LOGIN
"Dasar wanita tak berguna! Percuma aku menikahimu tapi kamu tidak bisa hamil!" omel Azzam suamiku.
"Gimana aku bisa hamil kalau kamu sama sekali tidak pernah menyentuhku, Mas," bantahku. "Hey, ... tanya dulu pada dirimu kenapa aku tidak mau menyentuhmu. Sedikitpun aku tidak mencintaimu. Pernikahan ini paksaan. Aku tidak suka di jodohkan. Kalau bukan karena permintaan kakek, aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan konyol ini!" Ucapan suamiku benar-benar menusuk sampai ke dalam relung hatiku. Aku tahu kalau diriku cuma jadi penghalang cintanya dengan kekasihnya. Sejak dulu Mas Azam sudah menjalin kasih dengan teman semasa kecilnya yang bernama Lidya. Sedangkan aku cuma figuran yang kebetulan numpang lewat dalam hidupnya. Pernikahanku terjadi karena aku pernah menolong Kakek Lukman dari kecelakaan. Waktu itu Kakek Lukman hendak menyeberang jalan tiba-tiba ada motor kecepatan tinggi hendak menabraknya. Tanpa pikir panjang, aku yang kebetulan berada di dekat sana langsung mendorong Kakek Lukman ke tepi jalan. Aku dan Kakek jatuh ke tanah. Tapi luka kami tidak parah. Dan setelah di usut ternyata pengendara motor tersebut orang suruhan pesaing bisnis Kakek. Mereka hendak menyingkirkan Kakek lukman dengan cara menabraknya sampai mati. Akhirnya pengendara motor liar itupun di penjara. Dan aku mendapat hadiah pernikahan. Sayangnya, pernikahanku dengan Mas Azzam ibaratnya seperti gunung es. Ia selalu bersikap dingin terhadapku, meski selama ini aku menjalankan tugasku sebagai istri yang baik buatnya. Tapi ... semua itu tidak terlihat di matanya. Dan hingga pada akhirnya aku tahu alasannya mengapa Mas Azzam bersikap demikian terhadapku. Dia memiliki kekasih yang sangat di cintai. Dan aku seperti wanita antagonis yang masuk di tengah-tengah cinta mereka. "Kalau begitu, ceraikan aku saja Mas. Aku ikhlas," jawabku sembari menangis. "Tidak semudah itu. Aku ingin kamu melahirkan anak untukku. Karena ini syarat dari kakek agar aku dapat warisannya. Kalau kamu mewujudkan keinginanku, maka aku juga akan menceraikanmu setelah kamu beri anak untukku! Paham!" ucap Azzam. "Bagaimana aku bisa memberimu anak kalau kamu sedikitpun tidak mau menyentuhku! Kamu pikir semuanya bisa di sulap!" bantahku. "Airin ... kalau kamu mau aku bisa carikan lelaki yang bisa membuatmu hamil. Kamu berhubungan dengannya lalu lahirkan anak untukku," kata Azzam. "Kamu gila, Zam! Ini tidak benar. Aku tidak mau menuruti ide gilamu!" Tolakku. "Kalau kamu tidak mau ya sudah. Tapi ... jangan harap aku akan menceraikanmu. Kamu akan terus ku buat menderita dalam pernikahan ini," ancam Azzam. Lelaki itu pun pergi meninggalkan kamarnya. Aku hanya bisa menangis mengingat permintaan Azzam yang tidak semestinya. Otaknya benar-benar sudah konslet. Menyuruhku berhubungan dengan oria lain di posisi aku masih menjadi istrinya. Aku duduk terpuruk di tepi ranjang, memeluk kedua lututku erat-erat. Suara pintu yang dibanting Azzam tadi masih menggema, membuat hatiku semakin hancur. Kenapa hidupku harus seperti ini? Aku tak pernah membayangkan pernikahan akan berubah menjadi neraka. Yang kuinginkan hanyalah kebahagiaan sederhana, tapi justru yang kudapat hanyalah luka demi luka. Bayangan wajah Azzam saat mengucapkan ancamannya tadi membuat nafasku sesak. Ia tidak hanya merenggut kebebasanku, tapi juga mempermainkan harga diriku sebagai seorang istri. Menyuruhku berhubungan intim dengan lelaki lain sementara aku masih sah menjadi miliknya. Apa dia sudah kehilangan akal sehat? Tanganku gemetar saat meraih ponsel di atas meja. Aku butuh seseorang, butuh suara yang menenangkan, dan hanya satu nama yang terlintas di benakku—ibu. Dengan tangan bergetar, aku menekan nomor yang sudah kuhafal di luar kepala. Beberapa kali nada sambung terdengar, sampai akhirnya suara lembut itu menjawab. “Halo, Nak? Sudah malam begini, ada apa?” tanya ibu, suaranya hangat tapi penuh kekhawatiran. Aku tak bisa langsung menjawab. Suaraku tercekat oleh isak tangis yang sedari tadi kutahan. Aku menggigit bibirku keras-keras, menahan isakan agar tidak terdengar terlalu jelas. “Ada apa, Nak? Kamu bikin ibu khawatir…” suara ibu terdengar semakin lembut, penuh kasih. Air mataku makin deras, tapi lidahku kelu. Aku ingin berteriak, ingin menceritakan semua luka yang kurasakan, tapi ada sesuatu yang menahan. Rasa takut. Rasa malu. Dan bayangan ancaman Azzam yang terus menghantui. “Tidak, Bu… aku… aku hanya kangen saja,” akhirnya aku berbohong dengan suara parau. “Aku capek, jadi ingin dengar suara ibu.” Hening sesaat. Lalu terdengar tarikan napas berat dari seberang. “Nak… kalau ada apa-apa, jangan dipendam. Ingat, ibu selalu ada buatmu.” Aku menutup mata rapat-rapat, menahan sakit di dada. “Iya, Bu. Aku tahu. Aku baik-baik saja, kok,” jawabku lemah. "Sudah ya, Bu. Aku ingin istirahat sekarang. Besok masih berangkat kerja," pamitku. "Iya, jaga dirimu baik-baik. Jangan tidur terlalu malam, tidak baik untuk kesehatan," ucap Ibu di telepon. Setelah mematikan telepon aku mencoba untuk tertidur. Namun tiba-tiba suara ketukan keras terdengar dari luar. Aku pun beranjak dari tempat tidurku. Ku pakai cardiganku sebentar lalu ku berjalan menghampiri pintu. Dan perlahan ku buka pintunya. Alangkah terkejutnya diriku. Mas Azzam dan kekasihnya berdiri di depan pintu kamarku. Dan mereka terlihat begitu mesra. Mas Azzam membopong kekasihnya di hadapanku. Istri manapun pasti akan sakit hati melihatnya. Air mataku hampir luruh, tapi aku menahannya. Istri mana yang tidak akan hancur hatinya melihat suaminya memperlakukan wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya hanya menjadi milikku? "Mas, apa maksudmu ini?" tanyaku penuh amarah. Namun bukannya memberi penjelasan, Mas Azzam justru menatapku dengan sorot mata penuh kebencian. Bibirnya melontarkan kalimat yang lebih tajam dari pisau. “Airin, kamu pergi dari kamarku sekarang juga! Aku tidak peduli kamu mau tidur di kamar tamu atau di jalanan, itu urusanmu. Yang jelas aku tidak mau lagi melihat wajahmu di sini!” Kamu gila, Mas! Perempuan itu bukan siapa-siapa, tapi kamu tega membawanya masuk ke kamar kita. Kamar yang seharusnya privasi hanya untuk kita. Kamu pikir aku ini apa? Lalat yang bisa kamu singkirkan sesuka hatimu?!” "Mas ... cepetan dong. Aku udah nggak tahan nih," rengek Lidya. Tangannya merangkul leher Azzam. “Sabar, sayang…” jawab Azzam sambil tersenyum miring. Tatapannya kembali beralih kepadaku, penuh penghinaan. “Perempuan ini memang menyebalkan. Dari dulu kerjanya cuma bikin kepalaku pusing.” “Kurang ajar! Kalian berdua tidak punya hati!” teriakku, suaraku pecah menahan tangis dan amarah. Tanpa berpikir panjang, aku melangkah maju dan mendorong tubuh Lidya sekuat tenaga hingga hampir terlepas dari gendongan Azzam. Perempuan itu terpekik kaget, nyaris jatuh kalau saja Azzam tidak segera menopangnya. “Airin! Berani sekali kamu menyentuhnya!” bentak Azzam dengan wajah merah padam, matanya melotot ke arahku. Aku tidak gentar. Nafasku terengah, tubuhku bergetar karena amarah yang tak lagi bisa ku bendung. "Aku istri sahmu, Mas! Kalau aku marah, kalau aku merasa dikhianati, itu HAKKU! Dan kamu ... kamu yang seharusnya malu karena menyeret perempuan itu ke kamar kita!” "Alaah ... minggir kamu!" Azzam mendorong Airin hingga terjatuh. "Mulai sekarang kamu tinggal di kamar tamu. Aku mau bersenang-senang dengan Lidya di kamar ini!" sentak Azzam Airin terhuyung jatuh, tubuhnya menghantam lantai dingin. Rasa sakit menjalar, tapi lebih sakit lagi hatinya yang diremuk oleh kata-kata suaminya sendiri. “Mas ... apa kamu nggak punya hati?!” Airin berusaha bangkit, air matanya jatuh tanpa bisa ia bendung. “Aku ini istrimu yang sah! Bagaimana mungkin kamu tega mengusirku seperti ini, demi perempuan itu?” Mas Azzam melirikku dengan tatapan penuh kejengkelan. “Sudah kubilang, aku nggak peduli! Kamu cuma bikin suasana jadi rusak. Kalau kamu tidak suka, keluar dari rumah ini sekalian!” Di belakang Mas Azzam dan Lidya terkekeh pelan sambil merangkul lengannya. “Sudah, Mas. Biarkan saja dia. Dia kan cuma istri di atas kertas nggak bisa bikin Mas bahagia seperti aku.” Aku pun terdiam, dadaku sesak. Kata-kata Lidya menusuk telingaku seperti pisau. Tapi aku memilih menahan diri, meski tubuhku gemetar menahan amarah dan rasa perih di hati.Rambut Airin basah, dan banyak bekaa tanda merah di area tubuhnya yang rak terlihat dari luar. Hari ini Fikar s7ngguh ganas, melampiaskan hasratnya menggebu-gebu. Sekarang dirinya berdiri di depan cermin membantu Airin mengeringkan rambutnya pakai hair dryer.Fikar memegang hair dryer, mengarahkan angin hangat ke rambut Airin. Gerakannya hati-hati, telaten, bahkan cenderung pelan seperti takut menyakiti. Wajahnya serius, namun matanya penuh kelembutan.“Biar aku lakukan sendiri, kamu ganti baju dulu," ucap Airin."Kenapa ... kamu takut aku menerkammu lagi," goda Fikar."Bu ... bukan begitu. Hanya saja apa kamu tidak lelah juga," balas Airin malu-malu.Sesekali jemari Fikar menyibakkan rambut Airin yang menutupi wajahnya. Sentuhannya ringan, penuh perhatian.“Apa aku perlu memijitmu? Aku tahu kamu pasti lelah melayaniku,” ucap Fikar sok bersalah.“Tidak usah. Yang ada nanti bukan Mas mijitin aku… tapi mijit yang lain-lain,” jawab Airin dengan pipi memerah.Fikar terkekeh pelan.“Kamu
Azzam berniat menghampiri Airin yang tengah memandangi Fikar tengah berpiday9 di podium. Rasanya dia tidak tenang kalau tidak dengar langsung dari Airin."Mas mau kemana?" tanya Lidya. Azzam tidak menjawab, langkahnya mantap menuju ke arah Airin."Rin ... aku tidak menyangka kamu meninggalkan aku karena gila harta," tuduh Azzam.Airin sempat kaget mendengar tuduhan Azzam. Namun dia tetap berusaha untuk tidak terpancing amarah."Mas ngomong apapun sekarang nggak ngaruh buat aku. Lagian sekarang aku sudah tidak ada urusannya dengan Mas," jawab Airin tegas.Azzam hendak melanjutkan kata-katanya. Tapi tiba-tiba pandangannya beralih pada seorang wanita cantik yang menyerahkan buket bunga segar pada Fikar."Kamu lihat kan, Rin. Fikar itu masih muda, tampan dan kaya raya. Kamu jangan berharap dia hanya milikmu seorang. Bisa jadi, dia juga seperti aku punya wanita lain di belakang layar," sindir Azzam.Airin menatap ke arah panggung. Wanita itu berpenampilan elegan, yang jelas dari kalangan a
Airin touch up lagi make upnya. Setelah melakukan percintaan kilat di ranjang. Fikar membantu Airin merapikan gaunnya."Makasih Sayang, maaf ya kamu harus capek menghadapi kenakalanku hari ini," kata Fikar. "Di leherku tidak ada bekas merahnya kan?" tanya Airin panik."Tidak ada, tapi di dadamu yang bagian dalam penuh tandaku. He ... he ... he," kekeh Fikar."Lain kali jangan pas pesta begini. Aku sedikit takut," ungkap Airin."Malahan menurutku seru Sayang. Dalam rasa panikmu kamu dapat kenikmatan dariku," goda Fikar. Usianya yang masih muda membuat Fikar menggebu-gebu dalam bercinta."Ya sudah kita turun, semua tamu sudah menunggu di bawah." Fikar mengulurkan lengannya. Dan Airin pun merangkul lengan kekar tersebut. Sebelum mereka membuka pintu, Fikar tiba-tiba memeluk perut Airin erat."Aku harap kamu tidak luluh dengan mantan suamimu. Aku tidak sanggup jika kehilanganmu sekali lagi," lirih Fikar. Airin tidak menyangka merasa begitu di cintai oleh Fikar. Ia menjawab perkataan Fik
"Kamu ... bisa-bisanya menggoda istriku," ucap Azzam."Bukan istrimu ... tepatnya mantan istri," balas Fikar. Tangan Azzam mengepal mendengar perkataan Fikar. Ia berusaha menahan diri, karena menyadari situasinya sedang di tempat umum."Rin, aku ingin bicara ..." kata Azzam menatap rindu pada mantan istrinya."Mas, semua sudah jelas. Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi," jawab Airin tegas."Kamu memilih berondong tengil ini. Dia tidak akan bisa menjamin hidupmu. Dia hanya memanfaatkanmu. Numpang hidup sama kamu!" Sinis Azzam.Airin hendak membuka mulut untuk membela Fikar. Namun Fikar memberi isyarat agar Airin membiarkan Azzam berbicara seenaknya."Kamu diam kan, Rin. Berarti benar dugaanku. Kalau bocah ini cuman numpang hidup sama kamu. Mendingan kamu balik sama aku, Rin," ucap Azzam penuh percaya diri. Malam ini penampilan Airin begitu memukau, Azzam tak ingin melepaskannya.Dalam hati Airin berteriak, semua yang di katakan Azzam tidak benar. Bukan Fikar yang numpang tapi dia la
Terlambat menyadari kesalahan yang paling fatal dalam hidupnya. Bercerai dari Airin bukan sepenuhnya jadi keinginannya. Ia merasa tertipu dengan cara Airin menceraikannya.Dan sekarang dinding rumahnya seakan dingin. Menyisakan kenangan tentangnya. Airin tidak pernah protes dan menerima semua sikapnya. Ia sibuk membesarkan Varo sampai-sampai tidak tahu perselingkuhan di belakangnya. Azzam merasa hidupnya paling sempurna. Punya istri yang sangat mencintainya. Dan di kantor maupun di perjalanan luar kota. Ada Lidya yang bersedia jadi teman ranjangnya.Kini hidupnya hampa tanpa Airin. Kalau dia duduk di sofa seperti ini. Biasanya Airin membuatkannya kopi panas. Lalu menawarkan makanan untuknya. Semua hal kecil yang di lakukan Airin memenuhi ingatan Azzam. Dia menyesal mengapa bermain api dengan Lidya. Azzam menatap layar ponselnya lama sekali. Nama Airin tercantum jelas di sana. Istrinya. Perempuan yang dulu selalu sigap datang ketika ia pulang kerja, meski wajahnya tampak lelah.Tanga
"Bu ... ceritanya panjang. Aku tidak bisa cerita hari ini. Tapi semua tidak seperti yang ibu duga. Aku melakukannya karena paksaan Mas Azzam," terang Airin."Rin ... ibu tidak tahu apa yang kamu maksudkan? Mana mungkin seorang suami memaksa istrinya selingkuh. Ini tidak mungkin Rin," kata ibunya."Pokoknya, Airin akan jelasin nanti Bu. Aku takut kalau ada mendengar. Nanti aku jelasin Bu. Pasti Airin jelasin ... tapi jangan sekarang. Aku belum siap," ucap Airin dengan bibir bergetar. Degup jantungnya berdetak lebih cepat.Terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka. Airin segera mengambil piring buah dari tangan ibunya."Biar aku bawain ya, Bu," jawab Airin gugup."Sayang, kamu ngapain di dapur. Kita mau balik loh sekarang," kata Fikar."Eh, iya Mas. Ini tadi bantuin ibu ambil buah," jawabku gugup.Dahi Fikar mengernyit heran. Ia tahu aa yang di sembunyikan di antara mereka berdua. Tapi entah itu apa. Ia tidak ingin terlalu memikirkan. Karena dia sudah keburu waktu."Nak, makan buah







