Share

5

Author: Rasyidfatir
last update Last Updated: 2025-09-18 18:33:14

Aku membuka pintu perlahan. Seorang petugas hotel berdiri dengan troli makanan lengkap dengan penutup peraknya. Senyumnya ramah, tapi mataku tak benar-benar fokus padanya. Aku hanya ingin semuanya cepat selesai.

“Silakan taruh di sini,” ucapku pelan sambil menunjuk meja kecil di dekat jendela.

Petugas itu menata semua dengan rapi sebelum pamit. Begitu pintu tertutup, aroma sup hangat dan lauk menggoda memenuhi kamar. Suasana mendadak terasa berbeda hangat tapi juga asing.

Aku melihat Fikar menelan ludah, matanya berbinar seperti anak kecil. “Wah, enak banget keliatannya,” katanya dengan nada polos.

Aku tersenyum kecil. “Ya sudah, ayo kita makan. Nanti keburu dingin.”

Ia buru-buru menarik kursi, canggung, seolah takut bersikap salah. “Silakan duluan, Kak. Aku nanti aja.”

Aku menatapnya sekilas, geli melihat sikap sopan yang berlebihan itu. “Santai aja, Fikar. Kita makan bareng.”

Begitu ia duduk, kami mulai menyendok makanan masing-masing. Aku memandangi sendokku yang penuh, tapi entah kenapa lidahku terasa kaku. Bukan karena masakannya yang rasanya biasa saja tapi karena suasananya. Ada seseorang di hadapanku. Pemuda yang sangat tampan gagah yang di sewa suamiku untuk menyenangkanku. Lucu bukan dunia ini? Suamiku sibuk mencarikanku selingkuhan agar perselingkuhannya dengan wanita yang jadi cinta pertamanya itu di sahkan.

Dan aku terpaksa menyetujui permainannya.

Untuk saat ini lupakan Mas Azzam dulu, aku perlu energi ekstra untuk menghadapinya. Aku harus makan untuk menghadapi kejamnya dunia ini. Setidaknya hari ini aku menikmati hidupku tanpa Mas Azzam. Tapi bersama Fikar sosok yang menurutku masih terlalu asing.

Sudah lama aku tidak makan bersama seseorang seperti ini. Biasanya aku makan sendirian di rumah, sementara Mas Azzam terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sarapan baginya hanya formalitas, sekadar menyapa sebelum tenggelam dalam layar ponsel. Kadang aku menyiapkan bekal, dengan harapan sederhana mungkin ia akan ingat aku. Tapi aku tahu… bekal itu sering dibagi dengan Lidya, perempuan lain yang jadi simpanannya.

Aku menelan ludah. Ironis, ya? Dulu aku berusaha membuat Mas Azzam mencintaiku. Tapi justru sekarang aku malahan diabaikan. Aku duduk di kamar hotel sederhana, ditemani pemuda tampan yang bahkan belum kukenal betul. Dan anehnya, rasanya lebih… nyata. Ini bukan mimpi, tapi kenyataan yang harus aku hadapi. Tidur dengan pria yang sama sekali bukan apa-apaku.

Fikar sibuk meniup sup panas, lalu menatapku sambil tersenyum malu. Ada ketulusan di situ sesuatu yang sudah lama tidak kulihat dari siapa pun.

"Supnya sudah tidak begitu panas. Silahkan di makan, Kak."

Aku tertegun mendengar ucapan Fikar. Pemuda ini sangat perhatian. Dia menyuapkan satu sendok sup itu ke dalam mulutku. Sialnya, aku seperti terhipnotis. Membiarkan Fikar menyuapiku tanpa halangan merintang.

"Biar aku saja sendiri," ucapku meraih mangkuk sup itu dari tangan Fikar.

"Jangan... mangkuknya masih panas, Kak. Biar aku saja," kata Fikar menolak halus keinginan Airin.

Akhirnya, Airin membiarkan Fikar menyuapinya. Dan kalau boleh jujur wajah Fikar ini cocoknya jadi artis saja. Ia sangat tampan mempesona.

‘Mungkin Mas Azzam nggak sepenuhnya salah menyerahkan aku pada Fikar,’ batinku getir. Setidaknya aku jadi tahu rasanya diperhatikan, meski hanya sedikit. Meski Fikar melakukannya karena pekerjaan.

“Kenapa diam, Kak?” suara Fikar memecah lamunanku. “Makanannya nggak enak, ya?”

Aku tersentak kecil. “Bukan… enak kok. Aku cuma jarang makan bareng.”

Fikar menatapku dengan polosnya. “Kalau gitu, mulai sekarang Kakak nggak sendirian lagi. Kan ada aku.”

Hatiku mencelos. Ucapan sederhana itu seperti menyentuh sesuatu di dalam diriku yang sudah lama beku. Aku hanya bisa tersenyum tipis, pura-pura sibuk membereskan piring.

Setelah makan, kamar terasa lebih hening. Aku meneguk air putih, lalu menatap Fikar yang duduk kikuk, memainkan jarinya. Entah kenapa, aku ingin tetap berbicara dengannya.

“Fikar,” panggilku pelan. “Kamu nggak bosan di kamar terus?”

Ia mendongak, sedikit terkejut. “Iya juga, sih. Mau… keluar sebentar?”

Aku mengangguk cepat. “Iya, jalan di sekitar hotel aja.”

Ia langsung berdiri, mengambil jaketnya. “Aku temani.”

Udara malam menyambut kami dengan lembut. Lampu-lampu jalan menyala kekuningan, membuat bayangan kami menari di trotoar. Aku menarik napas dalam-dalam. Rasanya… bebas. Dan baru kali ini aku sebebas ini jalan malam-malam. Biasanya sehabis kerja di rumah terus males keluar.

Fikar berjalan di sampingku, menjaga jarak. Aku meliriknya sekilas. Ada sesuatu yang hangat dari caranya berjalan tidak tergesa, tapi juga tidak acuh.

“Kamu sering jalan malam gini?” tanyaku untuk mencairkan suasana.

“Jarang, Kak. Biasanya malam aku kerja paruh waktu,” jawabnya.

Aku menatapnya sekilas. “Punya pacar?”

Ia menjawab singkat, “Sudah.”

Aku berhenti. “Apa? Kamu punya pacar?”

Ia tergelak canggung. “Maksudku… Kak Airin sendiri.”

Aku terdiam. Pipiku panas. “Kamu ini, Fikar… bikin kaget aja,” gumamku, menunduk menahan malu.

Ia tertawa pelan, lalu menunduk. “Maaf, refleks.”

Anehnya, aku tidak marah. Justru merasa… hangat. Aku sudah lama tidak dibuat tersipu seperti ini.

Tiba-tiba seekor tikus besar melintas cepat di depan kami. Aku spontan menjerit dan tanpa pikir, merapat memeluk lengan Fikar. Tubuhku menegang, wajahku bersembunyi di bahunya.

“Tenang, Kak. Udah hilang kok,” katanya lembut.

Aku membuka mata perlahan. Betapa dekat wajah kami. Aku bisa mendengar degup jantungnya. Cepat. Sama seperti jantungku.

Segera aku menjauh, malu sendiri. “Maaf ...,” ucapku pelan.

“Nggak apa-apa,” katanya sambil menunduk.

Kami kembali berjalan, tapi suasananya sudah berbeda. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan—sisa hangat dari pelukan singkat tadi.

Aku mencoba menenangkan diri. “Kamu jangan salah paham, ya. Aku cuma… kaget aja.”

Fikar menatapku, matanya tenang. “Aku tahu, Kak. Kakak cuma butuh rasa aman.”

Aku terdiam. Ucapannya sederhana, tapi seperti menembus lapisan terluarku. Aku menatap jalan di depan. Lampu-lampu tampak berpendar, samar.

Saat kami menyeberang, Fikar menahan lenganku. “Hati-hati, Kak.” Sentuhannya lembut, tapi tegas.

Aku menatap jemarinya di lenganku. Hangat. Bukan hangat yang menggoda, tapi hangat yang menenangkan.

“Sekarang boleh jalan,” ujarnya, lalu perlahan melepaskan. Aku pun mengangguk, hatiku kembali berdesir.

“Makasih, ya.”

Kami melanjutkan langkah. Beberapa meter kemudian, ada ranting pohon cukup panjang tergeletak di tengah trotoar. Fikar lebih dulu menyingkirkannya dengan kaki agar kakiku bisa lewat dengan mudah.

Aku hanya bisa tersenyum kecil, tanpa sadar tatapanku melunak. Ada rasa hangat yang menyelinap, sebuah perhatian kecil yang selama ini tak pernah ku rasakan selama jadi istrinya Mas Azzam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   90

    Saat Airin pamit ke toilet dia tidak tahu letak toiletnya. Monika pura-pura baik mengantarkan Airin ke toilet. Namun begitu mereka berhenti tepat di depan pintu toilet, langkah Monika mendadak terhenti. Senyum di wajahnya memudar, digantikan sorot mata dingin yang tak lagi berusaha disembunyikan."Kamu pikir dengan punya anak dari Fikar kamu bisa jadi Nyonya di sini!" sindir Monika.Monika melangkah lebih dekat, suaranya direndahkan namun justru semakin menusuk.“Jangan bermimpi terlalu tinggi. Kamu cuma perempuan yang datang membawa masa lalu. Istana ini bukan tempatmu.”Airin menelan ludah. Ia menatap Monika dengan tajam. "Kupikir kau nenjadi istri Tuan Ghani itu tulus. Nyatanya yang kau ributkan hanya posisimu. Aku jadi sanksi apakah kamu mencintai Tuan Ghani atau tidak."Monika tidak menyangka Airin berani menjawabnya dengan perkataan yang pedas. Airin orang baru, tapi berani mengatainya.Amarah Monika bergejolak. Rahangnya mengeras, matanya menyipit penuh kebencian.“Berani sekal

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   89

    "Kita mau kemana Ma?" tanya Varo yang sudah berpakaian rapi."Mama juga tidak tahu Sayang. Kata Papa ini kejutan," ucap Airin melirik suaminya di samping. Sementara sopir pribadinya fokus menyetir.Varo terpesona ketika mobilnya memasuki halaman yang luas dan taman indah.Matanya langsung disuguhi hamparan taman indah dengan pepohonan rindang dan bunga-bunga berwarna cerah yang tertata rapi. Ia menoleh ke kanan dan kiri, tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya."Rumah ini seperti istana. Memangnya ini rumah siapa Pa?" tanya Varo.Fikar tersenyum tipis. "Rumah ini rumah kakeknya Varo. Dulu Papa besar di sini."Airin terkesiap mendengar pernyataan Fikar. Berarti Fikar sudah jadi anak orang kaya sejak dulu. Lalu kenapa dia memilih hidup di luar sebagai mahasiswa biasa waktu itu? Berbagai pertanyaan muncul di benaknya.Fikar menggenggam tangan Airin. Pelan tapi cukup membuyarkan lamunannya. "Bersiaplah, kita sudah sampai," ucap Fikar.Airin bingung, Fikar tidak mengatakan dari awal kalau ak

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   88

    Kejadian yang menimpa Airin membuat Fikar gerah. Kalau di biarkan berlanjut terus-terusan Airin yang akan jadi korban gosip. Fikar tidak mau terkena musibah lagi."Umumkan semua divisi berkumpul di ruang utama!" perintah Fikar."Baik Pak."Tak lama kemudian, sebuah pengumuman mendadak tersebar ke seluruh divisi. Seluruh karyawan diminta berkumpul di aula utama. Suasana kantor yang biasanya sibuk berubah tegang dan penuh tanda tanya.Fikar berdiri di depan, wajahnya dingin dan berwibawa. Airin berdiri di sampingnya, sedikit menunduk, tangannya masih dibalut kompres dingin.“Saya minta perhatian semuanya,” ucap Fikar tegas, suaranya menggema di ruangan. “Hari ini saya perlu meluruskan satu hal penting.”Ia menoleh sekilas ke arah Airin, lalu kembali menatap para karyawan.“Airin bukan hanya karyawan di perusahaan ini. Dia adalah istri saya.”Ruangan langsung riuh. Bisik-bisik terdengar dari berbagai sudut. Wajah-wajah terkejut saling berpandangan, sebagian menoleh ke arah Airin dengan e

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   87 Sikap Tegas Fikar

    "Mas, pintunya belum di tutup, gimana kalau ada orang lewat?" ucap Airin merengsek turun dari pangkuan suaminya. “Tenang saja, Sayang. Ini masih jam istirahat. Lagipula siapa juga yang berani masuk tanpa mengetuk,” ujarnya santai. Airin menghela napas, tetap menarik tangannya hingga lepas. Ia merapikan kerah bajunya yang sedikit kusut, wajahnya memerah. “Aku cuma nggak mau jadi bahan omongan orang kantor,” katanya lirih. Mereka tidak tahu kalau ada satu orang karyawan yang tadinya mau masuk, tidak jadi karena melihat adegan ciuman. "Tidak ku sangka Airin yang kelihatannya polos dan baik itu berani menggoda Pak Fikar," ucap Hilda geleng-geleng kepala dan berbalik pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa. Ia sudah membayangkan cerita apa yang akan beredar di kantor nantinya. Sekilas ia tersenyum licik. Sementara di dalam ruangan, Fikar berdiri dan menutup pintu rapat-rapat. Ia menatap Airin dengan sorot mata lembut. “Kamu terlalu memikirkan orang lain, Rin. Yang penti

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   86

    "Bukan begitu ...," kata Airin segera merapatkan kimononya. Lalu dia melipat mukenanya dan menaruhnya di tempatnya. "Tapi aku sudah terlanjur tergoda," kata Fikar menarik Airin di atas pangkuannya. "Mas, jangan begini ... gimana kalau tiba-tiba ada Varo." Pipi Airin memerah, karena tangan Fikar tidak berhenti bergerilya. "Kalau ada Varo aku tinggal bilang lagi usaha buatin adek baru untuknya," jawab Fikar asal. "Ah, Mas ini," kata Airin malu-malu. Ia membiarkan Fikar mengambil jatah susu paginya. Untung saha Varo sudah di sapih. Kalau tidak mungkin bisa rebutan sama anaknya. "Mas ... udah belum. Geli ... tau. Aku mau ke dapur juga buat sarapan," kata Airin Airin sambil berusaha menepis tangan Fikar yang sedari tadi tak mau diam. Fikar terkekeh pelan. “Sebentar. Ini terakhir, sumpah. Rasanya jauh lebih nikmat kalau tiap pagi begini." "Iya, tapi kalau kalamaan keburu Varo bangun tidur, Mas," jawab Airin. Padahal sebenarnya seluruh tubuh Airin merinding merasakannya.

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   85

    "Maaf Mas, waktu itu aku pikir bisa mempertahankan pernikahanku dengan Mas Azzam. Karena Mas Azzam berjanji menerimaku apa adanya. Dia juga menganggap bayi Varo adalah anaknya. Aku nggak tega ... dan akhirnya aku memilih diam. Tidak mengatakan yang sebenarnya padamu. Karena ku pikir kamu juga sudah punya kehidupan baru dengan wanita lain," terang Airin panjang lebar. Wajahnya tertunduk setelah mengatakannya."Kamu tidak tega dengan Azzam? Sementara kamu tega denganku Rin. Kamu tega memisahkanku dari putra kandungku sendiri. Kamu tidak tahu Rin ... aku hampir gila mencarimu!" Fikar meluapkan amarahnya pada Airin. Andai saja wanita di hadapannya ini waktu itu tegas memilih dirinya mingkin hubungannya dengan Azzam tidak akan berlarut-larut."Maafkan aku Mas ... aku tahu aku salah," mohon Airin. Perempuan cantik itu menangis terisak-isak. Tangis Airin menyadarkan Fikar bahwa semua kemarahan yang di luapkannya hari ini sia-sia. Toh sekarang Tuhan justru memgembalikan Varo lewat tangan Ai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status