di keningku, “Kamu itu istriku, satu-satunya wanita yang kupilih da

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 14

    Emangnya apa yang bisa kujelaskan?Menjelaskan kalau tubuhku sakit? Menjelaskan kalau aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri? Atau menjelaskan kalau pria ini yang memancingku perlahan-lahan?Semua kata-kata itu terasa tak berarti di hadapan pemandangan memalukan yang terpampang nyata saat ini.“Pak Anton.” Jefri tak melihatku, melainkan kembali menatap Anton dan berkata dengan nada suara yang sangat dingin, “Silakan pergi dari rumahku sekarang juga.”Anton mengangkat bahu, wajahnya masih dihiasi senyuman palsu yang sama.“Tentu saja, karena Pak Jefri sudah pulang, aku sudah bisa lebih tenang.” Dia berjalan ke arah pintu. Saat melewati samping Jefri, dia sengaja menghentikan langkah dan membisikkan sesuatu dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.Aku melihat wajah Jefri langsung berubah menjadi pucat, kepalan tangannya berbunyi, seolah detik berikutnya dia akan langsung melayangkan tinjunya.Namun pada akhirnya, dia tetap menahannya.Anton tersenyum puas, lalu berbal

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 13

    Seluruh tubuhku kaku, bahkan sampai lupa untuk bernapas.Aku bisa merasakan tubuhnya yang tegap sedang menempel erat pada lututku, terhalang oleh selembar pakaian yang tipis.Hawa panas dan ketegangan yang familiar sekaligus mengintimidasi itu membuat kedua kakiku lemas, sampai-sampai aku hampir tak sanggup lagi untuk duduk tegak.“Apa… apa sebenarnya yang kamu mau?” tanyaku dengan suara gemetar.“Aku mau apa?” Anton terkekeh pelan. Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku, lalu mengucapkan setiap kata dengan jelas, dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kami berdua,“Aku mau membantumu.”“Membantumu… meredakan suhu tubuh.”Usai bicara, bibirnya yang panas langsung mendarat di daun telingaku.Dia menciumnya dengan lembut.Bom….Rasanya otakku benar-benar meledak saat itu juga.Seluruh akal sehat dan pemberontakanku runtuh sepenuhnya dalam sekejap.Aku menyerah untuk melawan, membiarkan bibir hangatnya menyusuri daun telingaku, terus bergerak turun, lalu mengecup leherku.Tepat pada sa

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 12

    “Ah… jangan… jangan….” Akhirnya, aku tak sanggup menahan diri lagi dan spontan menjerit.“Jangan apa?” Anton menghentikan gerakannya, lalu mendongak menatapku.Cahaya dari senter membuat guratan wajahnya hilang timbul di kegelapan. Dalam sepasang matanya, tampak kilatan gairah yang menyala-nyala.“Bu Selly, kamu gemetar hebat.” Dia mengulurkan tangan yang satu lagi, yang tak terkena salep, lalu mengusap pipiku dengan lembut, “Wajahmu juga sangat panas, jangan-jangan karena efek salepnya yang terlalu bagus dalam melancarkan darah?”Aku menatap wajahnya yang berada begitu dekat denganku, menghirup aroma maskulinnya yang pekat, hingga akhirnya tali pertahanan terakhir di dalam otakku putus begitu saja.Entah dari mana datangnya kekuatan itu, aku mendadak melayangkan tendangan keras tepat ke arah dadanya.“Pergi! Pergi dari sini!” teriakku dengan histeris.Anton jelas tak menduga kalau aku akan mendadak melawan. Tendanganku membuatnya terhuyung ke belakang hingga terduduk di lantai.Bukann

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 11

    Aku tahu dia pasti akan segera kembali.Dan kali ini, aku tidak tahu apakah diriku masih sanggup mempertahankan batas pertahanan terakhirku.Aku duduk lemas di sofa dengan pikiran yang benar-benar kacau berantakan.Kabur?Emangnya aku bisa kabur ke mana? Seluruh area komplek apartemen ini adalah wilayah kekuasaannya.Melawan?Aku memandangi pergelangan tanganku yang ramping, lalu membayangkan bentuk tubuhnya yang kekar dan penuh tenaga. Pikiran untuk melawan rasanya jadi sangat konyol.Lapor polisi? Dia belum melakukan tindakan fisik yang melanggar hukum, bahkan selama ini dia selalu muncul dengan sikap ‘ingin menolongku’. Kalau aku lapor polisi, mungkinkah polisi akan percaya? Yang ada, kalau masalah ini sampai membesar, justru diriku sendiri yang akan menanggung malu.Aku merasa seperti sedang terjebak di dalam sebuah jaring raksasa yang tak kasat mata. Semakin aku memberontak, jeratannya justru terasa semakin kencang melilitku.Tak sampai dua menit, Anton sudah kembali.Dia memegan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status