공유

Bermulai Dari Dalam Lift
Bermulai Dari Dalam Lift
작가: Liam

Bab 1

작가: Liam
Namaku Selly, sudah menikah selama satu tahun.

Suamiku, Jefri adalah seorang pilot maskapai internasional. Kami jarang bertemu dan lebih banyak menghabiskan waktu terpisah. Di mata orang lain, kehidupan kami tampak mewah dan indah, padahal kenyataannya aku merasa seperti hidup menjanda.

Lebih parahnya lagi, aku punya satu masalah yang sangat memalukan untuk diceritakan.

Tubuhku luar biasa sensitif. Dokter bilang ini adalah ‘hipersensitivitas’ yang dipicu oleh gangguan saraf. Rangsangan sekecil apapun bisa memengaruhiku.

Misalnya saja berada di tengah kerumunan yang padat, gesekan kain baju atau bahkan suara pria yang agak berat saja sudah bisa membuat suhu tubuhku melonjak, seluruh badanku lemas dan bereaksi tanpa bisa dikendalikan.

Sama seperti saat ini.

Aku baru saja kembali dari kelas hot yoga di tempat gym lantai bawah. Di tubuhku hanya melekat tanktop yoga yang sangat tipis dan celana yoga yang ketat.

Keringat membasahi bahan pakaian yang memang sudah tipis itu hingga agak menerawang, menempel ketat di setiap bagian kulitku dan mempertegas lekuk tubuh yang selama ini kubanggakan.

Terutama di bagian dada, ukuran dadaku yang 34D terbungkus oleh kain yang basah kuyup, bergerak naik turun seiring dengan napasku. Pakaian itu hampir memperlihatkan warna kulit di baliknya, bahkan samar-samar mencetak bentuk bagian yang sensitif.

Saat melangkah masuk ke dalam lift, aku reflek berdiri di pojok sambil menunduk memandangi ponsel, mencoba mengabaikan rasa gerah dan bergelora yang muncul akibat olahraga dan suhu panas.

Tepat saat pintu lift hampir tertutup, sebuah tangan besar dengan jari-jari yang ramping terjulur menahan pintu.

Kemudian, sebuah sosok tubuh yang tinggi dan tegap melangkah masuk.

Dia adalah Anton, manajer di manajemen apartemen elit, tempat kami tinggal ini.

Dia mengenakan setelan jas hitam yang pas di badan tanpa dasi hari ini. Dua kancing teratas kemejanya sengaja dibuka dengan santai, memperlihatkan sedikit bagian dada bidangnya yang berwarna sawo matang.

Dia sangat tinggi.

Tinggiku yang 170 cm bahkan setelah memakai sepatu hak tinggi, hanya mencapai dagunya saja.

Aroma maskulin yang memadukan wangi tembakau tipis dan aroma kayu langsung mengepungku, seperti sebuah jaring tak kasat mata yang mengurungku erat-erat.

Tenggorokanku tercekat. Aku reflek semakin menyusutkan diri ke pojok, hampir membuat tubuhku menempel sepenuhnya pada dinding logam lift yang dingin.

“Bu Selly, baru selesai olahraga?” Dia mengangguk sopan padaku, suaranya berat dan merdu, terdengar seperti petikan senar selo yang bergetar hebat di lubuk hatiku, membuat separuh badanku langsung terasa lemas.

“Iya,” jawabku dengan pelan. Aku tak berani mendongak untuk menatapnya, hanya terus memandangi ujung sepatuku sendiri.

Hanya ada kami berdua di dalam lift. Ruang yang tertutup rapat ini semakin memperjelas kehadirannya yang begitu dominan.

Aku bisa mendengar dengan jelas helaan napasnya yang tenang dan tegas, berbanding terbalik dengan detak jantungku yang semakin memburu.

Gejolak aneh di dalam tubuhku mulai menjalar naik lagi tanpa bisa dikendalikan, membakar dari perut bagian bawah hingga ke ujung kepala.

Aku bisa merasakan pipiku memanas dan di antara kedua celah pahaku mulai muncul rasa hampa dan menggelitik yang terasa familiar sekaligus memalukan.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 16

    Kami belanja sayur bersama, memasak bersama dan saling bersandar di sofa sambil menonton film persis seperti pasangan suami istri pada umumnya.Aku tak pernah lagi melihat Anton.Kata tetangga, tepat sehari setelah Jefri pulang, dia langsung mengundurkan diri atas kemauannya sendiri.Tidak ada yang tahu dia pergi ke mana.Dia bagaikan hembusan angin mendung yang mendadak menerobos masuk ke dalam hidupku, menimbulkan riak gelombang, lalu menghilang begitu saja tanpa suara.Aku tahu, sebenarnya dia takut.Dia takut kalau Jefri akan nekat membesarkan masalah ini. Orang licik seperti dia yang menganggap reputasi lebih penting dari apapun, jelas tidak akan pernah mengambil resiko itu.Satu bulan kemudian, rumah kami berhasil terjual.Kami mengemas semua barang bawaan dan pergi meninggalkan kota yang menyimpan terlalu banyak kenangan memalukan ini.Kami pindah ke sebuah kota kecil yang hangat.Menggunakan uang hasil penjualan rumah, Jefri membuka sebuah kafe kecil.Sementara aku mulai menjal

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 15

    Usai menceritakannya, aku menatapnya dengan cemas, menunggu vonis darinya.Aku merasa diriku seperti selembar kemeja putih yang terkena noda, yang tidak akan pernah bisa dicuci bersih lagi.Jefri tidak berbicara, dia hanya memelukku dan mendengarkan dalam diam.Rasa syok, marah, perih di wajahnya… semuanya bercampur menjadi satu, hingga akhirnya melebur menjadi sebuah helaan napas yang panjang.“Dasar bodoh,” ucapnya sambil menangkup wajahku, lalu dengan lembut mengusap air mataku menggunakan ujung jarinya. “Kok nggak bilang padaku dari awal?”Aku terdiam.Kupikir dia akan menginterogasiku, merasa muak padaku atau bahkan meminta cerai.Namun, aku sama sekali tak menyangka kalau kalimat pertama yang keluar dari mulutnya malah kata-kata itu.“Aku… aku takut kamu menganggapku kotor, menganggapku bukan wanita baik-baik….” ucapku tersedu-sedu.“Sembarangan.” Alis Jefri berkerut. Dia menunduk, lalu mendaratkan kecupan hangat di keningku, “Kamu itu istriku, satu-satunya wanita yang kupilih da

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 14

    Emangnya apa yang bisa kujelaskan?Menjelaskan kalau tubuhku sakit? Menjelaskan kalau aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri? Atau menjelaskan kalau pria ini yang memancingku perlahan-lahan?Semua kata-kata itu terasa tak berarti di hadapan pemandangan memalukan yang terpampang nyata saat ini.“Pak Anton.” Jefri tak melihatku, melainkan kembali menatap Anton dan berkata dengan nada suara yang sangat dingin, “Silakan pergi dari rumahku sekarang juga.”Anton mengangkat bahu, wajahnya masih dihiasi senyuman palsu yang sama.“Tentu saja, karena Pak Jefri sudah pulang, aku sudah bisa lebih tenang.” Dia berjalan ke arah pintu. Saat melewati samping Jefri, dia sengaja menghentikan langkah dan membisikkan sesuatu dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.Aku melihat wajah Jefri langsung berubah menjadi pucat, kepalan tangannya berbunyi, seolah detik berikutnya dia akan langsung melayangkan tinjunya.Namun pada akhirnya, dia tetap menahannya.Anton tersenyum puas, lalu berbal

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 13

    Seluruh tubuhku kaku, bahkan sampai lupa untuk bernapas.Aku bisa merasakan tubuhnya yang tegap sedang menempel erat pada lututku, terhalang oleh selembar pakaian yang tipis.Hawa panas dan ketegangan yang familiar sekaligus mengintimidasi itu membuat kedua kakiku lemas, sampai-sampai aku hampir tak sanggup lagi untuk duduk tegak.“Apa… apa sebenarnya yang kamu mau?” tanyaku dengan suara gemetar.“Aku mau apa?” Anton terkekeh pelan. Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku, lalu mengucapkan setiap kata dengan jelas, dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kami berdua,“Aku mau membantumu.”“Membantumu… meredakan suhu tubuh.”Usai bicara, bibirnya yang panas langsung mendarat di daun telingaku.Dia menciumnya dengan lembut.Bom….Rasanya otakku benar-benar meledak saat itu juga.Seluruh akal sehat dan pemberontakanku runtuh sepenuhnya dalam sekejap.Aku menyerah untuk melawan, membiarkan bibir hangatnya menyusuri daun telingaku, terus bergerak turun, lalu mengecup leherku.Tepat pada sa

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 12

    “Ah… jangan… jangan….” Akhirnya, aku tak sanggup menahan diri lagi dan spontan menjerit.“Jangan apa?” Anton menghentikan gerakannya, lalu mendongak menatapku.Cahaya dari senter membuat guratan wajahnya hilang timbul di kegelapan. Dalam sepasang matanya, tampak kilatan gairah yang menyala-nyala.“Bu Selly, kamu gemetar hebat.” Dia mengulurkan tangan yang satu lagi, yang tak terkena salep, lalu mengusap pipiku dengan lembut, “Wajahmu juga sangat panas, jangan-jangan karena efek salepnya yang terlalu bagus dalam melancarkan darah?”Aku menatap wajahnya yang berada begitu dekat denganku, menghirup aroma maskulinnya yang pekat, hingga akhirnya tali pertahanan terakhir di dalam otakku putus begitu saja.Entah dari mana datangnya kekuatan itu, aku mendadak melayangkan tendangan keras tepat ke arah dadanya.“Pergi! Pergi dari sini!” teriakku dengan histeris.Anton jelas tak menduga kalau aku akan mendadak melawan. Tendanganku membuatnya terhuyung ke belakang hingga terduduk di lantai.Bukann

  • Bermulai Dari Dalam Lift   Bab 11

    Aku tahu dia pasti akan segera kembali.Dan kali ini, aku tidak tahu apakah diriku masih sanggup mempertahankan batas pertahanan terakhirku.Aku duduk lemas di sofa dengan pikiran yang benar-benar kacau berantakan.Kabur?Emangnya aku bisa kabur ke mana? Seluruh area komplek apartemen ini adalah wilayah kekuasaannya.Melawan?Aku memandangi pergelangan tanganku yang ramping, lalu membayangkan bentuk tubuhnya yang kekar dan penuh tenaga. Pikiran untuk melawan rasanya jadi sangat konyol.Lapor polisi? Dia belum melakukan tindakan fisik yang melanggar hukum, bahkan selama ini dia selalu muncul dengan sikap ‘ingin menolongku’. Kalau aku lapor polisi, mungkinkah polisi akan percaya? Yang ada, kalau masalah ini sampai membesar, justru diriku sendiri yang akan menanggung malu.Aku merasa seperti sedang terjebak di dalam sebuah jaring raksasa yang tak kasat mata. Semakin aku memberontak, jeratannya justru terasa semakin kencang melilitku.Tak sampai dua menit, Anton sudah kembali.Dia memegan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status